
Suara dentuman memekakkan telinga itu berakhir.
Tapi tak ada yang terjadi pada Anna.
Untuk sesaat, Anna masih menutup matanya sambil mendekap erat Vierra. Dan saat itu, Anna dapat mendengar suara kepakkan sayap. Lalu suara auman, lebih seperti gemuruh guntur, seolah langit terbelah. Suara itu begitu menggetarkan siapa pun pendengarnya. Dan kemudian suara sesuatu yang hancur di langit.
Udara di sekitarnya menjadi lebih hangat. Seperti ada yang menyalakan api unggun di dekatnya.
Tangisan Vierra sudah mereda, tapi bayi mungil itu masih bergerak-gerak, berusaha melepaskan diri dari Anna seolah ingin berlari, atau terbang, jika saja dia bisa. Seolah ingin mendekati sesuatu yang menarik perhatiannya di luar sana.
Anna masih berdiri di balkon kamar Vierra, menghadap ke pemandangan hamparan bangunan dan salju yang menutupinya. Dengan Vierra yang masih bergerak-gerak di pelukannya, Anna membuka matanya perlahan. Melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan dia pun mendapati bahwa Phoenix terbakar di langit, reruntuhannya berjatuhan ke bawah nun jauh di sana, tak cukup dekat untuk menjatuhi Istana Utama.
Sesuatu yang jauh lebih besar dari Phoenix terbang di dekatnya, mengepak-ngepakkan sayapnya yang lebar, menghancurkan kendaraan yang terbuat dari baja itu dengan apinya yang maha dahsyat.
Anna tidak mungkin salah mengenalinya.
Dia sebesar Kastil. Tidak, setelah Anna memperhatikannya lagi, karena sayapnya kini terbentang lebar, membuatnya terlihat lebih besar dari Kastil mana pun. Kulitnya yang tebal dipenuhi sisik kokoh seperti baja, semerah lahar gunung berapi. Makhluk itu seperti keluar dari buku dongeng atau sejarah penuh legenda. Seperti hanya mitos belaka yang diceritakan secara turun-temurun, yang takkan dipercayai siapa pun keberadaannya. Lebih tua dari dunia itu sendiri. Lebih kuno dari sejarah itu sendiri. Lebih agung dari Raja mana pun di dunia ini.
Naga Api Agung.
Sang Naga kembali menyemburkan apinya, membakar habis sisa-sisa Phoenix sehingga tidak banyak reruntuhannya yang tersisa yang berjatuhan ke bawah. Phoenix, beserta isinya atau siapa pun yang ada di dalamnya, habis terbakar api kemurkaan Sang Naga.
Api Sang Naga yang membakar Phoenix mencairkan berlapis-lapis salju tebal di bawahnya. Dilatarbelakangi langit senja kemerahan saat matahari hendak terbenam, pemandangan sore itu menjadi sesuatu yang ajaib dan mengagumkan bagi seluruh rakyat Noord yang menyaksikan. Pemandangan itu niscaya akan mereka ingat selalu seumur hidup mereka. Saat sekali lagi mereka diingatkan akan keberadaan penguasa pertama mereka sebelum manusia berkuasa. Bagi mereka, momen itu adalah momen yang akan diingat dalam sejarah, yang akan mereka ceritakan kepada keturunan-keturunan mereka, saat Sang Naga Api Agung muncul kembali setelah seribu tahun lamanya tak terlihat keberadaannya.
Bagi Anna, pemandangan itu adalah momen yang akan dia ingat selamanya saat cintanya kembali ke kehidupannya dan menyelamatkannya beserta putrinya.
Anna begitu terpana oleh pemandangan di hadapannya itu sampai tak menyadari Vierra yang sejak tadi berusaha melepaskan diri dari dekapannya. Tangan mungilnya meraih-raih ke langit, mata emeraldnya berkilauan, menatap penuh minat pada sosok Naga itu. Bayi mungil itu mengenalinya.
Dari kejauhan, Sang Naga terbang mendekati Istana Utama. Mendekat ke balkon tempat Anna masih berdiri mematung, memandanginya. Bahkan saat sinar cahaya putih menyilaukan mengelilingi Naga itu, Anna tetap tidak berkedip. Benaknya kosong, tak memikirkan apa pun. Dia tidak ingin memikirkan apa pun dan hanya ingin menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya. Menyimpan baik-baik semuanya dalam memorinya.
