
Keesokan paginya, Anna mendapat teman sarapan. Seorang wanita muda Orient yang hampir setinggi dirinya, dengan rambut sehitam malam yang diikat ekor kuda. Wanita itu mengenakan kimono berwarna hitam di balik mantel bulu tebal yang sedang dia kenakan. Dan meski dia makan dengan khidmat tanpa mengatakan apa pun, Anna tahu sepanjang waktu sarapan wanita itu tak berhenti mencuri pandang ke arahnya seolah sedang mengaguminya.
Tentu saja Eri memang mengagumi Anna, karena Sang Ratu para Naga ternyata persis seperti yang selama ini digambarkan dalam kitab-kitab yang pernah dia baca. Berambut semerah api dengan kulit yang bercahaya seolah lahir dari cahaya matahari. Dan saat itu, saat sarapan bersama, kulit Anna memang tampak jauh lebih bercahaya karena jendela-jendela besar yang ada di ruang makan Istana sedang terbuka lebar sehingga semua cahaya matahari pagi dapat masuk dan semakin menerangi kulitnya. Bagi Eri, Anna layaknya tokoh legenda dalam kitab yang sering dia baca, sebuah dongeng yang menjadi nyata, Dewi yang turun untuk menyelamatkan umat manusia, atau justru menghancurkannya jika dia tak cukup senang.
Sarapan itu berlangsung begitu tenang. Tak satu pun angkat bicara. Anna sengaja diam karena dirinya ingin menilai Eri terlebih dahulu sebelum menentukan harus bagaimana dia bertindak di hadapan si pelacak naga tersebut. Sedangkan Eri diam karena benaknya sibuk memikirkan apa alasannya dibawa ke hadapan Ratu para Naga yang sangat dia puja.
Usai sarapan, barulah Anna memulai bicara dengannya. Anna meminta Eliza mengambilkan dokumen dari ruang kerjanya, kemudian membacanya dengan bahasa Orient. Tinggal cukup lama di Orient membuat bahasa Orient-nya semakin lancar. Anna bahkan bisa meniru logat Kaze, logat suku Ilbon dengan sempurna.
"Sasaki Eri. Pelacak Naga. Usia 26 tahun. Suku Ilbon. Belum menikah. Tidak ada data terkait keluarga. Hanya itu data yang kudapatkan tentangmu, Torakka Eri." Kata Anna. Dia kemudian mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya ke arah Eri.
Eri tampak duduk tegak seolah dia sedang diwawancarai untuk posisi dayang kehormatan Tsarina di Istana atau semacamnya. Kemudian dengan suara yang dia usahakan agar terdengar tenang, dia menjawab, "Semenjak menjadi Torakka dan bekerja untuk Kaisar, kami para Torakka memutuskan hubungan dengan keluarga asal kami, kecuali Torakka Yi-Zhuo yang berasal dari keluarga panglima. Saya bahkan sudah hampir melupakan nama 'Sasaki'. Jadi data yang Anda dapatkan itu adalah data yang terlengkap saat ini, Yang Mulia."
Bahasanya begitu formal, terkesan sangat sungkan, sehingga Anna merasa bersalah. Mungkin karena sikapnya yang juga formal, atau mungkin karena Eri dibawa ke Istana Utama secara tiba-tiba oleh para Serigala. Situasi di antara keduanya begitu tegang. Tapi Anna meyakinkan dirinya bahwa untuk saat ini, dia harus bersikap layaknya seorang penguasa dari negeri musuhnya. Dia harus bersikap layaknya Ratu para Naga di hadapan wanita yang berasal dari keluarga yang menyembah para Naga.
Anna menaruh dokumennya di atas meja, menyilangkan kakinya, dan membentuk piramida dengan jari-jarinya yang dia letakan di atas meja. Anna tampak memutar otak, cara agar Eri mau membuka diri, namun tidak menghilangkan rasa sungkannya. Anna ingin Eri menyodorkannya dengan ribuan informasi padanya, namun dia juga ingin Eri tetap menghormatinya. Tidak angkuh, namun juga tidak boleh terlalu bersahabat.
