
Lucy sadar dari pingsannya, hal pertama kali yang dia ingat adalah Arabelle yang dengan tega menyerahkannya pada penculik.
Dari sini Lucy mulai sadar jika Arabelle hanya menginginkan ayahnya saja.
"Kau sudah bangun?" tanya Lius yang membuyarkan lamunan Lucy.
Gadis kecil itu menatap Lius dengan tatapan kosong. Hatinya sudah hancur berkeping-keping, pertama Raphael yang ternyata dalang dibalik penculik, kedua Arabelle yang ternyata tidak menginginkan dirinya.
"Daddy..." panggil Lucy kemudian.
Hanya Samuel satu-satunya harapan bagi Lucy.
"Kenapa kau harus bangun, hem?" Lius berjongkok supaya bisa menjangkau gadis kecil itu. "Seharusnya kau itu tidur panjang dan tidak merasakan apa yang akan kau alami setelah ini!"
"Aku tidak akan menyakitimu tapi kau harus menurut!"
Lucy tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Lius tapi dia tahu satu hal kalau hidupnya dalam bahaya.
"Apa paman mau membunuhku?"
"Apa tujuan penculikan ini untuk membunuhku? Di mana Raphael?"
Lucy akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Lius.
Dan Lius bingung harus menjawab apa karena memang tujuannya sudah melenceng jauh. Dia sudah tergiur dengan janji Arabelle bahwa akan memberikan sebagian harta Samuel jika dia berhasil membunuh Lucy tanpa jejak.
Lius sudah menyiapkan racun mematikan yang bisa membuat siapa yang meminumnya akan kehilangan nyawa dalam hitungan menit.
"Diamlah, Lucy!" bentak Lius. Memang ini bukan pembunuhan pertamanya tapi dia belum pernah membunuh anak kecil sebelumnya.
Berusaha menguasai kegugupannya, Lius mencengkram kedua pipi Lucy supaya anak itu membuka mulutnya.
"Ini tidak akan sakit Lucy!" bujuk Lius.
Lucy hanya bisa meneteskan air matanya, dia tidak bisa melawan karena badannya yang terikat.
"Ternyata nyalimu hanya seperti ini!"
Di sana sudah ada Kenzo yang berdiri dengan para anak buah Lius yang terikat di belakang Kenzo. Rupanya beberapa menit lalu Kenzo berhasil meringkus anak buah Lius, kini lelaki itu sendirian.
Sebenarnya Lius takut pada Kenzo tapi dia akan memanfaatkan Lucy.
"Apa maumu kemari?" Lius mencoba bertanya karena tidak mungkin tiba-tiba Kenzo bisa datang begitu saja.
"Aku tidak perlu menjelaskan, yang jelas lepaskan anak itu jika kau masih ingin bebas," ucap Kenzo.
Tentu saja Lius tidak akan menyerah lelaki itu justru semakin memaksa Lucy untuk meminum racun darinya.
"Hah? Baiklah, kalau itu maumu!" Kenzo langsung membidik tangan Lius dan menembaknya.
Racun terjatuh dan Lius mengerang kesakitan di sana. Belum sampai disitu, tangan Lius yang terkena luka tembak tiba-tiba diinjak seseorang.
Dan orang itu adalah Raphael dengan wajahnya diselimuti aura kegelapan.
Raphael langsung menendang wajah Lius dengan keras.
"Kau mengkhianatiku!" teriak Raphael geram.
Lius tentu saja tidak terima karena wajahnya yang sudah ditendang oleh anak kecil. Dia ingin membalas Raphael tapi tangannya langsung dipelintir oleh Kenzo yang mendekat.
"Nyalimu hanya pada anak kecil, Cih!" Kenzo berdecih seraya menyeret Lius supaya berkumpul dengan para anak buahnya.
Raphael pun bergegas melepas ikatan pada tubuh Lucy.
"Jangan takut Lucy, kau akan segera pulang! Daddy mu dalam perjalanan kemari!" Raphael berusaha mengajak Lucy berbicara.
Tapi, anak perempuan itu hanya diam tidak merespon.
Sampai ikatan di tubuh Lucy terbuka dan Raphael mengulurkan satu tangannya.
"Ayo Lucy!" Raphael ingin membantu Lucy berdiri.
Lucy hanya menatap Raphael dengan tatapan sayu. "Kau membohongiku Raphael!"