The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 41 : Negotiation



Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:


Kemarin malam aku bermimpi bertemu dengan Etherna. Dewi Langit, sekaligus ibu mertuaku di kehidupan yang lalu.


Dia tak mengatakan apa pun. Tapi dia jelas terlihat sangat tidak menyukaiku. Sepertinya kesalahanku seribu tahun yang lalu masih tak dapat dimaafkan baginya. Jadi aku memohon ampunan padanya, mengatakan bahwa aku tidak bisa menepati janjiku padanya seribu tahun yang lalu. Janjiku untuk tidak mendekati putrinya lagi. Dan aku memohon padanya untuk merestui hubungan kami di kehidupan ini. Aku berjanji pada Sang Dewi untuk menjaga istriku, mencintainya sepenuh hati dan membuatnya bahagia. Tapi jawaban Sang Dewi ternyata di luar dugaanku. Bahkan setelah bangun dari mimpi itu pun, kata-katanya terus terngiang-ngiang, inilah yang dia katakan:


“Di kehidupan ini dia tidak terlahir sebagai putriku. Kau tidak perlu meminta restuku. Berterima kasihlah pada Earithear yang memohon padaku agar Zhera terlahir kembali sebagai putrinya sehingga kalian bisa bersama atas restunya di kehidupan ini.”


***


Anna segera mendongak saat mendengar panggilan yang familier itu. Tapi tentu saja yang mengatakannya bukan lah yang orang dia harapkan.


"Kenapa menangis di sini? Daripada bersedih, ayo ikut dengan kami." Kata pria itu. Dia bukan orang Orient. Itulah yang menyebabkan Anna mendongak melihatnya karena pria itu adalah orang utara, lengkap dengan kulit putih salju dan logat khas orang-orang utara. Tapi tanpa kesopanan para pria utara.


Temannya di sampingnya yang juga orang utara berkata, "Wah, kau punya sepasang mata yang sangat cantik. Merah seperti darah."


Baru lah Anna ingat bahwa dia sedang dalam wujud Eri. Orang-orang itu tentu akan mengenali wajahnya jika dia melepas cincinnya. Semua orang utara pasti mengenali Sang Tsarina terutama dengan ciri khas rambutnya yang berwarna merah. Tapi turis-turis ini tidak mengenali Eri meski sebagian besar orang Orient pasti tahu bahwa mata berwarna merah hanya dimiliki oleh para Torakka, dan mereka semua menghormati Torakka dan takkan berani mengganggunya.


"Ayo ikut dengan kami, cantik. Kami bisa menghilangkan kesedihanmu itu. Kita akan bersenang-senang." Kata pria lainnya yang dengan tidak sopan menarik tangannya. Dia mencengkeram tangan Anna dengan erat.


Sial. Aku lupa kalau ini distrik merah Jungdo. Banyak sampah masyarakat tinggal di sini.


"Lepaskan!" Kata Anna dalam bahasanya.


"Ooh... dia bisa bahasa kita!" Kata pria yang pertama. Dia kemudian turut memegangi tangan Anna.


Anna berusaha untuk tidak mengeluarkan pedang Eri yang dia bawa maupun kekuatan para Naga untuk melawan mereka. Tapi cengkeraman mereka semakin kencang hingga terasa menyakitkan dan Anna kesulitan melepaskan diri.


"Aku tidak mau menyakiti kalian karena kalian tidak sepenting itu. Jadi lebih baik segera singkirkan tangan hina kalian selagi aku masih bicara baik-baik." Titahnya dengan nada memerintah layaknya seorang Ratu.


Tapi alih-alih merasa takut dan terancam, tiga pria utara itu malah tertawa keras dan menyeret paksa Anna untuk ikut bersama mereka. Mereka membawanya ke sebuah gang sempit dan memojokkannya sehingga Anna tidak bisa melarikan diri dari mereka.


"Pegangi dia. Aku mulai pertama." Kata pria yang badannya lebih besar dari yang lain sambil mulai melepas ikat pinggang celananya. Dia menyeringai saat melihat Anna menatapnya dengan tajam. "Jangan tatap aku begitu, manis. Kau membuatku semakin bergairah."


