The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 23 : North Palace



Istana Utara, Di ujung Wilayah Utara


Salju tidak pernah berhenti turun di tempat itu. Langit selalu gelap tak peduli siang atau malam. Namun Istana itu dapat terlihat bahkan dari kejauhan. Istana Utara terbuat dari es yang tak pernah mencair, terletak di atas puncak gunung bersalju, tampak bersinar dalam kegelapan. Begitu indah dan tampak tak nyata, namun perjalanan ke sana bukan lah hal yang mudah. Tidak ada jalan setapak pada gunung bersalju itu. Tidak ada manusia biasa yang dapat pergi ke Istana Utara tanpa mati membeku atau pun terpeleset es dan jatuh dari ketinggian. Tapi Anna pergi bersama Leon sehingga dia dapat mencapai Istana Utara dengan sihir teleportasi.


Anna bersyukur tidak membawa serta Vierra dalam perjalanannya kali ini. Udara dingin nan membekukan itu bisa membunuh siapa pun, tapi Anna dapat bertahan karena cincin permata ruby nya yang menyimpan jantung Naga Api Agung yang selalu menghangatkannya. Meski awalnya dia merasa berat meninggalkan putrinya itu di Istana di bawah perlindungan Irene, putrinya yang masih belum berumur seminggu itu bisa mati akibat udara dingin ekstrem di Istana Utara. Istana yang kini dihuni oleh Eleanor dan Elias.


Leon menceritakan padanya bahwa Eleanor mengirimkan surat dan meminta untuk bertemu dengan Anna. Karena Eleanor tidak dapat meninggalkan Istana Utara dan terkurung di sana, maka Anna lah yang harus mendatanginya.


Eleanor tampak gugup saat Anna dan Leon memasuki Istananya. Tak terlihat wajah 'Roh Salju' yang kejam yang membunuh ribuan orang yang mereka lihat di perbatasan Wilayah Utara di hari kematian Xavier. Kini yang ada di hadapan mereka adalah seorang wanita yang mendapat kutukan untuk hidup abadi, terkurung di dalam Istana Utara selama seribu tahun. Eleanor telah mendapatkan hukuman atas perbuatannya.


Anna hanya diam memperhatikan saat Eleanor berlutut di hadapannya. Wajahnya menggambarkan penyesalan mendalam yang dia rasakan, namun tak ada air mata yang keluar dari dua bola mata yang sebiru es itu.


"Aku ingin meminta maaf dengan benar padamu." Eleanor mengawali kata-katanya dengan suara sejernih kristal. "Aku tahu, kau takkan bisa memaafkanku. Jika aku ada di posisimu pun aku tidak akan memaafkan perbuatanku. Kau berhak marah padaku. Tapi asal kau tahu, aku tak pernah berniat untuk membunuhnya. Aku menyayanginya seperti saudaraku sendiri. Aku sangat menyesal. Aku benar-benar minta maaf."


Eleanor masih tertunduk, menunggu kata-kata keluar dari bibir Anna. Kata-kata pengampunan yang terasa sangat mustahil, maupun kata-kata penuh amarah. Yang mana saja, akan dia terima dengan lapang dada. Tapi Anna hanya diam menatapnya dari kursi tempat duduknya yang sudah diberi sihir penghangat.


Leon berdiri tak jauh dari mereka, tangan disilangkan di depan dada, pedang tersampir di samping. Matanya terpaku pada dua wanita itu di hadapannya. Dia mengawasi, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, meski sebenarnya Leon tahu Eleanor tidak akan bisa menyakiti Anna. Dia tidak akan bisa menyakiti siapa pun lagi sekarang.


"Bagaimana kau melaluinya?" Tanya Anna, setelah lama dia hanya diam membisu.


Eleanor mendongak, menatapnya, "Maaf?"