Anna ingat Eri lah yang menembakkan anak panah pada Kaze dulu saat Kaze sedang dalam misinya mencari Yeon-Hwa di Istana. Menyakiti salah satu naga bukan lah tindakkan yang dapat Anna maafkan dengan mudah. Meski Anna tahu, Eri adalah Torakka yang paling dekat dengan Kaze dan bahwa anak perempuan itu menganggap Eri sebagai saudarinya, tapi dia tidak bisa melupakan apa yang sudah Eri lakukan pada Kaze begitu saja.
"Tidak." Kata Anna. Nada suaranya lebih dingin dari biasanya. "Aku membutuhkan data yang lebih lengkap dari ini, Torakka Eri."
"Mohon, Eri saja, Yang Mulia." Ucap Eri sambil menunduk, "Saya malu menyebut diri saya sendiri sebagai Pelacak Naga di hadapan Ratu para Naga."
"Sudah sepatutnya." Kata Anna.
"Benar. Maaf—“
"Tapi tak perlu minta maaf." Potongnya langsung. Melihat Eri yang tampak begitu menyesal membuatnya jadi tak tega padanya. Biar bagaimana pun, Anna sudah tahu cerita tentang Eri yang menyelamatkan Kaze dari keluarga kandungnya yang mengabaikannya. Karena Eri lah, karena ditemukan oleh pelacak naga lah, Kaze terbebas dari keluarganya yang pernah hampir membuatnya mati kelaparan. Anna pun akhirnya memutuskan untuk berbicara lebih lembut padanya, "Tolong jangan terlalu sungkan. Bisakah kau menceritakan padaku tentang dirimu, Eri?"
Eri mendongak, menatapnya dengan bingung, "Tentang saya? Apakah ada hal spesifik yang ingin Anda ketahui, Yang Mulia?"
"Semuanya. Ceritakan padaku semuanya. Untuk itulah aku memberi tugas pada Grand Duke Winterthur yang menjemputmu untuk datang ke sini menemuiku. Aku ingin tahu semua tentangmu. Setelah itu, kau bisa kembali ke Orient."
Eri tampak diam berpikir, bingung harus memulai dari mana.
Akhirnya Anna membantunya dengan memberi beberapa pertanyaan lagi, "Kau punya keluarga dekat yang masih sering kau temui atau kau hubungi?"
Eri menggeleng, "Tidak ada."
Anna menuliskan sesuatu pada dokumen tentang Eri. Kemudian, tanpa melihat ke arah Eri, dia bertanya kembali, "Kau punya saudara laki-laki?"
"Tidak."
"Kekasih? Tunangan?"
"Tidak ada, Yang Mulia."
Kali ini Anna menaruh dokumen tersebut dan penanya, lalu menatap Eri dengan serius, "Apa Torakka tidak menjalin hubungan dengan siapa pun?"
"Bukan begitu, Yang Mulia. Yi-Zhuo adalah kekasih simpanan Pangeran Yuza—Ibu Suri sebenarnya tidak tahu hal ini. Aku yakin sekali Ibu Suri akan sangat murka jika tahu Yi-Zhuo menggoda salah satu putranya. Sedangkan rekan saya yang lain yang sudah mati, Gyeoul, adalah tunangan dari cucu Perdana Menteri."
Anna tentu saja mengingat Gyeoul, Torakka yang tewas terbakar oleh api Xavier karena membuatnya marah. Karena menyampaikan ramalan tentang kematian Anna dan putri mereka. Dia berusaha untuk mengenyahkan pikiran itu dan kembali fokus pada wawancaranya dengan Eri.
"Tapi kau tidak punya kekasih?" Anna bertanya kembali, memastikan.
"Setiap kali saya mencoba memiliki seorang kekasih, keesokan harinya dia sudah menjadi salah satu kekasih Reina. Jadi saya berhenti mencoba. Bukan karena kami dilarang untuk memiliki hubungan dengan siapa pun. Saya hanya tidak mau dikecewakan lagi."
"Baiklah kalau begitu. Jadi tidak ada larangan, ya. Itu akan mempermudah semuanya." Anna bergumam pada dirinya sendiri dengan bahasa Schiereiland.
"Maaf, Yang Mulia?" Eri tampak bingung karena tak mengerti bahasanya.