"Aku sudah memperingatkan kalian." Kata Anna dengan tenang.


Anna membuat kedua tangannya dijalari api. Dua orang yang memeganginya langsung terbakar. Dan dengan satu hentakan kaki Anna, tanah di sekitar mereka mulai berguncang seperti ada gempa besar sehingga mereka semua jatuh tersungkur ke tanah, kehilangan keseimbangan. Anna kemudian memunculkan sulur-sulur mawarnya dari setiap retakan tanah yang dia buat. Sulur-sulur mawar itu melilit dan mengikat tangan dan kaki ketiga pria itu. Duri-durinya menusuk mereka, membuat mereka berteriak minta tolong dan menangis.


"Si-siapa kau?" Tanya salah satunya yang sudah hampir melepas celananya tadi.


Kali ini Anna yang menyeringai, "Coba tebak." Dan bersamaan dengan itu, Anna mengendalikan angin Kaze sehingga menerbangkan bebatuan besar di sekitarnya, siap untuk menimpa ketiga pria utara itu. "Ada kata-kata terakhir?"


"Ampuni kami! Tolong jangan bunuh kami!"


"Berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatan kalian terhadap wanita mana pun." Perintah Anna. "Kalian itu pria-pria utara! Tidakkan ibu kalian mengajari cara memperlakukan wanita dengan penuh hormat dan dengan lembut?"


"Ampuni kami!"


Kali ini Anna mengeluarkan pedang Eri dan membuat pedang tersebut dijalari api. Trik yang pernah diajarkan oleh Xavier padanya. "Ini tidak terlalu memengaruhi kemampuan berpedangmu, tapi paling tidak kau jadi kelihatan lebih keren dan mengerikan. Dan itu efek yang bagus. Musuhmu akan langsung takut padamu. Dan rasa takut akan mengurangi kemampuan musuhmu." Anna mengingat kata-kata Xavier saat itu. Dan Xavier memang benar, efek api yang menjalari pedang itu langsung membuat ketiga pria utara itu ketakutan setengah mati.


"Kami berjanji!" Kata mereka langsung. "Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami! Kami akan memperlakukan semua wanita layaknya seorang Ratu dan tidak akan merendahkan serta melecehkan wanita lagi!"


Dan dengan itu, Anna menghisap energi mereka menggunakan duri-durinya, membuat mereka pingsan. Setelah memastikan ketiganya pingsan, Anna segera merapikan kekacauan yang tadi dibuatnya. Dia kemudian melangkah meninggalkan ketiga pria itu dalam keadaan tidak sadar.


Mengeluarkan kekuatan tiga Naga sekaligus membuatnya kelelahan. Jika saja tadi dia tidak sarapan bubur terlebih dahulu dan membiarkan perutnya tetap kosong, mungkin Anna sudah pingsan saat itu juga. Jadi dia melanjutkan perjalanan sambil berpegangan pada dinding-dinding bangunan yang menjulang di sekitarnya. Sambil terus terengah-engah, Anna memaksakan diri untuk berjalan.


Namun ternyata ada yang menontonnya sejak tadi. Anna begitu terkejut saat mendapati seseorang telah memperhatikan semua yang dia lakukan menggunakan kekuatan Naga. Dan orang itu, meski sedang mengenakan pakaian rakyat biasa dan menyamar dengan menutupi wajahnya menggunakan topi heuklip, Anna langsung dapat mengenalinya. Karena Anna memang telah memperkirakannya. Tapi Anna tak memperkirakan bahwa pria itu akan melihatnya saat dia menggunakan kekuatan Naga.


Pria itu jauh lebih terkejut lagi saat melihatnya—melihat Eri.


"Torakka Eri..." Ucapnya perlahan, masih memulihkan diri dari keterkejutannya atas apa yang baru saja dia saksikan di depan matanya. Keresahan dan kebingungan terpancar dari sorot matanya saat menatap wajah Eri.