Anna turun dari tempat duduknya dan menghampiri Eleanor yang masih berlutut di atas lantai yang terbuat dari es. Dia mengulurkan tangannya pada Eleanor. Dengan ragu, mantan Ratu itu menerima uluran tangan Anna dan mereka pun duduk di atas kursi masing-masing.


Eleanor masih menatap Anna dengan bingung. Dia akan mengerti jika saat itu Anna menamparnya atau meluapkan amarahnya. Dia akan mengerti jika Anna menggunakan kekuatannya untuk membakarnya atau menghisap habis energinya dengan duri-duri mawarnya. Dia akan memaklumi jika Anna berusaha membunuhnya saat itu juga meski sudah tahu bahwa dirinya kini abadi. Tapi dia sama sekali tak memahami tindakan Anna yang memberinya uluran tangan.


Anna memulai kembali kata-katanya dengan suara yang lebih rapuh. Kesedihan karena kehilangan orang yang dicintainya masih menyelimutinya. "Kau juga kehilangan orang yang sangat kau cintai." Kata Anna pada Eleanor. "Kudengar kekasihmu mati terbunuh di hadapanmu dan kau tak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Bagaimana caramu melaluinya? Apakah rasa sakitnya akan hilang begitu saja dengan berjalannya waktu? Apakah suaranya akan hilang begitu saja dari kepalamu suatu hari? Apakah mimpi buruk tanpa akhir ini kelak akan berakhir?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Aku... Aku merasa duniaku berhenti berputar. Aku tak tahu bagaimana cara melalui ini setiap harinya. Aku terbangun dengan perasaan hancur. Setiap hari terasa seperti siksaan. Tapi aku harus tetap terlihat utuh di hadapan semua orang. Bagaimana caramu melaluinya?"


Eleanor menatapnya dengan prihatin. Jika dia bisa menangis, dia sudah menangis saat itu juga karena dia tahu persis rasanya kehilangan orang yang sangat dicintai. Dia menggeleng lemah, "Tidak." katanya. "Aku tak bisa melaluinya dengan baik. Aku tidak setangguh dirimu. Aku menjadi tersesat dalam dukaku. Aku ingin membuatnya hidup kembali dengan cara apa pun. Bahkan meski aku tahu itu hal yang salah, aku tetap melakukannya. Dan akibatnya..." Eleanor tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia sangat menyesali perbuatannya dan tak tahu bagaimana cara untuk membatalkan apa yang telah dia lakukan. "Aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf." Katanya sambil tertunduk.


Anna menggenggam tangan Eleanor, "Aku mengerti. Karena aku tahu bagaimana rasanya."


"Kau... memaafkanku?"


Anna menggeleng. "Tidak. Aku tak bisa memaafkanmu." Katanya. "Tapi aku juga tak bisa marah padamu karena aku tahu apa yang kau rasakan. Dan rasanya aku juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Jika aku seorang penyihir juga, Aku mungkin sudah melakukan hal yang sama. Aku akan membunuh semua orang jika perlu agar dia bisa kembali padaku. Dan aku membenci diriku sendiri karena berpikir seperti itu."


Leon tidak bisa menatap Anna saat itu. Dia mengingat apa yang terjadi hari itu di Wilayah Utara setelah kematian Xavier. Mata Anna saat itu semerah kobaran api. Anna tanpa sadar hampir membunuh semua orang yang ada di Wilayah Utara termasuk para serigala dan penyihir yang saat itu berada di Kastil Api. Dia menghancurkan Kastil Api dan merubah padang salju di Wilayah Utara menjadi hutan duri mawar yang dapat membunuh semua orang yang ada di sana. Amarah dan kesedihannya saat itu membuat bumi berguncang dan terasa hingga ke wilayah Winterthur. Sebagian pasukan serigala dan penyihir terluka parah akibatnya, sebagian lainnya tewas. Serta banyak korban jiwa akibat gempa di wilayah Winterthur. Leon selamat karena tepat saat itu, setelah kematian Xavier, Eleanor mendapatkan hukumannya dan Leon turut mendapat keabadiannya. Semua kehancuran serta kekacauan itu baru berakhir setelah Anna pingsan akibat kehabisan energi.


