The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 8 : The Snow Witch



Château D'exil, Wilayah Perbatasan Utara, Nordhalbinsel


Kastil berusia ratusan tahun itu terletak di wilayah perbatasan utara, salah satu daerah kekuasaan Klan Winterthur selama ratusan tahun, tempat yang sangat dingin di mana tidak ada siapa pun yang cukup waras datang ke tempat itu. Dahulu, kastil itu ditempati oleh beberapa anggota keluarga Winterthur sewaktu Klan tersebut masih sangat besar dan berkuasa. Namun saat masa kepemimpinan Raja Vlad, tempat itu sengaja dikosongkan karena letaknya yang tidak strategis serta jauh dari mana pun. Kini Kastil tersebut kembali ditempati oleh anggota keluarga Winterthur yang diselamatkan oleh Raja Xavier dari tiang gantung.


Siang itu, Eleanor Winterthur, mantan Ratu Nordhalbinsel sedang berada di balkon teras kamarnya sambil memegang sesuatu di pangkuannya yang ditutupi selimut tebal. Kepala bayi itu menyembul keluar dari selimutnya, menatap ibunya dengan mata biru es yang berbinar dan senyuman polos. Eleanor turut tersenyum melihat putranya.


"Siapa namanya?"


Eleanor tidak perlu menoleh ke belakang untuk mengetahui bahwa saudara kembarnya lah yang bertanya. Eleanor sudah tahu bahwa Elias akan datang hari itu karena sebelumnya mereka sudah saling berkirim surat. Tapi tetap saja, kedatangan saudara kembarnya mengejutkannya.


"Elyan." Jawab Eleanor. Bayi yang ada di pelukannya seolah tahu namanya sedang disebut. Bayi laki-laki yang sehat itu tertawa riang. "Elyan Winterthur." Kata Eleanor sambil menoleh pada saudara kembarnya yang kini sudah ada di sampingnya, sedang berlutut menatap sang keponakan.


"Dia mirip denganmu." Kata Elias saat memperhatikan warna mata Elyan yang sewarna dengan matanya. Meski ditutupi topi rajut, Elias dapat melihat bahwa bayi itu memiliki rambut pirang seperti halnya anggota keluarga Winterthur. Pipi bayi laki-laki itu bersemu merah muda saat menatapnya. Dalam sesaat saja, Elias sudah langsung bisa merasakan ikatan persaudaraannya dengan bayi laki-laki itu. Seorang Serigala Winterthur lainnya. Elias tidak tega memberitahu Eleanor bahwa anaknya itu kelak akan turut menanggung kutukan keluarga mereka. Anak itu juga akan menjadi Serigala dan kehilangan jati dirinya pada malam-malam tertentu kecuali jika anak itu berhasil menemukan pasangan jiwanya.


"Tidak juga." Kata Eleanor. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari putranya. "Hidungnya lebih mirip ayahnya. Bibirnya juga. Sebenarnya, bentuk matanya juga meski warna matanya biru es bukan biru laut seperti ayahnya." Dia kemudian menoleh ke arah Elias, dan bertanya, "Apa sekarang kau akan benar-benar kembali?"


Elias tidak langsung menjawabnya. Dia berdiri, dan berjalan menuju pagar balkon, mengamati pemandangan dari sana. Sepanjang mata memandang, dia hanya dapat melihat salju. Tidak ada apa pun selain padang bersalju. Tempat itu benar-benar tempat yang cocok untuk mengasingkan keluarga yang telah melakukan pembunuhan.


"Di mana ayah dan ibu?" Elias balik bertanya, tanpa mengalihkan tatapan dari padang salju di hadapannya. Tangannya mencengkeram pagar balkon dengan erat.


Elias meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak marah pada siapa pun. Tapi ini tak adil baginya. Keluarganya selama ini telah berusaha untuk menebus kesalahan leluhurnya dengan mengabdi pada Raja. Eleanor yang berjiwa bebas bahkan harus menjalani kehidupan yang tak diinginkannya di Istana selama hampir seumur hidupnya, mengisi hari-harinya dengan belajar untuk menjadi Ratu di kemudian hari. Elias sendiri sudah mengorbankan banyak hal untuk kerajaan yang akhirnya harus ditinggalkannya. Dia bahkan merelakan pasangan jiwanya menikahi Kaisar yang tidak dicintai oleh wanita itu, demi perdamaian. Semua sudah dia lakukan untuk kerajaan yang merupakan rumahnya sejak lahir. Tapi kini mereka semua hidup di Kastil Yang Terasingkan, jauh dari apa pun, dan tidak diketahui keberadaannya oleh siapa pun.


Meski demikian, dia menyadari bahwa ini terjadi bukan atas keinginan siapa pun. Ini terjadi karena Eleanor memang membunuh Pangeran Yi, dan Xavier harus melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang Raja yang adil.


