The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 36 : Confession



Anna berhasil meyakinkan Selena dengan isi jurnal Xavier. Dan segera setelahnya, Anna melepaskan gelang penyegel sihir ciptaan Ludwig dari tangan Selena menggunakan kunci sihir yang sudah diberikan oleh Ludwig. Anna pun mengajak Selena untuk berteleportasi ke pulau Clera saat itu juga.


Anna belum pernah mendatangi tempat itu sebelumnya. Tapi karena dia sudah membaca semua isi jurnal Xavier, dia sudah mencari tahu tentang perkembangan pemulihan Clera lewat penyihir-penyihir yang Xavier tugaskan ke sana. Sebelum mendatangi Selena pun Anna sudah mendapat laporan lengkap dari mereka mengenai perkembangan di Clera.


Clera adalah sebuah kerajaan yang terletak di sebuah pulau kecil. Wilayahnya lebih kecil dari Schiereiland. Namun dahulu, kerajaan itu begitu makmur dan dipenuhi orang-orang cendekiawan yang mementingkan ilmu pengetahuan alih-alih perluasan wilayah maupun kekuatan militer. Raja Clera—ayah dari Selena—memerintah dengan bijaksana dan sebisa mungkin menjauhi perang dengan negara mana pun. Namun Raja Dracus—kakeknya Xavier—menyerang dan menghabisi seluruh keluarga kerajaan Clera karena takut pada ilmu pengetahuan yang Clera miliki. Raja Dracus berpikir bahwa kelak Clera bisa mengungguli kerajaannya dengan teknologi dan ilmu pengetahuan mereka. Raja Dracus pun membakar perpustakaan besar Clera untuk menghentikan orang-orang Clera membuat benda-benda berteknologi tinggi yang dapat mengancam masa depan kerajaannya.


Selama bertahun-tahun Clera hanya lah pulau kosong dengan reruntuhan bangunan yang setengah terbakar. Namun mulai sekitar satu tahun yang lalu, semenjak Xavier menjadi Raja, Xavier sudah mulai mencari orang-orang Clera di kerajaannya untuk dipulangkan kembali ke Clera setelah dia berhasil memulihkan kerajaan tersebut.


Dan kini, Clera sudah pulih total. Saat Anna dan Selena berteleportasi ke Clera, mereka tak melihat pulau kosong tak berpenghuni dengan sisa-sisa reruntuhan yang niscaya membuat orang Clera merasa sedih jika melihatnya. Yang mereka lihat saat itu adalah sebuah pulau yang penuh dengan penduduk yang sibuk beraktivitas seperti biasa. Clera masih menjadi bagian dari Imperial Schiereiland, namun mereka memiliki sembilan penyihir yang mengurus pemerintahan mereka. Sembilan penyihir tersebut adalah para penyihir yang mendapat perintah langsung dari Xavier untuk memulihkan Clera, dan mereka mendapat titah dari sang Raja untuk menyerahkan takhta Clera pada Putri Laluna.


Jadi saat Anna datang ke sana, Anna sudah tahu harus menemui siapa. Dia baru hendak mengajak Selena untuk pergi ke Clarence Hall yang merupakan tempat sembilan penyihir itu menanti kedatangan sang pewaris takhta, namun Selena tetap diam sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Anna melihat mata Selena berkaca-kaca memperhatikan semua itu. Anna tahu persis bagaimana rasanya menginjakkan kaki kembali ke negeri asalnya setelah lama berada di Negeri Musim Dingin Abadi. Bedanya, Selena sudah berada jauh dari negerinya sejak dia masih kecil.


Selena kemudian menghentikan langkah seorang wanita yang tampak sedang berjalan melewati mereka. Wanita itu memiliki rambut putih seperti milik Selena meski usianya masih sangat muda—Anna memperkirakan wanita itu hanya beberapa tahun lebih tua darinya. Selena kemudian mengatakan sesuatu pada wanita itu dengan bahasa yang sama sekali tak Anna pahami. Anna menduga bahwa itu adalah bahasa Clera.


