The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 43 : The War



Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:


I seem to have loved you in numberless forms, numberless times…


In life after life, in age after age, forever.


My spellbound heart has made and remade the necklace of songs,


That you take as a gift, wear round your neck in your many forms,


In life after life, in age after age, forever.


Whenever I hear old chronicles of love, its age-old pain,


Its ancient tale of being apart or together.


As I stare on and on into the past, in the end you emerge,


Clad in the light of a pole-star piercing the darkness of time:


*You become an image of what is remembered forever.**


***


Istana Wisteria, Oeste, Westeria, Imperial Schiereiland


Setelah mendapat kabar dari salah satu Serigala, Eugene segera memanggil para pemimpin Klan ke Istana.


"Kaisar menikam Tsarina. Beliau terluka parah dan tidak sadarkan diri. Hingga saat ini beliau masih dirawat dan disembuhkan oleh Saintess. Kita hanya bisa berdoa untuk kepulihannya." Kata Eugene pada keempat pemimpin Klan yang sudah hadir di hadapannya. Semua tampak kalut mendengar berita itu. Namun di saat yang sama mereka semua terbakar emosi karena Sang Kaisar melukai Tsarina. Eugene melihat tatapan penuh dendam itu di mata mereka, dia pun mengumumkan, "Ini adalah pernyataan perang dari Kaisar Orient terhadap Imperial. Kita tidak akan berdiam diri seperti biasanya. Kali ini kita akan menyerang."


Saat itu, di hadapannya telah berkumpul Orlando Ortiz, Enrique Salazar, Ignacio Torres dan Andromeda Navarro. Orlando Ortiz tampak diam dengan tenang, dia membaca pikiran para pemimpin Klan yang lain. Saat itu, Ignacio Torres sudah siap dengan pasukannya serta tujuh putrinya yang memiliki kekuatan yang sama dengannya. Sementara Enrique Salazar sedang memanggil para hewan buas dari hutan-hutan Westeria serta pasukan monster-monster mitos yang dia temukan di tempat-tempat yang tak terpikirkan oleh siapa pun. Dan meski Orlando enggan membaca pikiran Andromeda, dia tahu wanita itu sudah tak sabar untuk bersenang-senang melepaskan kekuatan penghancurnya pada musuh mereka. Musuh Tsarina, musuh Imperial, berarti adalah musuh mereka. Dan mereka semua siap untuk membawa serta pasukan mereka untuk melawan Orient.


Mereka tidak tampak takut sama sekali. Sebaliknya, mereka tampak bersemangat. Perang terakhir yang sempat mereka lihat sudah berlangsung sangat lama sehingga rekan-rekan seperjuangan mereka yang tak berumur panjang seperti mereka, semua telah mati termakan usia. Jadi saat tahu mereka diizinkan untuk ikut serta dalam perang kali ini berkat Tsarina yang mengambil alih Westeria dan menjadikannya bagian dari Imperial, mereka tak akan menahan diri lagi. Mereka akan siap menghancurkan musuh mereka. Mereka akan melampiaskan kehausan mereka akan pertempuran yang telah lama tak terjadi di negeri damai Westeria.


"Tunggu apa lagi? Ayo kita segera pergi ke Orient dan menghancurkan mereka." Kata Andromeda Navarro dengan penuh semangat.


"Izinkan saya ikut dengan kalian semua." Kata seseorang yang baru saja menerobos para penjaga Istana dan memasuki ruangan itu. Para penjaga yang tadi berusaha menghalanginya terluka parah, berusaha mencegahnya menemui Ratu Eugene.


Pria itu adalah orang Orient. Dia membawa dua bilah pedang di tangan kanan dan kirinya, berjalan cepat menuju Sang Ratu. Setelah cukup dekat, dia berlutut di hadapan Ratu Eugene dan keempat pemimpin Klan.


"Master Wu..." Eugene mengucapkan namanya. "Kenapa—“


"Mohon izinkan saya ikut dengan kalian." Matanya menatap bersungguh-sungguh ke arah para pemimpin klan di depannya.


