
Sekembalinya Anna dari Westeria, tugas-tugas menumpuk sudah menunggunya. Laporan dari orang-orang yang dia tugaskan untuk mengawasi pekerjaan perbaikan Istana di Schiereiland dia terima hari itu begitu dia kembali ke Noord. Laporan itu menyatakan bahwa perbaikan Istana Schiereiland kini sudah selesai. Kondisi Istana tersebut sudah kembali seperti semula dan mereka siap menerima kepindahan Sang Tsarina ke Schere. Anna akan menjadikan Schere sebagai Ibu kota Imperial Schiereiland, menggantikan Noord yang terlalu dingin untuknya. Alasan lain adalah karena dia semakin merasa kesulitan menyembuhkan dirinya dari rasa dukanya jika terus berada di Istana Utama Noord. Ada terlalu banyak kenangan dengan Xavier di sana.
Namun sebelum mulai pindah, Anna harus menyelesaikan urusan dengan Orient terlebih dahulu. Dan sebelum itu, Anna harus mempersiapkan Naga Baja terlebih dahulu jika negosiasi dengan Kaisar Haru gagal.
Dan sebelum dia bisa memulai semua itu, dia terlebih dahulu harus memastikan putrinya sehat.
Putri Vierra tiba-tiba saja mengalami demam tinggi begitu kembali ke Noord. Karena itu pertama kalinya Vierra jatuh sakit, Anna begitu panik dan tidak bisa berpikir dengan jernih seperti biasanya. Dia begitu takut jika sakit putrinya itu menjadi parah. Dia takut kehilangan putrinya. Jadi dia memanggil semuanya; dokter, ahli herba Istana, para penyihir yang ahli di bidang penyembuhan bahkan mengirimkan pasukan Serigala untuk memanggil Saintess Lucia yang tinggal di puncak gunung Reux untuk segera menyembuhkan putrinya.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan, kesimpulannya hanya satu, demam putrinya itu diakibatkan oleh perjalanan jauh dengan sihir teleportasi padahal bayi seusia itu belum boleh pergi jauh terlebih dengan sihir teleportasi. Dan obatnya pun begitu sederhana, yaitu kecupan penuh cinta dari Anna yang dapat langsung menurunkan demam putrinya itu sehingga obat yang diresepkan oleh dokter, herba racikan ahli herba Istana dan ramuan buatan penyihir tidak lagi diperlukan. Serigala utusan Anna pun segera dipanggil kembali ke Istana agar tidak perlu menjemput Saintess. Dia tidak pernah menyangka bahwa metode penyembuhan yang biasa digunakan olehnya dengan Xavier ternyata berlaku untuk putrinya juga.
***
"Astaga! Kau sudah bangun sepagi ini?" Tanya Irene keesokan harinya. Irene sengaja bangun sebelum matahari terbit karena ingin menjenguk cucunya. Tapi begitu dia memasuki kamar cucunya, dia terkejut karena mendapati Anna ada di kamar itu.
"Aku tidak bisa tidur semalaman. Aku takut dia sakit lagi." Jawab Anna. Dia sedang menggendong putrinya dan berdiri di dekat jendela, melihat matahari yang baru hendak terbit.
"Jadi kau tidak tidur semalaman dan terus menggendongnya seperti itu?"
Anna mengangguk.
"Dia sudah sembuh. Kau bisa bergantian denganku menjaganya. Sekarang tidurlah meski hanya beberapa jam." Irene membujuknya.
Anna menggeleng, masih belum melepaskan Vierra. "Aku tidak mengantuk sama sekali."
Lalu terdengar suara dari luar pintu kamar Vierra. "Yang Mulia, saya Eliza. Boleh saya masuk?"
"Masuklah, Eliza." Kata Anna.
Eliza pun masuk ke kamar Vierra. "Yang Mulia, pagi ini Anda ada jadwal kunjungan ke Kediaman Smirnoff dan Istana Schiereiland. Apakah perlu saya batalkan?"
