
Usai kunjungannya ke Kediaman Smirnoff serta kunjungan cepat ke Istana Schiereiland untuk melihat kondisi terkini Istananya, Anna segera melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya karena dia ingin menyelesaikan semuanya dalam satu hari agar tak perlu berlama-lama jauh dari putrinya.
Anna pergi ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Ludwig. Salah satu rumah milik Ludwig yang kini ditempati oleh kedua adiknya—Wilhelm dan Heinrich—yang berada di wilayah Richterswill.
Rumah itu lebih tepat jika disebut sebagai Istana. Ludwig mengatakan bahwa semua putra Raja Vlad sudah mulai membeli minimal satu properti sejak mereka masih remaja untuk dijadikan tempat tinggal mereka setelah Xavier menjadi Raja karena mereka khawatir perbuatan ibu mereka terhadap Xavier semasa kecil akan membuat mereka semua diusir dari Istana. Itulah sebabnya, Ludwig yang memiliki dua orang adik pun memiliki lebih dari tiga rumah seukuran Istana yang tersebar di berbagai tempat yang berbeda. Rumah yang Anna kunjungi ini adalah rumah yang Ludwig beli untuk kemudian diberikan kepada Heinrich, adik bungsunya. Siapa pun yang melihatnya akan langsung tahu bahwa yang tinggal di sana adalah para pangeran karena betapa besar dan mewahnya rumah itu, serta karena rumah itu dijaga dengan sangat ketat.
Namun bukan hanya dua pangeran itu yang tinggal di sana. Mereka tinggal di sana bersama ibu mereka, Selena.
Kali ini Anna datang bersama Irene. Irene, yang telah menitipkan Vierra pada Eliza serta para selir lainnya, segera menyusul Anna saat mengatakan bahwa Anna membutuhkannya untuk membicarakan hal yang penting dengan Selena. Anna cukup yakin, dengan membawa Irene, dia akan berhasil membuat Selena bersedia untuk membantu Ludwig. Buku jurnal Xavier berperan besar dalam pertemuan tersebut.
Saat mereka memasuki rumah besar itu, mereka mendapat sambutan ramah dari tuan rumahnya langsung, yaitu kedua pangeran belia. Pangeran Wilhelm—yang Anna perkirakan usianya kurang lebih sama dengan usia mendiang Pangeran Alexis, serta Pangeran Heinrich yang masih sangat muda namun tata kramanya tak bercela dan pembawaannya sudah sangat dewasa, menyambut kedatangan Anna dan Irene dengan penuh persiapan. Kedua pangeran tersebut sudah mendapatkan kabar dari kakak sulung mereka bahwa tamu terhormat akan datang ke kediaman mereka untuk bertemu dengan sang Ibu. Tapi mereka tidak diberitahu bahwa yang akan datang adalah Sang Tsarina dan Ibu Suri.
Saat melihat tamu terhormat mereka, para pangeran gagal menyembunyikan keterkejutan mereka dan sempat berdiri mematung selama beberapa saat sampai sang adik, Heinrich, terlebih dulu berdehem dan mempersilahkan Anna dan Irene untuk masuk ke ruang tamu mereka.
Anna tahu jika dia berlama-lama berbasa-basi dengan kedua pangeran belia itu, mereka akan merasa tidak nyaman karena keduanya masih terlihat sangat sungkan padanya. Meski masih sangat muda, mereka mengerti bahwa ibu mereka sudah banyak berbuat buruk pada Xavier dan mereka merasa Anna sebagai istri Xavier, serta Irene sebagai ibunya, akan membenci mereka. Anna berusaha untuk tetap tersenyum ramah dan berusaha untuk membuat kedua pangeran itu lebih nyaman saat bicara dengannya. Tapi keduanya begitu santun dan sopan pada Anna dan Irene. Mereka terus memperlakukan tamunya dengan penuh hormat. Jadi untuk mengakhiri ketidaknyamanan yang dirasa akan membebani kedua pangeran tersebut, Anna segera meminta kedua pangeran agar membawanya dan Irene untuk menemui ibu mereka.