"Siapa orang ini, Baginda?" Tanya Enrique. Seluruh pemimpin Klan menatap pria Orient itu dengan curiga.


Eugene segera menghampiri pria Orient itu dan membantunya berdiri. Sang Ratu pun memperkenalkannya pada para pemimpin Klan, "Beliau ini adalah ayah dari mendiang Maharani Lee Yeon-Hwa. Legenda Timur yang terkenal, Dewa Petir, Panglima Wu. Jangan khawatir, beliau ada di pihak kita."


Panglima Wu pun memberikan salam hormat kepada mereka semua, dia pun menjelaskan alasannya, "Tsarina Anastasia pernah memanggilkan seorang Saintess untuk menyembuhkan kaki saya yang dipatahkan oleh orang-orang suruhan Maharani Sae-Byeok, serta menyembuhkan mata saya yang sebelumnya buta. Saya berhutang budi pada Tsarina dan saya akan melakukan apa pun untuk membalas orang-orang Orient itu atas apa yang sudah mereka lakukan padanya."


Saat itu, Orlando Ortiz sedang membaca isi pikiran Sang Panglima. Dia pun mengangguk pada rekan-rekannya, para pemimpin Klan yang lain. "Dia berkata jujur." Orlando menaikkan sebelah alisnya saat mengetahui hal lainnya, "Dan dia punya dendam pribadi yang belum dituntaskan terhadap keluarga Kaisar."


"Dendam pribadi?" Andromeda menyeringai, "Bagus."


Ignacio Torres tersenyum menyambut Sang Panglima, "Selamat bergabung, Panglima Wu."


***


Kediaman Smirnoff, Schiereiland, Imperial Schiereiland


Ludwig  baru saja selesai membaca surat yang dikirimkan oleh perwakilan pasukan Serigala yang ikut bersama Tsarina ke Orient terkait deklarasi perang dari Orient. Dia melipat kembali surat itu dengan rapih. Dia tahu ini akan terjadi, jadi dia tak tampak terkejut sama sekali. Lagi pula, untuk saat ini lah selama ini dia kurang tidur dan lupa makan akibat terlalu sibuk membuat Naga Baja versinya dan di saat yang sama, memastikan istrinya dan bayi yang dikandungnya baik-baik saja.


Sang Tsarina sudah mempercayakannya untuk mempersiapkan pasukan keluarga Smirnoff yang kelak akan diberangkatkan bersama Naga Baja. Berbeda dengan Naga Baja milik Orient yang dirancang oleh Ibu Suri, Naga Baja ciptaannya ini akan bisa diterbangkan tanpa kekuatan Naga Angin, tapi menggunakan mekanisme mesin yang digabungkan dengan sihir tingkat tinggi yang hanya dikuasai oleh Ludwig dan Selena. Bom Morta juga sudah dia buat dalam jumlah besar untuk dijatuhkan di kota-kota besar Orient menggunakan Naga Baja. Begitu pasukannya diberangkatkan nanti, Orient niscaya akan kehilangan sebagian besar populasi mereka.


Bertahun-tahun menjalani hidup sebagai Pangeran Utara yang dikenal dingin dan tak berperasaan, putra dari penyihir kejam penguasa Menara Sihir, membuat Ludwig berhasil menyingkirkan hati nuraninya di saat mendesak seperti ini. Perang bukan untuk siapa pun yang berhati lemah. Ada kalanya dia bisa benar-benar menghilangkan rasa manusiawinya. Terutama di saat seperti ini, saat negosiasi yang telah diusahakan oleh Sang Tsarina tidak disambut baik oleh Kaisar Orient.


Tapi sikap tenangnya itu langsung dibuyarkan oleh pemandangan di hadapannya. Istri tercintanya sudah mengganti gaunnya dengan seragam militer lengkap dengan armornya. Grand Duchess Constanza Smirnoff sedang memeriksa busur panahnya yang sudah lama tak dia gunakan.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" Tanya Ludwig, berusaha menjaga nada bicaranya setenang mungkin.