Anna sempat mematung selama beberapa saat, bingung pada apa yang seharusnya dia lakukan atau katakan. Jadi dia memutuskan untuk bersikap sebagai Eri. Dia sengaja membiarkan dirinya jatuh berlutut di hadapan orang itu. "Baginda Kaisar—“


"Ikuti aku." Titah Sang Kaisar padanya.


***


Haru mengajak Anna yang sedang dalam penyamaran sebagai Eri ke sebuah tempat yang sepi untuk bicara. Dan tempat itu adalah Dong-gung, kedai minum tempat tinggalnya dulu selama di Orient.


Meski tampilan luarnya masih sama, Anna menyadari bahwa banyak perubahan yang terjadi pada tempat itu setelah cukup lama ditinggalkan pemiliknya. Dong-gung yang dahulu adalah kedai minum paling populer bagi kalangan turis asing dan orang-orang kelas menengah ke atas di distrik merah Jungdo karena satu-satunya tempat yang menyediakan anggur Carina yang diimpor langsung dari Schiereiland serta karena di tempat itu para turis bisa menggunakan bahasa mereka sendiri. Dong-gung yang dahulu adalah tempat yang indah, yang begitu hidup dengan keceriaan para pelanggan dan bunga-bunga yang bermekaran. Namun kini tempat itu begitu sunyi dan mati. Bunga-bunga di tamannya telah layu dan mati. Tidak ada siapa pun yang tinggal di sana saat ini. Hanya ada Haru dan Anna, serta beberapa pengawal Haru yang berjaga dari kejauhan, tersembunyi dari jarak pandang Anna. Tapi Anna yakin sekali ada sekitar dua puluh orang bersenjata lengkap yang sedang mengawasinya saat itu.


Haru segera menyuruhnya bangkit dan membantu Anna berdiri. Dia tersenyum padanya dan berkata,


"Dan aku..." Haru membungkuk di hadapannya, "Menghadap Ratu para Naga. Tsarina dari Imperial Schiereiland."


Hal itu tak lagi mengejutkan bagi Anna mengingat Kaisar Haru memang orang yang cerdas dan tidak mudah dibohongi. Terlebih lagi Haru tadi sudah melihatnya menggunakan kekuatan para Naga. Jadi Anna pun tak berniat mengelak.


"Sudah kuduga, Kaisar memang orang yang cerdas." Kata Anna sambil melepas cincinnya. Memperlihatkan wujud aslinya di hadapan Haru.


Saat melihat perubahan itu, Haru tampak menatapi cincinnya dengan rasa penuh ingin tahu. Orient memang terkenal dengan teknologi canggih dan para cendekiawan hebat yang karyanya telah diketahui di seluruh dunia, namun Orient tidak memiliki penyihir-penyihir hebat seperti yang ada di Nordhalbinsel. Dan sihir, meski sudah tidak asing lagi di Orient, tetap merupakan sesuatu yang ajaib dan langka bagi orang-orang Orient.


"Benda sihir?" Tanya Haru, masih memperhatikan cincin itu.


"Cincin transformasi. Bisa merubah wujud seseorang dengan mengambil sampel darah." Anna menjelaskan, tapi dia sengaja tidak mengatakan tentang sihir teleportasi yang juga sudah dimasukkan Ludwig ke dalam cincin tersebut.


"Buatan Pangeran Ludwig, kuduga."


"Grand Duke Smirnoff." Anna mengoreksi. "Beliau lebih suka dengan sebutan itu semenjak menikah dengan sepupuku."


Haru mengangguk mengerti. Haru sendiri sudah pernah bertemu dan bicara dengan Ludwig. Dan dia tahu tentang kejeniusan Ludwig yang bisa membuat berbagai benda sihir.


Haru kemudian mempersilahkannya untuk duduk di salah satu kursi pelanggan. Dan layaknya seorang pria yang tahu tata krama, Haru membantunya duduk sebelum dia sendiri duduk di kursi di hadapan Anna. Untuk beberapa saat, tidak ada yang memulai pembicaraan. Masing-masing tampak menilai orang yang ada di hadapannya. Sang Kaisar sedang menerka-nerka isi pikiran Sang Tsarina, sementara Anna kurang lebih tahu apa yang sedang dipikirkan Kaisar Haru.


