The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 11 : The Four Clans



Fiore, wilayah perbatasan Westeria


Matahari sudah terbenam di langit Westeria. Angin musim gugur Westeria menerbangkan dedaunan beraneka warna yang ada di hutan tersebut. Semua penghuni hutan seperti bersembunyi karena hutan itu terasa sangat sepi. Bahkan tak terdengar suara hembusan angin maupun nyanyian burung malam. Namun semua kesunyian itu segera berakhir.


Dari kejauhan terlihat lima sosok manusia berjalan di tengah kegelapan hutan.


"Theana, apa kau yakin ini perintah Ratu?" Tanya salah satu di antara mereka. Dia yang tertinggi dalam kelompok tersebut. Seorang pria dengan mata seperti permata Sapphire berusia sekitar lima puluh tahun atau lebih. Namun hanya anaknya lah—yang namanya tadi dia sebut, yang mengetahui bahwa sesungguhnya usianya sudah hampir mencapai dua ratus tahun.


"Saya mendapat perintah langsung dari Baginda Ratu, Ayah." Kata Theana.


Pria itu, ayahnya, melipat tangan di depan dadanya. Tatapannya penuh keangkuhan selayaknya salah satu pemimpin Klan tertua di Westeria. "Lalu kenapa ada seorang Navarro di sini? Jika mau melindungi seseorang, Navarro adalah orang paling terakhir yang bisa diikutsertakan, dan itu hanya jika tidak punya pilihan lain."


"Tutup mulutmu, Ortiz." Desis pemimpin Klan Navarro, seorang wanita muda dengan mata Amethyst. Wanita itu tak mengenakan gaun maupun rok yang biasa dikenakan wanita. Dia lebih suka mengenakan setelah resmi dengan celana panjang. Rambutnya yang berwarna hitam panjang diikat ekor kuda. Dia tampak seperti wanita berusia pertengahan dua puluh tahun, namun tak ada yang bisa memastikan berapa usianya yang sebenarnya karena para pemilik mata permata biasanya berusia panjang dan proses penuaannya berlangsung lebih lama dari manusia biasa. "Baginda Ratu menitahkan seluruh pemimpin Klan. Artinya Klan Navarro juga. Meski pun aku tak berani jamin bahwa jika terjadi sesuatu yang membahayakan bayi yang akan lahir itu, Noord bisa tetap utuh. Aku tidak bisa setengah-setengah dalam menggunakan kekuatanku."


"Dasar Navarro sinting. Kalian semua kasar seperti bangsa bar-bar." Gerutu Orlando Ortiz, pemimpin Klan Ortiz.


Wanita pemimpin Klan Navarro itu tertawa. Tawanya dapat menakuti seluruh hewan buas yang mungkin sedang bersembunyi di hutan tersebut. "Kau mengatakannya seolah belum pernah meniduri seorang Navarro."


"Letticia tidak seperti Navarro lainnya."


Pemimpin Klan Navarro itu kembali tertawa sinis. "Tidak. Tentu saja tidak. Letticia terlalu murahan untuk bisa diakui sebagai seorang Navarro."


"Jaga ucapanmu! Bisa-bisanya kau membicarakan ibu kandungmu sendiri seperti itu!" Orlando Ortiz kini tampak geram.


"Oh! Apa kau sudah mendapat kabar dari anakmu yang hilang itu? Apa kau bahkan tahu bahwa dia kabur dari rumah dan menikah dengan seorang rakyat jelata di Schiereiland?"


"Riz tidak tahan hidup di tengah orang-orang kasar yang sinting seperti kalian."


"Kalau begitu seharusnya dia pergi kembali pada keluarga ayahnya. Bukannya kabur dari rumah dan membuat Ibuku khawatir terus menerus."


"Arizona terlahir dengan mata Amethyst. Dia milik Klan Navarro. Bahkan jika ingin, aku tak bisa mengklaimnya sebagai putra seorang Ortiz."


"Dasar tidak berguna."


"Andromeda..." Seorang pria yang sejak tadi hanya memperhatikan pertikaian dua pemimpin Klan besar itu kini mulai angkat bicara. Saat dia bicara, beberapa burung hantu hinggap di pundak dan tangannya. Matanya bersinar paling terang saat malam hari, warnanya kuning seperti permata Amber. "Jangan tidak sopan pada orang yang lebih tua."