"Bukan apa-apa." Jawab Anna sambil tersenyum ramah padanya. Sudah cukup berpura-puranya. Kali ini, dia tahu bahwa dia bisa menjadikan Eri sebagai bagian dari rencananya. Anna tahu Eri tidak akan bisa menolaknya. "Nah, Eri, apa kau bersedia membantuku? Jika kau bersedia, aku akan memberimu sebuah jepit rambut yang sangat berharga. Jepit rambut yang bersejarah. Tapi aku membutuhkanmu untuk melakukan sebuah misi rahasia."
Eri buru-buru berlutut di hadapannya, "Saya bersedia melakukan apa pun untuk Yang Mulia tanpa iming-iming hadiah. Mohon gunakan saya sesuka hati Anda, Yang Mulia. Saya mengabdikan seluruh hidup saya untuk saat ini, untuk membantu Ratu para Naga. Merupakan suatu kehormatan besar jika saya bisa berguna untuk Anda."
Anna sebenarnya tidak suka mendengar kata-kata itu seolah dirinya akan bertindak semena-mena terhadap orang yang bahkan tidak benar-benar dia kenal. Tapi saat itu, Anna hanya tersenyum seolah kata-kata itu lah yang sudah dia nantikan untuk didengar.
***
Tefafelo, Wilayah Navarro, Westeria
Suasana pagi itu begitu damai. Burung-burung bercuitan, bersukacita di antara dahan-dahan pohon, menyambut musim semi yang panjang di Westeria. Angin lembut bertiup menerbangkan kelopak bunga dandelion, menyebarkan musim semi yang lahir kembali ke penjuru Westeria. Namun kelopak-kelopak dandelion yang beterbangan itu menyatu dengan hal lain yang juga turut terbawa oleh angin musim semi. Sesuatu yang berbau busuk dan kemerahan. Debu mayat manusia.
"Selanjutnya." Kata Andromeda dengan nada bosan. Sepagian ini dia sudah harus menemui beberapa orang yang ingin bertemu dengannya dan tidak ingin bertemu dengannya.
Orang berikutnya maju dengan kaki gemetar. Setiap langkahnya seperti diseret menuju tiang gantung. Dia seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan perut buncit yang dilapisi jas beledu merah. Kepalanya yang sudah separuh botak ditutupi topi fedora hitam keluaran terbaru tahun itu. Sepuluh jarinya berhias cincin permata yang berkilau di bawah cahaya matahari hingga semua yang melihatnya cukup yakin kaki pria itu gemetaran karena terlalu berat membawa semua perhiasan itu di jarinya dan lemak di perutnya, bukan karena dia akan bertemu dengan pemimpin Klan Navarro.
"Baron Alvarez." Saat Andromeda menyebutkan nama keluarga dan gelarnya, pria itu tampak seperti menciut sepuluh kali lipat dari ukuran aslinya. Suara Andromeda bergema ke seisi aula kediaman Navarro. "Kau kemari lagi setelah... tunggu biar kuingat-ingat, satu bulan? Bukankah baru bulan kemarin kau mendatangiku untuk memohon perpanjangan waktu penyerahan pajak bulanan? Setahun terakhir ini kau memang rajin menemuiku, ya?"
"Ampuni saya, Lady Navarro. Tapi mohon mengerti bahwa rakyat sedang sangat kesulitan. Dan kami tidak punya banyak hasil panen bulan ini." Kata Sang Baron dengan suara mengemis.
"Oh, rakyat yang malang. Kau tentu tahu aku selalu bermurah hati pada rakyat yang kesulitan. Sudah menjadi tugas keluarga Navarro untuk selalu membantu mereka yang menderita." Kata Andromeda dengan nada yang mendramatisir. Dia duduk di kursi singgasananya, sebelah kaki ditumpukan pada kaki lainnya, belahan gaunnya memperlihatkan kaki jenjangnya. Dia memandang ke bawah, ke arah Sang Baron yang kini berlutut di hadapannya sepeti tikus yang siap dia injak dengan heels sepatunya.
"Anda memang sangat murah hati, Lady."
"Saya meminta tambahan waktu lagi, Lady. Saya janjikan bulan depan saat seluruh bunga Tulip sudah mekar sempurna, saya akan membawakan pajak bulanan dua kali lipat dari biasanya. Tidak. Tiga kali lipat!"
Andromeda tampak diam, hanya menatap Sang Baron sementara pria itu terus menunduk menatap lantai. Tak berani menatap mata Amethyst milik Andromeda.
"Adonia." Andromeda memanggil adik perempuannya dengan nada bicara yang sangat halus.
