
Setelah hari itu, mereka sepakat untuk menjalankan rencana Irene. Mereka membiarkan Anna beranggapan bahwa Xavier masih hidup. Irene pun memberitahu semua orang di Istana untuk tidak menyebut-nyebut tentang Xavier maupun tentang kematiannya.
Hal itu membuat Anna dapat menjalani aktivitas dengan normal seperti biasa, seperti sebelum kematian Xavier. Tak ada lagi mimpi buruk. Tak ada lagi jeritannya di tengah malam. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi upaya bunuh diri. Dan Leon berhenti memberinya Bloody Berry.
Dua hari kemudian, Anna sudah dapat kembali ke Istana Utama dan mengambil alih semua tugas-tugasnya dari Leon. Leon tetap menemaninya dan membantu pekerjaannya. Tapi secara keseluruhan, Anna dapat memfokuskan dirinya pada tugas-tugas pemerintahan sehingga Leon meyakini bahwa keputusan Irene memang benar.
Meski demikian, Leon tetap ingin menyadarkannya. Dia tak tega melihat Anna hidup dalam kebohongan yang dia ciptakan sendiri sadar atau tidak. Saat tidak ada siapa pun di antara mereka, Leon sering menanyakan kenapa Anna harus mengerjakan semua tugas pemerintahan sendiri dan dimana Xavier berada saat ini.
"Kupikir kau sudah tahu." Kata Anna. Matanya tak berhenti membaca dokumen-dokumen laporan di hadapannya dengan serius. "Dia di Montreux. Itulah sebabnya perkembangan disana membaik dengan cepat. Sebentar lagi kita dapat kembali memindahkan perbatasan barat pada Montreux. Para warga yang mengungsi di Trivone bisa kembali ke rumah baru mereka di Montreux. Bukan kah ini bagus? Setelah ini aku akan menjadikan Trivone sebagai pusat kesehatan dan perawatan medis. Aku berniat mendirikan sekolah kedokteran gratis di sana sehingga rakyat biasa pun bisa menjadi dokter. Kastil milik Ibu Suri juga akan menjadi rumah sakit umum untuk seterusnya. Xavier dan ibu mertua juga sudah menyetujuinya."
Di hari lainnya, setelah Montreux sudah kembali normal, Leon kembali menanyakan tentang Xavier. Berharap Anna sudah benar-benar sadar atas kematian Xavier. Berharap dirinya bisa berhenti membohonginya secara tak langsung. Tapi Anna selalu punya jawaban untuknya.
"Dia di Westeria. Ada urusan dengan Ratu Eugene terkait rencana Sang Ratu yang hendak menjadikan putri kami sebagai pewarisnya."
"Dia di Schere. Kami berencana memindahkan pusat pemerintahan ke Schere. Noord terlalu dingin. Xavier tahu aku tidak tahan dengan cuaca dingin di sini."
"Dia pergi ke rumahmu. Katanya ada benda yang dia perlukan yang disimpan di kediaman Winterthur. Aneh. Kenapa dia tidak minta tolong padamu saja. Atau minta tolong saja pada para Serigala. Aku benar-benar tak mengerti dirinya."
Leon terus berusaha memancing Anna dengan menanyakan keberadaan Xavier, tapi Anna selalu punya jawaban yang telah dia karang tanpa sadar. Dan itu membuat Leon semakin khawatir. Semakin lama, Anna semakin lupa bahwa Xavier sudah meninggal. Dan hal itu terus berlanjut sampai Anna melahirkan.
...****************...
Beberapa hari sebelum hari kelahiran Putri Xavierra...
Kediaman Smirnoff, Schiereiland
Pagi itu Ludwig tampak sangat sibuk di ruang kerjanya yang selalu berantakan. Ludwig melarang siapa pun membereskan kekacauan di ruangannya. Baginya, kekacauan itu adalah keteraturannya. Bahkan Constanza tidak berani memerintahkan para pelayan untuk merapikan ruang kerja suaminya itu.
Constanza sedang berdiri di pintu masuk ruang kerja Ludwig, memperhatikan suaminya yang tampak kalut. "Kau sedang mencari apa?"
