The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 16 : House of Sorrow



Leon buru-buru menggunakan sihir teleportasi ke balkon dan menggenggam erat tangan Anna untuk kemudian membawanya berteleportasi menjauh dari pagar balkon sebelum ada orang lain yang melihat bahwa Sang Tsarina baru saja akan melompat bunuh diri dari lantai lima.


"Apa yang kau lakukan!" Leon berteriak padanya. "Apa kau pikir dia akan kembali hidup jika kau melompat? Apa kau sama sekali tak memikirkan anak kalian yang mungkin ingin hidup tapi kau memutuskan untuk mati bersamanya? Sadar lah, Yang Mulia!"


"Lepaskan aku!" Anna balas berteriak padanya. Dia berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Leon, tapi dia tidak cukup kuat. "Pergi lah, Leon. Jangan berada di sekitarku. Semua yang ada di sekitarku terluka dan mati. Jadi biarkan aku mati sebelum kau juga mati."


"Coba saja kalau kau bisa."


"Lepaskan aku! Ini perintah!"


"Perintah?" Leon tertawa sinis. "Aku tidak bisa patuh pada perintah dari seorang pemimpin yang lebih memilih mati daripada berjuang untuk bangkit bersama rakyatnya. Jika kau bunuh diri, kau sama saja menelantarkan jutaan nyawa rakyatmu. Rakyat dan Imperial, yang Xavier titipkan padamu, yang seharusnya dapat kau jaga dan pimpin dengan baik. Apa kau akan benar-benar menelantarkan mereka semua, Baginda? Bagaimana dengan anak kalian? Anak yang sangat ingin Xavier lihat, yang sangat dia sayangi, yang merupakan satu-satunya peninggalan darinya, bukti dia pernah hidup bersamamu, bukti cintanya kalian. Apa kau akan membunuhnya juga dengan melompat dari balkon? Jika memang begitu, silahkan saja! Sekalian saja kau memerintahku untuk membunuhmu! Kau tahu sendiri kemampuanku dalam membunuh orang."


Anna berhenti melawan. Energinya sudah terkuras habis dan tubuhnya kini sangat lemah. Leon melonggarkan cengkeramannya saat yakin Anna tidak akan kembali naik ke atas pagar balkon dan melompat.


"Maafkan aku..." Kata Anna kemudian saat dia sudah menyadari bahwa tindakannya tadi salah. Dia memeluk perutnya dengan kedua tangannya. "Maafkan ibumu ini, putriku. Maafkan aku. Aku..." Kata-katanya terpotong oleh isak tangisnya. "Aku tak tahu apa yang kupikirkan tadi. Aku tak bisa memikirkan apa pun. Maafkan aku."


Leon menghapus air matanya. "Aku mengerti. Kau sangat sedih sampai tak bisa berpikir dengan jernih. Aku juga salah karena membiarkanmu sendirian. Aku minta maaf. Aku seharusnya tahu kau membutuhkan teman di saat seperti ini."


Anna mengangguk. Tapi air matanya belum bisa berhenti mengalir saat dia menatap kosong ke depan, ke tumpukan perabot dan kursi yang sebelumnya dia susun untuk naik ke atas pagar balkon. Dia menyesali keputusannya tadi.


"Dia tidak tahu kalau aku mencintainya, kan? Dia pasti tidak tahu. Kalau dia tahu, dia takkan mengorbankan dirinya sendiri dan mati." Kata Anna, lebih kepada dirinya sendiri.


"Dia tahu. Itulah sebabnya dia mengorbankan dirinya sendiri. Agar kau tetap hidup. Dia tidak mau kau mati. Jadi jangan sia-siakan pengorbanannya untukmu dengan bunuh diri. Hidup lah. Bertahan lah. Agar kematiannya tidak menjadi sesuatu yang sia-sia. Tetaplah hidup untuk anak kalian dan untuk rakyat kalian. Dan yang terpenting untuknya, dan untuk dirimu sendiri."


...****************...


Esok harinya Leon memerintahkan untuk mengunci semua jendela balkon dan memasang terali besi di setiap jendela agar Anna tidak bisa melompat dari balkon lagi tanpa sepengetahuan siapa pun. Leon juga menggandakan pengawalan terhadap Anna, memastikan Anna selalu dikawal setiap waktu dan menempatkan sedikitnya tiga orang dayang untuk berada di kamarnya saat malam.


