
"Raphael?" panggil Lucy karena melihat pemuda itu tampak melamun.
Raphael pun langsung menggelengkan kepalanya, dia menjauhkan pikiran kotor yang ada di kepalanya saat ini. Raphael kembali mengingat lagi tujuannya untuk meminta maaf.
Pemuda itu pun meraih satu tangan Lucy dan menggenggamnya.
"Sebenarnya ada satu alasan khusus kenapa aku bisa menyusulmu kemari, Lucy. Aku ingin minta maaf padamu, aku tidak bisa melupakan kejadian waktu kita kecil," ucap Raphael tulus.
Lucy mengulum senyumnya, ternyata Raphael yang angkuh dan sombong mempunyai rasa bersalah begitu dalam pada dirinya.
"Aku selalu mengingat kata-kata seseorang padaku, katanya jangan minta maaf kalau kita tidak salah. Jadi, kenapa kau minta maaf padaku Raphael?"
"Justru aku ingin berterima kasih padamu, kalau aku dulu tidak kau culik, aku pasti tetap minum obat pemberian ibu tiriku dan mungkin sekarang tidak ada di sini." Lucy membalas genggaman tangan Raphael padanya.
Sumpah demi apapun, Raphael ingin mencium Lucy sekarang. Kalau tahu dari dulu respon Lucy akan begini, Raphael pasti akan menemuinya lebih awal.
"Kau sempat kecewa padaku jadi aku berpikir kalau kau membenciku," ungkap Raphael.
"Aku tidak akan pernah bisa membencimu, Raphael. Sekarang aku ingin menepati janjiku, apa kau masih suka musik?" tanya Lucy.
"Waktu sekolah menengah aku sempat membuat band tapi akhirnya kami bubar," jawab Raphael.
Lucy berdiri dan menarik tangan pemuda itu. "Sayang sekali tapi aku akan tetap menyanyikan lagu untukmu!"
Ah, Raphael jadi mengingat jika Lucy pernah mengatakan akan membuatkannya lagu.
Kebetulan di tengah street food ada seorang pianis yang tengah memainkan piano. Lucy mendekati pianis itu untuk meminjam pianonya sebentar.
Lucy pun duduk di depan piano dan bersiap bermain di sana. Rasanya gadis itu kembali menjadi Lucy yang berumur sepuluh tahun.
Jantung berdetak kencang
Warna - warna dan janji - janji
Bagaimana untuk menjadi berani?
Bagaimana saya bisa mencintai ketika saya takut jatuh?
Tapi melihatmu berdiri sendiri
Semua keraguan saya tiba-tiba hilang entah bagaimana
Selangkah lebih dekat
Aku telah mati setiap hari menunggumu
Sayang, jangan takut
saya akan mencintai Anda untuk ribuan tahun lagi
[lirik Thousand Years - Katty Perry]
Semua pengunjung street food berhenti sejenak untuk mendengarkan Lucy bermain piano dan bernyanyi. Semua tersentuh dan bertepuk tangan untuk Lucy.
"Lagunya sangat dalam, apa lagu itu untuk seseorang?" tanya sang pianis.
Lucy mengangguk dan tangannya menunjuk Raphael yang berdiri tak jauh darinya. "Lagunya untuk dia!"
"Wah, kau sangat beruntung sekali," ucap salah satu pengunjung seraya menyenggol lengan Raphael.
Raphael menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa malu tapi sekaligus senang. Raphael pun mengulurkan satu tangannya pada Lucy supaya gadis itu berdiri.
"Katakan sesuatu Lucy, apa arti lagu itu?" tanya Raphael.
"Bukankah sudah jelas kalau aku mencintaimu. Aku menyukaimu dari dulu Raphael," ucap Lucy mengungkapkan perasaannya.
"Aku tidak mau memendamnya lagi," sambungnya.
Raphael kini meraih tengkuk Lucy dan mengecup bibir gadis itu pelan. "Kau memang harus mengagumiku sampai mati, Lucy!"
"Jadi..." Lucy menunduk malu karena mendapat kecupan singkat dari pujaan hatinya. Apalagi mereka di tempat umum sekarang.
"Kita sepasang kekasih sekarang," ucap Raphael memperjelas. Pemuda itu memeluk Lucy dan para pengunjung pun bertepuk tangan sebagai tanda selamat pada pasangan muda itu.
"I love you, Raphael!" Lucy akhirnya bisa mengatakan kalimat itu.
Dia pun meletakkan tangannya di dada Raphael kemudian memotretnya.
lucy.boutier
174.384 like
lucy.boutier you my hero ❤
@raphaelo.blancet siap untuk aku culik?
...***...
...TAMAT...