
Istana Matahari, Shina, Orient
Dua minggu kemudian...
Hujan mengguyur Shina. Istana Matahari yang selalu tampak cerah itu kini tampak gelap karena cahaya mentari tertutup awan kelabu. Suara deras air hujan yang turun membasahi tanah di pekarangan terdengar hingga menembus dinding-dinding Istana. Suaranya entah bagaimana mendatangkan kedamaian dan ketenangan jiwa. Udara pun menjadi lebih sejuk dan tercium aroma tanah yang basah oleh air hujan, mengimbangi aroma parfum sang Ibu Suri.
Reina sedang duduk di ruangannya sambil meminum teh yang masih hangat. Dia memejamkan mata, menikmati suasana hujan siang itu. Serta menikmati pijatan kaki salah satu kekasihnya.
Qin tidak pernah menyukai hujan. Pikirnya. Entah bagaimana, benaknya justru memikirkan mendiang suaminya itu di saat dirinya sedang dikelilingi oleh para pemuda tampan yang sudah dia pilih menjadi kekasihnya. Mereka menyuapinya anggur dan memuja paras cantiknya yang tak pernah dipudarkan waktu. Qin tidak pernah memuji kecantikanku. Setiap kali dia memuji, dia akan mengatakan bahwa aku pintar dan brilian. Pikirnya lagi sambil tersenyum menanggapi pujian dari salah satu kekasihnya.
Namun saat tenangnya itu tiba-tiba dibuyarkan oleh suara seseorang di luar pintu. Suara yang telah lama dia nantikan.
"Yang Mulia Ibu Suri, saya datang untuk menghadap."
"Silahkan masuk." Titah Reina.
Pintu pun terbuka lebar memperlihatkan seorang wanita muda dengan pakaian yang robek di beberapa bagian. Kulitnya yang tidak tertutup pakaian tampak kebiruan, memar dan luka di paha, betis dan lengan. Rambut hitam panjangnya menjuntai menutupi wajahnya, tampak basah oleh air hujan. Wanita muda itu menggigil dan terus menunduk.
Saat langkahnya sudah cukup dekat dengan Reina, dia mendongak menatap Sang Ibu Suri. Memperlihatkan wajah yang sudah sangat familier bagi Reina. Namun kini wajah itu penuh dengan luka dan darah. Dia tampak ketakutan. Air matanya mengalir tanpa suara.
"Eri..." Reina terkesiap saat melihatnya. Tangannya menutupi mulut, terkejut pada penampilan salah satu orang kepercayaannya. "Apa yang—“
Eri terisak, suaranya tak terdengar jelas karena luka di bibirnya tapi Reina masih dapat menangkap kata-katanya. "Saya diculik oleh pemimpin Serigala Utara, Baginda. Tolong saya!"
"Pemimpin Serigala Utara?"
Eri mengangguk, masih sambil menangis dan menggigil. "Benar. Grand Duke Winterthur."
Reina kemudian memerintahkan semua kekasihnya dan semua pelayan serta dayang-dayangnya untuk pergi mengosongkan ruangan itu sehingga hanya tersisa dirinya saja dengan Eri.
"Duduklah dan ceritakan padaku apa saja yang terjadi padamu selama dua minggu ini." Perintah Reina sambil mempersilahkan Eri untuk duduk di kursi tak jauh dari hadapannya.
Eri pun duduk di kursi itu. "Saat Anda mengutus saya untuk pergi keluar Istana dan mencari Jantung Naga Angin, tiba-tiba sekelompok Serigala menyergap saya. Saya berusaha melawan, tapi jumlah mereka terlalu banyak dan mereka sangat kuat. Mereka kemudian membawa saya kepada pemimpin mereka, Grand Duke Winterthur yang baru. Dia orang yang kejam dan dingin. Dia kemudian membawa saya kepada Ratu Utara—“
"Tsarina Anastasia?" Potong Reina langsung dengan tidak sabar.