Anna sepertinya tidak sadar atau mungkin juga dia tidak ingat. Dan Leon masih belum bisa menceritakan hal itu pada Anna karena tahu Anna tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika dia tahu.


"Tidak. Kau tidak akan menempuh jalan yang sama denganku. Aku tahu dirimu. Kau bukan orang sepertiku. Kau memiliki hati yang suci dan bersih. Kau bisa melaluinya lebih baik dariku." Kata Eleanor.


Anna menoleh ke arah Leon yang masih menunduk menghindari tatapan Anna. "Aku tidak sebaik yang kau pikirkan, Lady Eleanor." Kata Anna kemudian pada Eleanor. "Tapi kurasa kau pun telah mendapat hukumanmu. Jadi aku tak perlu mengotori tanganku untuk balas dendam padamu."


"Benar." Jawab Eleanor. "Aku menerima hukumanku." Dia berhenti sesaat dan melirik ke arah Leon, "Yang aku sesalkan, bukan hanya aku yang mendapatkan hukuman itu."


"Bagaimana dengan putramu? Siapa namanya?" Tanya Anna.


"Elyan."


"Apakah dia ada di sini? Bukankah udara di sini terlalu dingin untuknya?" Tanya Anna, karena dia tak bisa membayangkan jika putrinya ada di tempat sedingin itu. Dia takkan membiarkan putrinya berada di sana untuk alasan apa pun.


Dan untuk menjawab pertanyaan itu, Eleanor memberi isyarat ke salah satu sisi ruangan. Elias masuk sambil membawa Elyan dan menyerahkan bayi laki-laki itu pada ibunya. Elias menatap Leon dan Anna cukup lama, namun dia hanya diam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun maupun menyapa keduanya, dia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Aku turut berduka cita, Elias." Kata Anna.


Kata-kata itu menghentikan langkahnya tapi Elias tidak berbalik menghadapnya. Kedua tangannya dikepalkan di samping.


"Aku mengerti perasaanmu." Kata Anna lagi.


"Tidak. Jangan katakan hal seperti itu." Kata Elias. Dia pun kini menghadap ke arah Anna, tampak menahan emosinya. "Kau tidak mengerti. Kau tidak kehilangan anakmu. Kau juga tidak terkurung di sini selama seribu tahun dan kau masih bisa mati kapan pun kau mau. Kau bisa mengakhiri hidupmu kapan pun jika rasa duka dan menyesal itu terasa semakin berat untuk ditanggung. Aku jadi bertanya-tanya bagaimana kau bisa tetap hidup setelah dia mati—“


"Tutup mulutmu!" Leon sudah menghunuskan pedangnya pada Elias sebelum Anna sempat mencegahnya. "Beraninya kau berkata seperti itu pada Tsarina!"


"Leon! Turunkan pedangmu. Ini perintah." Ucap Anna dengan lantang.


Tapi Leon tidak menurutinya. Meski dia tahu itu adalah hal yang sia-sia. Elias tidak bisa mati bahkan dengan pedang Raja Zuidlijk.


Elias tertawa melihat pedang Leon yang terhunus sia-sia. Tawa getir, karena saat itu dia sungguh berharap bahwa seseorang bisa membunuhnya jadi dia tak perlu merasakan duka yang menyiksanya atas kematian Yeon-Hwa. "Bagaimana rasanya hidup abadi, Grand Duke Winterthur yang terhormat?"


"Abadi?" Tanya Anna pada Leon. Leon menurunkan pedangnya, tapi tak berniat menjelaskan apa pun pada Anna. "Apa maksudnya?"


"Elias..." Eleanor menegurnya. "Tolong hentikan."


Anna masih menatap Leon, menunggu penjelasan darinya dengan sabar.


"Aku berniat menjelaskannya padamu jika waktunya sudah tepat." Kata Leon.