"Salazar, kita ini Westerian. Kita hanya bersikap sopan pada Ratu." Kata Andromeda Navarro. "Dan kurasa kita tidak cukup dekat untuk memanggil nama depan. Bukan begitu, Enrique?"


"Aku ini seusia dengan mendiang ayahmu!" Protes Enrique Salazar, pria dengan mata Amber tadi.


"Tidak bisakah kalian tenang sedikit!"


Semua menoleh ke arahnya saat pria yang seharusnya paling pendiam itu mulai angkat bicara. Dia memiliki badan paling besar penuh otot di antara yang lainnya dengan tinggi hampir setara Orlando Ortiz. Pria itu memiliki mata Ruby yang begitu terang dalam kegelapan malam.


"Santai lah, Torres." Andromeda Navarro menepuk-nepuk pundak Sang Pemimpin Klan Torres tersebut seolah mereka teman sebaya. Padahal Ignacio Torres adalah yang tertua di antara mereka semua meski tampak baru berusia pertengahan tiga puluh tahun. "Kita bukannya mau berperang. Kita hanya akan datang ke Negeri Es itu untuk memastikan pewaris takhta kita lahir dengan selamat."


Tapi setelah Ignacio bicara, mereka semua tampak jauh lebih tenang dan lebih diam. Bahkan jika Andromeda tidak menghormatinya, pemimpin Klan lainnya yaitu Orlando Ortiz dan Enrique Salazar, sangat menghormatinya sebagai rekan seperjuangan mereka yang lebih tua.


"Apakah bayi itu benar-benar keturunan Klan Reyes?" Ignacio Torres akhirnya bertanya, memecah keheningan yang dia ciptakan sebelumnya.


Andromeda mengangkat bahu tak peduli, "Siapa yang tahu. Bisa saja bukan. Bagaimana menurutmu, Ortiz?" Dia tak menanyakannya pada Orlando, melainkan pada putrinya, Theana.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Theana. "Tapi jika bayi itu mewarisi mata Emerald seperti milik ayahnya, kurasa kita bisa menganggapnya sebagai keturunan Klan Reyes."


Semua pemimpin klan mengangguk-angguk setuju. Bahkan Andromeda sekali pun akan tetap berlutut pada bayi yang akan lahir itu jika memang benar bayi itu terlahir dengan ciri khas Klan Reyes.


"Mustahil ada manusia biasa selain yang memiliki darah Klan Reyes terlahir dengan mata Emerald." Kata Andromeda, lebih kepada dirinya sendiri.


Namun Orlando Ortiz yang biasanya mendebatnya, justru kali itu menyetujui perkataannya. "Sejak awal melihat Raja Xavier pun aku sudah curiga bahwa dia keturunan Klan Reyes. Tapi tak ada cara untuk membuktikannya. Aku sudah mencoba untuk membaca pikirannya, nyatanya dia juga sepertinya tak tahu siapa nenek moyangnya."


"Diam semua. Lihat, Singa dari Selatan datang untuk menjemput kita." Kata Enrique saat melihat sosok jangkung seorang pria sedang berjalan ke arah mereka. Bahkan meski malam itu gelap, bahkan meski jarak mereka masih cukup jauh, mereka sudah tahu bahwa pria tersebut adalah Leon.


"Kudengar dia sekarang seorang Grand Duke." Komentar Andromeda.


"Begitu lah. Dia juga bisa sihir." Kata Orlando.


"Dia tampan."


Saat Andromeda mengatakan hal tersebut, serentak empat pasang mata menoleh ke arahnya dengan terkejut.


"Kupikir kau tak tertarik pada pria." Kata Orlando.


"Omong kosong macam apa itu?"


"Kupikir kau tak mau menikah." Kata Theana.


"Aku kan hanya mengatakan bahwa dia tampan. Bukan berarti aku ingin dia melamarku sekarang juga." Andromeda melemparkan tatapan kesal pada keluarga Ortiz. "Tapi kalau dia melamarku sekarang juga, aku pun tidak akan menolak. Wanita gila mana yang sanggup menolak pesonanya."


"Karena dia tampan?" Enrique tertawa sinis.