Selena tidak dikurung di penjara seperti yang Anna bayangkan selama ini. Putra sulungnya terlalu menyayangi sang ibu sehingga sang putra hanya memakaikan gelang penyegel sihir padanya dan menempatkannya di kamar termewah dengan pemandangan terindah di lantai teratas dari rumah besar tersebut. Selena dilayani oleh para pelayan handal serta mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Kemewahan serta kenyamanan yang sebelumnya didapatkannya di Istana Utama sebagai permaisuri Raja tidak berkurang barang sedikit pun di rumah itu. Kedua putranya yang tinggal di rumah itu tetap menghormatinya sebagai ibu mereka dan memastikan Ibu mereka tidak kekurangan apa pun. Tempat tidur nyaman, makanan enak, gaun-gaun dan perhiasan yang indah, semua tersedia untuknya. Kekurangannya hanya bahwa Selena tidak diizinkan untuk pergi dari rumah tersebut dan tidak bisa menggunakan sihir. Itulah sebabnya ada banyak sekali penjaga yang menjaga rumah tersebut.
Kedua penjaga membukakan pintu kamar Selena untuk Anna dan Irene setelah mengumumkan kedatangan mereka.
Kamar itu seluas kamar Selena di Istana Utama, dengan dinding berornamen emas dan perak serta jendela yang menghadap langsung ke arah air mancur indah di depan rumah. Dari dalam kamar itu niscaya Selena bisa melihat siapa pun yang hendak bertamu ke rumah tersebut. Selena sudah melihat kedatangan Anna dan Irene dan sudah tampak siap menanti kedatangan mereka. Dia duduk di kursi dekat balkon, menyesap tehnya dengan tenang. Di atas meja di hadapannya, terdapat beraneka camilan manis, serta dua cangkir lainnya yang masih kosong. Dua orang pelayan dan dua orang pengawal berdiri di setiap sisi ruangan.
Selena masih tampak sama seperti yang Anna lihat terakhir kali. Muda dan rupawan, serta mengenakan gaun mewah dengan berbagai perhiasan yang menghiasi jari, tangan, dan lehernya. Perhiasan yang paling mencolok ada di kedua tangannya, sepasang gelang emas dengan batu-batu permata yang indah dan berkilauan. Perhiasan yang diciptakan oleh Ludwig khusus untuk ibunya, untuk menyegel kekuatan sihir ibunya.
Dan perhiasan itu akan Anna lepaskan dari kedua tangan Selena jika pembicaraan mereka hari ini berakhir dengan baik.
"Lihat siapa yang datang. Menantuku yang sok berkuasa." Kata Selena sebagai kalimat sapaannya pada Anna. Nada bicaranya bisa membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi kesal meski tak ada dendam pribadi padanya. Saat Anna dan Irene masuk, Selena sama sekali tak melirik ke arah Irene, entah disengaja atau tidak.
"Aku bukan menantumu. Xavier bukan putramu. Kau tak pernah memperlakukannya sebagai putramu." Kata Anna. Dia duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Selena. Anna mempersilahkan Irene untuk duduk di sebelahnya.
Sebelum ibu mertuanya duduk, Anna sempat melihat tangan Irene sedang memegang ujung gagang pedangnya seolah bersiap untuk bertarung. Sorot matanya tidak lepas dari Selena, memancarkan campuran antara kebencian, kemarahan, dan kesedihan.
Selena kini memperhatikan Irene. Jika dia terkejut melihatnya, dia tidak memperlihatkannya sama sekali. Bahwa Irene sudah keluar dari jerat sihir Selena setelah dua puluh tiga tahun dan bahwa Irene tetap semuda dirinya dua puluh tiga tahun yang lalu, nampaknya tak terlalu mengejutkan Selena. Selena mengisyaratkan salah satu pelayannya untuk menuangkan teh untuk Anna dan Irene.
"Benar juga." Kata Selena, menanggapi perkataan Anna sebelumnya. "Dia anak dari wanita jalang—“
Sebelum Selena sempat menyelesaikan kalimatnya, Irene sudah mengeluarkan pedangnya dan menghunuskannya ke leher Selena. "Tutup mulutmu Selena! Kau yang merayu suamiku, meracuninya dan membunuhnya. Kau melukai anakku! Memangnya apa salah Xavier hingga kau berulangkali ingin membunuhnya! Kau seharusnya memohon untuk nyawamu saat ini!"
Meski Irene jelas sedang mengancam Selena, tak satu pun dari pengawalnya di sana yang beranjak dari tempat mereka untuk menghentikannya. Mereka tetap siaga, menonton dan menunggu, tapi tidak bergerak. Lalu Anna menyadari bahwa keberadaan mereka di sana bukan untuk melindungi sang Nyonya Rumah, melainkan untuk melindungi para tamu dari sang Nyonya Rumah.