"Kalau begitu jelaskan sekarang."


Leon mencoba untuk menjelaskannya, tapi dia tidak tahu bagaimana harus memulainya. Dia sendiri sebenarnya tidak mengerti kenapa ini harus terjadi padanya. Akhirnya Elias lah yang menjelaskannya pada Anna.


"Dia menyimpan separuh jiwa Elle dalam dirinya. Jadi dia juga abadi seperti kami. Dia takkan mati maupun menua setidaknya sampai seribu tahun. Seperti kami, dia akan melihat semua orang di sekelilingnya, satu persatu, mati mendahuluinya. Paling tidak dia tidak terkurung di Istana ini seperti kami."


"Kapan tepatnya kau akan menjelaskan semua itu padaku?" Tanya Anna pada Leon. Dia kecewa karena harus mengetahui hal itu dari orang lain. Leon turut menanggung hukuman yang dijalani oleh Eleanor dan Elias, dan Anna sama sekali tak tahu karena tak diberitahu olehnya. "Kapan, Leon? Apakah setelah aku mati nanti?"


"Maaf..."


"Aku sebaiknya pergi." Kata Elias. "Selamat atas hidup abadimu, Grand Duke." Lalu dia pun menghilang dari tempat itu.


"Leon, aku tidak marah padamu. Aku hanya..." Anna berhenti sejenak, tampak mencari kata-kata. Leon biasanya tidak merahasiakan apa pun darinya. Dan Anna biasanya tahu segalanya tentang Leon. "Kupikir tidak ada rahasia di antara kita."


"Aku memang akan menjelaskannya. Tepat setelah kunjungan ini."


"Aku yang harusnya minta maaf padamu. Karena aku—“


"Bukan salahmu. Ini bukan salah siapa pun. Kau menyelamatkanku hari itu jadi bagaimana mungkin ini salahmu. Aku akan hidup abadi, seharusnya itu bukan sesuatu yang patut disesali, kan? Paling tidak kau tidak akan pernah menangisi kematianku. Karena aku tidak akan mati dalam waktu dekat."


"Leon, aku—“


"Yang Mulia, bukan ini tujuan utama kita datang ke sini." Potong Leon segera sebelum Anna membahasnya lebih lanjut. Dia tak mau membahasnya saat ini. Dia kemudian menoleh ke arah Elyan yang ada di pangkuan Eleanor. Bayi laki-laki itu begitu mungil namun tampak sangat sehat dengan kulit putih yang kemerahan dan mata yang berbinar. Dia tersenyum lebar saat melihat Leon, tangan kecilnya berusaha meraih Leon seolah tahu apa tujuan Sang Grand Duke ke Istana itu.


Leon segera mengalihkan pandangannya dari Elyan. "Aku heran kenapa dia tidak mati membeku di sini." Katanya pada Eleanor.


"Dia seorang Winterthur. Udara dingin bukan masalah untuknya." Dusta Eleanor.


Leon mendengus, tahu bahwa Eleanor sebenarnya menggunakan sihir untuk membuat putranya tetap merasa hangat di udara yang membekukan itu, "Kau harusnya berkata jujur bahwa kau berharap aku akan membawanya ke kediaman Winterthur."


"Leon..." Anna memperingatkan. "Kita sudah membahas ini.”


"Aku mengerti." Eleanor menunduk. Merasa malu atas permintaan yang dia ajukan dalam suratnya untuk Leon untuk membawa putranya ke kediaman Winterthur dan tinggal di sana. Tapi Eleanor juga tidak bisa membiarkan putranya tinggal terisolasi di Istana Utara. Eleanor pun sebenarnya tak mau berpisah dengan anaknya, namun dia tak punya pilihan. Anaknya tak boleh tetap bersamanya jika ingin hidup dengan normal. "Aku tahu kau akan menolak—“


"Aku akan membawanya." Potong Leon langsung. "Aku akan memastikan dia tumbuh dengan baik dan terawat serta mendapat pendidikan yang pantas layaknya seorang putra Winterthur. Dan setelah dewasa, dia bebas menentukan jalannya sendiri. Kembali ke Istana ini, mengabdi untuk Imperial sebagai penerusku, atau pergi ke mana pun yang dia mau."