"Ya. Batalkan saja. Aku akan bersama putriku seharian ini jadi batalkan semua jadwalku."
"Tidak. Kau tidak akan membatalkannya. Putri Vierra sudah sembuh dan tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan. Kau sudah bisa pergi ke Kediaman Smirnoff sekarang. Aku akan menjaga Putri Vierra." Kata Irene.
Anna menoleh pada Irene. "Tidak. Putriku membutuhkanku." Mata Anna terlihat sembap karena menangis semalam. Dia kembali memakukan pandangannya pada Sang Putri yang sedang tertidur nyenyak, khawatir jika Putrinya demam kembali. "Eliza, kau boleh pergi." Tambahnya. Eliza pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Begitu pun dengan seluruh Imperial. Semua membutuhkanmu." Timpal Irene.
"Putriku membutuhkanku lebih dari siapa pun. Dia yang terpenting untukku dan aku tidak akan meninggalkannya." Anna menegaskan. Dia kini duduk di pinggir ranjang dengan Vierra yang tertidur di lengannya.
"Jadi nasib seluruh Imperial ini tidak begitu penting untukmu? Aku bisa menjaga Vierra. Apa kau tidak percaya padaku karena aku tidak pernah menjadi ibu yang baik untuk kedua putraku?" Kata Irene. Dia meninggikan nada bicaranya.
Anna jadi merasa bersalah karena menyinggung perasaan ibu mertuanya itu. Dia tahu betapa Irene masih merasa bersalah karena keabsenannya dari hidup Xavier dan Leon selama ini. "Ibu mertua, aku tidak bermaksud—“
"Tidak. Tentu saja tidak. Aku mengerti kecemasanmu, nak. Begitu lah rasanya menjadi seorang Ibu. Khawatir tanpa henti, panik dan kalut saat sesuatu buruk menimpanya, dan saat anakmu sakit, kau berharap sakitnya itu bisa kau tanggung untuknya. Hal itu akan terus berlangsung selamanya bahkan walau pun anakmu sudah besar nanti. Aku tahu persis perasaan itu. Bedanya, aku merasakan semua itu tanpa bisa berbuat apa pun dan hanya bisa menyaksikan saat dua putraku sakit dan menderita semasa mereka masih kecil." Irene terdiam sejenak, dan melanjutkan, "Dan saat tahu Xavier menderita akibat racun Morta, sungguh aku ingin bisa menanggung rasa sakitnya. Kupikir setelah lepas dari jerat sihir itu, setelah aku kembali pada putra-putraku, aku bisa lebih berguna untuk mereka. Nyatanya, saat Xavier kesakitan pun aku tak bisa melakukan apa pun untuk meringankan sakitnya. Sampai dia meninggal pun aku belum bisa menjadi ibu yang baik untuknya."
"Pasti berat sekali rasanya untukmu." Membayangkannya saja Anna tidak bisa. Menjadi tak berdaya saat anaknya dalam kesulitan, saat anaknya di ambang kematian, pasti membuat ibu mana pun frustasi.
Irene mengangguk, matanya memerah menahan air mata saat kembali mengingat masa-masa itu. "Aku menangis dan berteriak seperti orang gila namun semua hal itu percuma. Baru lah saat putra-putraku sudah dewasa dan tidak membutuhkanku lagi, aku keluar dari jerat sihir itu. Namun tak ada gunanya, semuanya sudah terlambat, mereka akan tetap mengingatku sebagai ibu yang tidak pernah ada untuk mereka saat mereka sangat membutuhkan sosok seorang ibu."
Anna beranjak dari tempatnya duduk, membawa Vierra dan membaringkan putrinya itu di ranjang bayi dengan sangat perlahan, khawatir putrinya terbangun. Sekali lagi Anna mendaratkan kecupan di pipi putrinya, berharap penyakit apa pun tidak bisa mendekati sang putri yang sedang tertidur pulas. Dia kemudian duduk di kursi di seberang Irene dan menggenggam tangannya, "Aku yakin sekali Xavier dan Leon tak menganggapmu seperti itu. Mereka menyayangimu dan mereka bersyukur memilikimu sebagai ibu mereka."