"Tidak. Itu tidak hilang." Kata Ludwig, lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa lagi yang hilang kali ini?" Tanya Constanza lagi. Meski begitu, dia tak mau turut mencarinya. Karena biasanya, jika ada sesuatu di ruang kerja Ludwig yang hilang, yang dapat menemukannya hanya Ludwig sendiri. Bantuannya hanya akan bersifat formalitas.
"Itu tidak mungkin hilang." Ulang Ludwig. Tapi kakinya sibuk melangkah ke sana-kemari. Tangannya sibuk menyingkirkan berbagai dokumen dan barang-barang di atas mejanya yang berantakan. Dia bahkan merunduk mencari-cari ke kolong meja. "Itu tidak boleh hilang. Aku yakin sekali itu masih ada beberapa hari yang lalu sebelum kita mengunjungi Tsarina di Eze. Tapi kenapa sekarang tidak ada?"
"Kau lebih suka aku membantumu mencari sesuatu yang sedang kau cari itu atau kau lebih suka aku menciummu sebagai bentuk dukungan moral?" Tawarnya.
"Dua-duanya?"
Constanza menghampiri suaminya itu dan menciumnya.
"Beritahu aku apa yang hilang, sayang." Pintanya.
"Berjanji lah kau tidak akan marah." Kata Ludwig sebagai kalimat pembuka yang justru meresahkan Constanza.
"Kau tidak..." Constanza berhenti sesaat, mengerutkan alisnya, melipat kedua lengannya di depan dada. Ludwig menanti kelanjutan kalimatnya dengan gusar. "Tolong jangan katakan kalau kau menghilangkan cincin pernikahan kita." Nada suaranya penuh ancaman.
Ludwig segera mengangkat tangan kanannya untuk memperlihatkan cincin pernikahan mereka yang masih melingkar di jarinya, "Apa aku baru saja selamat dari kematian, sayang?"
Constanza tersenyum. "Anggap dirimu beruntung, sayang." Katanya. "Jadi kita sedang mencari apa?"
"Kau ingat kan, dulu, sebelum kita menikah dan aku memutuskan untuk mengurung ibuku... Ibuku pernah memintaku untuk membuat—“
"Bom yang terbuat dari racun Morta untuk dijual kepada Orient. Untuk menghancurkan Nordhalbinsel." Constanza segera memotong perkataan Ludwig karena sepertinya dia tahu apa yang sedang Ludwig cari sejak tadi. "Kau berhasil membuatnya, tapi tidak jadi kau jual karena kau tahu itu bukan tindakan yang benar. Kau juga tidak dapat menghancurkannya karena sangat berisiko meledak."
Ludwig mengangguk. Ada kengerian di raut wajahnya. Constanza tidak ingin mendengarnya, tapi Ludwig segera mengatakannya, "Itu yang hilang."
...****************...
Istana Kaisar, Jungdo, Orient
Yeon-Hwa masih menantinya.
Tapi dia tak kunjung datang. Padahal sudah berkali-kali Yeon-Hwa membayangkan pernikahan mereka. Membayangkan hidup bersamanya. Hanya dengan begitu, dia bisa merasakan kebebasan dari Istana yang mengurungnya, dari jutaan mata yang menantinya berbuat kesalahan untuk menjatuhkannya.
Elias tidak pernah datang lagi sejak kepergiannya malam itu. Tidak ada surat. Tidak ada kabar apa pun.
Yeon-Hwa tahu Elias belum mati. Karena dia pasti akan langsung tahu jika pasangan jiwanya sudah mati. Elias masih hidup, jadi kenapa dia masih belum menemuinya?
Kata-kata Haru saat itu terus terngiang dalam benaknya. Bagaimana jika Haru benar? Bagaimana jika Elias meninggalkannya sama seperti Serigala itu meninggalkan Rajanya?
Tidak. Elias tidak seperti itu. Dia akan kembali padaku. Dia mencintaiku. Aku mencintainya. Yeon-Hwa berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Apa yang membuatmu sangat yakin dia takkan meninggalkanmu juga suatu saat nanti?"