Keberadaan Haru di sekitar distrik merah Jungdo pun merupakan bagian dari rencana Anna. Mustahil dapat menemui Kaisar di Istananya bahkan meski dia sudah menyamar sebagai Eri. Eri bukan lah orang yang biasa bertemu dengan Kaisar tanpa janji temu apa pun. Dan Kaisar Haru tidak sebodoh itu sehingga membiarkan dirinya bicara empat mata saja dengan Pelacak Naga yang lebih setia pada ibunya dibanding dirinya. Jadi Anna membuat sebuah skenario yang bisa dibaca oleh Haru.


Anna sebelumnya telah memerintahkan para Serigala untuk muncul di distrik merah Jungdo dan menakut-nakuti para turis asing. Tentu saja para Serigala dilarang untuk melukai mereka. Anna hanya ingin membuat sebuah kehebohan di sana karena distrik merah Jungdo, meski berisi tempat-tempat ilegal seperti perjudian, rumah bordil dan bar ilegal, merupakan salah satu tempat berpenghasilan besar yang menyumbangkan pajak bernilai tinggi pada Kekaisaran. Di tempat itu lah para pedagang black market dapat melakukan bisnisnya tanpa diganggu pihak pemerintahan, para penipu meraup keuntungan besar dari para turis asing yang berhasil mereka bodohi, serta para muncikari menjajakan para pelacur yang juga lihai dalam mencuri harta pelanggannya maupun mencuri informasi untuk kemudian dijual pada para bangsawan yang sedang mencari informasi tertentu. Singkatnya, distrik merah Jungdo adalah dompet ilegal bagi kekaisaran yang meski terlihat dikecam keberadaannya, merupakan salah satu harta rahasia kekaisaran. Dan jika ada desas-desus mengenai kemunculan serigala di tempat itu, maka informasi itu pun akan sampai ke telinga Kaisar.


Haru yang sudah Anna ketahui sangat cerdas dan tidak mudah dibohongi akan tahu bahwa para Serigala itu muncul pada waktu tertentu dan hanya menakut-nakuti, tidak membahayakan siapa pun. Lagi pula tidak ada serigala yang ukurannya sebesar para Serigala Utara di Orient. Maka Haru pun tahu bahwa Sang Tsarina sedang mencoba untuk memancingnya keluar dari Istana. Jadi begitu lah Haru keluar dari Istana dengan menyamar menjadi rakyat biasa—dan dikawal oleh puluhan pengawal Istana di tempat yang tak bisa dilihat—untuk mencari penyebab Sang Tsarina memancingnya pergi ke distrik merah Jungdo.


Yang tidak Haru perhitungkan adalah bahwa Sang Tsarina akan muncul di hadapannya dalam wujud Pelacak Naga kepercayaan ibunya. Dan bahwa Sang Tsarina kini sudah menguasai tiga dari empat kekuatan Naga. Hal itu cukup mengejutkan bagi Haru, mengetahui bahwa wanita yang seusia dengan Maharani Yeon-Hwa itu telah berani menemuinya dengan persiapan yang dapat dikatakan cukup matang.


"Bagaimana rasanya kembali ke tempat ini setelah sekian lama, Tsarina?" Haru akhirnya membuka percakapan di antara mereka. Anna sudah menduga bahwa Haru memang sudah tahu tentang Dong-gung dan bahwa tempat itu dulu menjadi tempat tinggal Anna dan Xavier. Bahwa tempat itu sangat berarti baginya. Tapi dia tidak menduga bahwa Sang Kaisar akan begitu liciknya mengajaknya ke tempat itu untuk bicara dan membuka kembali lukanya sebagai awal dari pembicaraan mereka.