Kata-kata itu berhasil menghibur hati Irene. Dia jadi mengerti bagaimana kedua putranya sama-sama jatuh cinta pada wanita yang ada di hadapannya itu. Irene tersenyum pada Anna dan berkata, "Oleh karena itu, biarkan aku menebus semua kekuranganku itu. Percayakan cucuku padaku. Biarkan aku menjaganya dan merawatnya selama kau pergi. Jika dia sakit, ada dokter dan para penyihir di Istana. Dan jika dia merindukanmu, kau bisa kembali ke Istana Utama kapan pun dengan bantuan sihir teleportasi."
Perkataan Irene berhasil meyakinkan Anna. Dengan berat hati, dia meninggalkan putrinya itu dan memercayakannya pada Irene.
Pagi itu Anna mendatangi Kediaman Smirnoff sebelum mendatangi Istana Schiereiland dan memutuskan kapan dia akan pindah. Wilayah Smirnoff berada sangat jauh dari Noord. Normalnya, membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menempuh perjalanan tersebut dengan kereta kuda. Anna ingat bagaimana dulu dia, Leon dan Louis harus menempuh perjalanan jauh berhari-hari dari Schere ke Noord untuk mengikuti pemilihan pengawal pribadi Xavier. Dia bersyukur bahwa kini setelah dirinya menjadi Tsarina dan memegang kuasa penuh atas seluruh Imperial termasuk Menara Sihir, Anna bisa memerintahkan Penyihir Istana untuk membawanya berteleportasi ke Wilayah Smirnoff.
Di sana, Ludwig dan Constanza sudah menunggunya dan menyambut kedatangannya. Anna tidak mengajak siapa pun, hanya beberapa pengawal dan seorang penyihir yang dia percaya untuk mengantarnya. Meski Anna tahu bahwa sesungguhnya Irene ingin ikut dengannya ke Kediaman Smirnoff karena Irene merindukan rumah masa kecilnya saat dia masih menjadi anak angkat keluarga Smirnoff—dan karena rumah masa kecilnya itu adalah tempat dia pertama kali bertemu dengan Kris, tapi Anna merasa lega karena Irene memutuskan untuk tidak ikut dengannya dan menjaga putrinya di Istana. Sedangkan Tyros yang awalnya menawarkan diri untuk menemaninya ke Kediaman Smirnoff mendapat penolakan dari Anna. Anna bersikeras untuk meliburkan Tyros dari semua tugas sampai hari pernikahannya agar Tyros dapat mempersiapkan pernikahannya dengan Theana.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Anna pada Constanza saat mereka bertiga sedang duduk di ruang tamu Kediaman Smirnoff. "Aku sudah mendengarnya dari Ludwig. Sudah berapa minggu usia kandunganmu?"
Constanza melemparkan tatapan galak pada suaminya itu.
"Ayolah, sayang. Tsarina adalah satu-satunya keluarga dekatmu selain adik-adikmu. Masa kau mau merahasiakannya juga darinya?" Kata Ludwig.
"Lagi pula kenapa kau merahasiakannya? Ini berita bahagia yang harus kau siarkan ke seluruh Imperial." Kata Anna, dia tidak ingin Ludwig jadi disalahkan karena memberitahukan berita tentang kehamilan Constanza pada Anna.
Sebelum Constanza menjawabnya, Ludwig sudah lebih dulu menjelaskannya pada Anna. "Constanza terlalu khawatir bahwa ini bukan saat yang tepat untuk memiliki anak, karena perang dengan Orient sudah di depan mata. Dia tidak ingin punya anak di saat—“
"Aku ingin!" Potong Constanza. "Aku sangat iri bahwa Anastasia sudah memiliki anak dan aku terus menantikan kapan aku juga bisa punya anak. Aku sangat bersyukur atas kehadiran anak ini. Aku sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Atau mungkin tiga—“
"Lima, sayang." Ludwig mengoreksi. "Waktu itu kau bilang padaku ingin punya lima anak karena jika digabungkan, kita punya total lima rumah untuk diwariskan."
