The Little Mafia

The Little Mafia
TLM BAB 27 - Misi Mencuri Obat II



Raphael sudah sampai di mansion Lucy, dia tidak langsung turun karena menunggu Kenzo meretas cctv di mansion itu.


"Ada penjaga yang tertidur, di dalam aman, kita hanya perlu membuka pintu dan mencari obatnya," gumam Kenzo.


"Akan membuang waktu jika kita mencarinya jadi lebih baik kita mengancam salah satu pelayan yang mengetahui letak obat itu," timpal Raphael.


Kenzo menggelengkan kepalanya mendengar itu, Raphael memang menurun bakat kriminal Axe.


"Kau benar-benar..." Kenzo turun dari mobil dan membawa Raphael bersamanya.


Tony dan Gilbert ingin ikut tapi dilarang oleh Kenzo karena dia tidak mau mencolok.


"Tapi Bos..." Gilbert mengkhawatirkan bosnya.


"Kau tunggu saja di sini, kalau ada apa-apa aku akan menghubungi kalian," balas Kenzo seraya berlalu pergi.


Kenzo mengajak Raphael masuk ke mansion besar itu, mereka melewati pos security dengan mudah karena cctv yang diretas dan sistem penjagaan lemah.


Mereka menuju pintu utama dan Kenzo mencoba membuka pintu itu menggunakan keahliannya membuka pintu bersandi.


Tak lama terdengar suara kode pintu yang terbuka dan hal itu membangunkan kepala pelayan mansion.


Kepala mansion itu mencoba memeriksa keadaan tapi mulutnya justru dibungkam seseorang.


"Hmmp! Hmmp!" kepala pelayan itu berusaha melawan tapi kepalanya langsung ditodong oleh senjata. Seketika tubuhnya terdiam dan membatu.


"Aku tidak akan menyakitimu jika kau mengatakan di mana obat Lucy berada," ucap seseorang yang membungkam kepala pelayan itu dan orang itu adalah Kenzo.


"Cepat tunjukkan!" Kenzo tidak sabaran.


Kepala pelayan itu menunjuk ke arah dapur, di sana ada sebuah lemari kaca yang isinya adalah peralatan medis dan obat-obatan.


"Ambil cepat!" perintah Kenzo lagi.


Kepala pelayan itu berjalan dengan kaki gemetaran yang membuat jalannya begitu lambat.


"Ish, kalau begini caranya sampai tahun depan tidak akan sampai-sampai," kesal Raphael.


"Ini dia," gumamnya saat melihat botol obat Lucy.


Raphael mengambil beberapa botol obat yang tersemat nama Lucy dan segera mendatangi Kenzo.


"Paman, aku sudah mendapatkannya," ucap Raphael.


Kenzo langsung memukul tengkuk kepala pelayan sampai pingsan. Kemudian Kenzo menidurkannya di sofa.


"Ayo kita cepat pergi!" ajak Kenzo.


Raphael mengangguk dan mengikuti Kenzo seperti sebelumnya. Mereka keluar dan beruntung security masih tertidur.


Di dalam mobil van, Raphael mengamati botol-botol obat Lucy kemudian meminta Gilbert untuk mencari tahu masing-masing obat.


"Aku akan mengeceknya," ucap Gilbert seraya mengecek nama-nama obat itu.


"Sepertinya obatnya memang sejenis vitamin untuk kekebalan tubuh." Gilbert memberikan botol obat yang sudah dicek pada Raphael.


Entah kenapa Raphael masih merasa curiga, dia kemudian mencoba menyobek kertas label obat itu dan ternyata benar sesuai dugaannya. Ada label obat lain di sana.


"Paman, coba cek ulang lagi!" pinta Raphael.


"Baiklah." Gilbert mencoba memeriksa nama obat yang sebelumnya ditutupi itu.


Butuh waktu beberapa menit untuk memastikan apa saja kandungan obat itu.


"Bos..." panggil Gilbert pada Kenzo supaya melihat apa yang telah dia temukan.


Kenzo melihat dan membaca dengan seksama, matanya melebar setelah tahu apa yang sebenarnya terkandung dalam obat Lucy selama ini.


"Ini sungguh gila," ucap Kenzo.


"Ada apa, Paman?" tanya Raphael yang semakin penasaran.


"Obat itu..." Kenzo mencoba menjelaskan pada Raphael jika Lucy memang benar-benar butuh bantuan.