
Yang Anna lihat siang itu di bola mata Aletheia:
Xavier berhasil menyelinap keluar, melewati para penjaga Istana Utama tanpa diketahui oleh siapa pun. Dia mengenakan tudung jubahnya sehingga tidak ada yang bisa melihat wajahnya. Dia melangkah dengan cepat menuju keramaian pasar pusat kota di Noord dan membayar biaya sewa untuk kuda dan kemudian menggunakan kuda itu untuk pergi ke sebuah kedai yang sangat familier bagi Anna.
Anna mengingat kedai itu. Itu adalah tempat dia biasa menyantap sarapannya bersama Leon dan Louis saat dia pertama kali datang ke Noord untuk mengikuti pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota dahulu kala. Rasanya sudah sangat lama sekali sejak saat itu, padahal hal itu baru terjadi sekitar setahun yang lalu.
Xavier berjalan menuju seorang remaja laki-laki berambut perunggu. Anna mengenali remaja laki-laki itu. Itu adalah Louis. Louis yang kini telah tewas akibat jatuhnya bom di Schere, bersamaan dengan tewasnya Pangeran Alexis.
"Berikan ini pada gadis berambut merah itu dan hanya dia yang boleh membacanya. Mengerti?" Kata Xavier sambil menyelipkan selembar kertas padanya.
Dari Aletha, Anna dapat melihat sorot mata Xavier yang memancarkan kerinduan dan kehangatan saat melihat sosok Anna dari kejauhan yang sedang berbicara dengan Leon saat itu. Tapi Xavier segera menunduk sebelum Louis melihat wajahnya, seolah khawatir Louis mungkin mengenalinya padahal waktu itu Louis sama sekali belum pernah bertemu dengan Xavier.
Louis pun mengangguk dengan kaku karena terlalu terkejut. Dia tidak sempat menanyakan apa pun, dan Xavier sudah lebih dulu pergi dari tempat itu.
Xavier memacu kudanya dengan cepat ke tempat penyewaan kuda, kemudian berlari kembali menuju Istana Utama. Dia memasuki kamarnya yang dulu—kamar Putra Mahkota, dan melepaskan pakaiannya untuk menggantinya dengan pakaian resmi.
Anna mengingat pertama kali dia melihat tubuh Xavier saat dia baru menjadi pengawal pribadinya. Tubuh itu seperti pahatan sempurna para dewa, kekar dan atletis namun dipenuhi dengan bekas luka seolah dia sudah lebih sering berada di medan perang dari pada Leon. Padahal Xavier sendiri pernah mengaku padanya bahwa ayahnya melarangnya untuk terjun langsung ke medan perang karena dia adalah pewaris takhta. Bekas luka yang ada di tubuh Xavier dia dapatkan sejak kecil akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Selena, dan tidak dapat dihilangkan dengan bantuan penyihir sekalipun. Tapi yang Anna lihat saat itu adalah tubuh Xavier yang bersih tanpa bekas luka.
Bekas luka di tubuh Xavier seharusnya baru hilang seluruhnya setelah ciuman pertama mereka di rumah kaca. Dan itu belum terjadi karena Aletha sedang memperlihatkan waktu di mana Anna belum menjadi pengawal pribadi Xavier.
Sebelum sempat memikirkannya lebih lanjut lagi, gambaran itu berubah kembali dengan cepat. Kali ini Xavier mengenakan jubah bertudung hitam yang sama, dia mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajahnya dan hanya menyisakan kemilau emerald matanya. Kemudian dia mengambil emblem singa dari kamarnya dan menyematkannya di jubahnya. Emblem singa itu adalah milik Leon. Saat ini, Leon lah yang menyimpan emblem singa itu.
