
Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:
Sesuatu yang sangat aneh terjadi hari ini.
Aku sedang bekerja di Dong-gung seperti biasa sambil mencoba mencuri dengar semua percakapan para pelanggan untuk mencari berita terbaru terkait kekaisaran. Sementara Anna yang merasa lelah sudah lebih dahulu pergi ke kamar dan tidur. Tiba-tiba saja salah satu pelanggan memanggilku dan mengajakku bicara dengan bahasa Schiereiland. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia menggunakan jubah dan menutupi kepalanya dengan tudung—serta dia terus saja menunduk dan tidak menatapku. Kupikir dia pasti mabuk karena dia mengatakan bahwa dia mengenalku dan mengatakan bahwa dia adalah ayah mertuaku. Dia pasti benar-benar mabuk, karena pertama, aku tidak mengenalnya. Kedua, aku tidak menikahi siapa pun selain Anna, dan ayahnya sudah meninggal karena dibunuh ayahku. Lagi pula aku sedang menyamar menjadi Riz. Istri Riz adalah Diana Vinogradoff yang mana ayahnya juga sudah meninggal.
Awalnya aku sudah mau meninggalkannya begitu saja, tapi dia menahanku dan menunjukkan sesuatu yang membuatku membeku untuk beberapa saat. Sesuatu yang dia simpan dalam sebuah kotak. Aku tidak mungkin salah mengenalinya. Benda itu—jika memang aku salah mengenalinya—sangat mirip dengan jam pasir Grimoire. Jam pasir yang kata Elle sudah lama menghilang. Saat aku baru akan menyentuhnya, dia segera menutup kembali kotak tersebut, lalu berbisik padaku:
"Belum saatnya. Aku akan segera memberikan ini padamu sebagai hadiah pernikahan kalian, menantuku. Untuk saat ini, berusaha lah untuk tetap hidup demi putriku. Dan demi putri kalian yang sedang dia kandung. Lindungi keduanya jika memang benar kau mencintai putriku, kalau perlu pertaruhkan nyawamu untuk mereka. Sebagai gantinya, saat kau berada dalam bahaya, aku akan melindungimu dengan mempertaruhkan nyawaku juga."
Baiklah. Dia pasti hanya orang asing yang sedang mabuk. Karena Anna tidak sedang hamil. Dia pasti akan memberitahu kabar gembira itu padaku jika memang benar.
Tapi ada hal yang masih mengganggu pikiranku hingga sekarang. Pria itu, setelah kuperhatikan dari dekat, memiliki mata Naga. Seperti milik para Pelacak Naga Orient. Seperti milik Alexis. Dan entah bagaimana, tepat setelah dia pergi dari Dong-gung, barulah aku menyadari bahwa wajahnya memang tampak familier. Dan saat aku berlari keluar untuk mengejarnya, dia sudah menghilang.
Aku mungkin sedang mabuk juga. Atau mungkin ini hanya efek kelelahan. Masalahnya...
Pria itu sangat mirip dengan mendiang Raja Edward.
***
Sore itu, sesuai dengan janjinya dengan Reina, Anna—dalam wujud Eri—menemuinya dengan membawa jepit rambut Naga Angin yang sudah bersih dari noda darahnya. Tapi kali ini Anna tidak datang sendiri. Leon, yang juga sudah mengenakan pakaian tradisional Orient, turut menyertainya dalam rupa Ren. Anna pun memperkenalkannya pada Reina.
"Jadi ini tunanganmu itu?" Tanya Reina sebelum mereka berangkat menuju tempat pembuatan Naga Baja. Dia mengamati wajah Ren, kemudian tersenyum.
"Benar, Baginda."
"Siapa namamu?" Kini Reina bertanya pada Leon. Suaranya tetap tenang dan anggun seperti biasa, namun dia memandangi Ren seperti memandangi permata baru yang berkilauan.
Leon menjawabnya dengan suara Ren, "Nama saya Sato Ren, Baginda."
Anna menyembunyikan senyuman lega saat Leon berhasil memperkenalkan dirinya dengan logat suku Ilbon yang sempurna.