"Menyenangkan." Jawab Anna dengan singkat. Dia tak mau membiarkan Haru merasa berhasil telah membuka luka yang sedang ditutupinya. Luka karena kembali datang ke tempat yang penuh kenangan namun sudah tampak sangat berbeda itu.


Haru tersenyum mendengar jawaban itu, "Itukah sebabnya kau menangis tadi?" Tanyanya. "Awalnya aku ingin menghampirimu dan memberikan sapu tanganku, tapi kemudian aku melihat tiga pria utara itu. Dan ternyata kau lebih bisa mengatasi mereka sendiri. Jadi aku tak membantumu. Kuharap tindakanku tadi yang mengabaikan wanita yang sedang bersedih dan tidak membantunya bisa dibenarkan."


"Itukah sebabnya Anda membawaku ke sini? Untuk meminta maaf karena telah mengabaikanku tadi, Kaisar?"


"Tidak. Tapi bukankah Anda yang ingin bertemu denganku, Tsarina?" Haru diam sejenak untuk melihat ekspresi Anna. Tapi Anna tidak terlihat terkejut, karena memang begitu lah adanya. Dia yang memancing Haru untuk datang ke distrik merah. "Jadi, apa yang membuatmu sampai menyamar menjadi salah satu Torakka, Tsarina Anastasia?" Tanyanya lagi.


"Aku cukup yakin bahwa aku tidak akan bisa leluasa menemui Baginda Kaisar jika aku datang sebagai Tsarina Imperial Schiereiland." Anna berterus terang padanya. Karena jika Anna datang sebagai Tsarina Anastasia, lengkap dengan para pengawalnya dan segala keformalan yang harus mereka lewati layaknya pertemuan dua pemimpin imperial besar yang sedang bersitegang, pertemuan mereka niscaya tidak akan berjalan dengan lancar. Ibu Suri Reina mungkin akan menghalangi pertemuannya dengan Haru atau justru mencelakainya selama perjalanan. Atau mungkin ada pihak lain yang akan menghalangi tujuannya itu. Terlalu banyak risiko. Itulah sebabnya, Anna menemui Haru sebagai Eri dan jauh dari Istana.


Haru pun mengangguk membenarkan. Tapi dia hanya diam untuk mendengarkan penjelasan Anna lebih lanjut. Tentu dia tahu ada alasan kenapa Tsarina Anastasia yang kini menguasai Imperial yang dibangun atas persatuan tiga kerajaan itu ingin bertemu dengannya.


"Aku ingin bernegosiasi denganmu atas pengeboman Montreux dan Schere yang dilakukan oleh Orient—“


Haru mengangkat tangannya, dan segera memotong perkataannya. "Aku tidak bersalah atas kejadian tersebut. Harus berapa kali kujelaskan? Bukankah para delegasi yang kukirimkan juga sudah menjelaskannya pada mendiang Raja?"


"Anda mungkin tidak merasa bersalah, tapi Ibu Suri Reina lah yang menjatuhkan bom di dua kota tersebut."


"Tidak ada bukti." Jawabnya langsung.


"Ada."


Anna kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang sejak tadi dibawanya. Sebuah bola kristal berwarna biru terang yang tampak bercahaya bahkan di siang hari. Bola mata Aletheia. Aletha.


Haru tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat benda tersebut. Dia begitu terpana saat menatap Aletha hingga kehilangan kata-katanya.


"Sebagai Kaisar yang berpengetahuan luas dan sangat cerdas, Anda tentu mengenal ini." Kata Anna sambil menaruh Aletha di atas meja di antara mereka berdua.


"Bola Mata Dewi Aletheia? Kupikir sudah hancur—“


"Dewi Aletheia memiliki dua bola mata yang dia berikan pada umat manusia. Salah satunya memang sudah hancur. Tapi yang ini jelas masih utuh." Jelas Anna. "Anda boleh tidak mempercayai saya, tapi Aletha hanya mengetahui kebenaran. Lihat lah kebenarannya, Kaisar."


Haru pun melihat Aletha. Dan Aletha memperlihatkan segalanya pada Sang Kaisar.


***