Tidak. Elias bahkan tak bisa menyalahkan Eleanor. Elias mungkin adalah satu-satunya orang yang bisa memahami perbuatan saudari kembarnya itu. Namun bukan berarti Elias membenarkan perbuatan itu.


"Mereka ada di lantai atas. Kau belum menjawabku, Elias." Kata Eleanor, membuyarkan lamunannya.


"Aku tidak akan kembali." Suara Elias serak saat mengatakan hal itu. Berat baginya berpisah dengan keluarganya dan kerajaannya. Meninggalkan keluarga, meninggalkan saudari kembarnya dan rumahnya serta tanah airnya untuk selamanya sama sekali tak mudah untuknya. Tapi lebih tak mudah lagi meninggalkan pasangan jiwanya. Dan Elias harus memilih.


"Kau hanya akan menjadi pria simpanan Maharani Orient." Suara Eleanor setajam es. Kata-kata itu diucapkan dengan sangat dingin. Elias seharusnya sakit hati mendengar kata-kata itu justru keluar dari mulut saudari kembarnya sendiri. Tapi nyatanya tidak. Elias bahkan tak terkejut lagi saat mendengarnya. Dia sudah terlalu sering mendengar sebutan itu.


"Aku tak peduli." Dia tersenyum pada saudari kembarnya. "Aku datang ke sini hanya untuk berpamitan dan meminta restu ayah dan ibu. Aku takkan kembali ke sini, Elle."


"Bodoh! Jangan terlalu mencintai seseorang. Itu hanya akan menyakitimu."


"Katakan itu pada dirimu sendiri, Elle. Kau yang masih mencintai orang yang jelas-jelas hanya dibayar oleh Selena untuk merayumu dan menidurimu."


Elias segera menyesal mengatakan hal itu pada saudari kembarnya. Elle tampak terkejut dan menahan tangisan. Menyebut-nyebut soal Dylan di hadapannya sudah pasti membuka lukanya yang tak pernah bisa sembuh.


"Dia menyelamatkan kehormatanku dan nama baik keluarga kita dengan mengorbankan nyawanya dan tidak mengakui hubungan kami dalam rapat itu. Dia mengorbankan nyawanya untukku!"


"Jadi dia sudah mati. Kau seharusnya berhenti mencintainya. Bukalah lembaran baru dan hidup dengan lebih baik kali ini. Relakan dia."


"Tidak bisa!" Eleanor berteriak. Hembusan angin beku menyertainya. Elyan kecil di pelukannya mulai menangis. "Elyan akan mendapatkan ayahnya kembali. Kami akan kembali menjadi keluarga yang utuh." Katanya sambil berusaha menenangkan tangisan putranya.


"Kau benar-benar berniat membangkitkan kembali Griselda Grimoire hanya agar kekasihmu itu hidup kembali? Sadar lah! Kau melakukan sihir hitam paling dilarang dan sangat berbahaya! Kau pikir aku tak tahu?" Elias berhenti sesaat, melirik ke arah keponakannya yang menangis semakin kencang seiring tiap katanya. Elias kemudian memelankan suaranya, namun tetap jelas terdengar. "Kau membunuh Pangeran Yi dan beberapa pria lain yang mencintaimu untuk sebagai persembahan pada Griselda. Itu kan persyaratannya? Nyawa orang-orang yang menyayangimu dan mencintaimu dengan tulus. Kau membunuh mereka semua untuk membangkitkan kembali penyihir hitam terkuat yang hidup ratusan tahun yang lalu. Siapa berikutnya yang akan kau tumbalkan, Elle? Apakah aku? Atau ayah dan ibu kita? Berhenti lah sebelum Griselda benar-benar mengambil alih tubuh dan pikiranmu!"


Elias hendak pergi meninggalkan saudarinya karena dia takkan sanggup melihat wajah Eleanor yang sedang menangis. Dia baru akan pergi menemui orang tuanya. Tapi kemudian udara di sekitarnya menjadi lebih dingin. Langit tiba-tiba menggelap seperti akan datang badai salju. Bahkan tangisan Elyan tak terdengar lagi. Elias menoleh ke belakang, ke arah saudarinya, mencari tahu apa yang terjadi.


"Kau terlambat, saudaraku tersayang." Suara Eleanor terdengar sangat berbeda. Lebih dalam dan lebih pelan. Dan saat melihat Elyan di tangannya tampak memejamkan mata seperti pingsan, Elias tahu apa yang terjadi. Kini tubuh saudari kembarnya telah diambil alih oleh Griselda Grimoire. Hal itu terbukti saat Elias mengamati warna mata saudari kembarnya menjadi berwarna ungu seperti layaknya para penyihir hitam. "Aku hanya butuh satu nyawa lagi untuk menghidupkannya. Pria yang memegang separuh kekuatanku. Aku hanya perlu memancingnya untuk datang ke sini. Dia akan datang. Dia takkan bisa menolak panggilanku karena aku bukan hanya menaruh separuh kekuatan sihirku padanya. Aku menaruh separuh jiwaku bersamanya. Hanya dengan membunuhnya, maka sihirku akan sempurna."