Mereka saling terdiam dan memandang. Tangan Irene yang menghunuskan pedangnya pada Selena tampak tak bergeser sedikit pun, dia tidak gemetar, tidak takut sedikit pun, dan tidak ada keraguan di hatinya. Dia akan membunuh Selena jika memang dia ingin. Dia bisa melakukannya. Dia merasa berhak melakukannya setelah apa yang Selena lakukan selama ini padanya, pada suaminya dan pada Xavier.
Lalu Selena berkata, "Bunuh saja aku kalau kau mau, Irene." Selena tersenyum sinis. Tatapannya menyiratkan tantangan untuk Istri pertama dari mendiang suaminya itu. Kebencian yang sudah mengakar sejak bertahun-tahun lamanya terlihat jelas dari caranya melihat Irene. "Tapi tentu ada alasan kenapa Yang Mulia Tsarina datang ke tempat terpencil ini." Tambahnya, sambil menoleh ke arah Anna. Nada bicaranya, entah bagaimana, berhasil membuat Anna kesal. Seolah Selena tahu maksud sebenarnya dari kedatangan Anna ke rumah itu adalah untuk meminta bantuannya.
Anna tak menghiraukan Selena dan menoleh pada Irene yang pedangnya masih terhunus ke arah Selena. "Ibu mertua, kau mau menghajarnya dulu? Mungkin kau mau melampiaskan amarahmu dulu sebelum aku mulai bicara baik-baik dengannya?"
"Haruskah?" Tanya Irene, sungguh-sungguh. Kilat di matanya tidak dapat membohongi bahwa dia benar-benar ingin menghajar wanita itu. Tapi Irene tahu apa tujuan mereka datang ke tempat itu. Dan bukan pertumpahan darah lah tujuan utama mereka. Jadi Irene segera menyarungkan pedangnya kembali. "Kurasa tidak juga. Dia lah yang paling menderita setelah Vlad mati." Irene berhenti sesaat, mengamati perubahan ekspresi di wajah Selena. "Kau membunuh pria yang kau cintai dengan tanganmu sendiri. Bagaimana rasanya, Selena? Dia mungkin satu-satunya orang yang pernah mencintaimu dengan tulus."
Selena tertawa mendengarnya. Tawa sarkastis. "Tidak. Dia tidak pernah mencintaiku. Dia berbohong padaku. Dia mencintaimu. Bukan aku. Dia lebih memilihmu."
Irene menggeleng, sorot mata penuh kebencian itu berubah, kini dia tampak sedang mengasihani Selena. "Sebelum mencintaiku, dia pernah sangat mencintaimu. Kau adalah cinta pertamanya, Selena. Di awal pernikahan kami, kami hanya bersekutu untuk menjadi pasangan Raja dan Ratu yang baik, tanpa ada perasaan apa pun. Sebagaimana para pria utara umumnya, dia sangat sopan dan memperlakukanku dengan baik, tapi bukan karena dia mencintaiku. Dia mengaku padaku bahwa ada wanita yang dia cintai sebelum menikah denganku dan dia sedang berusaha menghilangkan rasa cintanya itu demi menghormatiku sebagai istrinya. Itu bukan hal yang mudah baginya karena dia begitu mencintaimu. Tapi semakin lama kau semakin berubah di matanya. Dia tahu kau berulang kali berusaha membunuhku saat tahu aku mengandung putranya. Dan itu membuatnya jadi membencimu. Rasa cintanya untukmu terkikis habis akibat perbuatanmu sendiri."
Anna tidak perlu bertanya apakah itu benar atau tidak, karena saat dia melihat ekspresi wajah Irene saat mengatakan semua itu pada Selena, Anna tahu Irene berkata yang sesungguhnya. Bahwa Raja Vlad memang pernah benar-benar mencintai Selena, sebelum Selena dibutakan oleh kecemburuan dan dendam. Jika saja Raja Vlad tidak pernah menikahi Irene, atau jika saja Raja Vlad mengatakan yang sejujurnya pada Selena bahwa dia benar-benar mencintai wanita itu namun dia harus menikahi Irene Winterthur untuk memperoleh takhta, mungkin kisah cinta Selena dengan Sang Raja akan mirip seperti Anna dan Xavier. Mungkin Raja Vlad juga akan membebaskan Clera dan membiarkan Selena memimpin negerinya.