"Ya, lima." Constanza memutar bola mata. "Masalahnya, sekarang bukan saat yang tepat untuk mengumumkannya. Mata-mata Orient pernah berada di rumah ini dan mencuri bom Morta. Tidakkah kalian mengerti? Mata-mata Orient pernah sedekat itu dan kita tidak tahu sama sekali. Jika saat itu pihak Orient sudah tahu bahwa aku sedang mengandung, entah apa yang akan mereka lakukan untuk mencelakakanku dan anak yang kukandung. Karena mereka tidak tahu—dan saat itu pun aku belum tahu, makanya mereka hanya mencuri bom Morta."
"Benar. Stres tidak baik untuk bayinya." Anna mengangguk setuju. "Jadi apa saja yang kau rasakan saat ini? Mual? Mudah lelah? Emosi yang tidak stabil?"
"Dia memang agak lebih sering marah-marah..." Kata Ludwig. Tapi kemudian dia melanjutkan, "Tidak juga. Dia memang biasanya seperti itu." Perkataannya itu dibalas dengan pelototan mencekam dari istrinya. Tapi Ludwig sudah terbiasa, jadi dia membalasnya dengan senyuman yang langsung membuat Constanza kembali melunak.
"Kondisiku baik-baik saja. Aku sehat seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Lagi pula ini baru minggu ke enam." Kata Constanza pada Anna.
Anna tampak mengingat-ingat kembali masa awal kehamilannya selama mereka masih berada di Orient. Betapa rasanya hal itu sudah lama berlalu. Dan Anna sangat bersyukur karena telah berhasil melalui masa-masa itu. "Saat aku mengandung Vierra, aku seperti orang sekarat di minggu ke enam. Aku benar-benar tidak bisa makan atau minum apa pun dan hanya bisa berbaring seharian. Xavier sampai tidak tidur berhari-hari karena menjagaku sepanjang malam."
Saat dia mengatakannya, benak Anna kembali mengingat saat-saat itu. Awalnya Xavier benar-benar tidak tahu bahwa dia sedang hamil dan Anna tidak berniat memberitahunya sampai dia berhasil melewati masa awal kehamilannya yang terasa sangat sulit. Xavier kebingungan karena biasanya ciumannya dapat menyembuhkan apa pun yang membuat Anna sakit, tapi kali itu tidak bisa. Hingga akhirnya Kaze dan Shuu membawa seorang tabib dan Xavier pun diberitahu bahwa Anna sedang mengandung. Awalnya Anna khawatir bahwa Xavier akan mengingat kehamilan Anna di kehidupan mereka yang lalu, karena saat mengandung Nordlijk dahulu kala, dia hampir tak bisa bertahan hingga tiga naga lainnya memohon padanya untuk tidak mempertahankan kandungannya. Anna bersyukur bahwa Xavier, Kaze dan Shuu percaya padanya di kehidupan kali ini, bahwa Anna bisa melaluinya sehingga dia tidak harus kehilangan putrinya. Mereka bahkan mencari ramuan untuk Anna agar dia bisa tetap sehat. Tidak terbayangkan apa jadinya jika Vierra tak pernah dilahirkan, setelah kematian Xavier, tanpa ada putrinya, Anna akan benar-benar sendiri.
Memikirkan itu membuatnya merindukan putrinya. Tapi dia tahu bahwa akan lebih baik bagi Vierra untuk tetap berada di Istana. Dia tidak mau putrinya jatuh sakit lagi. Jadi mau tak mau, meski terasa berat, Anna menahan rasa rindunya itu.
Constanza tampak memperhatikan Anna yang setengah merenung usai menyebut nama Xavier dalam kalimatnya sebelumnya. Jadi dia buru-buru menimpali perkataannya agar pikiran Anna teralihkan.