"Memeriksa busur panahku." Jawab Constanza.


"Tapi... Kau sedang hamil."


"Ya. Aku sedang hamil. Kau punya masalah dengan itu?" Kali ini nada bicaranya sangat ketus sehingga Ludwig tidak berani mengatakan apa pun lagi.


Tapi Ludwig mengingat betapa baru tadi pagi Constanza mengeluh bahwa dia merasa lemas dan tak bertenaga. Constanza merasa mual serta muntah-muntah sepanjang pagi dan bahkan tidak merasa mampu meninggalkan ranjangnya. Jadi sudah jelas bahwa Constanza sedang tidak dalam kondisi yang prima untuk mengenakan seragam militer dan berangkat bersama pasukan keluarga Smirnoff.


"Constanza—“


"Ludwig, dengar, aku tidak akan bisa tenang jika aku tidak ikut serta. Haru menikam sepupuku! Ini pernyataan perang dari Orient! Seluruh pasukan keluargaku akan berjuang bersamaku. Kita semua akan melawan mereka dengan taruhan nyawa." Katanya dengan tajam. "Dan kau tidak bisa melarangku." Dia menambahkan.


"Kau sedang hamil! Kau tidak bisa ikut berperang. Kau dan anak kita bisa saja tewas—“


"Kau tidak percaya padaku?" Potongnya, setengah berteriak. "Kau meragukan kemampuan memanahku? Kau meragukan kemampuanku yang pernah hampir membunuh kakakmu dengan hanya satu anak panah?"


"Bukan begitu, sayang. Aku hanya—“


"Kalau begitu dukung aku, sayang. Katakan bahwa kau akan melindungiku dan kau akan selalu bersamaku. Kita akan mengatasinya bersama."


"Tentu saja aku akan melindungimu dan selalu bersamamu. Tapi—“


"Itu saja sudah cukup untukku. Jangan katakan apa pun lagi. Ayo kita berangkat." Constanza kemudian membawa busur panahnya bersamanya dan bersiap menuju tempat Naga Baja mereka berada untuk berangkat ke Orient.


"Menantu, kau lupa racunmu!" Panggil Selena. Dia berjalan cepat menuju Constanza. Constanza pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Selena.


"Ibu?" Ludwig tampak begitu asing dengan pemandangan di hadapannya. Ibunya dan istrinya terlihat sangat akrab.


Constanza menerima racun Morta itu dari Selena. Racun itu nantinya akan dia oleskan ke anak panahnya. "Terima kasih, Ibu mertua." Katanya, sambil menunduk dengan sopan pada ibu dari suaminya itu.


"Dan ini..." Selena kemudian memberikan segelas cairan berwarna ungu muda pada Constanza. "Minum lah. Aku meminum ramuan ini setiap hari selama aku mengandung Ludwig dulu. Ini ramuan racikanku sendiri. Dapat membuatmu lebih kuat dan menghilangkan rasa mual. Aku sudah memberinya perasa anggur karena kata Ludwig kau suka anggur."


Constanza terdiam beberapa saat menatap Selena. Betapa anehnya, orang yang sebelumnya sangat dia benci itu kini begitu perhatian padanya setelah dia memberitahu Selena bahwa dia sedang mengandung anak Ludwig.


"Tidak ada racun di dalamnya. Aku hanya ingin cucuku tetap sehat dan lahir dengan selamat nanti." Selena menambahkan.


Constanza pun akhirnya menerima gelas berisi cairan ungu muda itu dan tanpa ragu menenggak habis isinya. Dia tersenyum senang saat tahu bahwa cairan itu benar-benar terasa seperti anggur. "Terima kasih banyak, Ibu mertua." Ucapnya dengan tulus sambil menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong itu pada Selena.