Reina memang sengaja memerintahkan Eri untuk pergi keluar Istana dan mencari jepit rambut milik Naga Angin karena saat itu dia mendapat informasi dari salah satu mata-matanya bahwa Grand Duke Winterthur dan para Serigalanya sedang berada di Orient. Ada kemungkinan bahwa Tsarina mengirimkan Grand Duke dan pasukannya untuk mencari tahu apa yang sedang disiapkan olehnya. Mungkin Tsarina memang sudah tahu tentang Naga Baja buatannya. Reina kemudian sengaja mengirimkan Eri sebagai umpan untuk para Serigala. Reina beranggapan bahwa jika mereka membawa Eri kepada Tsarina Anastasia, maka Eri mungkin bisa menemukan jepit rambut tersebut. Karena besar kemungkinan Kaze memberikan jepit rambutnya kepada Ratu para Naga itu.
"Be-benar... Tsarina Anastasia. Wanita itu menyiksa saya karena saya pernah menyakiti Naga Angin dan juga untuk memaksa saya buka mulut dan membongkar senjata rahasia kita, Baginda. Saya dikurung dan diperlakukan dengan keji serta tidak diberi makanan maupun minuman sama sekali selama berhari-hari. Mereka juga tidak memberi saya pakaian tebal di udara yang sangat dingin itu, Baginda. Saya hampir saja mati membeku—“
"Cukup. Aku tidak perlu mendengarkan semua kekejian itu." Potong Reina. "Jadi katakan. Kau bertemu dengan Tsarina? Lalu apa dia memiliki jepit rambut Naga Angin?"
Eri mengeluarkan sesuatu dari kantungnya untuk menjawab pertanyaan itu. Sebuah jepit rambut yang sudah sangat tidak asing lagi di mata Reina. Jepit rambut Naga Angin. Jepit rambut yang dahulu kala diberikan oleh Kaisar terdahulu kepada Naga Angin pertama yang berhasil dia tangkap. Jepit rambut itu ternoda oleh darah Eri, namun tetap tampak berkilauan di bawah cahaya lampu. Dan mata Reina pun tampak berkilauan saat melihat jepit rambut itu. Dia tersenyum lebar, tak dapat menahan gejolak kebahagiaan saat akhirnya rencananya untuk mendapatkan kekuatan Naga Angin dengan mengirimkan Eri sebagai umpan akhirnya berhasil dengan sukses. Eri memang terluka parah, tapi itu bukan masalahnya. Yang terpenting sekarang dia dapat menggunakan Naga Baja dengan kekuatan Naga Angin yang ada di dalam jepit rambut itu.
Reina memerintahkan Eri untuk mendekat dan menyerahkan jepit rambut itu padanya. Eri menurutinya. Di tangan Reina, jepit rambut itu tampak lebih berkilauan lagi terutama di bagian permatanya yang Reina yakini merupakan tempat jantung Sang Naga Angin tersimpan.
"Apakah ini benar-benar jepit rambut Naga Angin?" Reina bertanya memastikan. Meski sebenarnya dia sendiri pun sudah yakin bahwa itu jepit rambut yang asli.
"Benar, Baginda. Anda bisa melihatnya di lukisan Naga Angin yang lalu. Sama persis. Saya mencurinya dari Tsarina."
Reina tampak terdiam mengamati Eri, mencari tahu apakah Eri mungkin membohonginya. "Aku hanya perlu mengetesnya dengan menerbangkan Naga Baja. Kalau kau salah, berarti kau sudah mengkhianatiku." Katanya. Lalu saat memperhatikan ada yang berbeda dari sang pelacak naga itu saat memberikan jepit rambut padanya, Reina kembali bertanya, "Kuperhatikan kau mengenakan cincin, Eri? Apa aku baru melihatnya?"