Xavier kemudian melompat masuk ke dalam labirin es, tepat di hadapan diri Anna yang sedang terluka saat itu. Dia berbalik dan segera mengayunkan pedangnya ke arah salah satu anggota Black Mamba yang menyerang Anna. Pedangnya mengenai jantung dan menjatuhkan anggota Black Mamba itu ke permukaan es yang keras. Dengan gerakan yang sangat cepat, Xavier berbalik dan bersiap melawan dua orang lainnya.
“Kalian mau lari?” kata Xavier pada mereka.
“Le-leon... Hei, itu Leon! Singa dari Selatan!”
Saat itu Anna sudah tahu bahwa pria yang menolongnya di labirin es bukan Leon. Dia sudah terlalu mengenal Leon sehingga meski Xavier menutupi wajahnya dan menyematkan emblem singa di jubahnya, Anna tidak terkecoh saat itu. Terlebih lagi, Anna sangat mengenal suara Leon. Dia bertanya-tanya kenapa saat itu dia tidak langsung menduga bahwa pria yang menolongnya itu adalah Xavier.
Kini saat Anna melihat kembali kejadian itu melalui Aletha, Anna dapat melihat mata emerald milik Xavier dengan jelas yang sedang mengamati setiap inchi tubuh Anna yang terluka saat itu akibat serangan anggota Black Mamba. Anna melihat Xavier mengepalkan tangannya menahan amarah. Xavier kembali melawan mereka.
Beraninya kalian menyentuhnya! Beraninya kalian melukainya! Kalian tidak akan kumaafkan!
Anna dapat mendengar suara batinnya saat itu. Bahkan amarah yang meluap di dalam diri Xavier pun dapat dia rasakan melalui Aletha sampai Anna merasa yakin sekali sebentar lagi Xavier akan mengeluarkan apinya. Nyatanya tidak. Anna ingat kejadian hari itu. Xavier tidak menggunakan apinya.
Meski setengah ketakutan, para anggota Black Mamba itu maju untuk melawan Xavier tanpa mengetahui siapa yang sedang mereka lawan. Salah satunya yang memegang tombak berusaha menyerang Xavier, tapi dengan gerakan cepat, Xavier berhasil menghindari serangannya. Anggota Black Mamba lainnya menembakkan anak panah di saat yang sama, tapi anak panah itu berhasil ditangkap oleh Xavier dan langsung dipatahkan menjadi dua.
Anna yang ada di sana melihat anggota Black Mamba yang memegang tombak itu bangkit dan bersiap menyerang dari titik buta Xavier. Dia segera melemparkan pisau belati milik Xavier tepat ke tangan anggota Black Mamba tersebut sehingga tombaknya terjatuh. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia segera mengambil tombak itu dan pisau belati milik Xavier. Dia mengarahkan keduanya ke arah lawannya.
"Apa yang kau tunggu? Cepat bunuh aku dengan tombak itu."
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Anna.
Percuma saja, Anna sayang. Mereka tidak akan mau mengaku. Mereka akan lebih memilih untuk mati daripada mengaku.
Anna begitu terkejut saat mendengar kata-kata itu dari benak Xavier melalui Aletha. Saat itu mereka belum bertemu dan belum dekat. Jadi bagaimana bisa Xavier memanggil namanya dengan penuh cinta seperti itu. Rasanya Xavier yang dia lihat saat ini melalui Aletha adalah Xavier yang dia kenal saat ini. Suaminya. Pasangannya. Cintanya. Bukan seorang Putra Mahkota yang masih belum yakin bahwa mereka akan hidup bersama di masa depan yang dekat.
"Kami tidak akan menjawab pertanyaanmu. Kami lebih baik mati daripada berkhianat."
Anggota Black Mamba itu pun mati bunuh diri.
"Tidak!" Anna berteriak berusaha mencegahnya, tapi sudah terlambat. Semua anggota Black Mamba yang ada di sana pun turut bunuh diri.
Anna berbalik untuk melihat Xavier yang masih mengenakan topengnya. "Siapa kau sebenarnya? Apa kau orang yang sama yang mengirimiku surat itu?"