Wanita itu menjawab Selena dengan bahasa yang sama. Selena mengangguk-angguk sementara wanita itu berbicara panjang lebar dengannya menggunakan bahasa Clera. Setelahnya, Selena pun mundur dan mempersilahkan wanita itu untuk lewat.


"Pasar Shea berada tak jauh dari sini. Wanita tadi baru kembali dari pasar setelah membeli Gaufre yang sedang diskon setengah harga karena ini hari Gaufre." Kata Selena sambil setengah termenung. Matanya terpaku menatap ke kejauhan, ke arah yang tadi ditunjuk oleh wanita Clera yang lewat itu.


Anna mengikuti arah pandang Selena. Dan dia memang dapat melihat keramaian tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Apa itu Gaufre?" Tanyanya.


"Camilan favorit semua orang Clera baik para bangsawan maupun rakyat jelata. Mirip seperti wafel di Nordhalbinsel, tapi lebih enak menurutku. Dikarenakan camilan tersebut begitu difavoritkan, kami membuat Hari Gaufre, di mana semua Gaufre dijual setengah harga." Selena menjelaskan. Dia kemudian menoleh ke arah Anna, "Biasanya saat hari Gaufre, para koki di Istana akan membuat banyak sekali Gaufre untuk dibagi-bagikan ke semua rakyat jelata di seluruh Clera."


Anna begitu terkejut mendengar Selena membicarakan hal seperti itu padanya. Seperti obrolan ringan antara penduduk asli dengan turis asing. "Uhm... Kau mau kita pergi ke pasar itu dulu sebelum pergi ke Clarence Hall? Kau mau membeli Gaufre?" Anna menawarkan. Meski dalam hati Anna tidak yakin orang-orang di Clera akan menerima uang mereka. Mungkin mereka sudah memiliki mata uang sendiri.


"Aku bisa mencium aroma manisnya dari sini." Kata Selena, masih melihat ke pasar di kejauhan. Anna turut samar-samar menghirup aroma manis yang membuat perutnya bernyanyi. Aroma itu seperti campuran antara karamel, madu, vanila, mentega dan kayu manis. "Ibuku sangat ahli membuat Gaufre. Gaufre terenak mungkin adalah buatannya. Tidak heran, dulu dia adalah putri kepala koki Istana sebelum dinikahi oleh ayahku dan menjadi Ratu Clera." Dan saat itu, Anna bersumpah melihat Selena meneteskan air mata. Tapi sang mantan permaisuri itu buru-buru menghapus air matanya. Dia kemudian menoleh kembali pada Anna, "Kita tidak perlu berlama-lama di sini. Ada yang sedang menunggu kedatanganku, bukan? Ayo ke kediaman Smirnoff."


***


Setelah membawa Selena untuk bicara dengan Ludwig, Anna segera kembali ke Noord, ke Istana Utama bersama Irene. Dia sudah sangat merindukan Vierra, jadi hal pertama yang dia lakukan begitu sampai di Istana adalah menemui putrinya itu dan menghabiskan sisa hari itu dengan putrinya.


Anna cukup yakin bahwa Ludwig dan Selena akan berbaikan dan Selena akan membantu Ludwig untuk membuat Naga Baja. Dan setelahnya, sesuai dengan wasiat Xavier, Anna akan menandatangani surat yang menyatakan kemerdekaan Clera serta menyerahkan Kerajaan tersebut pada Selena. Tapi tentu saja itu akan dia lakukan nanti setelah urusannya dengan Orient selesai.


Malam sudah sangat larut. Usai memastikan Vierra tidur, Anna kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat dia tinggalkan. Tepat setelah Anna mulai merasa jenuh dengan semua tumpukan pekerjaannya, setelah membaca-baca beberapa laporan yang sudah disiapkan Eliza di atas meja kerjanya, terdengar suara Felix dari luar pintu.


"Yang Mulia, Grand Duke Winterthur sudah tiba." Felix mengumumkan.


"Persilahkan masuk." Jawab Anna langsung.


Anna segera beranjak dari duduknya, bersiap menyambut kepulangan Leon. Tapi begitu pintu dibuka, Leon segera masuk dan dengan cepat dia berjalan ke arah Anna. Leon baru berhenti setelah jarak mereka kurang dari satu meter. Dia tidak langsung mengatakan apa pun, tapi matanya sibuk memindai dengan cepat ke seluruh bagian tubuh Anna.


