The Little Mafia

The Little Mafia
TLM BAB 37 - Ketemu Ayang



Hari keberangkatan Raphael pun dipercepat, pemuda itu sudah tidak sabar bertemu Lucy. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya, rasa bersalah itu tetap ada.


Raphael pikir seiring berjalannya waktu perasaan itu menghilang tapi ternyata setiap tahunnya justru semakin terpupuk.


"Kak, jangan lupa menelponku kalau sudah sampai," ucap Ariel yang mengantar kakaknya ke bandara.


"Baiklah." Raphael menoel hidung Ariel dengan jari telunjuknya persis yang pernah dia lakukan pada Lucy.


Kemudian Raphael berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Jaga kesehatanmu," ucap Flo seraya memeluk putranya. Dia masih tidak percaya Raphael yang meminta adik dulu sudah menjadi remaja.


"Sudah, Mom." Raphael malu jika Flo memeluknya terlalu lama.


Giliran berpamitan dengan Axe justru Raphael mendapat wejangan dari sang daddy. Tentu Axe tahu bagaimana selama ini putranya mengumpulkan informasi mengenai Lucy.


"Kau harus bertindak sebagai laki-laki sejati, pikat terus wanitamu walaupun dia sudah mempunyai pasangan. Itu berlaku selama wanitamu belum menikah," ucap Axe yang mengajarkan jiwa pebinornya pada Raphael.


Raphael hanya bisa menaikkan kedua bahunya mendengar itu. "Aku hanya ingin minta maaf!"


"Kau pikir aku bodoh, kalau hanya untuk minta maaf kau tidak akan stalking sampai pindah kuliah ke Amerika. Kau itu jatuh cinta, Son!" Axe yang jengah akhirnya mengeluarkan apa yang ada di kepalanya.


Dan perkataan Axe itu begitu mengusik pikiran Raphael.


"Jatuh cinta pada Lucy? itu tidak mungkin," gumam Raphael.


...***...


Raphael pun sampai, seseorang sudah menunggunya sedari tadi. Orang itu yang akan membantu Raphael mengurus segala hal selama tinggal di Cambridge.


Pemuda itu tinggal di sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari kampus barunya.


"Kau bisa pergi, aku bisa sendiri," ucap Raphael karena ingin istirahat.


Orang itu pun pamit undur diri meninggalkan Raphael seorang diri di apartemen.


Karena masih mengalami jetlag, Raphael tidak bisa tidur. Jadi yang dia lakukan adalah kembali stalking Lucy dan menandai tempat apa saja yang Lucy sering kunjungi.


Malam harinya, Raphael memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe di mana Lucy sering berfoto di sana bersama teman-temannya. Bahkan Lucy sekarang mempunyai banyak teman, sangat berbeda dari Lucy yang dulu.


Mulai sekarang dia harus menghafal jalanan Cambridge supaya bisa berkendara sendiri ke depannya.


Saat sampai Raphael bergegas turun dari mobil taksi yang dia tumpangi. Dia masuk kafe dan memesan beberapa makanan serta minum, dia sebenarnya kelaparan.


Suasana kafe malam itu sepi dan tidak ada tanda-tanda Lucy datang.


"Lebih baik aku menemuinya di kampus saja," gumam Raphael.


Raphael harus merancang rencana ke depannya setelah ini karena dia sekarang harus bisa mandiri.


Tak lama makanan dan miniman Raphael datang bersamaan dengan datangnya beberapa gadis di sana.


Raphael melirik sejenak ke arah mereka dan jantungnya berdebar karena salah satu diantara mereka adalah Lucy.


"Kami memesan menu seperti biasa," ucap Lucy pada pelayan yang sudah mengenalnya dan teman-temannya. Pelayan itu sampai hafal menu yang biasa mereka pesan.


"Baiklah, tunggulah Lucy," sahut pelayan itu.


Lucy tampak berbincang dan tertawa di sana tapi ada hal yang terasa janggal. Dan semua itu tak luput dari pengamatan Raphael.


Setelah makanan datang dan habis, teman-teman Lucy satu persatu meninggalkan gadis itu. Kemudian Lucy yang akan membayar bill nya.


"Kenapa selalu kau yang membayar semuanya, Lucy," tegur kasir yang sangat hafal dengan gadis itu.


Lucy hanya tersenyum seraya memberikan kartunya tapi dari arah belakang tiba-tiba ada yang mengambil kartu itu dari tangannya.


"Biar aku yang membayarnya," ucap orang yang mengambil kartu itu.


Otomatis Lucy membalik badan dan melihat siapa orang itu. Pupil mata Lucy melebar, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Raphael..." panggil Lucy yang langsung mengenal orang itu.


...***...


Raphaelo