Sang Naga kembali ke wujudnya yang sering Anna lihat. Sosok yang sangat dia kenali. Sosok yang sudah lama dia rindukan. Dia yang baru beberapa detik yang lalu Anna yakini kematiannya, dan bahwa pria itu takkan kembali lagi ke kehidupannya. Dia yang Anna tangisi ketiadaannya setiap malam.
Tanpa sadar air mata mengaliri wajah Anna. Dia kehilangan kata-kata. Tak benar-benar percaya pada siapa yang saat ini berdiri di hadapannya, menatapnya dengan sepasang mata emerald yang sangat mirip dengan milik putrinya.
Untuk beberapa saat, tak ada satu pun yang bersuara. Mereka hanya saling menatap penuh kerinduan dalam diam.
"Papa."
Secara ajaib, suara mungil itu memecah keheningan di antara mereka. Bayi sekecil itu seharusnya belum bisa mengucapkan apa pun. Tapi memang Vierra lah yang mengucapkannya. Bayi itu tersenyum senang melihat ayahnya.
Anna menunduk menatap Vierra yang masih berusaha melepaskan diri dari tangannya, hendak menyentuh sang Ayah yang baru pertama kali ditemuinya sejak hari kelahirannya. Lalu Anna kembali menatap ke depan, ke arah Xavier yang sedang tersenyum padanya, dan pada Vierra.
"Aku mendengar tangisannya. Dia yang memanggilku." Kata Xavier sebagai kalimat sapaan pertamanya setelah sekian lama. Suaranya persis seperti yang Anna ingat. Itu benar-benar suara Xavier. Dan itu bukan hanya ada di kepalanya, karena kini sang pemilik suara ada di hadapannya.
Anna masih tak mengatakan apa pun. Dia khawatir jika mengatakan sesuatu, maka sosok Xavier yang ada di hadapannya itu akan menjadi sebuah bayangan belaka. Sebuah mimpi atau halusinasi efek buah bloody berry. Tapi Anna tidak mengonsumsi satu pun bloody berry. Dan dia jelas tidak sedang bermimpi.
Karena Anna masih berdiri diam di tempat, Xavier yang berjalan mendekat padanya. Xavier tampak ragu beberapa saat, tapi akhirnya berhasil mengatakan apa yang ingin dikatakannya sejak melihat putrinya itu, "Boleh aku menggendongnya?"
Anna tidak menjawabnya. Tapi karena Vierra yang sejak tadi tidak mau diam dan terus bergerak-gerak ingin pergi ke pelukan ayahnya, Anna membiarkan Xavier mengambilnya. Anna membiarkan Xavier menggendong putrinya—putri mereka.
Mimpi lagi. Pikir Anna. Jangan terjebak. Ini pasti mimpi. Berhenti berharap, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Ucap Anna dalam hati pada dirinya sendiri.
"Papa." Vierra mengatakannya lagi, kali ini sambil tersenyum riang di lengan ayahnya.
Xavier, yang kini menggendong Vierra, menatap putrinya dengan penuh cinta dan mencium pipi Sang Putri. Matanya tampak berkaca-kaca saat mendengar suara putrinya memanggilnya dengan sebutan 'papa'.
"Apa ini kata pertamamu, Vierra sayang?" Tanya Xavier sambil tersenyum pada putrinya.
"Ini bukan mimpi, sayang." Kata Xavier. "Maaf karena butuh waktu lama untuk bisa menemukanmu. Kau pasti merasa kesulitan selama ini. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu harus mulai bercerita dari mana." Xavier kemudian menatap Anna dan mulai menjelaskan semuanya. "Ayahmu menyelamatkanku. Kemudian—“
"Ayahku sudah mati." Potong Anna langsung. "Kau tidak nyata."
