
Ibuku pernah mengatakan bahwa saat aku dilahirkan, hidupnya berubah.
Aku tak pernah benar-benar mengerti maksudnya, jadi aku menanyakan artinya padanya. Tapi dia hanya tersenyum padaku dan mengatakan bahwa kelak, suatu hari nanti, aku akan mengerti maksudnya. Intinya, dia sangat bahagia bahwa aku terlahir di dunia ini dan menjadi putrinya.
Hal itu membuatku bertanya-tanya dalam hati apakah itu sebabnya ibuku di usianya yang sudah empat puluh tahun, kembali mengandung. Benar, beliau hamil anak ke tujuh. Dan tepat setelah dokter Istana mengetahui penyebab dari kondisi Ibu yang melemah selama beberapa hari itu, Ibuku, Sang Tsarina menyatakan bahwa beliau mempercayakan Imperial padaku, kemudian ibu dan ayah pergi menikmati 'masa pensiun' mereka dengan tiga adik-adikku yang masih belum menginjak usia dewasa di rumah liburan mereka di Shina.
Aku tidak keberatan menjadi Tsarina di usia sembilan belas tahun—hampir dua puluh tahun, karena tentu saja aku sudah mempersiapkan diri sejak kecil untuk saat ini. Dan sungguh, aku sama sekali tidak keberatan ayah dan ibuku menikmati waktu mereka untuk berlibur jauh ke Shina tanpaku. Aku tahu betapa masa muda mereka dulu dihabiskan untuk membangun Imperial yang kini sudah menjadi negeri yang kuat, makmur dan damai. Aku sudah banyak mendengar kisah perjuangan mereka dahulu baik dari mereka berdua atau pun dari semua penghuni Istana. Jadi aku benar-benar mengerti kalau kini mereka ingin meninggalkan semua kejayaan mereka sebagai pasangan pemimpin Imperial yang amat sangat diagungkan serta dipuja semua orang, dan memulai hidup yang lebih sederhana dan tenang di Shina, jauh dari keramaian, di atas bukit-bukit yang keindahannya bahkan tak bisa kubayangkan.
Yang menjadi masalah sekarang adalah, Ibuku dan Ayahku memutuskan bahwa dua adikku lainnya sudah cukup besar untuk turut tinggal di Istana bersamaku. Si anak ketiga sekaligus pangeran pertama, Pangeran Edward Vladislav de Gratina del Norte le Grand yang baru saja genap berusia lima belas tahun, serta si anak kedua, Putri Leonora Eris de Gratina del Norte le Grand yang usianya hanya beda satu tahun setengah denganku, dinyatakan oleh Sang Tsarina Anastasia dan pasangannya yang sangat dicintainya, Raja Xavier, bahwa keduanya sudah cukup dewasa untuk tidak ikut dengan mereka ke Shina. Ya, itu lah masalah hidupku saat ini.
Aku tidak bermaksud mengeluh. Maksudku, jika dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Ibuku dan Ayahku dulu waktu mereka masih muda—perebutan takhta, pembunuhan terhadap orang tua mereka, perang, kematian, dan lain sebagainya—seorang adik laki-laki berusia lima belas tahun yang suka mengurung diri di perpustakaan Istana, serta seorang adik perempuan berusia delapan belas tahun yang hobinya adalah minggat dari Istana sehingga membuat seisi Istana kocar-kacir menemukan Sang Putri, tentu bukan masalah besar. Sampai akhirnya Sang Putri benar-benar menghilang selama seminggu dan masih belum ditemukan hingga sekarang.
Memang sempat ada perselisihan di antara kami. Bukan karena perebutan takhta tentunya, karena Leonora sama sekali tidak tertarik dengan takhta. Dia lebih berjiwa bebas dan hanya ingin menikah dengan pangeran tampan dan hidup bahagia selamanya seperti dongeng. Aku tak bisa menyalahkannya, karena itulah tepatnya yang terjadi pada Ibu kami. Ibu bertemu dengan seorang pangeran tampan yang kemudian menjadi Raja dan menikah dengannya lalu menyerahkan kesetiaannya, kerajaannya bahkan hidupnya pada Ibu dan menjadikan Ibu sebagai Tsarina. Lalu mereka hidup bahagia seperti yang ada di dongeng. Intinya, cita-cita Leonora adalah menjadi seperti Ibu kami. Tapi di Imperial tidak ada pangeran tampan di sekitar usia kami yang masih belum bertunangan dengan siapa pun yang akan rela menyerahkan segalanya seperti halnya ayah kami. Hanya ada seorang Grand Duke tampan yang menjadi idola kami berdua sejak kecil. Benar, perselisihan kami berawal dari Grand Duke yang tampan ini. Lebih tepatnya, paman kami yang tidak bisa menua dan hidup abadi. Grand Duke Leon Winterthur, pria paling tampan di Imperial—selain ayah kami tentunya.
