
Sebelum pergi ke mansion Lucy, Raphael singgah ke markas rahasia Kenzo untuk meminta bantuan pada lelaki itu.
"Apa Axe atau Robin tahu kau kemari di jam segini?" tanya Kenzo yang tampak marah karena Raphael begitu nekat.
"Tentu saja tidak tahu, aku ingin meminta bantuan mu, Paman. Ini mengenai Lucy," jelas Raphael.
"Lucy? Teman yang kau cari identitasnya waktu itu?" tanya Kenzo memastikan.
Raphael mengangguk dan terpaksa menceritakan semua yang terjadi pada Kenzo.
Tentu saja Kenzo semakin geram mendengarnya, dia sampai mencengkram kerah baju Raphael dan menaikkan tubuh bocah itu hanya dengan satu tangannya.
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan ini sangat berbahaya. Dan kau bekerja sama dengan Lius?" Kenzo merapatkan tubuh Raphael ke dinding yang membuat bocah itu ketakutan setengah mati.
"Pa... Paman..." Raphael berusaha melepaskan diri tapi tentu tenaganya tidak sebanding dengan lelaki dewasa apalagi badan Kenzo berotot.
"Lius itu adalah mantan mata-mata Axe, kau tahu apa artinya itu?" tanya Kenzo.
Raphael hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Mata-mata mempunyai seribu wajah, semua yang mereka ucapkan tidak bisa dipercaya, mereka hanya akan setia pada tuannya. Apa Lius sekarang memiliki tuan?" Kenzo kini melemahkan cengkramannya dan menurunkan badan Raphael perlahan.
Raphael segera memperbaiki penampilannya lagi. "Tentu saja punya, tuannya Lius adalah aku!"
"Aku akan membangkitkan Black Shadow dan akan melampaui klan mu, Paman," ucap Raphael begitu pongah.
Kenzo bukannya tertawa tapi justru miris mendengar pernyataan Raphael yang tidak masuk akal.
"Kalau ingin melampauiku, kenapa sekarang kau meminta bantuanku?" Kenzo kini membalik keadaan.
"Kau tidak mempunyai tujuan yang jelas, kau hanya bertindak sesuai dengan egomu, jangankan memimpin sebuah organisasi mafia, aku yakin menjadi ketua kelas pun, kau tidak akan mampu," ucap Kenzo penuh cibiran.
Raphael menjadi emosi karena merasa direndahkan, dia mengepalkan kedua tangannya kemudian mencoba memukul Kenzo.
"Apa sudah cukup?" tanya Kenzo.
Raphael menghentikan pukulannya, percuma dia membuang tenaganya.
Dan Kenzo menunduk seraya menepuk pundak anak laki-laki itu dengan kedua tangannya.
"Menjadi seorang pemimpin, bukan hanya memerintah dan bertindak sesuka hati kita. Seorang pemimpin itu mempunyai tanggung jawab yang sangat besar, begitu juga yang Axe lakukan pada keluarganya. Mungkin di matamu dia hanya penjual ayam tapi dibalik itu semua, kau tidak tahu perjuangan yang telah Axe lalui selama ini," ucap Kenzo mulai bersikap lembut. Dia tahu anak seperti Raphael tidak bisa diajak berbicara dengan emosi.
"Percayalah, Axe banyak berkorban untuk bisa hidup bersama istri dan anaknya," tambah Kenzo.
Suasana langsung menjadi hening, Tony dan beberapa anak buah Kenzo hanya bisa melihat interaksi diantara keduanya.
Sampai Kenzo memanggil asistennya di sana.
"Gilbert..." panggilnya.
"Kita akan pergi, persiapkan semuanya!"
Gilbert mengangguk dan bergegas bersiap-siap untuk pergi.
"Paman akan membantuku?" tanya Raphael kemudian.
"Aku tidak membantumu tapi aku membantu Lucy," jawab Kenzo.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka bergegas pergi ke mansion Lucy. Mereka menggunakan mobil van milik Kenzo yang sudah dilengkapi oleh peralatan komputer canggih.
"Rencana pertama, kita harus menyusup ke mansion keluarga Boutier dan mencuri obat Lucy. Kita harus memastikan obat apa itu setelahnya kita akan mendatangi Lucy," ucap Kenzo saat dalam perjalanan.
"Aku harap Lius tidak tahu apa yang akan kita lakukan!"