Eri segera memegang cincin yang melingkari jari manis tangan kirinya itu sambil tersenyum malu. Cincin itu tampak begitu sederhana dengan permata kecil yang tampak seperti permata palsu. "Sebenarnya... Saya sudah bertunangan, Baginda. Ini cincin mendiang ibunya yang dia berikan untuk saya. Dia adalah seorang penyihir. Dia yang menolong saya untuk kembali ke sini dengan sihir teleportasi." Wajah Eri begitu berseri-seri saat menceritakan tentang tunangannya seolah melupakan semua kejadian selama dua minggu terakhir serta luka-luka di tubuh dan wajahnya, sehingga Reina begitu yakin bahwa wanita yang sudah lama melajang sejak kekasih terakhirnya berakhir di atas ranjang Reina itu kini sedang benar-benar jatuh cinta.
Reina menaikkan sebelah alisnya, "Penyihir?" saat menyebut kata itu, seolah dia sedang mencemooh, "Orang Utara, kalau begitu?"
"Bukan, Baginda. Dia orang Orient. Dari suku Ilbon juga. Tapi neneknya dulu adalah penyihir di Menara Sihir Nordhalbinsel. Dia belajar sihir dari neneknya." Jawab Eri.
"Dia bekerja?"
"Sayangnya, tidak. Dia masih mencari pekerjaan, Baginda."
"Kau tahu, aku takkan melarang para Torakka untuk menjalin hubungan, tapi jangan sampai itu mengganggu pekerjaanmu. Baguslah kalau dia bisa sihir sehingga bisa membantu pekerjaanmu. Kapan-kapan bawa dia bertemu denganku, aku mungkin bisa memperkerjakannya di Istana. Aku tidak ingin salah satu Torakka kepercayaanku menikah dengan pria yang status ekonominya tidak bisa menjamin kesejahteraan mereka."
"Benarkah? Terima kasih banyak, Baginda." Eri tampak senang seolah melupakan fakta bahwa kekasih terakhirnya menjadi milik Reina karena ditawari 'pekerjaan' oleh Sang Ibu Suri.
"Sekarang pergilah. Bawa jepit rambut itu denganmu dan bersihkan dari noda darahmu yang menempel di sana. Obati dan bersihkan juga lukamu lalu sore ini ikut lah denganku untuk menguji jepit rambut itu pada Naga Baja."
"Baik, Baginda."
***
Eri berjalan dengan dikawal oleh para pengawal Reina menuju kamarnya. Sesampainya dia di kamarnya, Eri meminta semua pengawalnya untuk pergi. Dia duduk di pinggir ranjang seorang diri, memperhatikan seisi kamar yang asing itu. Dan setelah memastikan bahwa dia sudah benar-benar sendiri, dia melepas 'cincin pertunangan' palsu itu.
Karena tentu saja itu bukan cincin pertunangan. Dan dia, tentu saja, bukan Eri yang sesungguhnya.
Rambut hitamnya berubah menjadi semerah api. Mata pelacak naga itu berubah menjadi cokelat keemasan. Anna kembali ke wujud aslinya setelah melepas cincin transformasi yang sudah diberi darah Eri.
"Senang melihatmu lagi."
Tanpa menoleh, Anna sudah tahu bahwa Leon sudah berteleportasi ke dalam kamar itu. Leon memang sudah mengawasinya sejak dia mulai memasuki Istana Matahari tanpa diketahui oleh siapa pun. Sesuai dengan rencana mereka.
Dan jika Leon sudah datang, itu artinya kamar itu sudah dipasang sihir kedap suara sehingga apa pun pembicaraan mereka tidak akan ada yang bisa mendengarnya. Leon juga sudah memastikan tidak ada orang di sekitar kamar Eri.
"Senang menjadi diriku lagi." Kata Anna sambil menghapus air mata palsu yang sudah dia latih berulang kali sebelum berakting menjadi Eri. Sekarang dia sudah lumayan ahli. Xavier pasti akan bangga padaku kalau dia tahu, pikirnya.