Leonora—yang namanya merupakan bentuk penghormatan dari ayah kami atas jasa-jasa Sang Grand Duke untuk Imperial selama dia 'tiada' dulu—sangat menyukai Grand Duke Winterthur dan sudah menyatakan cintanya setelah berminggu-minggu dia menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menyatakannya atau memendamnya saja. Akal sehatnya dikalahkan oleh perasaannya yang sudah menggebu-gebu dan akibatnya, dia harus menerima pahitnya penolakan. Grand Duke Winterthur menolaknya dengan kalimat penolakan paling menyakitkan baginya.
"Astaga! Yang Mulia, aku ini pamanmu. Dan kau masih anak-anak."
Yah, paman, usia delapan belas sama sekali bukan anak-anak. Dan paman terlihat seperti pria usia dua puluh tahun lebih sedikit.
Begitu lah kira-kira yang terjadi. Aku sebenarnya tidak benar-benar tahu, tapi aku sudah pernah ditolak dengan kalimat yang sama. Aku sudah pernah ditolak dua kali! Aku pernah melamarnya waktu usiaku lima belas tahun dan langsung ditolak karena katanya aku belum mencapai usia dewasa. Lalu saat aku baru merayakan usia dewasaku, aku melamarnya lagi dan aku kembali ditolak dengan alasan bahwa dia adalah pamanku. Memangnya apa salahnya menikah dengan kakak tiri dari ayahku yang tampak seperti hanya beberapa tahun lebih tua dariku? Lagi pula, anggota keluarga Kerajaan atau Imperial sudah biasa menikah dengan saudara sepupu atau semacamnya.
Aku mengerti rasa sakit hati yang dirasakan Leonora. Tapi masalahnya, dia mengira bahwa Grand Duke menolaknya karena Grand Duke sudah menerima lamaranku. Dan aku, bukannya menyanggah hal itu saat adikku itu menanyakannya padaku, malah mengomporinya dan mengatakan bahwa sudah sepantasnya aku menikah dengan Grand Duke karena aku adalah seorang Tsarina dan aku membutuhkan pasangan dengan status kebangsawanan yang tinggi untuk memperkuat posisiku. Itulah sepertinya yang menyebabkan Leonora bersedih dan pergi meninggalkan Istana di tengah malam dan tidak pernah kembali lagi.
Jadi sebagai kakak yang bertanggung jawab, aku harus menemukannya.
Sebisa mungkin aku melarang siapa pun untuk memberitahu berita hilangnya Leonora kepada Ibu dan Ayah. Mereka bisa sangat khawatir dan kondisi Ibu sedang tidak memungkinkan untuk menerima berita yang mengkhawatirkan ini. Jadi hanya paman yang tahu dan beliau bersedia mengerahkan seluruh pasukan Serigala Winterthur untuk membantuku.
***
Menjadi seorang Tsarina ternyata tidak semudah itu. Benar, aku makan enak setiap hari, mengenakan gaun-gaun indah dan perhiasan dengan berbagai permata yang berkilauan, semua orang menuruti perintahku dan memuja-muji diriku seolah aku adalah semacam dewi. Tapi ada banyak sekali masalah yang harus ditangani. Imperial ini dibangun atas persatuan tiga kerajaan dan luasnya meliputi tujuh lautan. Dan semua itu harus kuurus.
Seminggu yang lalu, bertepatan dengan hilangnya adikku, aku mendengar kabar menggemparkan dari wilayah Eze yang terletak di daerah pesisir. Duke Francis memberi informasi bahwa orang-orangnya di pesisir Eze melihat kapal Roi de la Mer. Raja Lautan. Bajak laut yang telah meresahkan warga-warga di wilayah pesisir maupun nelayan-nelayan yang mencari ikan di laut. Bajak laut ini mulai dikenal namanya sejak sekitar enam tahun yang lalu. Dan hingga kini, jika ada yang melihat kapal besar dengan bendera hitam bergambar kepala serigala putih, semua akan masuk ke rumah masing-masing dan mengunci rumah mereka. Aku tak tahu semengerikan apa Si Raja Lautan ini, tapi aku akan menangkapnya.
Terutama karena sepertinya dia lah yang menculik Putri Leonora.