"Benar. Maksudku, tidak." Xavier menghela nafas, tak benar-benar tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Anna. Terlebih karena Anna kini menganggapnya sebagai mimpi belaka. "Tolong dengarkan dulu penjelasanku. Raja Edward menggunakan jam pasir Grimoire—yang dia curi dari Lilacier—untuk menyelamatkan ibuku dari kematian akibat perang. Dia kembali ke masa sebelum perang dan tanpa sengaja membawa Leon yang waktu itu masih bayi. Raja Edward berhasil meyakinkan Raja Edward yang ada di masa itu untuk membuat ibuku kembali pada keluarga Winterthur agar tidak perlu tewas dalam perang, sehingga ibuku dinikahkan dengan ayahku, menjadi Ratu, dan kemudian lahir lah aku. Lalu—“
"Aku tak mengerti." Anna mengernyit bingung. Penjelasan Xavier benar-benar membuatnya pusing.
"Tidak apa-apa. Dengarkan saja dulu." Kata Xavier, kemudian kembali melanjutkan penjelasannya, "Saat ayahku membunuh Raja Edward, beliau memang mati. Tapi ayahmu, Raja Edward yang memegang jam pasir Grimoire, masih hidup saat itu. Beliau kemudian menggunakan jam pasir Grimoire untuk pergi ke masa depan dan masa lalu. Berusaha menyelamatkan siapa pun yang dia kenal, kakaknya, ayah Leon yang merupakan sahabatnya, Ibumu, dan Alexis. Beliau berkali-kali berusaha menyelamatkan ibumu dan adikmu, tapi tidak pernah berhasil. Beberapa hal tak bisa diubah dengan jam pasir Grimoire sekali pun, tak peduli berapa kali kau membalik jam pasir itu, tak peduli berapa kali kau mengulang waktu. Beliau begitu frustasi karena di kehidupan mana pun ibumu dan adikmu tak bisa diselamatkan dari kematian. Namun pada akhirnya beliau mempelajari bahwa beliau hanya bisa menyelamatkan satu nyawa. Dan satu nyawa itu bukan beliau yang berhak menentukannya, melainkan jam pasir itu sendiri. Dan akhirnya, beliau menyelamatkanku. Beliau pergi ke masa di saat Elle akan menyerangku, menghalangi tombak es milik Elle dengan tubuhnya sendiri dan tewas." Air mata Xavier mengalir saat menjelaskan bagian itu, "Beliau menyelamatkanku, sesuai janjinya, karena aku melindungimu sesuai dengan janjiku. Dan sebelum ajal benar-benar menjemputnya, ayahmu memberiku jam pasir ini beserta surat di dalamnya yang menjelaskan semuanya. Hal-hal yang baru saja kujelaskan padamu."
Dengan satu tangan, Xavier merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak kecil. Anna menerimanya dan membuka kotak itu. Di dalamnya adalah sebuah jam pasir kecil yang terlihat seperti jam pasir biasa pada umumnya, serta sepucuk surat. Namun ternyata benda kecil sederhana itu lah yang telah membuat Xavier kembali berada di hadapannya saat ini.
Xavier pun melanjutkan, "Dengan jam pasir itu, aku mencari dirimu, menjelajahi ruang dan waktu. Di beberapa masa kehidupan kau sudah tewas, entah karena bunuh diri atau karena penyakit, atau karena seseorang membunuhmu. Aku mendatangi berbagai masa kehidupan, melewati berbagai kehidupan untuk menemukanmu dan berusaha menyelamatkanmu dari apa pun yang hendak membunuhmu. Di sebagian masa kehidupan yang lain, aku gagal menyelamatkanmu. Terkadang aku datang di masa di mana kita belum dipertemukan. Kadang juga di masa saat kita telah menua bersama dan tinggal di Shina. Jadi aku yakin aku akan bisa menemukanmu dan kita akan bisa hidup bersama lagi dan menua bersama. Karena masa depan seperti itu ada, dan aku pernah melihatnya. Aku tak menyerah dan menyelami berbagai masa kehidupan lainnya untuk dapat bertemu denganmu lagi. Hingga akhirnya aku mendengar suara tangisan Vierra. Entah bagaimana, aku mengenalinya. Aku tahu itu suara putriku. Jadi aku mengikuti arah suara itu dan jam pasir Grimoire membawaku ke sini, tepat saat benda terbang kejam tadi akan menghancurkan Istana kita." Xavier berhenti sesaat untuk menatap Anna yang masih berusaha mencerna penjelasan yang akan terdengar sangat sulit dipercaya oleh akal sehat siapa pun yang tak percaya pada kekuatan cinta dan keajaiban. Tapi Anna percaya. Dan meski sulit untuk memahami semuanya secara langsung, Anna percaya pada penjelasan itu.