"Ren..." Ucap Reina perlahan, seperti sedang memanggil seorang kekasih, "Apa kau mau bekerja di Istana?"
Dan dengan tawaran itu lah Leon—sebagai Ren—diperkerjakan sebagai penyihir Istana yang khusus melayani Ibu Suri. Dengan begitu, sejauh ini semua berjalan sesuai rencana Anna. Dan setelahnya mereka pun berangkat menuju tempat pembuatan Naga Baja.
Leon tahu selama perjalanan Reina tak berhenti memandanginya. Dan meski dia harus bersikap sebagai tunangan Eri dengan terus menggenggam tangan Anna sepanjang perjalanan, Leon dengan sengaja berulang kali turut melirik ke arah Reina sambil menebar senyum menggoda untuknya.
"Jangan terlalu menghayati peranmu." Bisik Anna dalam bahasa Schiereiland. "Kau diam saja juga sudah cukup menggoda baginya."
Leon menahan tawa, dia pun turut berbisik, "Tolong jangan cemburu begitu, tunanganku."
Anna mendengus. Tapi dalam hati dia bersyukur bahwa dia masih bisa bercanda seperti itu dengan Leon. Sehingga dia tak terlalu merasa tegang selama perjalanan itu.
Proyek Naga Baja Reina dilaksanakan di tempat yang tidak jauh dari Istana Matahari. Tepatnya di dalam bukit-bukit Shina. Reina mengeruk isi bukit itu dan menjadikannya sebagai tempat loka karya di mana para mekanik dan teknisi yang dia perkerjakan tinggal, makan dan bekerja di sana. Untuk masuk ke dalam, mereka menaiki sebuah kendaraan seperti kereta bawah tanah yang belum pernah ada di kerajaan mana pun. Anna dalam hati mengakui kemajuan teknologi Orient yang sangat luar biasa dan di luar imajinasinya. Selama perjalanan dalam kereta bawah tanah itu, Anna harus menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa ingin tahunya dengan mengamati ruang kontrol mesin maupun cara kerja kereta tersebut. Dia membayangkan akan segirang apa jadinya jika Ludwig dibawa ke dalam kereta itu. Seandainya dia berhasil bernegosiasi dengan Haru dan menandatangani perjanjian perdamaian dengan Orient, hal pertama yang akan dia lakukan adalah membiarkan teknologi Orient memasuki Imperial atau mempelajari cara-cara Orient dalam membangun kendaraan-kendaraan berteknologi tinggi.
Baru beberapa menit berlalu saat Anna melawan hasrat ingin tahunya di dalam kereta itu karena Eri seharusnya sudah terbiasa melihat semua teknologi canggih ini, tiba-tiba saja kereta berhenti.
"Kita sudah sampai, Baginda." Salah satu pengawal menginfokan.
Anna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat tempat itu. Yang dia bayangkan saat mendengar bahwa Reina membangun loka karya di dalam bukit-bukit Shina, adalah sebuah gua besar dengan langit-langit dari bebatuan dan tanah sebagai lantainya. Tempat yang kotor dan sempit di mana dia akan kekurangan oksigen. Namun nyatanya, dia tidak melihat tanah maupun bebatuan. Tempat itu terlihat seperti sebuah ruangan besar, seperti aula Istana yang luas, namun semuanya terbuat dari logam seperti baja. Dan Anna masih mencari tahu bagaimana mereka masih tetap bisa bernapas dengan bebas meski secara teknis mereka sedang berada di dalam tabung logam raksasa yang ada di dalam bukit. Bahkan udara di sana tidak menyesakkan dan terkesan sejuk seperti layaknya udara di perbukitan.
Pupil matanya semakin melebar ketika mereka sampai di tempat pembuatan Naga Baja. Anna belum pernah melihat deretan kendaraan perang sebanyak itu sebelumnya. Orient benar-benar siap untuk berperang. Jika Reina berhasil mengendalikan semuanya, maka seluruh dunia sudah pasti ada di genggamannya. Anna sendiri tidak sepenuhnya yakin bahwa kekuatan Naga Angin dapat menerbangkan semua Naga Baja itu.