Leon berjalan ke tepi ranjang tempat Anna duduk dan membantunya memakai kimono untuk menutupi pakaian Eri yang robek di beberapa bagian untuk membuat efek 'disiksa dengan keji selama di Utara'. Karena itulah yang mereka inginkan. Membuat Reina berpikir bahwa Eri disiksa, bukannya ditawari kerja sama. Yang sebenarnya terjadi, selama dua minggu terakhir Anna mencari tahu segala hal tentang Eri dan belajar meniru sang pelacak naga sebelum dia mulai menyamar menjadi Eri untuk menyusup masuk ke Istana Matahari tempat tinggal Reina. Dan setelah memastikan Naga Baja yg dibuat Ludwig dan Selena sudah jadi, serta setelah memastikan semua persiapan sudah selesai, baru lah Anna menggunakan cincin transformasi terbaru pemberian Ludwig dan menyamar menjadi Eri. Sementara itu, Eri tetap tinggal di Noord bersama Irene yang ditinggal untuk menjaga Vierra dan Elyan.
"Biar kulihat." Leon kini berlutut di hadapannya, memperhatikan 'luka-luka' yang sebelumnya dia buat dengan sihir. Dan dengan sihirnya juga, Leon menghilangkan semua luka palsu itu. "Sempurna." Katanya sambil tersenyum pada Anna.
Sulit untuk tidak tersipu malu saat seseorang seperti Leon menatap dari dekat sambil mengatakan 'sempurna' dengan senyuman yang mempesona seperti itu. Di tambah lagi dengan suasananya, penerangan kamar yang temaram serta hujan tanpa akhir di luar. Jadi Anna mengalihkan pandangannya. "Terima kasih, Leon." Ucapnya.
Leon segera mundur menjauh darinya, "Maaf, aku tidak bermaksud menggoda, tapi—maksudku kau sempurna. Maksudku, lukamu sudah sepenuhnya kuhilangkan dan—“
"Aku mengerti." Anna tertawa. "Astaga. Tidak usah dibahas lagi. Tolong jangan jadi canggung denganku."
Leon ikut tertawa, "Baiklah, Yang Mulia." Kata Leon. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas yang dia bawa. Sekantung kue Lotus. Dia memberikannya pada Anna dan menyebutnya sebagai kue terenak sedunia.
Leon kemudian kembali mengamati Anna yang sedang menatap ke arah luar jendela kamar dalam diam setelah menghabiskan tiga kue lotus. Anna sedang melihat hujan yang masih turun membasahi taman di hadapan kamar Eri. "Kau baik-baik saja?" Tanya Leon yang juga sudah berhenti memakan kue-kue itu.
Anna menoleh padanya, "Karena hujan?"
"Karena hujan pasti mengingatkanmu pada Xavier." Jawab Leon.
Anna mengangguk. Leon pasti sudah tahu tentang Xavier yang sudah menyembuhkannya sehingga hujan tak lagi membuatnya menjadi histeris akibat traumanya setelah kematian ayahnya. Dan Leon memang benar. Hujan mengingatkan Anna pada Xavier karena saat itu lah mereka berciuman untuk pertama kalinya, saat hujan palsu buatan Eleanor turun di Istana Utama. "Sekarang semua hal mengingatkanku padanya." Kata Anna, setengah merenung. "Aku baik-baik saja, Leon. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Jadi... Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa mendapatkan rumah sebesar itu dalam waktu cepat?" Leon mengalihkan topik sebelum Anna kembali bersedih karena mereka membicarakan Xavier lagi.
Rumah yang Leon maksud adalah rumah yang kini ditempati oleh pasukan Serigala. Mereka tentu saja tidak hanya berdua datang ke Shina. Leon membawa sebagian besar pasukan Serigala dan para penyihir untuk persiapan perang jika itu yang akan terjadi. Dan kini para Serigala itu sedang bersiap di sebuah rumah yang saking besarnya bisa menampung ratusan orang. Rumah itu terletak di atas bukit dan memiliki taman yang sangat luas.