"Bagaimana kabarmu, Leon?" Sapa Anna dengan senyuman hangat.


Tapi Leon tidak menjawabnya. Dia memegang kedua bahu Anna, melihatnya dari dekat, memastikan tidak ada goresan sedikit pun. Anna tahu Leon hendak memeluknya saat itu, seperti yang biasa dia lakukan dulu jika mereka habis berpisah dalam waktu yang lama. Tapi Leon mengurungkan niatnya itu. Dan Anna sepertinya tahu kenapa.


Leon melepaskan tangannya dari bahu Anna, dan menghela napas lega.


"Aku tidak terluka. Sama sekali. Aman." Anna langsung berkata sebelum Leon bertanya. "Tidak ada goresan, memar atau patah tulang. Kau harus berhenti mengkhawatirkanku sepanjang waktu Leon. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Katanya sambil tersenyum. Senang rasanya dapat melihat Leon telah kembali dalam keadaan utuh tanpa terluka dan tidak kekurangan apa pun—selain waktu tidur. Sepertinya saat berada di Orient Leon kesulitan tidur atau sengaja tidak tidur sama sekali karena kantung matanya tampak gelap.


"Apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Leon akhirnya setelah dia selesai memastikan bahwa Anna memang tidak terluka sedikit pun. Dari nada suaranya Anna tahu Leon sangat mengkhawatirkannya.


"Di mana Eri?" Anna balik bertanya sambil merapatkan mantel bulunya karena malam semakin larut dan udara di Noord semakin dingin. Anna kemudian mengusap cincin permata ruby di jarinya untuk menghangatkan diri.


"Ada di kamar tamu. Sedang beristirahat. Dia tak terluka sama sekali." Jawab Leon, singkat. Seolah tujuan utamanya ke Orient selama berhari-hari bukan untuk membawa Torakka tersebut ke hadapan Anna. Laporan mengenai keberhasilannya membawa Eri ke Noord sama sekali bukan prioritas utama saat ini baginya. "Apa yang dia lakukan padamu, Yang Mulia?" Leon mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan nada bicara yang lebih menuntut.


"Leon—“


"Cepat katakan apa yang dilakukan Andromeda Navarro padamu! Katakan saja. Jangan merahasiakannya dariku. Aku akan pergi ke Westeria sekarang juga." Leon menaikkan nada suaranya, kedua tangannya terkepal di samping. Pertanda dia sudah sangat berusaha menahan kesabarannya. Anna terlalu mengenal Leon untuk tahu bahwa Leon menahan amarahnya untuk tidak langsung memenggal kepala Andromeda. Anna tahu para Serigala pasti sudah melaporkan kejadian di Westeria pada Leon. Bahwa Andromeda Navarro mendatangi Anna dan menggunakan kekuatannya untuk menyakitinya.


"Tenang lah. Aku tidak mati. Itu yang terpenting. Berhenti berlebihan—“


"Kau bisa saja mati! Kau tahu apa yang bisa dilakukan Klan Navarro padamu, bukan? Kau sudah pernah membaca tentang kemampuan mengerikan mereka di semua buku di perpustakaan. Bagaimana bisa aku tenang?"


"Dan setelah aku memberitahumu, apa tepatnya yang akan kau lakukan, Grand Duke?" Anna balik bertanya. Mengeluarkan nada bicara seorang Tsarina untuk mengimbangi Leon yang sedang emosi. "Memulai perang dengan sekutu baru kita? Sudah lah. Tidak perlu diributkan. Aku baik-baik saja."


"Dia menyakitimu." Kata Leon. Dan cara dia mengatakan hal itu seolah dirinya lah yang baru disakiti. "Maafkan aku. Aku seharusnya ada di sana saat itu."


"Aku justru bersyukur kau tidak ada di sana."


Anna kemudian mempersilahkan Leon untuk duduk agar dia dapat lebih tenang. Dia memerintahkan kepala pelayan yang di waktu tengah malam pun masih terjaga, untuk membawakan teh hangat untuk dirinya dan Leon. Setelah meminum teh dan Leon tampak lebih tenang, baru lah Anna mengajaknya membicarakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Andromeda Navarro di Westeria.