Seorang wanita muda yang usianya mungkin sekitar pertengahan dua puluh tahun melangkah menuju Sang Pemimpin Klan. Gaun panjangnya yang berwarna ungu berayun seiring tiap langkahnya. Matanya berkilauan layaknya permata. Dua permata yang berbeda. Mata kanannya adalah permata Amethyst layaknya mata kakaknya, sedangkan mata kirinya adalah permata Sapphire. Seperti ayahnya.
Adonia berlutut di hadapan kakaknya, "Ya, kakak."
"Bangkitlah dan berdiri di sampingku, adikku." Kata Andromeda.
Saat mendengar panggilan yang terkesan akrab itu, Baron Alvarez mendongak penasaran ke arah wanita yang baru datang tersebut.
Andromeda tersenyum saat melihat ekspresi terkejut di wajah sang Baron. "Perkenalkan, ini adikku. Adik bungsuku. Adonia Navarro." Saat mengatakannya, suara Andromeda terdengar seperti vonis hukuman mati bagi sang Baron.
"Matanya—“
"Benar." Potong Andromeda. "Dia separuh Ortiz. Oh, tentu kabar perselingkuhan ibuku dengan Orlando Ortiz sudah tersebar sejak bertahun-tahun yang lalu, bukan? Adonia adalah salah satu anak hasil hubungan mereka, saudari kembar dari Arizona yang hingga sekarang belum juga pulang ke rumah." Kali ini dia menyeringai saat melihat Sang Baron tampak gelisah. Keringat dingin membasahi jas beledunya. "Nah, Adonia. Lakukan apa yang bisa kau lakukan." Kata Andromeda pada adiknya.
Adonia menatap Sang Baron. Mata sebelah kirinya bersinar terang. Dan saat itulah, Sang Baron berkata, "Iblis bermata Amethyst sialan! Kau bodoh kalau percaya begitu saja! Sejak setahun yang lalu aku sudah menumpuk pajak yang diberikan pada rakyat dan tidak memberikannya padamu! Sesaat lagi aku akan menjadi cukup kaya untuk bisa menghancurkan seisi Klanmu! Alvarez akan menjadi penguasa wilayah ini, Iblis! Enyahlah!"
Andromeda menyeringai. Dia menelengkan kepalanya. "Oh... Begitukah?"
Baron Alvarez buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Sa-saya tidak pernah mengatakan hal itu! Itu bukan—saya tidak bersalah! Adik Anda—anak haram itu melakukan trik yang jahat pada saya!"
Andromeda bangkit, tampak sangat murka, "Dan sekarang kau menghina adikku!" Saat dia berdiri, kedua matanya bersinar sangat terang hingga hampir membutakan.
Sebelum sempat membuka mulutnya untuk mengatakan kalimat pembelaan lainnya, Baron Alvarez sudah hancur menjadi debu merah, tertiup angin musim semi bersama kelopak-kelopak dandelion, menyebarkan bau busuk di antara wangi bunga-bunga musim semi.
"Adonia, tolong sampaikan pada Gervaso untuk menyampaikan kabar duka pada keluarga Alvarez. Kemudian bagikan semua harta simpanan mereka kepada para rakyat. Setelah itu kau pergi lah ke Istana untuk menyampaikan tentang hal ini pada Ratu. Ingat, sampaikan sesopan mungkin." Titah Andromeda pada adiknya.
"Baik, kakak." Adonia pun segera pergi dari tempat itu.
"Selanjutnya."
Namun yang masuk berikutnya bukan orang Westerian. Dan saat pria itu masuk, Andromeda tampak sangat terkejut hingga dia segera berdiri dan buru-buru berjalan menghampirinya.
"Grand Duke Winterthur..." Ucapnya. Matanya hanya terpaku pada pria yang ada di hadapannya saat ini seolah khawatir jika dia mengalihkan pandangannya, pria itu akan menghilang seperti sebuah ilusi belaka. Namun meski sangat senang melihatnya, Andromeda berhasil menjaga nada bicaranya tetap tenang. "Ada keperluan apa?"
