
Obat itu biasanya digunakan untuk hewan jika dikonsumsi oleh manusia dalam jangka panjang maka orang itu akan mengalami kelumpuhan dan organ dalamnya akan rusak
Penjelasan Kenzo itu terus terngiang di kepala Raphael. Jadi, selama ini obat yang dikonsumsi oleh Lucy adalah obat yang bisa membuat gadis kecil itu mati secara perlahan-lahan.
Kenapa hal itu bisa terjadi?
Itu karena aku yang lemah, maafkan aku Raphael karena kau jadi mempunyai teman seperti aku
Aku akan menceritakan pada mommy di sana kalau aku punya teman yang baik seperti Raphael
Sekarang kata-kata Lucy kembali mengusik pikiran Raphael. Anak laki-laki jadi merasa bersalah karena tidak tulus berteman dengan Lucy selama ini.
"Paman, kita harus selamatkan Lucy bagaimana pun caranya. Setelah ini aku berjanji tidak akan masuk ke dunia mafia lagi dan belajar sungguh-sungguh," ucap Raphael pada Kenzo.
Kali ini nada bicara Raphael bukan gaya arogan yang seperti anak itu lakukan biasanya.
"Aku harap kau belajar dari kejadian ini," sahut Kenzo seraya menepuk pundak Raphael.
Mobil van yang membawa mereka terus melaju menuju ke tempat di mana Lucy disekap.
Sementara Lucy sendiri dengan sabar menunggu Raphael. Gadis kecil yang biasanya penakut itu seperti mempunyai kekuatan setelah lebih mengenal Raphael.
Malam itu, Lucy tidak bisa tidur. Dia mencoba untuk keluar dari ruangan dia disekap untuk mencari Raphael.
Beruntung pintu memang tidak dikunci jadi Lucy keluar dengan mudah.
Dengan langkah hati-hati, Lucy berjalan dan mencari Raphael.
"Apa sekarang Raphael sedang memijit paman-paman penculik itu," gumam Lucy.
Lucy terus mencari Raphael sampai tanpa sengaja menabrak meja dan menjatuhkan barang yang menimbulkan bunyi di tempat itu.
"Siapa di sana?" seseorang mencari sumber suara dan mendapati Lucy yang memaku di tempatnya.
"Maafkan aku, Paman. Aku ingin mencari Raphael." Lucy berkata dengan menundukkan wajahnya.
Lius yang sudah bersiap pergi meminta anak buahnya itu untuk membawa Lucy pergi.
Tapi, tidak ada sahutan dari para orang yang membawa Lucy termasuk Lius.
Lucy tidak menyerah, gadis kecil itu mendekati Lius dan bertanya pada pria itu. "Paman, di mana kita akan pergi?"
"Menemui ibumu," jawab Lius singkat.
"Benarkah? Apa yang mommy Arabelle katakan?" Lucy jadi banyak bertanya, entah dapat keberanian dari mana itu.
"Apa Raphael juga akan bebas?"
Mendengar Lucy yang tidak berhenti bicara membuat Lius jadi jengah sendiri. Apalagi Lucy terus menyebutkan anak ingusan yang tidak disukainya.
"Raphael sudah bebas dan mungkin sekarang dia tidur nyenyak di rumahnya," jawab Lius yang membuat Lucy mengerutkan keningnya.
"Apa orang tua Raphael sudah menebusnya?" tanya Lucy lebih pasti.
Pertanyaan itu membuat Lius dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak.
"Malang sekali nasibmu," ucap Lius dengan terus terkekeh.
Lius menarik Lucy ke dalam sebuah mobil dan tangan gadis kecil itu mulai diikat lagi.
"Paman, jawab pertanyaanku," pinta Lucy yang tidak peduli dengan ikatan di tangannya. Dia hanya ingin tahu keadaan Raphael lebih jelas.
"Sepertinya kau sangat ingin tahu, ya. Baiklah, aku akan memberitahumu! Dengarkan baik-baik!"
Lius menatap ke arah Lucy seraya memegang dagunya. "Raphael itu adalah otak dibalik penculikan ini!"
"A-apa?" Lucy merasa tidak percaya. "Itu tidak mungkin!"
"Kau pikir kami tahu informasi tentangmu dari mana, kalau bukan dari Raphael," jelas Lius.
"Apa kau tidak curiga, kenapa tiba-tiba dia baik padamu? Dia itu hanya memanfaatkan mu dan tidak menganggapmu teman!"
Lucy langsung diam seribu bahasa, air matanya menetas begitu saja. Dia menjadi anak yang cengeng lagi.