Anna masih belum bisa beranjak dari tempat tidurnya. Dia tidak tidur, tapi juga tak punya tenaga untuk melakukan apa pun selain berbaring dan menangis. Saat sudah benar-benar lelah, barulah dia bisa tertidur. Namun tak lama kemudian dia terbangun dan menjerit karena mimpi buruk. Dayang-dayang yang ditempatkan di kamarnya mulai khawatir pada kondisi kesehatan jiwanya. Keadaannya itu semakin parah sehingga hampir setiap malam Anna terbangun dan menjerit. Dia mengatakan bahwa setiap kali dia menutup matanya, dia dapat melihat sekali lagi kejadian saat Xavier terbunuh di hadapannya. Leon akhirnya memerintahkan para serigala untuk mencari Bloody Berry yang berfungsi sebagai obat herba penenang, setelah itu barulah Anna dapat tidur dengan tenang.


Saat waktunya pemeriksaan kandungan, dokter memberitahu bahwa kondisi kesehatan fisik dan mental Anna yang tidak sehat dapat membahayakan janin yang ada di kandungannya. Tubuhnya menjadi sangat lemah karena kekurangan nutrisi dan kurang istirahat. Keadaan itu membuat semua orang mengkhawatirkan sang pemimpin Imperial dan pewarisnya.


Suatu hari, saat Anna sudah cukup lama tak keluar dari kamarnya, Irene mendatanginya dan memintanya untuk menemaninya. Sesedih apa pun Anna, dia tak dapat menolak permintaan yang diajukan oleh ibu mertuanya itu. Jadi pagi itu Anna berpakaian dengan rapih dan menemani Irene menaiki kereta kuda ke suatu tempat.


Saat mereka turun dari kereta kuda, Anna terkejut melihat bangunan itu masih ramai dan ditempati oleh penghuni sebelumnya. Itu adalah Istana Selir, Istana yang pada masa kepemimpinan Raja Vlad ditempati oleh selir-selirnya, para ibu tiri Xavier. Anna lebih tak menduga lagi karena yang mengajaknya pergi ke tempat itu adalah Irene sendiri.


Anna menoleh ke arah Irene yang hanya tersenyum melihat raut wajah bingungnya.


"Kudengar di Istana ini ada para janda yang ditinggal mati suaminya." kata Irene. "Aku salah satu dari mereka, sebenarnya. Tapi jabatanku sedikit lebih tinggi. Aku istri resmi, sedangkan mereka hanya selir."


"Kenapa?" Tanya Anna.


Irene mengangkat bahu. "Kami semua sama-sama ditinggal mati suami kami. Meski cintaku pada suamiku tak sebesar cintamu pada Xavier karena itu adalah pernikahan politik yang tak didasari cinta, percaya lah, aku juga berduka atas kematian suamiku. Diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun, aku masih sering menangisinya saat malam, saat aku menyadari bahwa aku merindukannya. Begitu pun dengan semua wanita yang ada di Istana ini. Aku tidak melarangmu berduka, hanya saja jangan berduka sendirian. Kau butuh teman berduka."


"Selamat datang, Baginda." Sapa seorang wanita yang usianya mungkin sekitar empat puluh tahun atau lebih. Dia mengenakan gaun yang sederhana untuk ukuran seorang selir Raja. Namun parasnya yang cantik dan pembawaannya yang anggun meyakinkan Anna bahwa dia berasal dari kalangan bangsawan. "Silahkan masuk." Katanya sambil tersenyum ramah pada Anna dan Irene.


"Apa yang lain sudah datang, Eliza?" Tanya Irene.


"Semua sudah datang, Yang Mulia. Total ada dua belas orang selir mendiang Raja Vlad yang hadir. Hanya satu orang yang tak hadir." Kata Eliza.


Irene tersenyum sinis, membuatnya jadi terlihat sangat mirip dengan Leon, "Selena?"


"Tentu saja. Putranya mengurungnya dengan benda sihir."


Irene berdecak, "Sayang sekali. Padahal aku punya urusan yang belum selesai dengannya karena dia pernah hampir membunuh anakku beberapa kali dan bahkan membunuh suamiku. Padahal aku sudah mengasah pedangku untuk berjaga-jaga jika aku akhirnya bisa bertemu dengannya." Irene mengangkat bahu dengan ringan, "Nanti saja kalau begitu."