Dan asumsinya itu terbukti benar saat Irene kembali melanjutkan kata-katanya, "Dia menikah dengan satu-satunya putri dari keluarga Winterthur, denganku, untuk mendapat dukungan dari keluargaku. Untuk menjadi Raja. Dia begitu berambisi untuk menjadi Raja, hanya untuk memerdekakan Clera dan mengembalikannya padamu. Sebesar itulah cintanya dulu padamu. Dia lebih mengutamakan kebahagiaanmu dan kebebasanmu. Tapi saat melihat kau berubah, menjadi kejam dan licik, hingga mencelakakanku dan putranya yang sedang kukandung saat itu, dia mengurungkan niatnya itu."
Ada jeda diam diantara ketiganya dalam ruangan itu. Anna merasa dia tidak berhak ikut bicara karena saat ini adalah penyelesaian masalah antara Irene dan Selena. Irene terdiam karena dia ingin tahu reaksi Selena setelah dia membeberkan kebenaran yang sudah tersembunyi selama ini. Dan Selena begitu terkejut atas apa yang baru saja dia dengar. Sulit bagi Selena untuk mempercayai semua perkataan Irene.
Selena menggeleng, bibirnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, kalimat penyanggahan dan bukti bahwa dia memang dikhianati dan Raja Vlad tidak pernah mencintainya, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia terdiam untuk beberapa saat sampai tehnya menjadi dingin.
"Tidak... Dia tidak mungkin..." Ucap Selena akhirnya. Anna dapat melihat bahwa mata ungu wanita itu tampak berkaca-kaca, menahan air mata. Anna memang tidak bisa membaca isi pikiran seperti Shuu maupun Klan Ortiz, tapi kurang lebih dia tahu saat ini Selena sedang mengingat-ingat kembali masa lalunya dengan Raja Vlad. Mencari tahu apakah Sang Raja memang pernah benar-benar mencintainya.
"Terserah kau mau percaya atau tidak." Kata Irene pada Selena. Dia kemudian menoleh pada Anna, dan saat itulah Anna bisa melihat bahwa mata Irene juga berkaca-kaca. Anna berpikir, pasti Irene sudah lama ingin memberitahu Selena akan hal ini agar keduanya tidak perlu bermusuhan. Agar putranya tidak perlu disakiti. Agar suaminya tidak perlu mati dibunuh. Tapi percuma saja, saat itu Irene tak dapat melakukan apa pun dan tidak ada yang dapat memberitahu Selena tentang semua ini. "Aku sudah selesai. Silahkan bicara dengannya, Yang Mulia. Aku akan berjaga di luar." Lanjutnya.
"Apa yang kau inginkan? Kau mau mengasihaniku?" Tanya Selena kemudian setelah memastikan Irene tidak ada di ruangan itu. Nada bicaranya berubah menjadi lebih dingin, namun nada bicara sarat kebencian itu telah hilang.
Anna berkata, "Aku sudah mendengar tentangmu dari Ludwig. Kami memang akhirnya tidak menikah seperti keinginanmu, tapi kami berteman baik. Putra-putramu adalah pria-pria baik, Putri Laluna. Mereka sopan pada wanita, cerdas, dan tahu bagaimana cara berperilaku sesuai tata krama. Jelas sekali mereka adalah anggota keluarga kerajaan yang sangat terhormat. Seperti dirimu, Putri Laluna." Anna sengaja menyebut Selena dengan nama aslinya serta gelar kehormatannya di Clera. Biar bagaimana pun, Selena tetap seorang Putri dari sebuah kerajaan.
Selena tersenyum sinis, "Kau pintar berkata-kata."
"Tidak juga. Sebenarnya aku tidak sepandai Xavier soal berkata-kata." Anna mengakui.
"Oh, ya. Bocah itu memang paling pandai berkata-kata." Kata Selena, "Seperti ayahnya."
Anna tersenyum, "Kau tidak membencinya, ya?"
"Tidak. Aku sangat membencinya."
"Padahal kau bisa benar-benar membunuhnya saat Xavier baru lahir dan tak berdaya. Tapi tidak kau lakukan." Kata Anna.
Untuk beberapa saat, Selena tampak mencari-cari alasan. "Dia mirip sekali dengan ayahnya." Hanya itu yang bisa dia katakan. Dari matanya Anna dapat melihat bahwa Selena masih merenungkan kata-kata Irene tadi.