Anna segera menoleh ke arah Leon di sampingnya yang kini sedang menggenggam erat tangannya. Bukan karena terbawa perannya sebagai tunangan Eri, melainkan Leon sedang berusaha meyakinkan Anna untuk tidak kehilangan rasa percaya dirinya saat melihat musuh mereka begitu siap untuk menghancurkan Imperial. Leon tak perlu mengatakan semuanya. Caranya menatap semua Naga Baja di hadapan mereka, sudah cukup membuat Anna tahu apa yang ada di pikiran Leon.
Mereka harus berhasil. Negosiasi Anna dengan Haru tidak boleh gagal. Karena jika mereka gagal, apa pun yang sedang mereka siapkan hingga saat ini, belum tentu bisa menahan Reina beserta pasukan Naga Baja miliknya.
"Selamat datang, Baginda. Phoenix siap untuk diuji coba hari ini." Yi-Zhuo membungkuk, menyambut kehadiran rombongan Ibu Suri. Saat dia berdiri tegak kembali, matanya bertemu dengan mata Eri. Dia menyeringai lebar.
"Phoenix?" Leon bertanya. Karena agak tidak tepat jika Anna yang bertanya. Ada kemungkinan bahwa Eri seharusnya sudah tahu tentang Phoenix, jadi jika Anna—dalam wujud Eri—bersikap tak tahu apa pun soal Phoenix maka itu bisa menimbulkan kecurigaan.
Reina menoleh ke arahnya, senyum menawan mengembang di wajahnya seolah dia sudah lama menantikan saat itu, saat di mana dia bisa memamerkan salah satu mahakaryanya pada pria tampan baru yang dia temui, "Phoenix adalah rencana cadanganku. Sejak awal aku sudah menyiapkan alternatif jika kekuatan Naga Angin tidak dapat digunakan. Jadi aku merancang kendaraan sejenis, yang lebih kecil, namun bisa dikendalikan dan diterbangkan tanpa kekuatan Naga Angin."
"Dengan sihir?" Tanya Leon.
"Bukan. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Oh, kau tidak akan mengerti kalau pun aku menjelaskannya."
Mereka pun akhirnya melakukan uji coba penerbangan pertama Phoenix. Yi-Zhuo lah yang akan mengemudikan Phoenix mengingat dia termasuk salah satu orang yang merancang Phoenix serta karena dia memiliki banyak pengalaman mengemudikan berbagai macam kendaraan perang yang pernah diciptakan ayahnya. Untuk selama beberapa saat, Anna tampak menahan nafas. Jantungnya berdetak cepat. Dia tidak suka mendoakan hal-hal yang buruk bahkan pada musuhnya sekali pun, tapi untuk kali itu dia berharap Phoenix tidak dapat terbang sama sekali atau paling tidak Phoenix berhasil melambung tinggi kemudian mesinnya rusak dan jatuh ke bawah tanpa bisa diperbaiki lagi. Tapi tentu saja bukan hal itu yang terjadi. Phoenix berhasil terbang, keluar melalui pintu udara di langit-langit yang mengarah langsung ke luar bukit, mengitari bukit-bukit Shina lainnya dengan gerakan mulus layaknya seekor burung api yang terbuat dari baja, kemudian masuk kembali ke tempat itu dan mendarat dengan sempurna tanpa kerusakan sedikit pun.
Berikutnya, mereka hendak menguji kekuatan Naga Angin dalam jepit rambut yang sudah Anna serahkan pada Reina. Tentu saja Anna menyerahkan jepit rambut Naga Angin yang tidak terdapat inti jantung Naga Angin di dalamnya. Namun saat itu Anna—dalam wujud Eri—sudah mengenakan jepit rambut Putri Seo-Hwa, jepit rambut pemberian Xavier. Jadi saat Reina berdiri menghadap puluhan Naga Baja di depan mereka, saat Reina mengangkat tangannya, Anna lah yang menggunakan kekuatan Naga Angin.