"Kau menyakiti Tsarina." Ucap Leon langsung, tanpa berbasa-basi. Jika dia membawa pedangnya bersamanya, Leon pasti sudah menggenggam ujung gagang pedangnya itu. Leon sengaja tidak membawa pedangnya karena khawatir kemarahannya pada Andromeda dapat membuatnya memenggal wanita itu sebelum dia bisa benar-benar berpikir dengan jernih. Kata-kata Anna semalam terngiang-ngiang di benaknya, melarang Leon untuk tidak memulai perang yang tidak perlu dengan sekutu baru mereka.
"Tidak benar." Sanggah Andromeda. "Aku hanya membuatnya merasakan rasa sakit yang pernah dirasakan mendiang Raja Xavier. Kupikir dia pasti ingin tahu apa yang dirasakan mendiang suaminya itu. Tidak perlu takjub begitu, itu hanya satu bakatku. Membuat ilusi rasa sakit. Atau dalam hal ini, meniru rasa sakit."
"Tetap saja—“
"Itukah tujuanmu ke sini?" Potongnya langsung. Andromeda menatapnya, separuh berharap jika dia terlahir sebagai Adonia Navarro yang tidak hanya memiliki kemampuan ibunya untuk menghancurkan segala sesuatu di hadapannya, namun juga memiliki kemampuan Orlando Ortiz yang dapat membaca isi pikiran orang dan mengendalikan pikirannya. Dia berharap saat itu dia bisa membaca isi pikiran Leon sehingga dia tak perlu banyak bertanya. "Jadi kalian sudah bicara? Apa dia sudah tahu kalau kau mencintainya?"
"Ya."
Andromeda mengangguk. "Bagus." ucapnya. Namun isi hatinya berkebalikan dari kata-katanya. Jika Sang Tsarina mengetahui isi hati Leon selama ini padanya, bahwa pria itu telah lama mencintainya, maka ada kemungkinan bahwa mereka bisa bersama. Maka ada kemungkinan bahwa mereka memang sudah bersama sekarang, dan Andromeda tidak bisa berusaha untuk mendekati Leon lagi. "Jadi kenapa kau ke sini?"
"Kudengar kau ingin menikah denganku." Kata Leon. Kedua tangannya dikepalkan di samping. Matanya menatap mata Amethyst milik Andromeda. "Kalau begitu ayo kita menikah."
Kata-kata itu seharusnya bisa membuat Andromeda senang. Tapi nyatanya tidak. Karena Leon mengucapkannya dengan begitu dingin, tanpa perasaan apa pun. Seolah dia sedang mengajak Andromeda untuk berlatih pedang bersamanya, yang mana jika itu yang terjadi tentu akan dia tolak karena Andromeda tidak bisa menggunakan pedang sebaik Leon dan dia tidak suka kalah.
"Tidak. Aku tidak mau." Jawab Andromeda. Meski berusaha untuk tidak memperlihatkannya, ada kepedihan dalam kata-katanya. Karena tahu dia baru saja menolak sebuah peluang yang telah dia tunggu. Dan karena peluang itu datang akibat pria itu ingin melindungi wanita yang dia cintai, bukan karena benar-benar ingin menikahinya. "Aku tidak mau menikah denganmu kalau kau melakukannya hanya untuk memastikan bahwa aku takkan melukainya lagi. Aku tidak akan menikah denganmu kalau kau melakukannya hanya untuk mempertahankan Klanku sebagai sekutu Imperial dalam perang mendatang melawan Orient. Aku bisa menunggu sampai kau ingin menikah denganku. Saat itu, lamar lah aku karena kau memang menginginkannya. Bukan karena hal lain. Pada saat itu, aku ingin hanya ada aku yang ada di pikiranmu, bukan wanita lain. Kita punya banyak waktu untuk itu. Usiaku bisa mencapai lima ratus tahun jika aku tidak mati dalam perang, dan kau hidup abadi sampai seribu tahun. Dan selama itu, aku akan berusaha membuatmu mencintaiku."
"Aku tidak akan melamarmu lagi. Ini untuk terakhir kalinya."
"Kau sebut itu lamaran?" Andromeda tertawa. Tawanya bergema ke seluruh ruangan. "Tidak ada cincin? Kata-kata puitis nan romantis? Kau bahkan tidak berlutut. Aku paling suka saat pria berlutut. Dengar, Grand Duke, aku tidak akan menyakiti Tsarina lagi. Aku tahu, aku salah. Aku terlalu emosi saat itu sampai aku tak bisa bertindak bijaksana. Aku sepertinya menjadi agak gila karena ini pertama kalinya bagiku mencintai seseorang. Aku akan mendatangi Tsarina dan meminta maaf langsung padanya. Aku juga berjanji akan melindunginya. Dan Klan Navarro akan tetap menjadi sekutu Imperial. Tapi perkenankan aku untuk menunggumu sampai kau bisa membuka hatimu untukku. Hanya itu permintaanku."