"Rumah itu memang milikku. Xavier membelinya saat kami baru menikah. Tadinya itu akan menjadi rumah liburan kami. Kurasa untuk saat ini rumah itu akan lebih berguna jika digunakan sebagai markas para Serigala dan penyihir." Jawab Anna. Dia berusaha untuk tidak terlihat sedih. Karena tepat saat itu dia teringat bahwa Xavier sempat menuliskan di jurnalnya bahwa dia ingin suatu hari nanti berlibur bersama Anna dan anak-anak mereka di rumah itu. Impian itu tidak akan pernah terwujud.
"Astaga. Akan kupastikan tidak ada perabotan yang mereka rusak. Aku akan memerintahkan mereka untuk bergerak dengan sangat hati-hati dan tidak menyenggol apa pun."
Anna tertawa, "Tidak perlu setegas itu, Grand Duke." Kata Anna yang akhirnya memutuskan bahwa dia belum kenyang. Anna kembali mengambil kue dari kantung kue yang masih dipegang Leon. Leon tersenyum melihatnya. Dia pun turut mengambil satu kue lagi untuk dimakan.
"Kau tidak tahu betapa sulitnya mengatur mereka terutama yang masih remaja. Para Serigala itu begitu aktif dan tidak bisa diam. Jika aku tidak hidup abadi, aku cukup yakin saat ini aku sudah mulai menua akibat ulah para Serigala muda itu."
"Nanti juga mereka akan semakin dewasa dan lebih menurut. Kau harus lebih bersabar pada mereka."
"Tentu saja." Jawab Leon sambil menghela nafas. Dia kemudian bangkit menuju salah satu sisi kamar untuk menuangkan air di dua gelas dan memberikan salah satunya pada Anna setelah dia sendiri memastikan bahwa air itu benar-benar hanya air minum biasa tanpa campuran racun atau semacamnya. Anna segera menenggak habis air minum itu karena setelah memakan banyak sekali kue Lotus dia mulai merasa haus. "Ingat, jangan meminum apa pun yang belum kucicipi. Toh aku tidak akan mati karena racun." Kata Leon.
Anna tidak langsung menjawabnya. Sekarang kata 'racun' pun bisa membuatnya teringat pada Xavier.
Dan Leon langsung menyadari hal itu. "Maaf, aku tidak bermaksud—“
"Aku akan menuruti perkataanmu. Aku tidak akan makan dan minum sembarangan. Janji. Tapi kau tidak perlu mencicipi semuanya seperti itu. Kau kebal terhadap racun atau semua hal yang mematikan, aku tahu, tapi kau juga harus berhati-hati Leon. Bisa saja isinya obat tidur atau semacamnya, bukan racun." Kata Anna.
"Baiklah. Kalau begitu kita harus berhati-hati terhadap semua yang akan kita makan dan minum."
"Setuju."
Leon kemudian menaruh kembali gelas kosong mereka, mengambil kursi dan duduk di hadapan Anna. "Jadi setelah ini kau akan pergi melihat Naga Baja milik Reina?"
Anna mengangguk. "Reina akan menguji jepit rambut yang kuberikan."
"Yang mana sebenarnya bukan itu jepit rambut yang berisi inti jantung Naga Angin." Tambah Leon.
"Benar." Anna kemudian mengeluarkan dua buah jepit rambut dari sakunya. Jepit rambut yang tadi sempat dia perlihatkan pada Reina adalah jepit rambut Naga Angin. Sedangkan yang satunya adalah jepit rambut pemberian Xavier. Jepit rambut yang awalnya adalah milik Putri Seo-Hwa. "Inti jantung Naga Angin ada di sini." Anna menunjuk jepit rambut pemberian Xavier. "Jadi setiap kali Reina menggunakan jepit rambut yang ini," Kali ini dia menunjuk jepit rambu Naga Angin, "Akulah yang akan menggunakan kekuatan Naga Angin dengan jepit pemberian Xavier. Dia akan mengira bahwa dia lah yang memegang kekuatan Naga Angin."