"Dan sekarang, kita akan mencoba menerbangkan para Naga Baja yang selama bertahun-tahun ini sudah kita ciptakan dengan seluruh darah, keringat dan air mata kita." Reina mengumumkan sambil mengangkat tinggi jepit rambut Naga Angin di hadapan semua pekerjanya. Dia kemudian mengenakan jepit itu di rambutnya. Dengan sihir Leon, jepit rambut itu tampak seperti bersinar terang sehingga semua orang yakin bahwa kekuatan Naga Angin benar-benar ada di dalamnya.
Awalnya Anna berpikir mustahil angin bisa mengangkat puluhan kendaraan baja yang ukurannya sangat besar. Memang tidak sama besar seperti Naga yang sesungguhnya. Tapi tetap saja kendaraan-kendaraan itu cukup besar sehingga bisa menampung beberapa orang di dalamnya. Pasti akan terasa sangat sulit dan berat saat mencoba mengangkat semuanya.
Namun ternyata Anna salah. Saat Anna menggunakan kekuatan Naga Angin untuk mengangkat puluhan Naga Baja itu, Anna bahkan tidak perlu bersusah payah. Semua terangkat sempurna dengan satu lambaian tangannya saja. Semua Naga Baja itu terbang dan dapat dikendalikan dengan sangat mudah olehnya seolah semua itu hanya memiliki bobot setara bulu unggas. Anna dapat menerbangkan semua Naga Baja itu semudah bernafas.
Saat semua orang di ruangan itu bertepuk tangan menyemarakkan keberhasilan Reina yang mengendalikan puluhan Naga Baja ciptaannya dengan menggunakan kekuatan Naga Angin seperti yang mereka yakini, Anna menoleh ke arah Leon yang juga sedang memandanginya dengan campuran antara takjub dan ngeri.
Anna tahu maksudnya. Kekuatan yang Anna pegang saat ini, adalah kekuatan yang dapat menentukan masa depan dunia. Jika kekuatan Naga Angin jatuh ke tangan Reina, maka niscaya semua yang Reina inginkan, Imperial dan seluruh dunia, akan jatuh ke tangannya. Mereka tidak boleh berlama-lama di sana. Sebelum Reina menyadari bahwa jepit rambut yang dia pegang tidak memiliki kekuatan Naga Angin, mereka harus berhasil menjalankan rencana mereka. Anna harus berhasil bertemu dengan Haru dan bernegosiasi dengannya sehingga perjanjian perdamaian dapat segera ditandatangani alih-alih membuat dunia hancur dengan keberadaan puluhan Naga Baja milik Reina.
***
"Leon, aku ingin kau dan semua orang di Imperial meyakini bahwa aku akan gagal bernegosiasi dengan Haru." Kata Anna.
Saat itu mereka sedang berada di kamar Eri dan Leon sudah menggunakan sihir untuk mencegah suara mereka terdengar di luar. Malam sudah begitu larut dan Leon baru akan segera menemui pasukan Serigala di markas mereka—yang awalnya merupakan rumah liburan yang Xavier beli untuk Anna. Tapi Anna memintanya untuk berdiskusi sebentar dengannya karena ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya dan dia butuh teman untuk mendiskusikannya.
Apa yang mereka saksikan sore tadi di tempat pembuatan Naga Baja adalah perkara serius. Tidak hanya Reina ternyata telah menyiapkan alternatif berupa Phoenix, tapi juga kenyataan bahwa Reina memiliki puluhan Naga Baja yang siap diterbangkan untuk menghancurkan Imperial.
Meskipun saat ini Anna lah yang memegang kekuatan Naga Angin, tidak menutup kemungkinan bahwa semakin lama mereka berada di sana, risiko untuk mereka semakin tinggi. Ada kemungkinan bahwa suatu saat nanti Reina akan menyadari bahwa jepit rambut yang dia pegang tidak memiliki kekuatan Naga Angin dan pada akhirnya Reina akan menghalalkan segara cara untuk merebut kekuatan itu dari Anna.
"Apa maksudmu? Kenapa kau pesimis begitu?" Tanya Leon yang sejak tadi hanya berdiri bersandar di salah satu sisi ruangan sambil memperhatikan Anna yang bolak-balik gelisah sepanjang kepulangan mereka dari loka karya Reina.
