The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 24 : Family



Anna dan Leon membawa Elyan ke Istana Ratu untuk sementara sambil menunggu para pelayan di Kediaman Winterthur menyiapkan ruangan untuk dijadikan sebagai kamar Elyan.


Meski awalnya menentang ide itu dan menyatakan tidak mau melihat anak dari penyihir yang sudah membunuh putranya, pada akhirnya Irene menerima kedatangan Elyan di Istana Ratu, tempat dia tinggal selama berada di Noord.


Setelah itu, Anna kembali memfokuskan diri pada masalah Imperial yang sedang bersitegang dengan Kekaisaran Orient akibat ledakan bom Morta di Jungdo. Anna memanggil para Jenderal dan para bangsawan untuk membicarakan tentang hal itu di rapat.


Sambil menunggu waktu rapat tiba, Anna pergi ke kamar Putri Vierra untuk menghabiskan waktunya bersama putrinya yang sangat dia rindukan meski dia baru pergi beberapa jam saja.


"Masuk lah." Kata Anna saat mereka tiba di depan pintu kamar Putri Vierra dan Leon baru akan pergi untuk membiarkan Anna berdua dengan putrinya. "Ada yang harus kubicarakan denganmu."


Leon menurutinya dan turut masuk ke kamar itu.


Vierra tidak sedang tidur saat Anna dan Leon datang memasuki kamarnya. Para pengasuh dan ibu susunya mengatakan bahwa Sang Putri bangun pagi tepat setelah Anna dan Leon pergi ke Istana Utara, namun bayi mungil itu tidak menangis meski tak melihat keberadaan ibunya. Bahkan beberapa kali Sang Putri tampak tersenyum dan tertawa sehingga para pengasuhnya justru merasa terhibur olehnya.


Anna mengizinkan para pengasuh putrinya untuk pergi beristirahat. Mereka pun pergi meninggalkan Anna, Leon dan Vierra dalam kamar itu.


Anna berjalan menuju tempat tidur putrinya sementara Leon tampak menjaga jarak dan tetap berdiri diam di dekat pintu. Leon memperhatikan wajah Anna yang tampak berseri penuh kebahagiaan murni saat menatap putrinya. Senyuman yang sangat dia rindukan. Tanpa sadar, dia ikut tersenyum melihatnya.


"Kenapa jauh begitu? Apa kau sengaja menjaga jarak?" Tanya Anna pada Leon, tapi matanya terus terpaku pada putrinya. "Ada lagi yang belum kau katakan padaku." Tambahnya.


Dan Leon menyadari bahwa kalimat terakhir itu bukan sebuah pertanyaan.


Karena Leon tidak segera menyanggahnya, Anna tahu bahwa perkataannya benar. Dia melanjutkan, "Kenapa tak memberitahuku?"


"Aku sudah bilang, kan? Aku memang berniat memberitahumu hanya saja waktunya belum tepat."


"Yang kumaksud bukan tentang keabadianmu." Kata Anna. Kali ini dia menoleh ke arah Leon yang masih bergeming di depan pintu. Seolah takut putrinya akan mengerti apa yang akan dia ucapkan selanjutnya, Anna memelankan suaranya, "Berapa ribu tepatnya yang tewas hari itu karena aku? Berapa banyak yang kubunuh, Leon?"


Leon begitu terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu sampai-sampai dia lupa cara menjawab. Untuk beberapa saat dia hanya terdiam membisu sambil masih menatap Anna dari kejauhan.


"Apa kau menjaga jarak karena takut padaku? Apa semengerikan itu?" Tanya Anna lagi.


"Tidak." Jawab Leon langsung. Leon menjaga jarak bukan karena takut padanya. Semenjak Anna menikah dengan Xavier, sudah menjadi kebiasaannya untuk melihatnya dari kejauhan. Sudah menjadi hobi barunya untuk melihat Anna yang berbahagia dari kejauhan. Hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian di Wilayah Utara. Tapi Leon tidak bisa mengatakannya.


Leon berusaha memberikan penjelasannya. Bahwa kekuatan Anna tidak membuatnya takut. Bahwa dia tahu rasanya membunuh orang. Perasaan bersalah dan mempertanyakan kemanusiaan diri sendiri. "Aku hanya..."


"Hanya?"


Tapi Leon tak tahu kata-kata selanjutnya. Alasan apa yang akan dia katakan, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Anna tanpa harus membuatnya merasa semakin bersalah.