"Kenapa kau begitu yakin bahwa kau, maksudku Eri, akan selalu ada di sisinya saat dia akan menggunakan jepit rambut itu? Bukankah ada Yi-Zhuo? Bisa saja dia mengajak Yi-Zhuo lain kali."
"Memang benar. Tapi aku akan memastikan Yi-Zhuo dibuang. Dan aku akan memastikan bahwa Eri akan menjadi satu-satunya orang yang dapat dipercaya oleh Reina."
Leon mengernyit bingung. "Caranya?"
"Eri mengatakan padaku bahwa Yi-Zhuo, diam-diam, tanpa sepengetahuan Reina, berhubungan dengan salah satu putra Reina. Adik dari Haru. Pangeran Yuza. Mereka biasanya bertemu diam-diam di taman belakang Istana."
"Ooh... Hubungan terlarang." Leon mengangguk-angguk memahami. "Tentu saja. Bukan Istana namanya kalau tidak ada skandal apa pun di dalamnya."
"Reina tidak akan senang jika tahu tentang hubungan mereka. Dan kau juga mungkin bisa membantuku dalam hal ini."
"Baiklah. Jadi kapan aku akan mulai diperkenalkan dengan Ibu Suri yang mengagumkan ini?"
"Ibu Suri ingin bertemu dengan 'tunangan Eri' secepatnya. Kapan pun kau siap."
Setelah membuat Reina percaya sepenuhnya padanya, Anna berencana untuk menemui Haru dan memperlihatkannya bukti bahwa meledaknya bom Morta di Jungdo yang menewaskan Yeon-Hwa bukan lah perbuatan Ludwig maupun orang suruhan Anna, melainkan karena Reina. Anna mengetahuinya dari Aletha. Reina lah yang menaruh mata-mata di kediaman Smirnoff dan mengambil bom Morta milik Ludwig kemudian meledakkannya di Jungdo tepat saat Haru sedang berkunjung ke Shina. Reina melakukannya karena dia tahu tentang kehamilan Yeon-Hwa dan karena Reina juga tahu bahwa Yeon-Hwa mengandung anak Elias, bukan Haru. Lewat Aletha juga Anna akan memberitahu pada Haru bahwa Reina yang telah menjatuhkan bom di Montreux dan Schere sehingga Anna berhak untuk meminta ganti rugi dan membuat Haru menghentikan proyek Naga Baja milik Reina.
Dan sementara itu, Leon akan mengalihkan perhatian Reina, sehingga Reina tidak bisa menggagalkan pertemuannya dengan Haru. Itulah sebabnya Anna menyamar menjadi Eri dan menyatakan bahwa Eri sudah bertunangan. Leon akan menjadi tunangan Eri. Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Eri, pria yang dekat dengannya selalu berakhir menjadi kekasih Reina. Jadi dengan cara itulah Leon akan mengalihkan perhatian Sang Ibu Suri.
Sebelum Leon ikut dengannya, Anna sudah memperingatkan padanya bahwa misi ini cukup berbahaya dan Leon tidak perlu ikut dengannya. Anna tadinya akan mengajak salah satu anggota pasukan Serigala yang juga orang Orient untuk menyamar menjadi tunangan Eri. Namun Leon bersikeras ingin ikut dengannya dan menyatakan bahwa dia tidak bisa tenang jika tidak bisa memastikan sendiri keamanan Anna selama di Orient. Mereka sempat berdebat panjang dan akhirnya Anna yang harus mengalah. Jadi Anna memberi Leon cincin transformasi untuk menyamar sebagai pria Orient yang akan menjadi tunangan Eri.
"Kau sudah mengambil sampel darahnya?" Tanya Anna.
Leon pun mengenakan cincin transformasinya yang selama ini dia simpan di kantungnya. Cincin itu serupa dengan cincin yang Anna gunakan sebagai Eri. Cincin pertunangannya. Yang sebenarnya adalah cincin transformasi. Bedanya, cincin yang ada pada Anna adalah buatan terbaru dari Ludwig yang sudah dimodifikasi. Cincin itu kini bisa dia gunakan untuk berteleportasi juga meski Anna belum sepenuhnya menguasai cara berteleportasi menggunakan cincin tersebut. Paling tidak dia bisa menggunakannya nanti di saat mendesak.