"Apa kau tahu apa yang kami bicarakan sebelum dia mulai memamerkan kemampuan menghancurkannya yang mengagumkan itu?" Tanya Anna.


Leon menggeleng, "Apa?"


"Dia meminta restu padaku untuk pernikahannya." Kata Anna. "Aku tidak memberikan restuku."


"Boleh kutanya alasannya? Aku tahu kau bukan tipe orang yang secara semena-mena tidak mengizinkan orang untuk menikah, Yang Mulia."


Anna mengangguk setuju. Karena tentu dia akan mengizinkan siapa pun untuk menikah. "Calon mempelai pria sepertinya tidak tahu sama sekali bahwa mereka akan menikah."


Kini Leon tampak semakin bingung. "Apa maksudnya itu?"


"Andromeda bilang dia akan menikah denganmu." Kata Anna. Dan satu kalimat itu berhasil membuat Leon tersedak tehnya. Anna jadi menyesal karena tidak memperingatkan Leon terlebih dahulu untuk tidak meminum tehnya sebelum dia mulai mengatakannya. Dia segera mengeringkan tumpahan teh di baju Leon dengan angin Kaze. "Mengejutkan, ya?"


"Sangat. Aku tidak ingat pernah melamar seseorang."


"Itu benar." Jawab Leon langsung, tanpa ragu sedikit pun, juga sambil menatap mata Anna. Ada rasa cinta, kepedihan, serta kerinduan dari sorot mata Hazel itu. "Kupikir kau sudah tahu. Aku... mencintaimu."


Tanpa sadar, Anna menahan nafas, tak berkedip sedikit pun. 'Kupikir kau sudah tahu'? Bagaimana bisa aku tahu kalau dia saja tidak pernah menyatakannya padaku! Pikir Anna. Tapi dia tak mengatakannya pada Leon.


Lalu dia teringat perkataan Leon saat menolak lamaran keduanya. "Aku menyukaimu. Sebagai adik perempuan, sebagai Putri Schiereiland, dan sebagai wanita." Tapi itu tidak bisa menjadi pernyataan cintanya karena tepat setelahnya Leon meminta maaf dan bahwa dia merasa tak seharusnya dia mengatakannya. Dan dengan kalimat itu lah Leon menolak lamarannya sekaligus mematahkan hatinya. Dan sejak itulah Anna belajar untuk merelakan Leon bahwa mereka memang tidak mungkin bisa bersama sebagai pasangan.


"Sejak kapan?" Tanya Anna dengan nada bicara setenang mungkin. Sangat kontras dengan isi pikiran dan hatinya saat ini yang sedang berkecamuk karena pernyataan itu.


Leon tak langsung menjawabnya. Sunyi mengisi percakapan di antara keduanya. Hanya terdengar suara hembusan angin utara yang membawa kebekuan dan suara api meretih di perapian.


"Aku tak tahu persis. Kurasa sejak awal aku memang mencintaimu tapi aku tak mau mengakuinya." Leon mengakui.


"Tapi kau menolakku berulang kali."


"Benar. Tapi itu tidak merubah kenyataan bahwa aku memang mencintaimu."


Pernyataan itu begitu mengejutkan bagi Anna sampai untuk beberapa saat dia tak tahu harus mengatakan apa. Benaknya berkecamuk, dan hatinya bimbang dengan pernyataan tiba-tiba itu. Leon pun hanya terdiam sambil mengamati perubahan ekspresi di wajah Anna yang tak dapat terbaca. Dan selama beberapa menit yang terasa seperti seribu tahun, tak satu pun dari mereka bicara maupun mengalihkan pandangan dari satu sama lain.


Hingga akhirnya Anna merasa membutuhkan udara segar. Dia segera beranjak dari tempat duduknya, dan membuka pintu jendela yang mengarah ke balkon ruang kerjanya. Anna berjalan ke balkon di tengah dinginnya udara tengah malam di Noord. Untuk beberapa saat, dia seolah bisa mengabaikan udara dingin membekukan di Noord dan hanya berdiri diam di balkon sambil memakukan pandangan ke langit. Di atas langit, bintang-bintang berkelap-kelip seolah sedang memandunya untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Untuk memahami apa yang dia rasakan saat ini.