Xavier tersenyum padanya. Anna yang ada di sana, menatapnya penuh curiga, tapi juga penasaran pada penolongnya.
Lagi-lagi Anna mendengar suara batin Xavier melalui Aletha. Dan itu membuatnya semakin yakin bahwa Xavier yang menolongnya saat itu memang Xavier yang sudah mengenalnya.
"Hormat saya pada Yang Mulia Putri." Kata Xavier sambil menunduk memberikan hormat ala pria bangsawan kepada Anna, lalu dia melompat tinggi ke atas dinding labirin dan segera menghilang dari pandangan Anna.
Setelah itu, Aletha memperlihatkan hal lainnya lagi padanya. Kebenaran tersembunyi lainnya.
Anna melihat Menara Schere dari luar. Saat itu malam sudah sangat larut. Lewat tengah malam. Anna mengingat kejadian yang terjadi di sana dengan sangat baik seolah itu baru terjadi kemarin.
Tapi kali ini dia melihatnya dari sudut pandang yang lain. Dari sudut pandang Xavier.
Xavier berlari menuju Menara itu sambil memegang sesuatu yang sama sekali asing di mata Anna. Anna belum pernah melihat benda itu. Itu jelas sekali bukan senjata. Benda itu berbentuk panjang, seperti terbuat dari kayu atau semacamnya dan memiliki beberapa lubang di sekitarnya.
Lalu Anna menyadarinya, itu adalah Seruling Beatrice Grimoire. Seruling yang awalnya Anna pikir hanya ada dalam cerita dongeng anak-anak utara. Seruling yang menyelamatkan anak-anak Schiereiland yang dijadikan budak di Menara Schere.
Xavier meniup seruling itu. Awalnya Anna tidak tahu lagu apa yang dia mainkan dengan seruling itu, tapi suaranya begitu indah dan lembut seperti lagu penghantar tidur. Setelah dia dengarkan kembali dengan seksama, barulah Anna tahu lagu apa itu. Itu memang lagu penghantar tidur. Lagu itu adalah lagu penghantar tidurnya yang diciptakan oleh Ratu Isabella. Lagu yang dinyanyikan oleh ibunya waktu Anna masih kecil jika Anna tidak bisa tidur. Anna ingat pernah menyanyikannya untuk Xavier di suatu malam saat Xavier terbangun akibat mimpi buruk dan Anna ingin membuatnya terlelap kembali.
Anna bertanya-tanya kenapa saat itu dia tidak menyadarinya. Padahal saat itu dia mendengar lagu ini juga. Tapi ada suara-suara lain yang timbul dari seruling itu saat dia mendengarkannya.
Suara debur ombak pantai di dekat Istana Anastasia, di Eze. Kemudian suara air terjun dan suara burung-burung berkicau di pagi hari. Suara hembusan angin musim semi dan gemeresik dedaunan di pohon yang baru tumbuh. Suara rintik hujan sendu di malam hari. Suara musik dansa yang terdengar tidak asing baginya. Musik dansa pertamanya dengan Xavier sewaktu Anna menggantikan Eleanor di hari pengumuman rencana pernikahan Xavier dengan Eleanor.
Setelah semua suara itu, Anna kembali mendengar suara Xavier.
"Sayangku, jika kau mendengarnya, cepat pergi keluar dari Menara! Ikuti anak-anak itu. Jangan berlama-lama di dalam sana."
Lalu Anna mendengar suara tawa—tawa dari dua anak laki-laki kakak-beradik yang berlarian di halaman istana pada sore hari yang cerah. Dan Anna pun sadar itu adalah suara Zuidlijk dan Nordlijk. Suara-suara itu lah yang dia dengar dari Seruling Grimoire saat itu. Semua itu adalah suara-suara yang dia rindukan dari masa kehidupan seribu tahun yang lalu maupun kehidupan yang akan datang. Itu semua adalah suara-suara yang membuatnya bahagia.