Mata Eleanor melebar tak percaya pada apa yang baru saja dia dengar. Dia tak berharap putranya akan dirawat dengan baik. Semua orang pasti dendam padanya dan mungkin akan melampiaskannya pada Elyan. Jadi permintaannya pada Leon hanya sebatas membiarkan putranya tinggal di Kediaman Winterthur sampai usianya sudah cukup dewasa untuk hidup mandiri. Tapi mendengar Leon mengatakan semua itu, benar-benar di luar perkiraannya.


Eleanor bersiap berlutut di hadapan Leon untuk mengucapkan rasa syukurnya, "Grand Duke—“


"Jangan berterima kasih padaku karena itu usul dari Tsarina." Kata Leon dengan dingin. Dia menoleh ke arah Anna yang kini tersenyum padanya karena pada akhirnya Anna berhasil meyakinkan Leon untuk merawat Elyan. "Jika terserah padaku, anak itu pasti sudah kubunuh sebelum menjadi pengkhianat sepertimu."


"Kau tidak bilang setuju tadi. Apa kau berubah pikiran setelah melihatnya, Leon?" Hardik Anna. Tapi dia tersenyum bangga pada Leon yang bersedia menyingkirkan dendam pribadinya pada Eleanor dan memilih untuk merawat Elyan.


Leon enggan menjawabnya, tapi Anna memang benar. Saat melihat Elyan, Leon teringat pada dirinya sendiri. Jika saja saat itu Raja dan Ratu tak menjadikannya sebagai anak angkat mereka, Leon tak tahu akan bagaimana hidupnya tanpa orang tua maupun wali.


"Terima kasih banyak." Kata Eleanor pada Anna.


"Ada satu hal lagi... Sebelum Xavier meninggal, dia sudah menyiapkan sebuah kapal untukmu." Kata Anna. Eleanor mengangguk, membenarkan. "Xavier menceritakannya padaku. Katanya kau bercita-cita ingin berkeliling dunia dengan kapal itu. Tapi karena sekarang kau tidak bisa pergi ke mana pun, aku akan memberikan kapal itu pada Elyan jika dia sudah cukup besar untuk berlayar. Elyan tidak perlu mengabdi pada Imperial jika dia tidak menginginkannya. Dia bebas pergi ke mana pun dan memiliki hidupnya sendiri."


"Kalian tidak perlu melakukan semua itu—“


Leon segera memotong perkataan Eleanor, "Kami tidak melakukan ini untukmu, melainkan untuk Elyan. Kami masih tidak bisa memaafkan kesalahanmu. Tapi itu bukan kesalahan Elyan. Anak itu tidak memiliki kesalahan apa pun."


Leon segera mengambil Elyan dari tangan Eleanor. Dengan hati yang sangat perih Eleanor merelakan anaknya diambil darinya. Satu lagi hukuman atas kesalahannya yang harus dia tanggung. Hidup terpisah jauh dari buah hati yang sangat dicintainya, satu-satunya tali penyelamatnya, satu-satunya yang membuat hidupnya terasa indah meski dalam kurungan Istana Utara.


Tapi Elyan yang masih tidak mengerti apa-apa tampak tersenyum senang di tangan Leon. Eleanor melekatkan pandangannya pada putranya itu, tidak ingin melewatkan senyumnya yang bersinar cerah yang dapat dia lihat untuk terakhir kalinya. Eleanor tidak akan bisa bertemu lagi dengan putranya itu.


"Jangan beritahu dia tentangku." Pesan Eleanor. "Biarkan dia tumbuh besar tanpa mengetahui bahwa ibunya adalah seorang pembunuh."


***