Leon bukannya memaklumi perbuatan Anna yang menewaskan ribuan orang. Tidak juga. Setelah dia pikirkan lagi, dia memang memaklumi perbuatannya. Karena Anna melakukannya tanpa sadar. Akibat dirinya begitu marah dan berduka atas kematian Xavier, Anna kehilangan kendali atas kekuatan Naga yang dia pegang. Leon bahkan tak bisa menyalahkannya.


Tapi bukankah itu sama saja dengan yang dilakukan Eleanor? Eleanor juga membunuh ribuan nyawa dan bahkan hampir membunuh Leon sendiri karena begitu terlarut dalam dukanya atas kematian kekasihnya. Sehingga Eleanor membangkitkan Griselda Grimoire yang memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Dan konsekuensinya, Griselda merasuki Eleanor dan membuat guru sihir Leon itu menjadi pembunuh berdarah dingin yang menghabisi nyawa ribuan orang.


Lalu apa bedanya dengan yang Anna lakukan saat kematian Xavier? Kenapa Leon tidak menyimpan kebencian yang sama seperti yang dia rasakan pada Eleanor? Kenapa dia memaklumi perbuatan Anna bahkan mengasihaninya?


Leon sendiri tak punya jawabannya.


"Kemarin aku membaca laporan dari Rumah Sakit di Trivone mengenai jumlah pasien yang membaik dan yang tak dapat diselamatkan nyawanya," Anna memulai. Dia tak bisa menatap Leon saat mengatakan semua itu, jadi dia hanya menatap Vierra. Mencari penyembuhan untuk batinnya dari tatapan polos bayi perempuan itu. "Aku penasaran kenapa jumlah pasien justru semakin banyak padahal kejadian di Montreux sudah berlangsung lama sekali dan setahuku sudah banyak yang pulih. Jadi aku menyelidikinya dan mendapati bahwa pasien-pasien itu adalah korban dari Wilayah Utara dan Winterthur."


"Kau melakukannya tanpa sadar." Kata Leon langsung.


Anna menggeleng tidak setuju, "Aku adalah pemimpin Imperial ini. Tugasku adalah melindungi rakyatku. Bukan membantai mereka seperti monster haus darah tanpa akal sehat dan tanpa hati."


"Kau bukan monster."


Anna tersenyum getir, "Tidak apa-apa, Leon. Tak perlu mencarikan alasan untukku. Aku sudah bisa menerimanya. Aku menerima kenyataan bahwa aku memang membunuh dan melukai mereka semua. Bahwa aku adalah pemimpin yang gagal melindungi rakyatnya. Istri yang gagal melindungi suaminya." Suaranya tercekat, tapi Anna sudah bertekad tidak akan menumpahkan air mata lagi. Jadi dia tetap melanjutkan kata-katanya, "Vierra adalah satu-satunya harapanku. Kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku tidak akan menjadi ibu yang gagal melindungi putrinya."


"Kau tidak gagal, Yang Mulia. Kau hanya..." Leon terdiam sejenak mencari kata-kata yang tepat, "Semesta begitu tidak adil terhadapmu. Kau kehilangan semua orang yang kau sayangi. Baik di kehidupan ini, maupun di kehidupanmu yang lalu."


"Semesta memang tidak adil sejak dulu, Leon. Itu bukan alasan. Semesta juga tidak adil padamu karena kau harus kehilangan orang tuamu sejak kecil dan membuatmu menjadi anak angkat Raja dan Ratu yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang di Istana. Tapi kau tidak berubah menjadi monster. Kau menjadi sosok pahlawan yang dibanggakan rakyat." Anna berhenti sejenak, mengatur nafas dan nada bicaranya agar tetap tenang. "Apa mereka tahu bahwa itu perbuatanku?"


"Tidak. Mereka hanya menganggap itu sebagai bencana alam yang biasa terjadi."


Anna mengangguk mengerti, "Aku tidak akan memerintahkanmu untuk merahasiakan hal ini. Jika menurutmu semua orang berhak tahu bahwa aku lah penyebab dari apa yang mereka sebut sebagai bencana alam itu, maka beritahu mereka. Aku takkan melarangmu. Aku juga akan berusaha untuk memperbaiki kesalahanku. Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya dan menjadi pemimpin yang baik. Aku akan berhenti menyalahkan diriku sendiri dan mulai mencari cara untuk memperbaiki diriku agar menjadi lebih baik lagi."