Xavier menghapus air mata di wajah Anna yang masih terdiam menatapnya dengan penuh kerinduan. "Aku bersyukur aku belum terlambat. Aku menepati janji pernikahan kita, sayang. Akhirnya, aku menemukanmu lagi." Katanya sambil tersenyum.
"Xavier..." Ucap Anna.
"Ya, Anna sayang." Ucap Xavier dengan penuh cinta. Sebelah tangannya masih menggendong Vierra. Tangan lainnya sedang membelai wajah Anna dengan lembut, sambil memancarkan kehangatan yang menenangkan Anna.
"Tolong katakan ini semua bukan mimpi." Kata Anna sambil memegang tangan Xavier di wajahnya. Merasakan kehangatan yang sudah ribuan kali dia rindukan itu. "Tolong katakan kau benar-benar nyata. Aku akan mempercayaimu kali ini."
Xavier tersenyum padanya, "Ini bukan mimpi." Katanya. "Aku nyata. Aku ada di sini. Bersamamu."
Tanpa berkata-kata lagi, Anna segera menghambur ke pelukan Xavier. Menjadi utuh kembali. Menjadi lengkap kembali.
"Aku merindukanmu." Kata Anna.
Tapi rasanya kata-kata itu terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang dia rasakan. Anna tak tahu kata-kata apa yang dapat menggambarkan perasaannya saat ini, saat Xavier akhirnya kembali padanya. Saat mereka sekali lagi dipertemukan. Jadi Anna menciumnya. Melampiaskan kerinduannya, merasakan kembali bagian dari dirinya yang hilang saat Xavier pergi dari hidupnya. Merasakan kembali cinta mereka.
"Mama."
Satu kata dari bibir mungil Vierra menghentikan ciuman mereka. Anna menoleh ke arah putri kecilnya yang masih digendong oleh Xavier.
"Coba katakan sekali lagi, sayang." Pinta Anna.
Lama Vierra menatapnya dengan kedua mata emeraldnya yang sama persis seperti milik Xavier. Sang Putri pun mengulurkan tangannya ke wajah Anna, menghapus air mata bahagia di pipi Anna degan jari-jari mungilnya. "Papa." ucap Sang Putri kemudian.
"Bukan. Tadi kau tidak mengatakan itu." Kata Anna. "Ayo coba katakan 'mama' sekali lagi, sayang."
"Sudah lah. Kau harus menerima kenyataan bahwa dia lebih menyukaiku." Tawa Xavier. "Katakan sekali lagi, Vierra sayang."
"Mama." ucap Vierra.
Anna tersenyum bahagia, kemudian mengambil Vierra dari tangan Xavier, memeluknya dengan penuh cinta dan menciumnya. "Aku menyayangimu, putriku."
"Dan aku menyayangi kalian berdua." Kata Xavier sambil memeluk istri dan anaknya.
Mereka pun hidup bersama, berbahagia bersama, dan melewati berbagai kehidupan bersama. Mereka mungkin tidak hidup abadi, tapi cinta mereka abadi.
Di kemudian hari, di masa kehidupan yang lain, mereka akan kembali muncul di berbagai cerita-cerita cinta yang melegenda dengan berbagai nama yang berbeda. Romeo dan Juliet, Cleopatra dan Mark Antony, Guinevere dan Lancelot, Odysseus dan Penelope, Layla dan Majnun, serta masih banyak lagi kisah cinta yang mereka lalui di kehidupan lainnya. Kisah mereka akan selamanya abadi, dikenang dan diceritakan dari mulut ke mulut, diwariskan dari orang tua ke anak-anak mereka, dituliskan dalam buku-buku romansa, disebutkan dalam syair-syair menggugah hati, sebagai lambang dari cinta yang abadi.
***