
Lucy akhirnya menyantap makanan pemberian Raphael tapi baru beberapa suap Lucy menjatuhkan sendoknya karena tangannya yang tiba-tiba keram.
"Ada apa?" tanya Raphael.
"Tanganku keram," jawab Lucy yang mulai merasakan tubuhnya lemah lagi. "Ini pasti karena aku tidak meminum obatku!"
"Kau sakit apa?" tanya Raphael penasaran.
"Kata mommy Arabelle ini adalah penyakit bawaan dari mommy ku jadi aku membutuhkan obatku," jelas Lucy.
Raphael tentu saja terkejut mendengar penjelasan Lucy jadi Lucy selama ini berpenyakitan? Pantas saja!
"Kalau begitu cepat hubungi daddy mu supaya kau cepat pulang," bujuk Raphael.
Sekarang Raphael jadi mencemaskan keadaan Lucy.
"Iya, aku akan melakukannya. Tapi..." Lucy menatap Raphael seolah takut tidak bisa melihat anak laki-laki itu lagi. "Kita tetap jadi teman, 'kan?"
"Tentu saja," jawab Raphael cepat. Dia mengambil sendok baru kemudian membantu Lucy makan dengan menyuapinya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Lucy tentu senang bukan main. Dia akan mengenang momen ini seumur hidupnya.
"Aku akan menceritakan tentang Raphael pada mommy ku di surga nanti," ungkap Lucy.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Raphael tidak suka.
"Kata mommy Arabelle, kalau aku telat meminum obatku, itu bisa memperpendek usiaku. Aku sudah telat meminumnya, aku pasti akan menyusul mommy ku di surga, aku akan menceritakan pada mommy di sana kalau aku punya teman yang baik seperti Raphael," sahut Lucy dengan polosnya.
Raphael semakin terkejut, bagaimana Lucy yang pintar berpikiran seperti itu? Teman yang baik apanya?
Dari sini Raphael justru berpikir jika Arabelle selama ini telah mencuci otak Lucy. Memang belum pasti dugaannya tapi Arabelle seperti memberi sugesti pada Lucy bahwa anak perempuan itu pesakitan.
Ingin membuang pikirannya itu, Raphael kembali menyuapi Lucy.
"Sebenarnya cita-citaku bukan menjadi pemusik tapi..." Lucy memejamkan matanya mencoba mengutarakan keinginan terdalamnya. "Aku ingin menjadi dokter!"
"Aku ingin mengobati anak-anak sepertiku supaya mereka tidak perlu minum obat lagi," tambahnya.
Lucy mencoba mengingat bagaimana rasanya minum obat setiap hari. "Rasanya sangat tidak enak, aku ingin muntah tapi harus tetap menelannya. Aku berharap badanku cepat sehat tapi badanku justru semakin lemah, aku sering jatuh dan keram!"
Baru kali ini Lucy berani mengungkapkan semuanya karena dia yang merasa nyaman dengan Raphael.
Dan hal itu semakin membuat Raphael curiga, dia jadi penasaran dengan obat yang dikonsumsi Lucy setiap hari.
"Apa kau sudah diperiksa oleh dokter ahli?" tanya Raphael kemudian.
Lucy mengangguk. "Mommy Arabelle selalu mendatangkan dokter ahli setiap bulan!"
"Kalau begitu, cepatlah hubungi orang tuamu," balas Raphael yang takut terjadi apa-apa pada Lucy.
Selesai makan, Raphael memberikan botol minum pada Lucy dan meminta anak perempuan itu minum serta membasuh wajahnya supaya terlihat segar.
"Terima kasih, Raphael," ucap Lucy tulus.
Mendapat ucapan terima kasih, Raphael justru merasa tercubit hatinya. Bagaimana mungkin Lucy berterima kasih pada otak penculikan?
"Apa sekarang kau siap? Aku akan bilang pada paman-paman penculik itu kalau kau sudah ingat nomor pribadi daddy mu!" Raphael mulai menghasut lagi.
"Baiklah," balas Lucy menurut.
_
Sedih pas ngetik curhatan Lucy🥺