Dan ternyata Xavier lah yang memainkan seruling itu. Tapi bagaimana bisa? Saat itu Xavier masih berada di Istana Anastasia di Eze, terbaring tak sadarkan diri akibat racun Morta. Saat itu Anna sendiri masih belum tahu apakah Xavier akan bisa membuka matanya kembali atau tidak.
Saat dia baru akan bersiap melihat kebenaran lainnya, Aletha meredup. Anna pun kembali ke kenyataan dalam ruang rapat siang itu.
Dan kini, bayangan-bayangan yang ditunjukkan Aletha itu kembali memenuhi isi pikirannya sepanjang malam. Anna mengambil persediaan buah Bloody Berry yang dia simpan di kamarnya untuk saat-saat seperti ini. Dia kemudian mengambil dua botol anggur Carina yang disimpan Xavier di ruang kerjanya. Keduanya adalah perpaduan sempurna jika dia sedang tidak ingin memikirkan apa pun. Tidak sering, tapi kadang, jika Anna sedang sangat merindukan Xavier, atau jika dia tidak bisa tidur karena terlalu banyak hal yang dia pikirkan, atau ketika kenangan-kenangan tentang Xavier membuatnya ingin berteriak, Anna akan menggabungkan beberapa buah Bloody Berry dengan anggur Carina tanpa sepengetahuan siapa pun. Sambil menunggu efeknya mulai bekerja, Anna berusaha mengenyahkan pikiran-pikirannya dengan membaca isi buku jurnal Xavier.
Sesaat sebelum buah Bloody Berry dan Carina mengambil alih pikirannya, pertanyaan-pertanyaan bermunculan di benaknya. Tapi dari semua pertanyaan-pertanyaan itu, ada pertanyaan yang paling tidak bisa dia temukan jawabannya.
Bagaimana Xavier bisa ada di dua tempat sekaligus? Jika saat itu Xavier memang masih terbaring di Istana Anastasia di Eze, lalu siapa yang memainkan lagu penghantar tidurnya dengan Seruling Grimoire?
***
Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:
Semalam aku bermimpi lagi.
Kali ini, di mimpi itu, aku melihat Anna mengenakan gaun pengantin—mungkin karena kemarin aku melihatnya mengenakan gaun pengantin Duchess Francis. Tapi gaun pengantin yang Anna kenakan di mimpiku itu tampak berbeda. Jauh lebih indah dan sepertinya terbuat dari sutra terbaik. Sepertinya ada yang menjahitkan ribuan bintang jatuh pada gaunnya karena gaun itu tampak berkilauan saat terkena sinar matahari. Rambut merahnya sudah sangat panjang kali itu, tertata dengan rapih di belakang punggungnya. Ikal-ikal rambutnya yang menjuntai tampak seperti lidah api. Begitu menakjubkan seperti yang kuingat.
Anna berjalan menuju altar. Tatapannya lurus ke depan, tampak penuh kebahagiaan. Senyuman paling indah yang pernah kulihat, terlukis di wajahnya. Di ujung sana, di hadapannya, Jenderal Leon menunggunya, tampak begitu terpesona olehnya. Aku menyaksikan keduanya dari barisan tamu undangan.
Di mimpiku itu, mereka menikah. Dan Anna begitu bahagia sampai aku tak punya pilihan lain selain turut berbahagia untuknya.
Tapi begitu terbangun pagi ini, rasanya hatiku sakit sekali seperti ada yang menikamku berkali-kali. Seperti inikah rasanya patah hati? Begini kah sakit yang akan kurasakan nanti saat mereka benar-benar menikah? Karena beberapa mimpiku biasanya menjadi kenyataan. Beberapa mimpiku adalah masa depan yang akan terjadi. Bahkan meski aku tahu itu akan terjadi suatu saat nanti, sepertinya aku tidak akan pernah siap menyaksikannya langsung.
***