Kata-kata menyakitkan yang pernah muncul dari mulut Haru kembali diingatnya. Kata-kata itu menghantuinya, mematikan harapannya, menghancurkan khayalannya tentang kehidupan yang bahagia.
Aku percaya padanya. Dia mencintaiku. Aku mencintainya. Ulang Yeon-Hwa dalam benaknya.
Dia harus segera bertemu dengan Elias dan memberitahu kabar gembira yang sudah dia simpan sejak dua hari setelah pria itu pulang ke Nordhalbinsel untuk meminta restu orang tuanya. Dia harus segera memberitahu Elias bahwa mereka akan segera menjadi keluarga yang lengkap. Tabib Istana yang pertama mengetahui hal itu, mengira bahwa Kaisar akan segera mendapatkan pewaris yang telah lama dinantikan seluruh rakyat Orient.
Yeon-Hwa mengelus-elus perutnya, seolah dapat merasakan kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam dirinya. "Bersabarlah... Dia akan datang." Kata Yeon-Hwa pada dirinya sendiri dan pada janin yang ada di kandungannya. "Dia akan menepati janjinya. Dan kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia."
Pagi itu, udara begitu segar dan menyejukkan. Matahari bersinar cerah dan nyanyian burung-burung mengiringi daun-daun merah yang berguguran di taman Istana Kaisar. Sang Maharani sedang menatap keluar jendela kamarnya. Bukan menanti kedatangan Kaisar yang sedang pergi ke Shina untuk mengunjungi Ibu Suri, melainkan menanti kedatangan pria yang dicintainya. Ayah dari bayi yang dikandungnya. Pasangan jiwanya.
Hari itu begitu indah dan damai, sehingga tak ada satu pun yang menduga bahwa itu akan menjadi hari indah terakhir bagi ribuan rakyat Orient di Jungdo. Hari itu, bom sihir Morta menewaskan ribuan nyawa. Dua di antaranya diperkirakan adalah Sang Maharani dan anak dari Sang Serigala.
...****************...
Istana Utara
Elias tahu Yeon-Hwa masih menantinya.
Elias juga tahu, dari para serigala yang masih bersumpah setia padanya, yang diam-diam dia kirimkan untuk menjaga Yeon-Hwa di Orient, bahwa Yeon-Hwa sedang mengandung anaknya.
Dan Elias tahu saat Yeon-Hwa tewas.
Tapi dia tak bisa melakukan apa pun. Dia tidak bisa pergi ke Orient untuk menyelamatkan Yeon-Hwa. Dia tidak bisa pergi ke Orient untuk mencari jasad kekasihnya. Tidak. Lebih dari semua itu, dia tak bisa pergi satu langkah pun keluar dari Istana Utara.
Dia, untuk sepanjang hidupnya yang kini akan sangat panjang, selama seribu tahun, akan terkurung di Istana Utara tanpa bisa pergi.
Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan betapa hancurnya perasaannya saat tahu Yeon-Hwa telah tiada dan dia tak bisa melakukan apa pun untuknya. Dia marah, sedih, frustasi, tapi tak ada yang bisa dia lakukan. Dia bahkan tak bisa menangisi kematian Yeon-Hwa. Dia tak pernah merasa sangat tidak berdaya seperti ini sebelumnya.
"Kalau saja kau tak membunuh Xavier..." Katanya dengan lirih. Dia seperti sedang berkata pada udara dingin di sekitarnya, tapi saat seorang wanita muncul di hadapannya, dia mendongak, menatapnya dengan kesedihan dan badai amarah di matanya. "Elle... Dia sedang mengandung anakku."
Eleanor tidak bisa mengatakan apa pun. Penyesalan yang sangat dalam memenuhi dirinya semenjak kematian Xavier. Tapi air matanya tak bisa keluar. Hatinya sudah dibekukan, begitu pun dengan air matanya.
Eleanor berdiri tak jauh darinya. Elyan di dekapan sang ibu sedang tertidur nyenyak, seolah udara dingin mematikan dan kulit ibunya yang kini sedingin es tak pernah mengganggunya.