Hilangnya adikku, pasukan Serigala Winterthur yang tak mampu melacaknya meski dengan kemampuan penciuman tajam mereka, serta kemunculan kapal Raja Lautan di pesisir Eze. Tidakkah itu semua terlalu mencurigakan untuk dianggap sebagai kebetulan?
Berurusan dengan bajak laut tentu bukan hal yang mudah. Terlebih selama enam tahun ini Roi de la Mer tidak pernah merugikan warga. Atau mungkin mereka hanya tidak ketahuan saja. Mereka tidak membunuh siapa pun atau merampok harta siapa pun. Mereka juga hanya berlabuh di waktu malam untuk mengisi perbekalan dan teler di bar--mereka bahkan membayar rum yang mereka minum beserta pajaknya. Mereka juga tidak mendatangi rumah bordil dan tidak melecehkan wanita. Mungkin satu-satunya kejahatan yang mereka lakukan hanya menakut-nakuti para nelayan dan kapal lainnya di lautan. Jadi itulah kenapa ibuku selama ini tidak berusaha menangkap bajak laut itu. Mereka tidak pernah terbukti melakukan kejahatan.
Tapi di sini lah aku sekarang. Di dalam kapal Raja Lautan. Menyamar menjadi salah satu awak kapal.
Bagaimana aku bisa ada di sini? Tentu saja tidak mudah.
Aku pergi ke Eze di tengah malam menggunakan cincin teleportasi yang tadinya milik ibuku. Melihat kapal itu sedang menepi di dermaga, kemudian masuk ke dalam kapal dengan cincin teleportasi juga. Tak lupa aku mengganti gaunku dengan pakaian milik salah satu awak kapal dan menyembunyikan rambut merahku yang mencolok dengan topi bajak laut, kemudian membuang gaunku ke laut agar tidak ada yang menemukan jejakku.
Saat matahari hampir terbit, kapal ini pun menarik jangkarnya dan mulai berlayar kembali ke lautan. Dan saat itu lah, saat sebagian besar awak kapal yang semalaman mabuk-mabukan di bar di Eze mulai tumbang dan tertidur, aku berkeliaran di dalam kapal mencari Leonora.
Kapal ini ternyata jauh lebih kecil dari dugaanku. Kupikir karena Roi de la Mer sangat terkenal, jadi kapalnya pasti sangat besar dan mengagumkan. Ternyata hanya seukuran kapal pesiar biasa. Pasti lah tidak akan sulit menemukan adikku itu jika benar dia diculik oleh bajak laut.
"Leonora." Panggilku. "Leonora!" Aku berbisik setengah berteriak.
"Siapa di sana?" Tanya sebuah suara. Tapi itu bukan Leonora. Itu suara seorang pria. "Nona, maaf, siapa pun Anda bisa tolong bebaskan saya dari sini?" Kata suara itu lagi.
Aku tak tahu siapa itu, tapi sepertinya dia juga korban penculikan bajak laut. Dari gaya bicaranya, dia seperti salah satu bangsawan utara. Yang jelas dia bukan kru kapal.
Aku mengikuti sumber suara itu. Tak sulit menemukannya. Dia berada di kabin yang ada di ujung. Aku membuka pintunya dan mendapati bahwa itu adalah sebuah kamar. Kamar itu, harus kuakui, lumayan bagus dan cukup luas. Siapa pun yang diculik di sini mungkin akan merasa nyaman. Aku enggan mengakui bahwa para bajak laut itu memiliki selera yang bagus tapi memang begitulah adanya. Ini lebih mirip seperti salah satu kamar yang ada di kapal pesiar mewah milik bangsawan.
Aku berhenti mengagumi kamar itu dan mulai mencari orang yang tadi minta tolong. Dia terbaring di atas kasur yang ada di balik lemari penyekat. Kaki dan tangannya dirantai sehingga dia tak dapat pergi ke mana pun meski ruangan itu tidak dikunci.
"Astaga..." Bagaimana bisa orang-orang biadab itu merantai seorang pria bangsawan terhormat! Aku tak sanggup membayangkan apa yang bisa mereka lakukan pada Leonora ku yang manis. Bahkan meski kamar ini tampak bagus, dirantai seperti itu pasti sangat menyiksa.
Aku segera melepaskan rantai-rantai yang mengikat tangan dan kaki pria itu menggunakan panas dari apiku. Besi pun meleleh dan rantai-rantai itu terlepas, membebaskan pria malang ini. Pria malang yang tampan, kalau boleh kutambahkan. Dan sepertinya dia seusia denganku.