Leon tak dapat berkata-kata lagi, jadi dia memeluknya. "Ini tindakan impulsif dan tidak sopan terhadap seorang wanita yang sudah menikah sekaligus pemimpin Imperial, jadi aku akan minta maaf setelahnya. Tapi tolong izinkan aku memelukmu kali ini saja." Kata Leon.


"Aku memberimu izin." Katanya, sambil membiarkan kehangatan tubuh Leon menenangkannya.


"Saat pertama kali aku kembali dari perang di wilayah perbatasan, saat usiamu tiga belas tahun, apa kau tahu apa yang kurasakan? Aku melihat banyak orang yang mati, tewas karena pedangku atau pedang orang lain. Saat itu aku merasa sangat kotor. Saat kembali ke Istana, aku merasa bau anyir darah mengikutiku ke mana pun. Setiap kali aku mencoba tidur aku kembali melihat pemandangan di medan perang. Dan aku takut kau tidak akan mau menemuiku lagi. Aku pikir kau akan menganggapku sebagai monster pembunuh yang kejam."


"Aku tak pernah menganggapmu seperti itu."


"Aku tahu." Kata Leon. "Jadi, hari itu, saat aku melihatmu dengan gaun berwarna biru cerah, menerobos hujan dan berlari ke arahku tanpa memedulikan gaunmu yang basah kuyup maupun rambutmu yang berantakan, untuk menyambutku dengan pelukan, aku kembali menjadi manusia. Kau membuatku merasa kembali menjadi diriku sendiri. Dan itu juga lah yang ingin kulakukan sekarang."


Dan tentu saja Anna mengingat itu sebaik Leon mengingatnya. Anna mengingat bulan demi bulan yang dia lalui di Istana, menunggu kabar dari Leon. Menunggu kepulangannya. Berdoa agar Leon kembali dengan selamat. Dan betapa senang hatinya saat melihat Leon kembali hari itu. Betapa bersyukurnya dirinya bahwa Leon kembali dengan selamat dan utuh. Jika Leon tak pernah memberitahunya, Anna tak akan pernah tahu bahwa saat itu, Leon sempat merasa kehilangan sisi kemanusiaannya. Dan bahwa dirinya lah yang menyembuhkannya.


"Terima kasih, Leon." Kata Anna. "Atas segalanya."


Leon melepaskan pelukannya, "Apa berhasil?"


Anna mengangguk dan tersenyum padanya, "Kurasa aku sudah kembali menjadi manusia."


Leon tak bisa menahan senyumannya saat melihatnya. Saat itu, tak ada hal lain yang dia inginkan di dunia ini selain dapat melihat senyuman Anna untuk seterusnya. "Aku akan mendukungmu. Apa pun yang akan kau lakukan, aku akan membantumu. Lagi pula aku akan bosan setengah mati selama seribu tahun jika aku tak melakukan apa pun."


"Terima kasih banyak." Kata Anna. Dia kemudian menoleh kembali pada Vierra yang sejak tadi menatapnya dalam diam seolah turut mendengarkan pembicaraan mereka. "Bukankah bayi biasanya akan menangis jika ditinggal pergi oleh ibunya? Kenapa dia begitu tenang?"


"Bukan begitu. Dia sepertinya tidak merindukanku sama sekali, padahal aku sangat merindukannya sampai rasanya aku tidak bisa berlama-lama jauh darinya. Menyebalkan." Gerutu Anna, tapi dia tersenyum bahagia melihat putrinya yang kini sedang tersenyum padanya.


"Dia tersenyum."


"Dia sedang mengejekku, kan?" Anna mengulurkan tangannya hendak membelai putrinya itu, namun Sang Putri meraih jarinya dan menggenggamnya erat. Seolah bayi itu sedang membuktikan bahwa dirinya juga merindukan ibunya. "Putriku tidak seperti bayi lainnya yang akan menangis jika ditinggal ibunya. Kadang aku berpikir... mungkin Xavier menggantikanku menjaganya selama aku tidak ada."


"Yang Mulia—“


"Aku tahu, Leon." Potongnya langsung. Sekarang dia sudah menerima kenyataan bahwa Xavier tidak akan kembali padanya. Bahwa untuk kedepannya dia akan hidup tanpa Xavier. "Aku tahu. Itu tidak mungkin, kan?"