...****************...


Kamar Raja, Istana Utama, Nordhalbinsel


Xavier terbangun lagi. Nafasnya tersengal-sengal. Mimpi buruk lagi. Semenjak mendengar ramalan dari Gyeoul, dia selalu bermimpi buruk. Dalam mimpi itu, kadang dia melihat kereta kuda yang dinaiki Anna mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang, Anna mati dalam kecelakaan itu. Terkadang dia melihat ada pemberontakan terjadi di wilayah utara, Anna yang sedang bertarung melawan para pemberontak itu tewas oleh pedang seseorang. Di mimpi lainnya dia melihat seorang penyihir, tidak jelas wajahnya, hendak membunuh Leon, tapi Anna menyelamatkannya dan akhirnya dia lah yang mati. Ada juga mimpi di mana Anna sedang sangat sedih dan menangis, dan hendak terjun dari balkon kamarnya untuk mengakhiri hidupnya. Di mimpinya yang mana pun, akhirnya selalu sama, kematian Anna dan anak mereka yang masih di kandungannya. Dan itu menakutinya lebih dari apa pun.


Xavier segera menoleh ke samping, ke arah Anna yang masih terlelap dalam tidurnya. Dan kepanikannya pun langsung mereda.


Itu hanya mimpi, itu tak berarti apa pun, batinnya. Dia masih hidup. Mereka masih hidup. Mereka berdua akan tetap hidup selama aku bisa melindungi mereka.


Xavier ingin membicarakan ketakutannya itu, dia ingin memberitahu Anna tentang mimpi-mimpinya, tapi dia tidak tega membangunkannya. Wajah Anna yang sedang tertidur pulas terlihat sangat damai, seolah wanita terkasihnya itu belum pernah berduka atas kematian siapa pun. Seolah kehidupannya selalu bahagia. Saat Anna sedang tertidur, Xavier hanya bisa tersenyum memperhatikannya. Rasanya masih sama mendebarkan dan membuat perasaannya melambung karena bahagia mengetahui wanita yang sedang tidur di sampingnya itu adalah istrinya. Rasanya mimpi buruknya itu bisa dia abaikan saja setelah melihatnya.


Xavier mengecup kening istrinya itu dan membelainya dengan lembut. Anna, yang masih tertidur, bergeser ke arahnya dan memeluknya.


"Aku mencintaimu..." Katanya dalam tidur.


Xavier tak bisa menahan senyumannya, "Aku juga. Sangat." katanya sambil memeluk Anna.


Anna membuka matanya. Merasakan tatapan sepasang mata emerald itu yang memperhatikannya tidur sejak tadi.


"Maaf... aku mengganggu tidurmu ya?" Tanya Xavier.


Anna menggeleng. "Kau tidak tidur?" Anna balik bertanya.


"Kenapa? Mimpi buruk?" Tanya Anna lagi.


"Tidak. Hanya..." Xavier hendak mengatakan kebohongan lainnya agar Anna tak perlu mencemaskannya, tapi saat melihat Anna, dia yakin Anna akan langsung tahu kalau dia berbohong. "Kau benar. Mimpi buruk."


"Mau menceritakannya padaku?"


"Tidak. Tidak juga." Katanya sambil membenarkan selimut menutupi seluruh tubuh Anna. Anna tidak lahir dan besar di Nordhalbinsel. Tidak seperti orang-orang utara, dia tidak tahan dengan cuaca dingin. Jadi Xavier memeluknya. "Tidur lah lagi. Aku juga akan tidur."


"Apakah aku ada di mimpi itu?" Tanya Anna.


"Ada. Kau selalu ada di setiap mimpiku."


"Kalau begitu, ceritakan."


"Perintah Ratu?"


Anna tersenyum. "Permintaan dari seorang istri yang sangat mencintaimu." Anna mencium pipinya, "Ceritakan padaku."


"Ah, ini tidak adil. Aku jadi tak bisa menolak." Katanya. Dia terdiam sesaat, mencari cara yang tepat untuk memulai ceritanya. "Aku bermimpi buruk. Buruk sekali. Benar-benar menyeramkan. Di mimpiku itu... kau mati." Suaranya tercekat saat mengatakannya. Matanya berkaca-kaca. "Dan... aku tak bisa melakukan apa pun untuk mencegahnya. Aku tak bisa menyelamatkanmu. Aku juga tak punya apa pun untuk ditukarkan dengan nyawamu."