Oh, astaga! Mungkin kah dia seorang pangeran? Maksudku, dari pakaiannya, dia terlihat seperti seorang bangsawan atau malah anggota keluarga kerajaan. Tapi dia bicara bahasaku jadi dia pasti orang Schiereiland, mungkin dari utara jika melihat kulitnya yang putih bersih seperti salju pertama. Rambut pirangnya tampak sedikit berantakan, mungkin dia diseret paksa oleh para bajak laut kejam itu. Dan dia memiliki sepasang mata yang indah sebiru lautan yang membeku. Dia tersenyum berterima kasih padaku karena telah membebaskannya. Harus kuakui senyumannya sangat menawan.
Oke. Fokus. Aku ada di sini untuk menemukan Leonora.
"Tadi kau sedang mencari seseorang? Biar kubantu, Nona... uhm..."
Oh, bisa saja! Dia ingin tahu namaku tanpa terlihat seperti ingin tahu namaku. Masalahnya, kalau aku menyebutkan namaku, aku khawatir dia akan mengetahui siapa diriku dan langsung berlutut di hadapanku.
"Vie." Jawabku. "Dan tidak perlu seformal itu, Tuan. Saya hanya seorang nelayan yang sedang mencari adik saya yang menghilang."
"Vie... artinya—“
"Kehidupan." Potongku langsung. "Orang tua saya sepertinya agak filosofis soal menamai anak mereka."
Aku selalu bisa menjawab dengan spontan sehingga orang takkan tahu kalau aku sedang berbohong. Tidak, itu bukan sesuatu yang kupelajari sebagai pewaris takhta. Aku secara alami memiliki bakat ini entah dari siapa aku mewarisinya. Tapi aku berbohong demi kebaikan, tentu saja. Sebagai pewaris takhta aku tidak diajari untuk membohongi rakyat.
"Apakah bajak laut tua itu menculik Anda, Tuan?" tanyaku pada pria ini. Aku sedikit lebih lihai darinya soal mencari tahu identitas. Tentu saja dia diculik—kalau tidak bagaimana bisa pria terhormat yang tampan ini bisa berada di kapal bajak laut, dan nanti dia akan memberitahuku asalnya jadi aku bisa tahu dia putra bangsawan dari mana. Aku tak perlu menanyakan namanya, nanti juga aku bisa tahu jika dia sudah memberitahuku asalnya.
Tapi alih-alih menjawab, dia justru tertawa. "Bajak laut tua?" ulangnya.
"Maksud saya, Si Raja Lautan. Dia pasti orang yang sudah tua, dengan sebelah mata yang hilang atau gigi yang berantakan, mungkin juga kulinya penuh luka, lalu dia mengaku-ngaku sebagai Raja. Padahal tujuh lautan ini semuanya mirik Tsarina!"
Kali ini dia tersenyum. Senyum menawan itu. "Kau memiliki imajinasi yang luar biasa, Vie."
Aku baru mau menyanggah lagi saat tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang. Pasti salah satu awak kapal. Tanpa menunggu untuk melihat siapa yang datang, aku segera menutup pintu kamar ini.
Sial. Tidak ada kuncinya.
Aku melihat ke sekitar kamar itu. Tidak ada banyak barang. Hanya ada satu peti mungkin bekas peti harta karun. Mungkin hanya cukup untuk pria ini. Aku akan melawan anak buah bajak laut itu dengan apiku.
Aku mendorong si tampan ini menuju peti itu. "Cepat sembunyi di—“
Terlambat.
Pintunya sudah terlebih dahulu dibuka. Memperlihatkan salah satu awak kapal bajak laut. Seorang wanita dengan rambut cokelat yang dipotong pendek. Kulitnya agak kecokelatan, mungkin terbakar matahari. Dan matanya...
"Kapten! Sejak kapan kau bebas dari... Oh... Kau membawa seorang gadis lagi, rupanya." Wanita itu tersenyum lebar saat melihatku. "Seingatku dua hari yang lalu bukan gadis ini yang ada di kamarmu? Dia bisa berenang?"
Tunggu... apa tadi katanya? Kapten?
"Estelle, berapa kali kubilang bahwa kau harus mengetuk pintu terlebih dahulu? Bersikap sopan tidak akan merugikan siapa pun."
Dia mengenalnya! Bagaimana bisa?
"Aku tidak mengetuk karena kupikir percuma saja. Kau kan tadinya sedang dirantai. Aku ke sini mau melepaskanmu." Wanita itu, Estelle, mengayun-ayunkan sejumlah kunci di tangannya.