"Karena dia Sang Singa dari Selatan." Jawab Andromeda.


"Aku penasaran apakah dia juga berubah menjadi Serigala seperti Wolfgang." Kata Enrique.


Dia mengatakan hal itu karena pernah berhadapan langsung dengan Wolfgang yang berubah menjadi Serigala dan hampir mati dirobek-robek taring serigala itu. Klan Salazar memiliki kemampuan menjinakkan semua hewan dan monster, namun para Serigala Winterthur adalah pengecualian bagi mereka karena Serigala Winterthur hanya akan jinak pada Raja mereka dan pasangan jiwa mereka.


"Apa semua sudah siap?" Tanya Leon dalam bahasa Westernia saat jarak di antara mereka sudah cukup dekat. Kini setelah mereka semua dapat melihatnya dari jarak dekat, mereka dapat melihat bahwa Leon terlihat lebih pucat dan berantakan. Mereka bahkan tak repot-repot bertanya. Sang Grand Duke sudah pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Tsarina Anastasia.


"Mohon bantuanmu, Grand Duke." Kata Theana.


Leon memaksakan senyuman meski wajahnya memperlihatkan keletihan dan kecemasannya, demi keramahtamahan pada rekannya, "Percayakan mereka padaku."


...****************...


Istana Utama, Noord, Nordhalbinsel, Imperial Schiereiland


Malam itu suara tangisan bayi menjadi pertanda sebuah berkah bagi Imperial Schiereiland yang dipimpin oleh Tsarina Anastasia. Tangisan itu menandakan lahirnya masa depan bagi Imperial Schiereiland, yaitu satu-satunya pewaris gelar Tsarina. Semua orang serentak merayakannya dengan memanjatkan doa bagi bayi perempuan yang baru saja lahir itu.


"Dia cantik sekali..." Gumam Irene sambil menggendong cucunya itu. Irene menepuk-nepuk pundak Anna dengan bangga, "Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau hebat. Terima kasih banyak, menantuku."


Meski seluruh tubuhnya masih terasa sakit, meski dia bahkan terlalu lemah untuk tersenyum, tapi Anna tetap bisa tersenyum saat melihat bayi mungil itu. "Dia mirip ayahnya."


Jangan terlalu berkecil hati, tapi dia memang mirip denganku kan? Aku sudah menduganya. Suara Xavier yang selalu menemaninya dan menyemangatinya selama proses persalinan kembali muncul.


Aku tidak berkecil hati. Aku malah senang dia lebih mirip denganmu.


"Kau benar." Kata Irene dengan suara lirih. Dan tepat saat itu, pintu terbuka. Leon masuk dengan tergesa-gesa, meminta para pelayan dan dokter untuk segera meninggalkan ruangan itu. "Leon, kemari lah dan lihat. Kau secara resmi sudah menjadi seorang paman."


"Kau kenapa? Kau terlihat pucat dan kusut." Komentar Anna saat melihat Leon.


"Kenapa katamu?" Leon tertawa sinis. "Aku khawatir sekali. Syukurlah kalian berdua selamat."


"Tentu saja. Kau pikir aku akan mati?"


"Beberapa ibu tewas saat melahirkan anaknya." Kata Leon sambil melirik ke arah Irene.


"Aku tidak tewas karena melahirkan. Itu ulah Selena." Balas Irene.


"Terserah." Kata Leon sambil mengamati keponakannya itu dari dekat. Dia tersenyum, tapi matanya tampak berkaca-kaca saat melihat bayi itu, "Dia mirip Xavier. Kulit pucatnya, bentuk hidungnya, alis, dan mata. Terutama matanya... Mata Emerald milik Klan Reyes."


"Bukan." Protes Anna langsung.


"Westeria sudah menganggap anak ini sebagai pewaris takhta mereka. Kau tidak tahu? Empat pemimpin Klan berjaga di Istana ini untuk melindungi anakmu."


Anna tampak terkejut mendengar informasi dari Leon. Pemimpin Klan-Klan besar di Westeria biasanya tidak terlihat di satu tempat dalam waktu bersamaan kecuali jika terjadi sesuatu yang luar biasa seperti perang besar dan semacamnya. Dia tak menyangka kelahiran anaknya akan membuat pemimpin empat Klan berkumpul di Istananya.


...****************...