Ludwig masih terpana dengan adegan di hadapannya itu. Sejak kedatangan Selena ke kediaman Smirnoff, baru kali ini dia melihat ibunya tampak memperlakukan istrinya dengan begitu baik. Mereka kini benar-benar tampak seperti ibu mertua dan menantu yang memiliki hubungan yang baik. Seolah Constanza lupa bahwa karena Selena lah, pasukan penyihir membunuh orang tuanya. Seolah Selena lupa bahwa karena Constanza lah, dia gagal menguasai Schiereiland.


"Sejak kapan kalian akrab?" Tanya Ludwig dengan heran.


"Kami tidak akrab." Kata Selena. Dia kemudian berbalik dan masuk kembali ke ruangannya untuk turut bersiap berangkat bersama pasukan keluarga Smirnoff. Tapi sebelum cukup jauh dari pandangannya, Ludwig sempat melihat ibunya tersenyum bahagia. Senyuman yang sudah sangat lama tak dilihatnya di wajah ibunya. Senyuman yang timbul karena telah berhasil melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain.


Constanza yang melihat Ludwig masih bingung, menambahkan perkataan Selena, "Kami hanya bekerja sama untuk melawan Orient seperti yang sudah seharusnya kami lakukan. Dan kau juga lebih baik bersiap, sayang."


***


Siang itu, seperti halnya yang terjadi di kediaman lain yang dipimpin oleh bangsawan-bangsawan Imperial yang telah menerima surat pemberitahuan dari para Serigala utusan Grand Duke Winterthur, orang-orang di Kediaman Engelberg sedang bersiap. Semua diminta untuk berkumpul di ruang rapat untuk membicarakan strategi perang. Duke Engelberg yang merupakan paman dari Jenderal Tyros Engelberg memimpin rapat itu.


Rapat strategi perang itu sebelumnya sudah pernah diadakan saat Tsarina memutuskan untuk melawan Orient jika negosiasinya tidak berjalan lancar. Namun kali ini mereka kembali membahasnya karena kini mereka mendapat sekutu baru, yaitu Westeria. Mereka akan bekerja sama dengan pasukan Klan Ortiz dari Westeria. Untuk itu lah perwakilan dari Klan Ortiz, sekaligus tunangan Jenderal Tyros, yaitu Theana Ortiz turut serta dalam rapat itu.


Sebuah peta besar digelar di atas meja bundar ruang rapat tersebut. Peta itu menunjukkan bentang alam Imperial Schiereiland dan Kekaisaran Orient. Tempat-tempat mana saja yang akan menguntungkan mereka dalam penyerangan, tempat-tempat mana saja yang akan cukup aman untuk mendirikan tenda-tenda pasukan mereka, tempat-tempat mana saja yang harus mereka hindari serta tempat-tempat dimana mereka akan mengevakuasi penduduk jika pasukan Orient memasuki wilayah mereka, semua sudah ditandai dengan titik-titik tertentu. Semua mata begitu terpaku pada titik-titik yang sudah ditandai oleh Jenderal Tyros. Namun saat mereka sedang membahas hal yang sangat penting, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang rapat itu diketuk.


Pintu dibuka dan menampilkan sosok kepala pelayan kediaman Engelberg yang sudah berumur. Wanita itu membungkuk penuh hormat dengan ekspresi wajah takut bercampur tegang karena tahu dia baru saja menginterupsi rapat penting majikannya. Tapi wanita itu tidak punya pilihan lain. Karena tamu yang baru saja datang juga orang yang tidak kalah pentingnya dari majikannya.


"T-tuan—“


"Tidak sekarang, Marry. Kami sedang mendiskusikan strategi penyerangan kali ini." Kata Duke Engelberg langsung sebelum Marry sempat mengatakan apa pun terkait tamu mereka. Pandangan Duke terus terpaku pada peta di hadapannya.


Dengan ragu, Marry mencoba sekali lagi. "Tapi, di ruang tamu ada—“


"Marry..." Lagi-lagi Duke memotong perkataannya. Dengan kesabaran yang dipaksakan, kali ini dia menoleh ke arah Marry dan berkata, "Tidak sekarang. Kau bisa mengusir tamu, siapa pun itu, di saat seperti ini."