"Kau datang terlambat. Matahari sudah terbit sejak tadi." Dari nada bicaranya, sepertinya dia memang pantas mendapat sebutan Kapten oleh wanita itu. Pria itu kemudian tersenyum kepadaku, "Berkat Si Manis ini aku bisa bebas lebih cepat. Harus kah aku memberikan tugasmu padanya saja?"
"Jadi bagaimana semalam? Kau tidak berkeliaran memakan orang kan?" Tanya Estelle. Dia kemudian melirik ke arahku. "Berhati-hati lah dengannya. Pada malam-malam tertentu aku harus merantainya agar si serigala ini tidak berkeliaran memakan awak kapal."
"Wah... Kau sebenarnya tak perlu menceritakannya."
"Dia pacarmu kan?"
"Bukan!"
"Oh... Aku salah, ya?" Dengan gaya yang sangat santai, Estelle berdiri bersandar di pintu. Aku tak bisa mengalihkan tatapanku dari berbagai macam pisau yang menghiasi sabuknya. Dia benar-benar anggota bajak laut. Kalau begitu pria ini...
"Siapa kau?" Tanyaku pada pria misterius yang sempat membuatku tidak fokus ini.
Pria itu kembali memamerkan senyum menawannya padaku. Dia tahu kelemahanku. "Aku Kapten." Jawabnya. Lalu mengedikkan kepala ke arah si wanita di pintu, "Dia tangan kananku, Estelle Navarro."
Pantas saja... Mata wanita itu adalah mata Amethyst. Dia seorang Navarro!
"Vinogradoff." Protes Estelle. Dari nada bicaranya dia sepertinya kesal disebut sebagai Navarro. "Aku dan kakakku tidak menggunakan nama Navarro." Estelle kemudian beralih kembali pada Si Kapten. "Siapa dia?"
"Kau kan bisa membaca pikiran." Kata Si Kapten. Dia kemudian menoleh ke arahku yang masih kebingungan. "Meski seorang Navarro, dia juga punya darah Klan Ortiz. Katanya ayahnya berdarah campuran. Kakeknya dari Klan Ortiz. Estelle memiliki kekuatan Klan Ortiz sedangkan kakaknya, Camilla, memiliki kekuatan Klan Navarro. Jadi hati-hati lah terhadap apa yang sedang kau pikirkan, manis."
"Aku tidak bisa membaca pikirannya, Kapten. Ini aneh sekali." Keluh Estelle. Dia mengerutkan dahinya sambil menatapku dengan mata Amethyst yang anehnya berkilau biru seperti permata Sapphire. "Benar-benar tidak bisa." Katanya lagi.
Aku semakin kebingungan dengan situasi ini. "Siapa namamu?" Tanyaku pada Si Kapten.
"Namamu." Titahku.
Untuk sesaat dia tampak terkejut dengan nada bicaraku. Tapi kemudian dia menyeringai, "Sebut saja Raja Lautan." Jawabnya. Lalu menambahkan, "Atau kalau kau lebih suka, Bajak Laut Tua. Seperti katamu tadi. Apa aku tampak setua itu?"
"Yang Mulia Putri!"
Dan suara itu langsung membuat kami semua menjadi tegang. Aku sangat mengenal suara itu. Itu suara Grand Duke. Dia juga mencari Leonora di sini rupanya.
Tunggu... Itu artinya...
Sebelum sempat mengatakan apa pun, Si Kapten sudah terlebih dahulu mengunci pergerakanku dan menodongkan pedangnya ke leherku. "Pacarmu?" Tanya Si Kapten. Nafasnya membelai tengkukku, membuatku merinding. Dia adalah Kapten Bajak Laut yang terkenal itu! Raja Lautan!
"Bukan." Jawabku setenang mungkin. Berusaha mengenyahkan rasa takutku. "Dia pamanku."
"Paman?" Tanyanya bingung. Dia kemudian melirik ke luar jendela kecil yang ada di kamar itu. Jendela itu menghadap ke dek luar. Meski tak bisa melihatnya, aku cukup yakin Paman Leon ada di sana sedang melawan para bajak laut. Aku sama sekali tak mengkhawatirkannya. Pamanku tidak bisa mati. Justru para bajak laut inilah yang kukhawatirkan. Mereka semua akan langsung menjadi mayat pagi ini.
"Dia terlihat muda untuk jadi pamanmu." Kata Si Kapten.
"Tapi dia memang pamanku!" Kataku dengan kesal. "Meski sebenarnya kuharap dia memang pacarku." aku menambahkan.
"Jadi kau seorang Putri, ya?" tanya Estelle. Dia menyeringai. "Tangkapan bagus, Kapten. Kita bisa menjualnya."