Meski berkata begitu, Anna tetap tak bisa mencegah dirinya membayangkan seandainya Xavier masih hidup. Anna dapat membayangkan Xavier akan menjadi ayah yang luar biasa untuk Vierra. Dia akan berusaha keras untuk menjadi ayah yang baik bagi putri mereka karena Xavier tahu bagaimana rasanya saat ayahnya terlalu terlarut dalam duka sehingga tak memberinya cukup perhatian. Dan Xavier tidak akan mengulang kesalahan ayahnya. Dia akan melimpahkan cintanya pada putrinya.


Xavier akan berusaha membuat camilan kesukaan Vierra dengan berguru pada koki Istana seperti dulu dia berguru pada Louis untuk membuat makanan khas Schiereiland saat mereka tinggal di Dong-gung. Dan saat Vierra sudah cukup besar, Xavier mungkin akan mengajak putrinya itu terbang di atas langit dan menghiburnya saat dia sedang sedih. Saat Vierra sudah remaja dan para putra bangsawan mulai berusaha menarik perhatiannya, Anna dapat membayangkan Xavier akan jadi over protektif dan mengangga semua putra bangsawan itu tidak cukup baik untuk putrinya, namun tidak akan bisa melarang putrinya untuk berkencan dengan pemuda yang benar-benar disukai oleh Vierra. Saat Vierra beranjak dewasa, dia akan menikah dengan pria yang dia cintai—bukan karena pernikahan politik, dan Xavier akan sangat berat melepas putrinya itu.


Mereka mungkin akan menghabiskan waktu bersama saat musim liburan di salah satu Villa milik keluarga Xavier atau di Istana Anastasia di Eze. Mereka akan bercerita bersama di depan api unggun di malam hari sambil meminum cokelat hangat saat cuaca Noord menjadi sangat dingin. Mereka akan seperti keluarga lainnya, berselisih kemudian berbaikan, menangis dan tertawa dan berbagi cinta dan kebahagiaan kepada satu sama lain.


Tahun-tahun yang hilang sebelum tiba itu terus mengisi benak Anna saat dia menggendong Vierra hingga sang putri tertidur. Anna melamun sambil melihat pemandangan salju turun di luar jendela kamar putrinya.


"Sepertinya semua Putri lebih cepat dewasa. Dia mengerti bahwa ibunya adalah pemimpin Imperial yang sangat sibuk." Kata-kata Leon membawa Anna kembali ke kenyataan. "Kau juga dulu begitu saat masih bayi. Kau tidak menangis meski ditinggal pergi oleh Ratu Isabella, dan kau akan tersenyum senang menyambut Ratu ketika beliau kembali. Kau akan tertidur dengan tenang saat Ratu akan menghadiri rapat penting dan bangun setelah rapat usai."


"Benarkah? Aku sama sekali tidak ingat."


"Tentu saja. Saat itu kau masih bayi."


"Dan kau setidaknya berusia lima atau enam tahun kan? Bagaimana bisa kau masih ingat semua itu?"


"Aku punya ingatan yang kuat, Yang Mulia." Leon memperlihatkan senyum angkuhnya.


Anna memutar bola mata, "Yang benar saja."


"Aku mungkin akan tetap ingat tentang dirimu meski sudah berusia seribu tahun nanti. Karena ingatanku sangat kuat. Aku tidak akan melupakanmu. Tidak akan bisa." Kata Leon. Tapi saat mengatakan itu, ada kesedihan dalam sorot matanya.


Dan Anna melihat itu. Meski Leon tak mengatakannya, dia tahu bahwa Leon tak menginginkan keabadian. "Leon..." Ucapnya perlahan. "Apakah kau tidak marah padaku atau pada Xavier?"


"Aku? Kenapa?"


"Aku tidak tahu. Aku merasa sangat bersalah padamu."


"Karena aku turut menanggung hukuman yang dijalani Eleanor?"


Anna mengangguk.


"Aku tidak menyesalinya." Kata Leon. Tapi Anna tahu bukan itu yang ingin Leon katakan. Leon akhirnya melanjutkan, "Tidak. Aku bohong jika bilang begitu. Awalnya memang aku sangat marah dan kesal. Tapi sekarang aku sudah bisa menerimanya." Leon berhenti sejenak, dan melihat bahwa Anna masih belum bisa mempercayai kata-katanya.


Anna tahu bahwa keabadian bukanlah hadiah baginya, melainkan sebuah kutukan. Kutukan bahwa Leon akan ditinggalkan oleh semua orang yang dia kenal saat ini.