"Paman..." Tyros menyentuh bahu pamannya, menenangkannya agar bersikap lebih sabar dan tenang. Tyros tahu pamannya sedang sangat tegang karena ini pertama kalinya Duke Engelberg diberikan kepercayaan oleh Tsarina untuk mengerahkan pasukannya dalam perang melawan Orient. Tyros kemudian beralih pada Marry, si kepala pelayan. "Ada siapa di ruang tamu, Marry?"


Marry menjawab, "Ratu—maksud saya, Jenderal Irene Winterthur."


Mendengar nama itu disebut, serentak mereka semua tampak terkejut dan bertanya-tanya mengapa mantan Ratu sekaligus Jenderal yang memimpin pasukan elite Imperial itu justru mengunjungi kediaman mereka di saat genting seperti ini. Jika bukan karena ada persoalan yang sangat mendesak, mustahil Jenderal Irene Winterthur mendatangi mereka.


Lalu asumsi itu segera saja dibenarkan oleh Theana Ortiz yang tampak menangkap isi pikiran tamu mereka dari dalam ruangan rapat itu. Theana segera menoleh ke arah tunangannya dengan ekspresi yang tak terbaca.


"Ada apa Theana?" Tanya Tyros.


"Sang Jenderal tidak datang sendiri. Ada orang lain yang datang bersamanya."


"Siapa?" Tanya Sir Engelberg, ayah Tyros.


Lagi-lagi Theana tampak terdiam, pertanda sedang mencoba mencari tahu siapa orang yang datang bersama Jenderal Irene tersebut dengan membaca pikirannya. Dia kemudian menjawab, "Dia orang Westerian. Saya tidak yakin, tapi..." Theana kemudian beralih pada Duke Engelberg, "Orang ini mungkin bisa membantu kita."


Duke Engelberg mengangguk mengerti. Dia kemudian memberi perintah para Marry, "Arahkan Jenderal ke ruangan ini." Kata Duke.


***


Irene memasuki kediaman Engelberg, mengikuti arahan kepala pelayan Kediaman Engelberg. Terakhir kali dia melewati lorong-lorong luas tersebut, adalah dua puluh empat tahun yang lalu, sebagai Ratu Nordhalbinsel. Dia datang ke kediaman tersebut bersama Raja Vlad untuk urusan politik dengan Duke Engelberg yang sebelumnya, ayah dari Duke yang sekarang. Dua puluh empat tahun berlalu dan kediaman ini masih terlihat sama baginya. Sepertinya sang putra tidak berminat merubah apa pun yang ditinggalkan oleh ayahnya. Sejak dulu keluarga Engelberg memang dikenal menghormati orang tua mereka dan begitu patuh pada pemimpin keluarga hingga Duke yang sekarang, meski ayahnya sudah mati, tetap menghormatinya dan tidak merubah detail apa pun yang ada di rumah itu.


Irene tampak mengagumi desain interior bangunan tua itu. Semuanya tampak antik dan bersejarah. Setiap perabot seperti guci dan lampu gantungnya diperkirakan lebih tua dari usianya, namun tidak mengurangi keindahan rumah tersebut. Tapi sepertinya orang yang ada di sampingnya tidak setuju akan hal itu.


Wanita itu berjalan di samping Irene. Mata emeraldnya tampak bosan melihat semua kemewahan berlebihan yang ada di sekitarnya.


"Siapa yang tinggal di rumah jelek ini? Gayanya terlalu... utara." Komentarnya. Dia menggunakan bahasa Westernia karena tidak dapat menggunakan bahasa lain selain bahasanya—kecuali beberapa kata umpatan dan makian dalam berbagai bahasa yang memang sengaja dia hafalkan. Dia bersikeras tidak perlu mempelajari bahasa lain dan bahwa orang lain lah yang harus mempelajari bahasanya.