"Aku bukan seorang Putri."
"Jangan berbohong." Kata Kapten.
"Memang bukan!"
Tapi Kapten dan Estelle tak memedulikan apa yang kukatakan. Mereka pun menyeretku ke luar untuk bertemu dengan Pamanku.
Bukannya aku tidak bisa melepaskan diri. Hanya saja, aku harus tahu dulu di mana Leonora berada. Aku tidak bisa membakar mereka begitu saja. Terlebih lagi sekarang kami sedang berada di tengah laut. Jadi aku membiarkan Estelle membawaku ke luar sambil menodongkan pisaunya ke leherku sementara Kapten berjalan di depan, memimpin kami.
Di luar situasinya sedang sangat kacau. Seharusnya aku tahu bahwa paman akan datang bersama pasukan Serigala. Mereka semua sedang dalam wujud serigala, mengoyak para bajak laut, mengacak-acak seisi kapal untuk menemukan Leonora di kapal ini. Dan paman satu-satunya di antara mereka yang tidak berubah menjadi Serigala, namun dia memang tidak perlu menjadi serigala untuk menghabisi semua bajak laut itu. Paman bukan keturunan murni Winterthur—seperti halnya ayahku—dan paman juga tidak mengambil sumpah itu sehingga dia tidak berubah menjadi Serigala.
Lagi pula tidak cocok dengan namanya, kan. Dia seharusnya berubah menjadi singa atau semacamnya. Tapi tidak.
Berhenti.
Siapa itu? Siapa yang bicara? Kenapa aku mendengar suara seseorang di kepalaku?
Tapi tepat setelah itu, semua anggota pasukan Serigala berhenti menyerang para bajak laut. Para Serigala itu diam seperti anjing jinak. Mereka juga tampak sama bingungnya. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tahu siapa yang baru saja memerintah mereka. Lalu salah satu serigala menatap ke arahku. Diikuti dengan serigala lainnya. Kini mereka semua menatapku.
Aku salah. Mereka bukan menatapku. Setelah kuperhatikan lagi, mereka sedang menatap ke seseorang di sampingku. Aku pun turut menoleh ke sampingku.
Bukan seseorang, di sampingku adalah salah satu serigala terbesar yang pernah kulihat. Bulunya seputih salju. Dan aku baru menyadari bahwa Kapten tidak ada di sampingku. Hanya ada Estelle yang masih menodongkan pisaunya padaku dan mencengkeram erat tanganku.
Sepertinya semua orang tampak sama bingungnya denganku. Kenapa para Serigala yang hanya taat pada perintah pemimpin mereka—Grand Duke Winterthur—serta penguasa imperial—aku—kini menuruti perkataan serigala lainnya. Hingga akhirnya para Serigala pun kembali ke wujud manusia mereka. Begitu pun dengan Serigala di sampingku.
Ternyata Serigala itu adalah Kapten.
"Siapa kau?" Tanya Felix, salah satu anggota pasukan Serigala yang juga adalah pengawalku. Dia menatap Kapten dengan penuh penasaran.
Kapten menyeringai. "Serigala harus menuruti perkataan Alpha." Kapten kemudian melirik ke arah Grand Duke yang masih memegang pedangnya meski pertempuran sedang terhenti. "Bukan begitu, Grand Duke?" Tanyanya. Tidak. Dia bukan bertanya. Dia sedang meledek pamanku karena pamanku bukan Serigala Alpha. Pamanku memang pemimpin para Serigala, tapi itu karena beliau adalah Grand Duke Winterthur. Dan ayahku pernah bercerita bahwa dulu, posisi Grand Duke Winterthur selalu diisi oleh Serigala Alpha.
Pamanku tak menjawabnya. Dia hanya menatap Kapten, kemudian menatapku. Dia tampak sangat tenang seolah tahu aku akan baik-baik saja. Yah, tidak salah. Sebenarnya aku bisa melawan mereka semua bahkan tanpa pedang sekali pun.
"Oh, Grand Duke Winterthur adalah pamanmu." Kapten kini menoleh ke arahku. Dia memberi isyarat pada Estelle untuk melepaskanku dan menurunkan pisaunya. Kapten pun mengambil topi yang kupakai sehingga membuat rambut merahku terurai panjang, memperlihatkannya kepada semua orang. "Sungguh reuni keluarga yang mengharukan. Senang bertemu denganmu, Tsarina Xavierra." Katanya sambil membungkuk penuh hormat dengan gaya seorang pria bangsawan. "Apa yang kalian lakukan! Cepat berlutut di hadapan Tsarina!" Perintahnya. Dan semua bajak laut itu segera berlutut padaku.