Anna menahan senyumnya. Dia berhasil memunculkan sifat asli dari Laluna. Bukan lagi sang ular licik Selena yang dikenalnya yang ada di hadapannya saat ini. Perkataan dari Irene telah membuat Putri Laluna dari Clera yang jatuh hati pada seorang pangeran Nordhalbinsel, yang sempat dikuburkan jauh di dalam hati lemah Selena, kini kembali hidup. Yang ada di hadapannya saat ini adalah sosok Putri Laluna, yang meski takdir begitu kejam padanya, tapi dia tidak turut menjadi kejam. Putri Laluna yang pernah menyingkirkan dendamnya pada kerajaan yang telah menghancurkan kerajaannya, karena rasa cintanya pada pewaris kerajaan itu.
"Makanya kau jadi tidak tega padanya saat itu?" Anna memancing, "Pada dasarnya kau tidak benar-benar jahat, Putri Laluna. Kau hanya merasa sangat disakiti karena pria yang kau cintai memilih untuk mengingkari janjinya padamu dan menikahi wanita lain. Padahal kau sudah percaya padanya, dan kau sudah bersedia memaafkan perbuatan ayahnya yang telah membunuh keluargamu serta menghancurkan kerajaanmu karena cinta itu. Kau merasa dikhianati—padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi. Itu dapat dimengerti. Kau dendam kepadanya jadi kau ingin membuatnya merasakan kehilangan istrinya kemudian anaknya. Kau berhasil menyingkirkan Irene—tapi kau tidak membunuhnya, dan itu berhasil membuat Raja Vlad merana. Tapi kau tidak sanggup membunuh Xavier saat itu karena jauh dalam lubuk hatimu, kau tidak tega membunuh bayi yang baru lahir itu. Biar bagaimana pun, kau terlahir sebagai seorang putri kerajaan, sudah fitrahmu untuk memiliki hati yang mengasihi tanpa pandang status. Hati nuranimu mencegahmu untuk membunuh bayi malang itu. Kau meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau bukan monster seperti mereka yang telah menyerang kerajaanmu, bahwa kau masih memiliki hati nurani."
"Jangan sok bijaksana!" Kata Selena.
"Kau mungkin lupa bahwa kita memiliki beberapa persamaan. Aku juga kehilangan keluargaku dan kerajaanku karena Nordhalbinsel. Aku juga jatuh cinta pada pria yang merupakan anak dari Raja yang membunuh ayahku. Aku bukan wanita pertama yang Xavier nikahi, dia sudah menikah terlebih dahulu dengan wanita dari Klan Winterthur. Dan sekarang aku juga sudah kehilangan suamiku itu." Jeda sesaat. Masih terasa sulit bagi Anna untuk mengucapkan tentang kematian Xavier di hadapan siapa pun. Tapi dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk terlarut dalam duka. Dia sedang berada dalam misi untuk merekrut Selena sebagai tenaga tambahan yang akan membantu Ludwig menyelesaikan Naga Baja. Anna menutupi kesedihannya dengan tersenyum ramah pada Selena, "Wah, lumayan banyak ya persamaan di antara kita. Aku tidak suka saat orang lain mengatakannya, tapi sungguh, aku mengerti perasaanmu."
"Apa tujuanmu sebenarnya mengatakan semua itu padaku? Kau mau aku mengatakan bahwa aku turut berduka atas semua kehilanganmu?"
Anna menghela napas. Berakting seperti yang biasa dilakukan oleh Xavier bukan keahliannya. Sama sekali tak cocok untuknya. Tapi apa yang akan dikatakan olehnya berikutnya adalah sebuah kebenaran. Jadi dia tidak perlu berakting lagi.
Anna kemudian mengatakan, "Sebelum Xavier meninggal, dia sudah mempersiapkan sesuatu untukmu."
"Penjara? Hukuman mati?"
"Kemerdekaan Clera." Jawab Anna. Dan Anna tidak berkhayal saat melihat ekspresi terkejut yang tidak ditutup-tutupi itu di wajah Selena. Anna melanjutkan kata-katanya, "Xavier berencana mengembalikan Clera pada pewaris takhta Clera yang sah. Dan kau, Putri Laluna, adalah pewaris tersebut."
Selena tertawa gugup, "Jangan mengada-ada. Xavier pasti membenciku. Aku selalu kejam padanya. Tidak mungkin dia—“ Tapi kata-katanya segera terhenti begitu Anna memberikan sesuatu padanya.
Anna memberi Selena buku jurnal milik Xavier dan membukanya di halaman tertentu yang sudah dia tandai. Selena menunduk membaca halaman yang terbuka itu. Baru beberapa kata yang dia baca, dia sudah kembali menatap Anna dengan wajah penuh tanda tanya.