"Guru, tolong jangan terlalu berterus terang seperti itu. Tidak semua orang memiliki selera yang sama seperti guru yang suka tinggal di kastel berhantu selama ratusan tahun." Sindir Irene yang juga menggunakan bahasa Westernia setiap berbicara dengan gurunya itu.


"Kau masih saja tidak sopan padaku!"


Irene tertawa menanggapi teguran pedas tersebut. "Aku tahu, guru sangat senang aku dapat kembali ke kehidupan ini dengan selamat. Kalau tidak, guru pasti merasa kehilangan satu-satunya murid yang tahan berargumen dengan guru. Ini semua juga berkat guru."


Sang guru mendengus kesal mendengarnya, namun Irene tahu bahwa itu pertanda gurunya benar-benar menyayanginya.


"Tidak. Ini berkat dua putramu." Kata Sang guru. "Putramu yang pertama memenangkan pedang Raja Zuidlijk dariku setelah membuktikan kemampuannya memang layak untuk pedang itu. Putramu yang kedua, mempertemukan putramu yang pertama dengan dirimu dan berhasil meyakinkannya untuk menyelamatkanmu. Sayang sekali putramu bungsumu itu sudah tiada." Sang guru pedang itu terdiam sesaat, mengamati ekspresi Irene yang kini tampak sedih saat putra keduanya kembali disebut-sebut. Sang guru menggenggam tangan muridnya, memberinya kekuatan. "Sangat disayangkan dia mati di usia muda. Dia bukan murid terbaikku, tapi dia pemuda yang baik. Sejak awal aku sudah tahu dia akan menjadi seorang Raja yang baik, meski bukan ahli pedang terbaik."


Irene mengangguk dan tersenyum mengenang putranya yang telah tiada, "Benar... Dia anak yang baik."


Pembicaraan mereka segera terhenti begitu mereka sampai di hadapan pintu ruang rapat keluarga Engelberg. Kepala pelayan kediaman Engelberg mengisyaratkan para pengawal untuk membukakan pintu untuk para tamu terhormat itu. Pintu pun dibuka lebar. Semua orang yang ada di dalam ruangan rapat menyambut kedatangan mereka dengan berlutut di hadapan kedua tamu wanita bermata emerald itu.


Irene yang sudah lelah dengan semua penghormatan yang dia terima sebagai Ibu Suri, segera mengizinkan mereka untuk bangkit berdiri.


"Oh... seorang Ortiz." Sang Guru menyeringai saat melihat Theana Ortiz yang menatapnya dengan terkejut. Bukan hanya terkejut, Theana tampak takut seperti baru bertemu dengan hantu, sampai-sampai Tyros tampak bingung dengan reaksinya itu. "Kau tahu siapa aku?"


Theana buru-buru sadar dari keterkejutannya, dia menghampiri sang guru dan berlutut di hadapannya. "Salam hormat saya kepada Baginda Ratu Violetta Reyes, Ratu Pertama Westeria."


Violet, Sang Guru, menghampirinya dan membantunya berdiri. "Kalau kau menyebutku yang sudah mewariskan takhtaku pada putra tiriku sebagai Ratu, maka kau seharusnya menyebut wanita ini sebagai Ratu juga." Kata Violet sambil melirik ke arah Irene.


"Tidak perlu. Aku sudah bukan Ratu lagi." Kata Irene.


"Ibu Suri?" Tawar Violet.


"Jenderal Winterthur."


Violet mendengus, "Ha! Apa hebatnya menjadi Jenderal. Kau menikahi seorang Raja dan melahirkan seorang Raja. Kau adalah ibu mertua yang sangat dihormati oleh Tsarina."


"Guru—“


"Baiklah. Baiklah. Kau selalu saja mengalahkan kecerewetanku. Aku tak tahu kau ini keturunan siapa."


"Aku keturunan Klan Reyes. Secara tak langsung itu artinya aku keturunanmu juga." Kata Irene. Dan sebelum dia melupakan sopan santunnya untuk menyapa terlebih dahulu sang pemilik rumah, Irene buru-buru berpaling dari gurunya dan menghadap pada Duke Engelberg yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka dengan takjub. "Duke Engelberg yang terhormat, izinkan saya memperkenalkan Ratu Pertama Westeria, sekaligus guru pedang saya yang selama ini dikenal sebagai Ahli Pedang Westeria, Lady Violetta Reyes."