Ada yang berbeda dari Eleanor sekarang. Kecantikannya yang terkenal di seluruh dunia kini semakin terlihat tidak manusiawi. Kulitnya seperti terbuat dari es, rambutnya yang berwarna pirang kini tampak lebih menyerupai salju dengan bibir yang kini berwarna biru sebagaimana matanya yang berwarna biru es. Dia kini terlihat seperti perwujudan musim dingin di Nordhalbinsel yang dingin, cantik dan kekal.
"Kalau saja kau tidak membunuh Xavier hari itu. Kalau saja kau tidak pernah mencoba membangkitkan Griselda demi tujuan egoismu. Kalau saja kau tidak pernah mencintai Dylan dan merasa cukup dengan pertunanganmu itu. Kalau saja kau tidak pernah membuat perjanjian itu dengan Xavier..."
"Maafkan aku." Kata Eleanor. Dia ingin menangis saat melihat saudara kembarnya begitu hancur setelah mengetahui kematian pasangan jiwanya, tapi dia tak bisa menangis lagi sekarang. "Maafkan aku, Elias." Ulangnya. Karena tak ada kata-kata lain yang bisa dia ucapkan yang bisa menghibur Elias.
"Kalau saja aku bisa mati..." Kata Elias lagi. Tatapannya kosong. "Kematian akan terasa sangat manis saat ini."
"Ini salahku."
"Benar. Ini salahmu. Kalau saja kau tidak membunuh Xavier. Kita tidak akan mendapat hukuman terkutuk ini atas pelanggaran perjanjian dengannya. Ini semua salahmu!" bentaknya. Emosinya mendatangkan badai salju di ujung wilayah utara. Namun kini tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua.
"Elias..."
"Dia sudah mati, Elle. Pasangan jiwaku sudah mati, dan aku akan tetap hidup sampai seribu tahun ke depan, terkurung di sini tanpa bisa melihatnya lagi untuk selamanya!"
"Aku juga terkurung di sini selama seribu tahun, Elias. Aku juga kehilangan orang yang kucintai. Aku tahu bagaimana rasanya jauh sebelum kau merasakannya. Jika saja ada yang bisa kulakukan untukmu... akan kulakukan apa pun, Elias." Kata Eleanor. "Aku sangat menyesali perbuatanku. Dan aku lebih menyesal lagi karena kau turut menanggung akibatnya. Kita akan hidup di Istana ini selama seribu tahun ke depan, jadi kumohon, maafkan aku." Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Elias kemudian menoleh pada Elyan yang ada di pelukan Eleanor. Bayi laki-laki itu masih manusia. Masih fana. Kelak Elyan bisa saja mati akibat cuaca dingin mematikan di Istana Utara. "Elyan tidak boleh tinggal di sini. Kau harus membiarkan orang lain menjaganya." Kata Elias kemudian.
Eleanor mengeratkan dekapannya, "Dia putraku! Aku takkan melepaskannya! Dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Dia satu-satunya yang membuatku bisa bertahan!" Nada bicaranya kian meninggi seiring tiap kalimat.
"Dan dia berhak hidup bebas. Lepaskan dia, Elle. Dia tidak boleh turut menanggung dosamu!" Elias turut meninggikan nada bicaranya. Tapi melihat saudarinya itu menatap keponakannya dengan ekspresi penuh cinta dan kesedihan, dia dapat turut merasakannya. Betapa bayi laki-laki itu adalah tali penyelamat bagi saudarinya agar tak benar-benar jatuh ke dalam lubang kehancuran. Elias melembutkan nada bicaranya, "Biarkan Elyan hidup di luar Istana Utara, Elle. Memohon lah pada Leon, bila perlu bersujud padanya, agar Leon mau menerima putramu di kediaman Winterthur. Anak itu kelak akan menjadi Serigala Winterthur juga dan bersumpah setia untuk Tsarina Anastasia dan anaknya. Dengan begitu kau mungkin bisa sedikit menebus dosamu."
...****************...