Anna mengikuti Selir Eliza dan Irene menuju taman Tulip Kristal yang ada di belakang Istana Selir. Taman itu sudah ditata dengan sangat indah untuk acara minum teh pagi. Terdapat meja berbentuk lingkaran besar dan para selir raja duduk melingkari meja tersebut. Mereka semua tampak sibuk saling berbincang-bincang dengan sesama selir, namun saat melihat Selir Eliza datang bersama Irene dan Anna, serentak mereka semua diam dan berdiri dengan kaku.


"Salam hormat kami kepada Tsarina Anastasia dan Ibu Suri, Lady Irene Winterthur, semoga panjang umur dan sehat selalu." Sapa mereka semua, serentak.


Anna mengangguk, menyambut baik salam mereka meski masih bingung kenapa ibu mertuanya mengajaknya ke tempat yang dipenuhi oleh orang-orang yang pasti dia benci.


Sementara itu Irene memutar bola mata. "Dasar orang-orang ini. Padahal sudah kubilang untuk menyebutku dengan sebutan Jenderal, masih saja menganggapku sebagai ibu suri." bisiknya pada Anna.


Tapi pupil mata Irene melebar saat melihat salah satu wanita yang dia kenal di antara para selir itu. "Juliana!" Irene memekik girang saat melihat salah satu selir yang memiliki rambut cokelat dan alis tebal.


Juliana, selir tersebut, tersenyum ramah pada Irene. Saat tersenyum, lesung pipinya terlihat jelas. Anna langsung mengenalinya sebagai Ibu dari Pangeran Jeffrey, putra ketiga Raja Vlad yang menikah dengan Ratu Eugene.


"Kau tidak marah padanya?" Tanya Anna.


"Aku? Kenapa?"


"Dia merayu suamimu dan tidur dengannya. Bahkan sampai memiliki anak."


Irene tertawa getir. "Oh, aku sangat marah dan kesal. Tentu saja. Kau tak tahu? Aku ini tipe yang mudah cemburu. Aku yakin sekali sifatku itu menurun pada Xavier." Dia berhenti sesaat karena tanpa sadar menyebut-nyebut tentang Xavier di hadapan Anna. Tapi melihat tak ada perubahan ekspresi di wajah Anna, dia kembali melanjutkan kata-katanya, "Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat orang yang kunikahi, ayah dari anakku, tidur dengan wanita lain—dan bukan hanya satu wanita! Berapa kali aku menangis dan berteriak memakinya sewaktu masih terkurung di ruang sihir Selena. Tapi sekarang itu hanya masa lalu. Suamiku dalam keadaan mabuk dan benar-benar tak sadar apa yang dia lakukan. Kadang juga dia melakukannya karena salah satu selir yang cukup licik memasukkan obat perangsang ke minumannya. Lebih seringnya dia berhalusinasi sedang tidur denganku, padahal bukan—itu efek obat-obatan yang dia konsumsi semenjak kematianku. Juliana merayunya untuk tidur dengannya karena Juliana sangat membenci Selena dan ingin membuat Selena kesal. Selir lainnya melakukannya karena menginginkan posisi sebagai Ratu atau sekedar selir favorit Raja sehingga hidupnya terjamin dan bergelimang harta. Beberapa lainnya tidak pernah tidur dengannya, dan hanya berpura-pura mengandung anaknya padahal itu anak orang lain. Aku yang paling tahu, tidak ada cinta di antara suamiku dengan mereka semua. Aku tetap lebih unggul dari mereka semua karena paling tidak aku tahu suamiku sangat mencintaiku sampai kehilangan akal sehatnya setelah kematianku." Irene tersenyum getir saat membicarakan itu semua. Tapi sorot matanya penuh kesedihan. "Apakah aku jahat karena merasa puas dengan melihat suamiku itu menderita sepanjang sisa hidupnya? Tapi aku justru merasa sedih setelah dia mati. Dia tak sempat melihatku kembali hidup."


Irene kemudian mengajak Anna untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuknya di antara para Selir. Para Selir satu-persatu memberinya salam dan memperkenalkan diri. Anna tak yakin dapat menghafal nama mereka semua, tapi tentu saja dia tak perlu repot-repot melakukan itu.