Setelah selama ini... ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Pikirnya. Tapi apa yang kurasakan sekarang? Bagaimana perasaanku padanya saat ini?


Tapi Anna sebenarnya sudah tahu jawabannya.


Saat Anna menoleh kembali ke belakang, Leon sudah ada di ambang pintu, seolah menanti sepatah kata dari Anna, apa pun itu.


Leon kemudian melihat Anna tampak menggigil tanpa disadarinya. Leon menghampirinya, melepaskan mantel bulunya dan memakaikannya pada Anna, di atas lapisan mantel yang Anna pakai. "Kau mau aku pergi?" Tanya Leon. "Katakan saja, Yang Mulia. Aku hanya menanti perintah darimu."


Sepasang mata Hazel itu menatap Anna dengan jarak yang cukup dekat sehingga Anna tak punya pilihan lain selain turut menatapnya.


"Tidak." Jawab Anna. Karena Anna bertanggung jawab untuk memperjelas hubungan di antara mereka. Jika dia meminta Leon untuk pergi saat itu, maka entah kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya lagi.


Anna masih mencintai Xavier. Itu sudah jelas. Di hatinya hanya ada Xavier, bahkan mungkin itu tempat satu-satunya Xavier hidup. Bahkan saat ini pun, saat Leon menatapnya dari dekat, entah bagaimana dia masih tetap merindukan Xavier. Entah bagaimana, yang ada di pikirannya justru adalah Xavier. Itulah sebabnya aku tak mengerti kenapa kau masih sering cemburu terhadap Leon, Xavier. Bahkan saat ini pun aku hanya memikirkanmu dan membayangkan bagaimana perasaanmu jika melihatku saat ini. Kau mungkin takkan terang-terangan menyatakan kecemburuanmu, tapi aku akan tahu saat kau cemburu. Padahal hanya ada dirimu seorang di hatiku.


Tapi Anna bukannya tidak merasakan apa pun terhadap Leon. Dia tidak membenci Leon karena terlambat dalam menyatakan cintanya. Dia tidak marah sama sekali. Mungkin Leon memang bukan takdirnya. Tapi meski begitu dia tetap tidak ingin Leon terluka atau disakiti. Dia tidak ingin Leon bersedih, dan lebih dari apa pun dia mengharapkan kebahagiaan Leon dengan tulus. Dia merasa nyaman di dekat Leon dan senang berbincang-bincang dengannya. Tapi bukan berarti dia mencintai Leon seperti dulu.


Dulu, hatinya akan sakit jika Leon mencintai orang lain. Sekarang, dia berharap Leon bisa menemukan orang yang dia cintai dan juga mencintainya.


"Apa kau tahu?" Kata Leon tiba-tiba, sebelum Anna menemukan cara yang tepat untuk memulai kembali pembicaraan di antara mereka. Sambil berkata, Leon merapatkan dan mengancingkan mantel bulunya pada Anna agar Anna tidak merasa kedinginan. "Irene pernah mengatakan bahwa dia masih mencintai ayahku sampai sekarang. Bahkan meski dia sudah menikah dengan Raja Vlad dan memiliki Xavier. Bahkan meski sudah bertahun-tahun berlalu. Bahkan meski ayahku sudah mati. Beberapa cinta bertahan selamanya, melewati segala hal yang terjadi dalam kehidupan."


"Leon, aku tidak bisa—“


"Aku mencintaimu." Potong Leon langsung sebelum Anna menyelesaikan kalimatnya. Anna bisa merasakan tatapan penuh cinta itu untuknya. Leon tersenyum padanya. Dan segala keresahan menghilang dari benaknya.  "Dan aku hanya ingin mencintaimu. Aku tidak sedang melamarmu, Yang Mulia. Aku juga tidak memintamu untuk mengatakan apa pun atau pun membalas perasaanku karena aku tahu persis bagaimana perasaanmu."