Leon pun melanjutkan kata-katanya, "Kau selalu ditinggalkan orang-orang di sekitarmu, Yang Mulia. Raja, Ratu, Alexis, Xavier... Melihatmu berduka atas kematian mereka semua, membuatku tidak ingin mati sehingga tak perlu membuat dirimu berduka seperti itu. Dan itu menjadi kenyataan. Aku akan menjadi satu-satunya orang di sekitarmu yang tidak akan membuatmu berduka. Aku akan tetap hidup dan tetap di sisimu sampai kapan pun. Dan..." Leon berhenti sejenak. Sulit baginya membayangkan kehidupannya nanti setelah Anna tiada. Tapi itu memang akan terjadi suatu saat nanti. "Dan setelah kau tiada nanti, aku akan menjaga anak cucumu dan cicitmu meski bukan sebagai Grand Duke. Aku akan melepas gelarku setelah kau tiada atau setelah Elyan cukup dewasa dan siap untuk menjadi Grand Duke Winterthur, tapi aku akan tetap menjaga keturunanmu dan membimbing mereka agar menjadi pemimpin yang baik. Dan aku akan menceritakan pada mereka semua tentangmu."


"Kau tidak perlu mengabdikan diri seperti itu. Kau memberikan Elyan kebebasan. Berikan lah kebebasan untuk dirimu sendiri."


"Aku memang sudah memiliki kebebasanku. Aku tidak terkurung di Istana Utara seperti Eleanor dan Elias—“


"Bukan itu maksudku." Kata Anna langsung. "Sekarang kau bukan lagi pengawal pribadiku. Aku punya ribuan orang yang akan menjagaku. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku memiliki kekuatanku sendiri. Dan kau... Kau bebas, Leon. Janji apa pun itu yang pernah kau buat dengan ayahku, lupakan saja. Kau tidak perlu menjagaku lagi."


Leon menaikkan sebelah alisnya, "Kau mengusirku sekarang?"


"Bukan." Anna menghela napas, "Astaga. Haruskah aku menjelaskannya dengan lebih terperinci? Yang kumaksud adalah, kau berhak bahagia juga. Memiliki keluarga sendiri. Menikah dan memiliki anak yang kelak akan menjadi pewarismu sebagai Grand Duke—“


"Elyan yang akan menjadi pewarisku kalau dia mau. Aku cukup yakin dia akan menerima hak lahirnya itu." Potong Leon. "Dan aku tidak akan menikah dengan siapa pun." Tambahnya.


Anna mengerutkan keningnya. "Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Aku tidak bisa menua dan akan tetap hidup selama seribu tahun ke depan. Kelak wanita yang kunikahi akan mati meninggalkanku terlebih dahulu dan aku akan merasa sangat kehilangan dan berduka atas kematiannya. Anak-anakku, cucu-cucuku, semua akan mati lebih dulu dariku. Aku akan ditinggalkan sendiri setelah semua orang di sekitarku mati. Aku tidak mau seperti itu."


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


"Masuk." Kata Anna.


Salah satu anggota pasukan Serigala memasuki ruangan itu dan membungkuk hormat pada keduanya, "Tsarina, semua sudah menunggu kehadiran Anda di ruang rapat."


"Baiklah, aku akan segera ke sana." Kata Anna. "Dan tolong panggilkan para pengasuh."


Setelah anggota pasukan serigala itu pergi, Anna menaruh Vierra di tempat tidurnya dengan perlahan. Sang Putri tampak sangat lelap dalam tidurnya sehingga tak terganggu sedikit pun meski sejak tadi Anna dan Leon berbincang-bincang di ruangan itu.


Leon hendak pergi terlebih dahulu, namun Anna memanggilnya sebelum dia benar-benar meninggalkan kamar Putri Vierra. "Leon..."


Leon berbalik, "Ya?"


"Coba lah." Kata Anna. "Memiliki keluargamu sendiri dengan orang yang kau cintai meski tidak akan berlangsung selama seribu tahun kehidupanmu nantinya, itu tetap sepadan. Paling tidak selama seribu tahun ke depan, kau akan punya kenangan indah bersama orang yang kau cintai. Kenangan indah itu yang akan membuatmu bertahan menjalani kehidupan seberat apa pun rasanya, sepanjang apa pun kehidupanmu."


Leon tersenyum menanggapi, "Tapi aku sudah memiliki keluargaku sendiri." Katanya dengan tenang. "Kau adalah keluargaku. Kau, Irene, Putri Xavierra dan Elyan sekarang adalah keluargaku. Dan kalian memang sepadan."


***