Setelah beberapa saat, Kapten kembali berdiri. "Oke. Sudah cukup berlututnya nanti lutut kalian semua sakit kalau terlalu lama, dan kalian jadi punya alasan untuk bermalas-malasan. Kita sudah hampir sampai. Semua bersiap. Seret yang terluka ke ruang pengobatan. Dan untuk yang tewas... Kembalikan pada laut. Semoga mereka tenang di lautan." Dia mengomandokan kepada seluruh awak kapal. Dan mereka semua segera menuruti perkataannya.
Aku masih menatapnya dengan bingung. "Kau tahu?"
"Tadinya tidak, karena kau menyembunyikan rambut merahmu." Kemudian dia menatapku dari dekat, cukup lama sehingga entah bagaimana jantungku berdetak semakin kencang. Dia tersenyum, "Ah, seharusnya aku bisa langsung menebak dengan hanya melihat matamu yang seindah permata emerald ini. Tapi di dalam kamar tadi cahayanya agak kurang bagus."
"Elyan..."
Aku menoleh pada paman yang baru saja menyebutkan satu nama yang tidak asing itu. Tanpa kusadari, sejak tadi paman sedang menatap Kapten. Bukan tatapan ingin membunuh. Dia menatapnya seolah dia mengenalnya.
Tunggu... siapa tadi katanya?
"Elyan?" Aku bertanya pada paman. Kemudian menoleh kembali pada Kapten. Dia juga sedang menatap pamanku. Tatapannya begitu dingin seolah tidak suka bertemu dengannya. "Kau... Anaknya paman? Elyan Winterthur?"
"Aku bukan anaknya." Sanggahnya. Nada bicaranya jadi sangat dingin.
Jadi dia benar-benar Elyan. Elyan teman bermainku semasa kecil. Sepupuku. Putra pamanku satu-satunya yang sangat disayanginya, yang hilang bertahun-tahun yang lalu. Kabur dari rumah, lebih tepatnya.
Paman yang tidak suka drama reuni antara ayah dan anak ini didengar oleh pasukannya, mengisyaratkan pada para pasukan Serigala untuk mengawasi dari jauh. Mereka pun menurutinya.
"Di mana Putri Leonora?" Tanya pamanku pada Elyan.
"Di mana ibuku?" Elyan balas bertanya. Tapi pamanku hanya menatapnya dalam diam. Sama sekali tak ada tanda-tanda dia akan menjawabnya. "Bahkan setelah bertahun-tahun kau masih belum punya jawabannya?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Karena ibuku hanya pelacur yang bahkan namanya tidak kau ingat? Aku berani bertaruh kau bahkan sudah lupa bagaimana wajahnya tepat setelah kau menikmati tubuhnya."
"Elyan!"
"Katakan saja!"
Oh, astaga. Aku tidak seharusnya berada di antara mereka saat ini. Aku seharusnya memanfaatkan situasi saat ini untuk mencari Leonora. Tapi aku juga sungguh ingin tahu, karena biar bagaimana pun, Grand Duke Winterthur adalah pamanku. Dan aku tahu paman bukan orang yang seperti itu. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang yang melupakan ibu dari anaknya sendiri. Mungkin ada sesuatu yang membuat paman tidak ingin menceritakan tentang Ibunya Elyan.
"Jangan dengarkan omongan orang-orang tentang ibumu. Mereka sama sekali tidak tahu apa-apa." Paman akhirnya bicara. Aku turut mendengarkan. "Ibumu bukan pelacur. Dia adalah seorang wanita terhormat yang jatuh hati kepada pria yang kurang tepat untuknya. Dia menyerahkanmu padaku dan tidak pernah ingin kau tahu tentangnya. Sekarang berhenti lah bermain-main dan pulang lah ke rumah. Kau baru saja membuktikan bahwa kau bisa memimpin para Serigala menggantikanku."
"Kau berkata seperti itu hanya karena kau butuh seorang pewaris." Kata Elyan dengan sinis. "Kenapa tidak cari saja wanita lain yang bisa memberimu pewaris? Aku yakin ada banyak di luar sana. Putramu yang ini sedang terburu-buru dan tidak punya waktu untukmu, Grand Duke."
Elyan segera berbalik untuk pergi dari hadapan kami. Pergi menuju ke sesuatu. Awalnya aku tak mengerti, tapi baru lah aku paham setelah melihatnya. 'Kita sudah hampir sampai.' itulah yang tadi dia katakan.