"Pikirkan yang terburuk, Leon. Dengan begitu kita akan lebih siap jika memang yang terburuk lah yang terjadi. Kita akan lebih siap untuk berperang melawan Orient."
"Yang Mulia, kau tidak suka berperang. Kau benci pertumpahan darah."
Anna tidak menyanggahnya karena Leon memang benar. Anna sebisa mungkin ingin menghindari pertumpahan darah. Menjauhi perang. Itulah yang selama ini dia usahakan. Pemimpin mana pun ingin negerinya aman dan damai tanpa harus berperang dengan pihak mana pun. Tapi rencana tidak selalu berjalan mulus. Kecuali ada cara lain...
"Leon, tentang Aletha..." Anna diam sejenak untuk menyusun apa yang hendak ditanyakannya, "Apakah Aletha bisa menunjukkan masa depan, jika masa depan itu berisi kebenaran?"
Leon mengernyit bingung dengan pertanyaan tersebut.
Jadi Anna mencoba menjelaskannya dengan sebuah analogi, "Maksudku... misalnya kau melihat langit mendung dan petir menyambar. Apa kau bisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Turun hujan?"
Anna mengangguk. "Persis seperti itu. Apakah Aletha bisa menunjukkan kebenaran yang terjadi di masa depan?"
Leon terdiam sesaat, "Kau mau seseorang untuk melihat apa yang belum terjadi, namun pasti terjadi?" dia menebak isi pikiran Anna.
"Benar. Ini semacam hubungan sebab-akibat." Kata Anna. "Contoh lainnya, jika aku hendak memperlihatkan padamu bahwa sebuah apel yang tadinya masih menggantung di atas pohon, akan berada di atas tanah. Hal itu belum terjadi, namun akan terjadi. Dan—“
"Caramu untuk memastikannya adalah dengan membuat beberapa hal yang mendukung kejadian tersebut." Leon memotongnya, mulai memahami isi pikiran Anna.
Anna kembali mengangguk dengan lebih antusias. "Jadi aku tinggal memotong apel tersebut dari tangkainya agar jatuh ke atas tanah. Maka masa depan yang kukatakan itu adalah sebuah kebenaran, bukan kebohongan atau angan-angan belaka."
"Aku mengerti maksudmu, tapi..." Leon berhenti sejenak untuk berpikir, "Itu agak sulit dalam kasus ini, bukan? Ini tidak semudah memotong apel dari pohonnya."
"Memang benar. Tapi—“
Perkataan Anna terpotong oleh suara ketukan pintu di luar kamar Eri. Anna segera mengisyaratkan Leon untuk memakai cincinnya. Anna pun turut memakai cincinnya sehingga mereka kembali mewujud sebagai Eri dan Ren. Karena akan jauh lebih masuk akal dan tidak terlalu menimbulkan kecurigaan jika mendapati Eri dan Ren berada di dalam kamar Eri daripada Tsarina Anastasia dan Grand Duke Winterthur.
Anna membuka pintu kamar Eri dan mendapati beberapa pengawal Reina sedang berdiri di depan kamarnya dengan raut wajah yang tegang.
"Ada apa?" Tanyanya dengan ketus, layaknya seorang Torakka yang tidak suka malamnya diganggu oleh pengawal Istana. Leon dalam wujud Ren berdiri di belakangnya, bersikap protektif. Hal itu tentu cukup wajar bagi siapa pun karena status Ren sebagai tunangan Eri sudah diketahui oleh seluruh penghuni Istana.
Kepala pengawal membungkuk di hadapan mereka, "Ibu Suri menunggu kedatangan Anda di ruangannya."
Anna tampak bingung. Reina jelas tidak mengatakan apa pun tentang pertemuan malam. Lagi pula sudah sangat larut, untuk apa Reina memanggilnya?
"Kenapa—“
"Maaf Torakka, bukan Anda. Maksud saya adalah Tuan Ren." Kata kepala pengawal itu. Kali ini dia menatap melewati Eri, menatap Ren. "Silahkan ikut dengan kami, Tuan."
***