"Violet saja." Kata Violet dengan nada bosan. Dia menggunakan bahasa Westernia, tapi semua yang ada di ruangan itu adalah orang-orang yang diberi pendidikan tinggi sejak kecil sehingga mereka semua mengerti bahasa Westernia. Violet kemudian menyebutkan alasan utamanya datang ke tempat itu. "Aku di sini untuk memberitahu strategi terbaik dengan pengamatan masa depan yang sudah kulakukan. Itu pun kalau pasukanmu siap, Duke Engelberg."


"Kami siap mendengarkan, Lady." Jawab Sang Duke sambil membungkuk penuh hormat padanya. Dia memperlakukan Violet layaknya para bangsawan terhormat memperlakukan seorang Ratu.


"Bagus. Kalau begitu, cepat kumpulkan pasukanmu dan pergi ke Noord." Perintah Violet.


Duke tampak bingung dengan perintah itu, "Noord? Bukan ke Orient?"


"Bukan. Kalian akan lebih berguna jika kalian pergi ke Istana Utama sekarang juga." Jawab Violet. Dan saat mengatakannya, mata emerald miliknya tampak bersinar terang, pertanda dia sedang menggunakan kekuatan Klan Reyes untuk melihat masa depan. Berbeda dengan Irene maupun Xavier, Violet dapat mengendalikan kekuatannya sesuka hati. Dia dapat melihat masa depan kapan pun dia mau. Dan itulah yang menyebabkan Violet tak terkalahkan dalam duel pedang. Selain karena kemampuan berpedangnya, juga karena Violet dapat membaca pergerakan lawannya di masa depan terdekat yang dia lihat.


Duke kembali bertanya, "Tapi kenapa—“


"Karena di sana lah perang yang sesungguhnya akan terjadi. Perlu kalian semua ketahui, aku setuju untuk membantu kalian atas permintaan dari Ratu para Naga, Tsarina Anastasia. Jadi kalian tak perlu meragukanku dan tak perlu mempertanyakan perintahku." Potong Violet langsung.


Duke pun menuruti perkataan Ratu Pertama Westeria itu. Dengan patuh dia memerintahkan pasukannya untuk segera pergi ke Istana Utama.


"Saya juga, Guru?" Tanya Irene.


"Tidak, Irene." Jawab Violet. "Kau, Si Ortiz, dan... siapa namamu anak muda?" Tanya Violet pada Jenderal Tyros yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.


"Tyros, Lady. Jenderal Tyros Engelberg." Tyros memperkenalkan diri sambil membungkuk hormat padanya. Melihat betapa tunangannya yang berasal dari keluarga terhormat di Westeria sampai berlutut di hadapan Violet, Tyros menyimpulkan bahwa dia juga sebaiknya berlaku penuh hormat pada wanita tua yang ada di hadapannya itu. Tyros juga teringat bahwa para pemilik mata permata berdarah murni di Westeria biasanya baru akan mulai menua di usia dua ratus tahun. Sedangkan wanita itu, Violet, sudah tampak setua neneknya, jadi dia berasumsi bahwa Violet pasti sudah berusia ratusan tahun.


Theana tampaknya membaca pikiran Tyros. Dia menoleh pada Tyros dan mengangguk, membenarkan asumsi dalam pikirannya.


"Ya, kau, Jenderal. Kalian bertiga pergi lah ke Shina, dan bergabung lah dengan pasukan Serigala serta Leon." Perintah Violet pada Irene, Theana dan Tyros. Dia kemudian menambahkan, "Ortiz, kau tahu apa yang harus kau lakukan di sana."


Theana pun mengangguk dengan patuh.


***


(Puisi oleh Rabindranath Tagore 'Unending Love')*