"Aku hanya ingin semuanya jelas." Kata Anna.


"Semuanya sudah cukup jelas bagiku. Kau mencintai Xavier. Itu sudah sangat jelas. Sampai sekarang pun masih, meski dia sudah tiada. Dan kau mungkin akan mencintainya terus untuk selamanya, sebagaimana Irene yang mencintai ayahku untuk selamanya." Kata Leon. Dengan senyuman yang menenangkan itu, dia menambahkan, "Dan meski begitu, aku akan tetap mencintaimu. Aku masih belum tahu apakah perasaanku padamu akan tetap bertahan sampai seribu tahun usiaku nanti. Tapi untuk saat ini, aku tahu, aku mengakuinya, aku memang mencintaimu."


"Aku tidak ingin kau menungguku."


"Aku tidak menunggumu. Mencintaimu adalah bagian terbaik dalam hidupku jadi aku tidak akan berhenti hanya karena kau tidak membalas perasaanku." Leon mundur satu langkah, memberi Anna ruang untuk menata perasaannya yang sedang campur aduk saat ini. Dan karena Leon juga membutuhkan jarak itu untuk menata perasaannya sendiri. Dia, tentu saja, merasa lega karena sudah mengatakan apa yang dia simpan selama bertahun-tahun. Tapi juga sedikit khawatir bahwa pernyataannya itu bisa membuat Anna menjauh atau hubungan mereka menjadi canggung. "Yang Mulia, tolong biarkan aku mencintaimu, dan jangan jadikan perasaanku ini sebagai beban untukmu. Karena jika kau memintaku untuk mencari kebahagiaanku, inilah kebahagiaanku. Mencintaimu adalah kebahagiaanku."


***


Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:


Kami menikah di bawah bintang-bintang yang berjatuhan dari langit Orient. Bintang-bintang itu adalah saksi dari janji pernikahan kami.


Anna tidak mengenakan gaun pernikahan seperti yang pernah kulihat di mimpiku, kami sama-sama mengenakan pakaian tradisional Orient untuk perayaan malam seribu bintang. Tidak mewah, bahkan terkesan sangat sederhana. Dan karena pernikahan kami begitu mendadak—karena kapan lagi kami bisa berkesempatan mendapatkan restu dari Dewi Langit kalau bukan malam ini, dan karena Anna ingin kami menikah sekarang—aku belum memesan cincin pernikahan dari pengrajin perhiasan terbaik di kerajaanku. Akhirnya aku memberikan cincin permata ruby tempat inti jantungku berada sebagai cincin pernikahan untuk Anna. Aku tak tahu dia sadar atau tidak, cincin permata ruby itu adalah cincin yang sama yang kugunakan untuk melamarnya—melamar Zhera—seribu tahun yang lalu. Itulah sebabnya aku dapat menyimpan inti jantungku pada cincin itu, karena cincin itu bersejarah.


Secara harfiah aku menyerahkan jantungku sekaligus nyawaku untuknya. Dan karena di Schiereiland ada ikrar suci yang disebut dengan Ikrar Permata Ruby, yang kuketahui dari Anna tidak bisa diucapkan sembarangan kecuali oleh mereka yang bersungguh-sungguh karena taruhannya adalah nyawa, dan karena itulah tepatnya yang ingin kulakukan, jadi aku mengucapkan ikrar itu. Ikrar itu adalah janji yang akan aku tepati bahkan jika takdir berkata lain. Begini bunyi ikrarku:


"Pour l'amour de Dieu et l'aube de demain,"


Demi berkah langit dan fajar esok hari,


"Pour les étoiles qui guident le chemin du retour,"


Demi bintang-bintang yang memandu jalan kembali,


"Et pour le temps qui ne s'arrête jamais."


Dan demi waktu yang tak pernah terhenti.


"A toi je jure et promets."


Kepadamu aku bersumpah dan berjanji.


Aku akan selalu ada untukmu di kala kau membutuhkanku. Aku akan selalu bersamamu selama kau masih menginginkanku bersamamu. Aku akan selamanya mencintaimu sampai akhir waktu. Dan jika suatu saat aku pergi meninggalkanmu, aku akan selalu kembali padamu.


***