Kapal ini bukan lah kapal Raja Lautan. Kapal ini hanya kapal yang mereka gunakan untuk mendekati daratan. Kapal asli Raja Lautan adalah kapal yang kini ada di samping kapal ini. Sebuah kapal raksasa yang tampak kokoh dan mewah. Kapal ini dulunya milik kerajaan. Aku pernah melihatnya di salah satu buku. Kapal Raja Lautan adalah kapal milik Raja Xavier—ayahku—yang pernah dia berikan pada Istri pertamanya. Eleanor Winterthur. Wanita cantik berambut pirang dengan sepasang mata berwarna biru es yang lukisan wajahnya sampai sekarang masih ada di Kediaman Winterthur.
Astaga! Mungkinkah...
Aku segera menahan tangan Elyan sebelum dia berpindah ke kapal aslinya. "Di mana adikku?" Kataku. Dan mungkin karena aku sudah sangat tidak sabar, tanpa sengaja aku membuat tangannya melepuh. "Cepat katakan!" Perintahku.
"Kenapa kau yakin sekali aku menculik Leonora?"
Bukan aku, tapi paman lah yang menjawabnya. "Para serigala mencium aromanya di kapal ini."
Elyan tampak bingung sesaat. Dia sepertinya benar-benar tidak tahu di mana Leonora berada. Tapi kemudian dia tertawa. "Oh... Jadi gaun itu miliknya ya..." Elyan mengisyaratkan salah satu awak kapalnya. Si awak kapal itu pergi ke bawah, ke salah satu kabin untuk membawakan sesuatu. Tak lama dia muncul kembali dengan gaun merah muda yang kukenal. Terakhir aku melihat Leonora, dia mengenakan gaun merah muda itu. Elyan kemudian menyerahkan gaun itu padaku. "Gaun ini ditemukan di salah satu kabin saat aku menyewa kapal ini beberapa hari yang lalu. Aku sama sekali tak mau berasumsi. Tapi yang pasti kau takkan menemukan Leonora di kapalku."
Elyan baru akan berbalik pergi lagi, tapi aku segera menahannya. "Kau pasti tahu sesuatu. Dari mana kau menyewa kapal ini? Siapa yang sebelumnya menaiki kapal ini? Kau pasti punya petunjuk. Tolong bantu kami menemukan adikku, Elyan." Kataku.
Elyan tak langsung menjawabku. Dia hanya menatapku. Cukup lama sampai aku yakin dia bisa saja ditinggalkan kapalnya sendiri.
Tapi kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya yang tadi melepuh akibat cengkeramanku. Dan aku tak yakin pada apa yang kulihat berikutnya. Air laut tiba-tiba saja naik ke atas kapal. Volumenya tidak banyak, mungkin sekitar satu gelas bir besar. Lalu air laut itu melingkupi tangan Elyan yang melepuh, membentuk gelang air, dan kemudian jatuh kembali ke lantai kayu kapal. Saat aku melihat kembali tangannya, tak ada luka melepuh di sana.
Elyan tersenyum mengejek melihat ekspresi tercengangku. "Kau punya api. Aku memiliki lautan." Elyan kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kompas yang terbuat dari perak dan dihiasi permata Sapphire. "Jantung Naga Air ada di sini."
"Dari mana kau mendapatkannya?" Tanyaku. Karena setahuku, hanya ibuku yang memegang jantung para Naga. Tapi seingatku, Ibu tak memiliki jantung Naga Air.
"Kita punya banyak waktu untuk saling bercerita, Vierra. Tapi kapalku akan segera berangkat." Elyan melirik ke arah pamanku yang masih mengawasi dengan tenang. Pamanku percaya pada kemampuanku. Dan dia juga percaya pada putranya, bahwa putranya takkan menyakitiku. Jadi dia tak melihat adanya ancaman. Elyan pun mengulurkan tangannya padaku. "Ikut lah denganku dan kita mungkin bisa menemukan Leonora. Bagaimana?"
Aku tidak langsung menjawabnya. Aku menoleh ke belakang, ke arah pamanku yang tidak mencegahku maupun melarangku. Tapi kedua tangannya terkepal di samping.
Aku tahu artinya.
Dia percaya padaku dan keputusan apa pun yang kuambil. Karena aku adalah seorang Tsarina. Aku yang berhak memutuskan.
Jadi aku pun menerima uluran tangan Elyan dan membiarkannya membawaku menaiki kapalnya. Mengarungi lautan dan samudra untuk menemukan adikku. Berharap aku tidak mengambil keputusan yang salah.
***