Untuk selama beberapa saat, Leon tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menatap Andromeda dalam diam, tidak sepenuhnya yakin yang dirasakan wanita itu benar-benar cinta atau hanya obsesi semata. Atau karena Andromeda penasaran dengannya. Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain jadi bagaimana bisa Andromeda mengatakan bahwa dia mencintai Leon.
Kemudian Leon pun berkata, "Kau boleh menunggu selama yang kau mau." dan dia pergi meninggalkan pemimpin Klan Navarro itu.
Andromeda menatap punggung Leon yang semakin menjauh. Bahkan ketika pintu di hadapannya telah tertutup, dia masih menatapi pintu itu seolah dengan begitu pintu tersebut akan kembali terbuka dan Leon akan kembali padanya. Lama dia hanya berdiri diam dan menunggu. Tapi tak terjadi apa pun.
Andromeda mengangkat tangannya, menyentuh dadanya, jantungnya masih berdebar dan kini rasanya sakit sekali. "Aku benar-benar tidak punya kesempatan, ya? Kau begitu mencintainya, sampai kau rela menikah denganku demi wanita itu. Aku jadi semakin tergila-gila padamu, Leon. Ini gawat. Aku khawatir pada apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkanmu." Bisiknya pada angin musim semi yang membawa debu mayat dan kelopak bunga dandelion.
***
Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:
Ternyata begini rasanya dicintai oleh orang yang kucintai. Tiba-tiba saja, aku ingin hidup selamanya. Aku tidak sabar untuk menyambut esok hari, tapi juga tidak mau hari cepat berakhir. Semua makanan terasa lezat dan kurasa aku tidak butuh anggur untuk mabuk. Dan tidur terasa sangat mudah. Terlebih sekarang aku tahu aku tidak akan tidur sendirian.
Aku tak pernah tahu bahwa memiliki keluarga adalah anugerah yang terindah. Waktu aku lahir, ibuku sudah tiada—bukan mati, hanya tiada—dan ayahku... sungguh aku tak mau menyalahkannya, aku tahu dia sibuk menjadi Raja dan sibuk menghibur diri karena dukanya karena kehilangan ibuku. Lalu muncul Selena, lalu para ibu tiri lainnya, lalu semua adik tiriku. Tapi aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga sampai aku menikah dengan Anna. Dan kami tinggal di Dong-gung bersama Shuu dan Kaze yang sudah seperti adik kandungku sendiri—adik kandung yang terus menerus memanggilku 'Baginda Raja'. Dan juga Elias dan Yeon-Hwa yang sudah seperti pasangan yang sudah lama menikah sehingga terus menerus bertengkar dan ribut sepanjang pagi. Aku hampir berharap bahwa aku tak perlu kembali ke Istana dan bisa tinggal di Dong-gung bersama mereka selamanya.
Jadi, hari ini, tanpa sepengetahuan Anna aku memutuskan untuk membeli sebuah rumah di Shina. Rumah itu sebelumnya adalah rumah singgah milik salah satu pejabat Orient yang dihukum mati karena ketahuan korupsi. Rumahnya sangat besar dan terletak di tempat yang jauh dari keramaian kota, di atas bukit dengan pemandangan yang menakjubkan dan taman yang sangat luas. Saat melihat tamannya yang luas dan indah aku membayangkan Anna dan anak-anak kami nanti bermain dan piknik di taman itu. Shuu dan Kaze juga pasti akan sangat senang tinggal di sini. Rumah ini nantinya akan menjadi rumah liburan kami jika udara di Noord sedang sangat dingin atau ketika kami sedang butuh liburan ke tempat yang lebih hangat. Meski aku sudah membelinya, aku tak benar-benar yakin kapan kami akan dapat menggunakannya karena saat ini pun urusan kami dengan Orient masih belum selesai. Aku akan memberitahu Anna nanti saat kami akan benar-benar berlibur ke rumah itu.
***