Anna duduk di samping kiri Irene, yang baru duduk setelah puas melepas rindu dengan Juliana. Setelah mereka semua duduk, barulah acara minum tehnya dimulai.


Anna tidak dapat menikmati baik teh maupun makanan manis yang disediakan, karena entah bagaimana semuanya terasa hambar baginya. Semenjak kematian Xavier, dia tidak dapat lagi merasakan makanan maupun menghirup aroma bunga. Langit selalu terlihat mendung baginya. Dan meski siang hari, semua terasa gelap seperti hidup di dunia tanpa warna. Anna tahu itu akibat keadaan psikologisnya. Saat Xavier pergi, dia turut membawa pergi seluruh warna, aroma dan rasa dalam kehidupannya sehingga dia hanya merasakan hampa dan gelap tanpa akhir.


Anna bahkan hampir tak sadar bahwa sejak tadi para selir sedang berbincang-bincang dan mencoba mengikutkannya dalam perbincangan mereka. Sampai akhirnya seorang Selir yang duduk di samping kirinya memegang tangannya.


"Maaf, Baginda. Saya tidak bermaksud lancang, tapi sepertinya pikiran Anda sejak tadi tidak ada di sini." Kata Selir tersebut. Anna menatapnya dengan bingung, jadi Selir itu menambahkan, "Saya Linea, selir ketiga belas. Saya yang termuda diantara para selir. Delapan tahun yang lalu, saat saya seusia dengan Anda saat ini, saya dijadikan selir oleh Raja Vlad untuk memperbaiki hubungan diplomatik antara negara kami dengan Nordhalbinsel. Negara asal saya, Federasi Dowa, terletak jauh sekali dari sini, di seberang samudra Tygriss. Raja Vlad tidak mau menyentuh saya sebelum saya sendiri mengizinkannya. Awalnya saya membencinya, tapi lama-lama saya jadi mengaguminya karena beliau selalu berusaha terlihat kuat saat di hadapan semua orang meski sebenarnya beliau begitu rapuh dan hancur karena kematian istri pertamanya. Beliau juga selalu bersikap sopan pada semua selir dan memperlakukan kami dengan baik jika pikirannya sedang jernih. Saat Raja Vlad meninggal, saya sedang mengandung anaknya. Saat itu, saya baru mulai mencintainya."


"Aku turut berduka—“


"Tidak perlu seperti itu, Baginda. Saya tahu kalau Raja Vlad membunuh ayah Anda. Tidak perlu turut berduka atas kematiannya." Kata Linea sambil tersenyum ramah. "Saya mengerti jika Anda membencinya. Tapi kalau boleh jujur, saya tidak dapat membencinya meski saya tahu di mata Anda, mendiang Raja Vlad adalah orang yang sangat Anda benci."


Anna juga tidak benar-benar bisa membenci Raja Vlad karena biar bagaimana pun, beliau adalah ayah Xavier. Ayah mertuanya. Dan setelah mendengar penjelasan Irene sebelumnya, Anna mengerti bahwa Raja Vlad jadi kehilangan akal setelah istrinya yang sangat dia cintai mati—meski sebenarnya tidak mati. Anna kini mengerti duka itu. Duka itu membuat seorang pria yang kuat dan berkuasa seperti Raja Vlad menjadi hancur dan akhirnya menjadikannya pembunuh kejam yang menghancurkan kehidupannya. Duka itu, duka yang sama, kini sedang menggerogotinya sehingga Anna yakin sekali dirinya bisa sama hancurnya dengan sang ayah mertua jika saja tak ada orang-orang yang peduli padanya di sekitarnya.


"Di mana bayimu?" Tanya Anna pada Linea.


Saat mendengar pertanyaan itu, Linea sempat terkejut. Anna dapat melihat air mata tertahan di pelupuk mata Linea saat dia menjawabnya, "Saya keguguran. Saya merasa sangat sedih atas kematian Raja Vlad hingga saya tak bisa menjaga kesehatan saya sendiri dan kandungan saya. Saya gagal menjadi seorang Ibu."


Anna menutup mulutnya, "Astaga... Maaf... Aku benar-benar turut berduka cita atas kehilanganmu. Sungguh..."


Mau tak mau Anna langsung membayangkan jika dirinya juga mengalami apa yang dialami Linea. Anna merasa takkan punya lagi alasan untuk tetap hidup jika bayi yang sedang dikandungnya itu turut meninggalkannya.