"Xavier..." Kata Anna dengan lembut. Dia kemudian mencium bibir suaminya itu. "Itu hanya mimpi."


"Aku tahu..."


Karena melihat raut wajahnya yang masih dibayangi kekhawatiran, Anna menggenggam tangannya, membuktikan keberadaannya yang nyata. "Itu tidak terjadi. Itu tidak nyata. Aku masih ada di sini. Ini yang nyata."


"Aku tahu..." Katanya lagi. "Tapi, beberapa mimpiku pernah menjadi kenyataan."


Anna tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat mendengarnya. Xavier belum pernah memberitahunya tentang mimpi-mimpinya. "Benarkah?" Tanyanya.


Xavier mengangguk. "Aku pernah bermimpi melihat Leon memutus sihir Selena pada Ibuku. Aku memimpikan itu saat aku masih remaja, jauh sebelum aku bertemu denganmu dan Leon. Itulah sebabnya aku mencarinya dulu. Dan ternyata mimpiku itu benar terjadi. Leon benar-benar berhasil memutus sihir Selena pada Ibuku."


"Apakah ada lagi mimpimu yang menjadi kenyataan?"


"Ada banyak. Aku juga pernah melihatmu dalam mimpiku sewaktu aku masih kecil. Di mimpiku itu kau sudah remaja. Padahal aku sama sekali belum pernah bertemu denganmu waktu itu—maksudku di kehidupan ini. Beberapa mimpiku benar-benar menjadi nyata, Anna."


Anna terdiam saat mendengar pengakuan itu. Dalam benaknya dia memikirkan perkataan Ratu Eugene saat dia berada di Istana Wisteria. Jika mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan, mungkin Xavier memang bisa melihat masa depan lewat mimpinya. Mungkin Ibu Suri Irene memang keturunan Klan Reyes dari garis keturunan Ibunya.


"Aku tahu, itu sulit dipercaya, tapi—“


"Aku percaya." Potong Anna langsung. "Xavier, apa mungkin kau tahu tentang Klan Reyes dari Westeria?"


"Ya, aku tahu. Eugene pernah menceritakannya padaku sewaktu kami pertama kali bertemu. Aku juga pernah membacanya di perpustakaan Istana."


"Klan Reyes itu... Mereka bisa mengetahui masa depan. Mungkinkah mimpi-mimpimu itu adalah kilasan masa depan yang kau lihat? Mungkinkah kau adalah keturunan Klan Reyes dari Westeria?"


"Karena mata emerald ini?"


Anna mengangguk.


"Kuharap bukan. Karena jika aku benar-benar keturunan Klan Reyes, artinya mimpiku tentang kematianmu juga akan menjadi kenyataan. Dan aku tak menginginkan masa depan seperti itu."


"Aku tahu... Itu takkan terjadi."


Xavier memeluknya erat, seolah jika tak begitu Anna mungkin hanya berupa mimpi yang tak nyata. Hanya sebuah bayangan atau ilusi.


Lama mereka hanya berbaring dalam diam sambil berpelukan, berbagi kehangatan yang tak dapat mereka temukan di mana pun di kerajaan yang memiliki musim dingin abadi.


"Jadi kau sudah bicara dengan Eugene?" Xavier bertanya, memecah kesunyian di antara mereka setelah beberapa menit saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Anna mengangguk. "Maaf aku tak mengatakannya padamu. Karena kurasa sebaiknya Eugene yang langsung mengatakannya padamu."


"Apakah kau setuju padanya? Apakah kita sebaiknya membiarkan mereka menjadikan anak kita sebagai pewaris takhta Westeria?" Tanya Anna.


Sebenarnya Anna sudah beberapa kali memikirkan hal tersebut. Menjadikan anak mereka sebagai pewaris takhta Westeria artinya menjamin bahwa tiga kerajaan akan melindungi anak mereka, dan perdamaian tiga kerajaan akan terjamin di masa depan. Akan tetapi menjadikannya sebagai pewaris tiga kerajaan sekaligus bahkan sebelum anak itu lahir, mungkin akan menjadi tanggung jawab besar yang membebaninya sejak kecil.


Karena melihat kekalutan di wajah istrinya itu, Xavier menjawab, "Kurasa mereka sebaiknya tak perlu terburu-buru soal itu. Eugene dan Jeffrey masih sangat muda, hidup mereka masih panjang. Bisa saja kutukan itu tak terjadi pada Eugene. Bisa saja mereka akan diberi keturunan namun sedikit terlambat. Kurasa kita tak perlu menyetujui apa pun untuk saat ini."


Anna mengangguk setuju, "Tapi jika kutukan itu benar..."


"Jika kutukan itu benar menimpa Eugene..." Kata Xavier, "Maka kita harus membantu mereka."


...****************...