"Apakah normalnya memang separah itu?" Tanya Constanza. Karena sejauh yang dia ingat, saat ibunya mengandung adik-adiknya, ibunya hanya mengalami mual-mual ringan di pagi hari.
Tapi Ludwig lah yang menjawab pertanyaannya, "Dia mengandung anak Naga, sayang—aku sudah cerita padamu kan tentang ini. Tentu saja kondisinya akan lebih parah dari kehamilan biasa. Aku pernah membaca di sebuah buku dari perpustakaan Orient, jaman dulu, hampir mustahil melahirkan anak Naga dengan selamat. Beberapa kali istri dari Naga Air di Orient tewas saat sedang mengandung anaknya. Beberapa ada yang berhasil melahirkannya, tapi sang ibu tewas setelah melahirkan." Ludwig menjelaskan. "Aku sendiri heran, kalau Xavier tahu betapa sulitnya bagimu mengandung anaknya sejak di kehidupan kalian yang dulu, kenapa dia—“
"Oh, Ludwig! Jangan dibahas! Itu kan pilihan mereka. Memangnya kakakmu menikahi sepupuku hanya untuk berpegangan tangan?" Protes Constanza langsung. Dia kemudian menoleh ke arah Anna, "Maaf, kadang suamiku yang jenius ini tidak sepintar yang dibicarakan orang-orang."
"Tidak apa-apa." Kata Anna. "Sebenarnya, kami sudah sepakat sejak malam pernikahan kami di Orient. Awalnya dia memang sangat berhati-hati denganku karena tahu apa yang akan terjadi jika aku mengandung anaknya, tapi aku meyakinkannya bahwa aku menginginkan anak darinya apa pun risikonya. Aku ingin memiliki keluarga yang lengkap dengannya. Tentu saja membutuhkan usaha untuk membuatnya percaya bahwa aku akan baik-baik saja. Sampai akhirnya dia tidak bisa mendebatku lagi dan menyerah."
"Para wanita Selatan memang keras kepala." Komentar Ludwig.
"Dan pria Utara memang sulit dirayu. Terlalu berhati-hati dan kelewat sopan, menurutku. Yang Mulia, andai kau tahu seberapa besar usahaku untuk merayunya dulu waktu kami baru bertunangan dan dia hanya menganggapku sebagai tunangan formalitas belaka tanpa benar-benar berusaha untuk mengenalku. Dia bahkan tidak mau menatapku sama sekali! Sampai aku berpikir aku pasti bertunangan dengan patung es dari utara, bukan seorang pangeran." Kata Constanza.
Ludwig tampak malu mendengarnya dibicarakan seperti itu. Anna hanya bisa tersenyum melihat pasangan itu. Dalam hati Anna bersyukur bahwa Constanza dan Ludwig bisa menikah meski sebenarnya Ludwig belum mendapatkan restu dari ibunya, padahal menurut tradisi di Utara, Ludwig harus mendapatkan restu dari orang tuanya dulu sebelum bisa menikahi Constanza.
"Lalu bagaimana kau bisa bertahan saat mengandung Putri Vierra?" Tanya Ludwig, masih penasaran. Khas orang Clera yang penuh rasa ingin tahu. "Aku hanya khawatir jika Constanza kelak mengalami hal yang serupa. Mungkin ada obat tertentu yang harus kupersiapkan?"
"Bantuan dari Saintess." Jawab Anna.
Anna pun menceritakan tentang Saintess Lucia yang tinggal di Gunung Reux yang sampai sekarang belum pernah dia temui lagi. Dan setelahnya pembicaraan mereka berlanjut ke tahap yang lebih serius, yaitu tentang kelanjutan proyek pembuatan Naga Baja yang dilakukan oleh Ludwig dan beberapa teknisi kiriman Eugene. Ludwig menyatakan bahwa dia sangat bersyukur atas kedatangan semua teknisi handal itu. Namun dia meminta Anna memberikan tambahan waktu. Anna mengerti bahwa Ludwig sekarang harus lebih memperhatikan kondisi istrinya yang sedang hamil dan tidak bisa menghabiskan terlalu banyak waktunya di ruang kerjanya maupun di tempat perakitan Naga Baja. Konsentrasinya terbagi antara Istri dan pekerjaannya. Dan itu membuat Ludwig kesulitan mengerjakan Naga Baja dengan cepat. Tapi Anna juga tidak bisa memberi Ludwig tambahan waktu. Karena begitu Leon pulang dengan membawa Eri ke hadapannya, dia sudah harus memulai rencananya.