Dan tepat setelah Leon mengenakan cincinnya, dia berubah menjadi pria Orient berusia sekitar dua puluhan, lengkap dengan mata hitam khas Orient. Pria Orient yang sampel darahnya diambil oleh Leon adalah salah satu anggota pasukan Serigala yang berasal dari Orient bernama Ren. Ren menceritakan pada Leon bahwa dia dan ibunya pergi meninggalkan Orient saat Ren masih bayi, setelah kematian ayahnya. Ibunya belajar sihir dan menjadi penyihir menara, sedangkan Ren, setelah cukup dewasa, mendaftar ke pasukan Serigala Winterthur.
"Bagaimana?" Tanya Leon.
"Tolong gunakan logat khas suku Ilbon yang tidak terlalu baku, Leon. Kau ceritanya bukan bangsawan dan kau tinggal di perkampungan imigran."
"Gimana?" Ulangnya dengan logat khas suku Ilbon.
Anna tersenyum puas dan mengacungkan dua jempol padanya. "Kurasa Reina akan punya pacar baru."
Leon tertawa. Dia kemudian menghadap ke cermin yang ada di ruangan itu, memperhatikan pantulan dirinya yang kini sudah tampak sangat berbeda dengan rupa aslinya. Leon sendiri takjub dengan perubahan itu. "Jadi yang seperti ini tipe kesukaan Reina?"
Ren memiliki kulit putih susu yang halus, hidung mancung dan mata berbentuk kacang Almond. Secara keseluruhan, Ren terlihat rupawan bahkan untuk standar Reina sekalipun. Terlebih dengan proporsi tubuh yang sempurna dan suara yang lembut namun berat—Anna menyebut suara Ren seperti suara seorang penyanyi. Sehingga saat sedang bicara pun, suara Ren terdengar merdu. Namun ada hal lain yang membuat Anna memilih Ren. Yaitu wajah Ren yang jika sedang tersenyum, mirip dengan wajah mendiang Kaisar Qin semasa muda. Meski pun hubungan Reina dan Kaisar Qin tidak begitu harmonis, Anna cukup yakin memilih wajah yang mirip dengan wajah Qin sewaktu muda dapat lebih menarik perhatian Reina dari pada wajah rupawan lainnya.
"Maksudku, jelas wajah tampanmu akan jauh lebih disukai Reina. Tapi yang ini cukup meyakinkan." Kata Anna saat turut melihat pantulan wajah Leon—wajah Ren—melalui cermin.
Leon mengalihkan pandangannya dari cermin dan menatap Anna di sampingnya. "Yang mulia, kau sadar kan kau baru saja menyebutku tampan?" katanya, seolah tak percaya pada apa yang baru dia dengar. Wajahnya—wajah Ren—tampak tersipu.
Anna memutar bola mata, "Kau memang tampan sejak dulu, Leon. Tak usah pura-pura terkejut mendengarnya. Kau pasti sudah bosan mendengar pujian itu setiap harinya seumur hidupmu. Aku bicara mewakili seluruh wanita yang pernah kau patahkan hatinya." Kata Anna.
Leon tak dapat menahan senyumnya, "Tetap saja. Aku senang kalau kau yang mengatakannya." Kemudian dengan gerakan mendramatisir, dia berlutut di hadapan Anna layaknya rakyat jelata di hadapan Maharani. Dengan bahasa Orient dan logat suku Ilbon yang sangat khas, dia berkata, "Terima kasih banyak atas pujian Anda, Yang Mulia. Hamba tidak berhak mendapatkannya."
"Baiklah. Hentikan. Kau terlalu menghayati peranmu." Kata Anna sambil tertawa.
***