Linea kembali menggenggam tangannya, "Jika Baginda benar-benar turut berduka atas kehilangan saya, saya ingin meminta satu hal pada Anda. Apa pun yang terjadi, bagaimana pun Anda berduka, tolong jaga kandunganmu. Jaga anak itu, dan lahirkan dia dengan selamat. Jangan menyesal seperti saya."


Anna hanya bisa mengangguk, tak mampu berkata-kata.


Irene memegang tangan Anna dan mengelusnya perlahan, memberinya ketenangan dan kenyamanan, "Saat Linea keguguran, Xavier yang saat itu sudah menjadi Raja, membiarkannya tetap tinggal di Istana dan memberinya perawatan hingga benar-benar sembuh. Xavier bahkan mendatangkan keluarga Linea dari Dowa dan mengizinkannya untuk turut tinggal di Istana untuk menemaninya."


"Mendiang Raja Xavier sangat baik pada kami, padahal beberapa di antara kami pernah melukainya sewaktu beliau masih kecil." Kata seorang Selir yang Anna lupa namanya.


"Setelah kematian ayahnya, mendiang Raja Xavier memberi kami pilihan untuk tetap tinggal di Istana Selir atau tinggal di tempat yang kami inginkan. Jika kami memilih meninggalkan Istana Selir, beliau akan memberi kami rumah di tempat yang kami inginkan."


"Jadi siapa yang tinggal di sini sekarang?" Tanya Anna.


"Tidak ada." Jawab Eliza. "Kami semua memilih untuk meninggalkan Istana Selir karena awalnya kami berpikir Raja Xavier mungkin akan memiliki selir juga."


"Nyatanya tidak. Beliau bersikeras tidak ingin memiliki selir. Padahal pamanku, Duke Richterswill, sudah lama mempersiapkan putri bungsunya untuk menjadi selir Raja." Kata seorang Selir yang kalau Anna tak salah ingat, namanya Catherine.


Selir lainnya turut angkat bicara, "Apa Baginda tahu? Mendiang Raja Xavier memberi kami pesangon. Setiap bulannya, kami para selir mendapat uang bulanan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari sehingga kami tak perlu khawatir jatuh miskin. Beliau luar biasa baik pada kami padahal kami adalah ibu tirinya yang pernah berbuat jahat padanya."


"Putra-putra kami, saudara-saudara tiri beliau, juga diberi pekerjaan yang layak, baik di Istana maupun di luar Istana. Beliau bahkan memberi mereka semua gelar bangsawan, meski tahu beberapa diantara mereka bahkan bukan putra kandung ayahnya." Selir lainnya menimpali.


"Kami semua berhutang budi pada beliau." Kata Juliana. "Jadi saat kami tahu beliau meninggal dunia, saat tahu bahwa Anda akan berduka seperti kami juga pernah berduka, kami saling mengirim surat dan sepakat untuk meminta izin pada Yang Mulia Lady Irene untuk mengizinkan kami menemani Anda."


"Awalnya kami sangat takut pada Lady Irene. Kami pernah tidur dengan suaminya dan pernah menyakiti putranya. Kami khawatir bahwa permintaan kami akan ditolak karena Lady Irene pasti membenci kami." Kata selir lainnya.


"Aku memang membenci kalian semua yang pernah menyakiti putraku. Tapi jika kalian bersedia menemani menantuku dan menghiburnya, kurasa aku bisa memaafkan kalian. Itulah sebabnya aku menyetujui permintaan itu." Kata Irene.


Linea kembali menggenggam tangan Anna, sambil tersenyum dia berkata, "Tetaplah tegar. Jangan pernah berpikir Anda sendirian di dunia ini. Memang saat ini rasanya pasti sangat sepi dan gelap, seperti tak ada siapa pun di sekitar Anda. Saya pernah merasakannya juga. Tapi percaya lah, kami semua ada di sini untuk Anda, Baginda. Kami akan menemani Anda dan berduka bersama Anda. Karena saat Anda kehilangan suami yang sangat Anda cintai, kami semua kehilangan seorang putra yang baik hati, yang sangat kami sayangi dan hormati."


Anna tak dapat menahan air matanya saat melihat semua selir tampak memberikan dukungan untuknya, "Terima kasih..." Katanya di sela tangisannya. Irene segera memeluknya. "Terima kasih banyak..."


...****************...