"Tidak adakah penyihir lain yang sejenius dirimu dan dapat membantu pekerjaanmu?" Tanya Anna akhirnya. Jika dia tidak dapat memberi tambahan waktu, maka setidaknya dia membutuhkan tambahan tenaga kerja. Teknisi Westeria memang jenius, tapi mereka bukan penyihir jenius seperti Ludwig. Anna membutuhkan penyihir jenius yang bukan hanya ahli soal sihir, tapi juga tentang permesinan dan teknologi. Seseorang seperti Ludwig. "Bagaimana dengan adik-adikmu? Bukankah mereka juga belajar sihir? Mereka pasti sama jeniusnya denganmu."
"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia. Tapi Wilhelm masih belajar sihir dasar sedangkan Heinrich tidak memiliki bakat sihir sama sekali. Mereka tidak akan bisa." Kata Ludwig. Dia kemudian tampak terdiam berpikir.
"Tolong jangan sebut Eleanor Winterthur. Dia memang penyihir yang hebat dan sangat pintar, aku tahu itu. Tapi jangan dia. Bukan karena aku masih belum bisa memaafkan atas apa yang dia lakukan pada Xavier dan Leon, tapi karena dia terkurung di Istana Utara sekarang. Dia tidak bisa datang ke Smirnoff untuk membantumu." Kata Anna langsung sebelum Ludwig merekomendasikan nama itu.
"Oh, aku sama sekali tak berpikir untuk menyebut-nyebut namanya di hadapanmu, Yang Mulia. Aku khawatir kau bisa-bisa membakar rumah kami kalau aku menyebutkannya." Kata Ludwig. Anna tahu Ludwig hanya bercanda. Dia tidak sependendam itu untuk sampai membakar rumah masa kecil ibunya hanya gara-gara mendengar nama Eleanor disebut. "Lagi pula, 'penyihir itu'—maaf aku tidak mau menyebut namanya—dia tidak memiliki pengetahuan tentang permesinan dan teknologi tingkat tinggi meski harus kuakui dia memang sangat pintar. Bukan bermaksud sombong, tapi setahuku tidak ada penyihir yang terlintas di benakku yang bisa membantuku. Tidak ada, kecuali hanya satu nama. Dan aku yakin sekali orang ini tidak akan bersedia membantuku."
"Kenapa kau berpikir demikian, Grand Duke?" Tanya Anna.
"Karena aku mengkhianatinya seperti dulu ayahku mengkhianatinya. Dia tidak akan memaafkanku apa lagi membantuku." Jawab Ludwig. Sorot matanya menyatakan kesedihan dan penyesalan.
Anna semakin bertanya-tanya siapa penyihir yang Ludwig maksud. Jadi dia kembali bertanya, "Siapa—“ tapi sebelum menyelesaikan kalimat tanyanya itu, pertanyaannya sudah dijawab.
Dan bukan Ludwig yang menjawabnya, karena terlalu berat bagi Ludwig untuk kembali menyebutnya setelah pengkhianatan menyakitkan yang telah dia lakukan.
Constanza lah yang menyebutkan namanya, "Selena." Katanya, "Ibu mertuaku yang tercinta."
***
Puisi dari buku jurnal Raja Xavier yang dituliskan untuk Anna:
You still asking me about the day of my birth
So here I'm telling you, my darling
The day you declared your love
*Is the day of my birth.**
I was a dead man without your love
It is you who bring me to life
And now I will live for you
And your love only.
*(Puisi asli dituliskan oleh Nizar Qabbani dengan perubahan)