Anna kini tahu apa maksud Xavier dalam suratnya, "mungkin ada beberapa catatan yang kau perlukan" begitulah yang tertulis di akhir surat Xavier yang dia berikan bersamaan dengan buku jurnal itu. Dan Xavier terbukti benar. Ada beberapa catatan yang dapat membantu Anna. Catatan itu, yang sedang Anna bukakan untuk Selena, adalah salah satunya.
"Baca saja sendiri. Ini adalah catatan jurnal yang dia tulis selama satu tahun terakhir kehidupannya. Dan setelah kau membacanya, jika hatimu tergerak oleh niat baiknya, jika sifat luhur Putri dari Clera itu masih ada dalam dirimu, maka ikut lah denganku untuk bertemu dengan putra sulungmu yang juga ingin berbaikan denganmu. Aku juga akan melepaskan gelang itu jika kau bersedia." Kata Anna.
***
Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:
Hari ini aku menemui Ludwig untuk menawarinya takhtaku.
Entah bagaimana kami bisa sejauh ini sekarang. Samar-samar aku ingat bahwa aku dan Ludwig pernah benar-benar seperti kakak-adik sungguhan. Maksudku, dia memang adikku—adik tiri—tapi dilihat dari sikapnya padaku saat aku menemuinya hari ini, dia tampaknya menganggapku sebagai ancaman. Hubunganku dengan semua adikku memang tidak ada yang baik, kebanyakan karena ibu mereka menganggapku sebagai sesuatu yang harus disingkirkan. Tapi Ludwig dulu pernah menjadi adik kecil yang manis yang selalu ingin mengikutiku. Dan aku dulu pernah menganggapnya sebagai satu-satunya temanku. Sampai Selena benar-benar ingin membunuhku suatu hari, dan Ludwig melihatnya, tapi dia hanya diam menyaksikan tanpa melakukan apa pun untuk menolongku. Sejak saat itu, sulit menganggapnya sebagai adikku.
Tapi aku harus memperbaiki hubunganku dengannya. Aku membutuhkannya jika aku ingin melindungi kerajaanku dan Anna. Awalnya aku ingin mengandalkan Leon, menjadikannya Raja Nordhalbinsel karena dia juga anak dari ibuku, dia anak pertama Ratu Nordhalbinsel, tapi dia masih juga belum bangun. Dan aku tak tahu sampai kapan Leon akan terus seperti itu. Aku juga tak tahu aku bisa bertahan hidup dengan racun ini sampai berapa lama karena rasanya semakin hari semakin menyakitkan.
Itulah sebabnya aku mengandalkan Ludwig yang jenius dan hendak menjadikannya Raja. Aku memang belum memberitahu Ludwig, tapi tanpa sepengetahuannya, aku sedang mencari dan mengumpulkan orang-orang Clera yang mungkin masih hidup di Nordhalbinsel. Aku berencana memerdekakan Clera, negeri asal Selena. Sehingga pembalasan dendam dan kebencian yang telah lama ditumpuk oleh ibu tiriku itu dapat terselesaikan dengan baik.
Anna mengajariku bahwa balas dendam hanya akan menghancurkan diri sendiri. Aku bukannya tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu, Selena melakukan semua itu selama ini karena kerajaannya direbut paksa oleh kakekku saat dia masih sangat kecil, dan saat dia remaja dulu, ayahku mengkhianati cintanya. Dan kini Selena membunuh ayah karena dendam itu. Dan jika aku membalas dendam juga padanya atas kematian ayah, maka semua ini tidak akan pernah berakhir. Kami akan terus saling membalas dan menghancurkan satu sama lain. Jadi aku memutuskan untuk membebaskan Clera dan membiarkan Selena memimpin kerajaannya sendiri dengan perjanjian perdamaian tentunya.
Aku mengirimkan sembilan penyihir terbaik di Menara yang pernah bekerja dengan Selena, serta orang-orang Clera yang kutemukan untuk pergi ke pulau Clera dengan misi rahasia, yaitu memperbaiki keadaan di sana sampai tempat itu menjadi seperti sedia kala. Aku berharap usiaku cukup panjang untuk dapat melihat Clera yang utuh, merdeka kembali. Kudengar Clera dulu adalah negeri yang sangat indah. Aku ingin suatu saat nanti pergi ke sana bersama Anna untuk menandatangani perjanjian perdamaian dengan Ibu tiriku itu.
***