The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 42: Declaration of War



Selang beberapa lama, Haru pun mengalihkan pandangannya pada Anna. Mata gelap Sang Kaisar menatap Anna dengan dingin. Dia pun berkata, "Itu tidak membuktikan apa pun bagiku. Aku tetap tidak—“


"Lalu apa yang akan Anda percayai jika kebenaran itu sendiri Anda anggap sebagai dusta?" Potong Anna, sambil menggebrak meja di antara mereka, menyebabkan Aletha sedikit bergeser dari tempatnya.


Aletha adalah cara agar Haru mengetahui kebenaran dan menyetujui negosiasinya. Aletha adalah cara untuk mencegah pecahnya peperangan di antara mereka. Tapi jika Haru memutuskan untuk tidak mempercayai Aletha, maka tidak ada cara lain. Dan meski Anna tak menginginkannya, perang memang tak bisa dihindari.


Dengan tenang, Haru berkata, "Bukan itu yang kumaksud. Bola mata Dewi Kebenaran mungkin tidak berbohong, tapi aku tetap tidak akan memberimu kompensasi, karena meledaknya bom Morta di Jungdo tetap kesalahanmu."


"Tidakkah Anda melihatnya juga tadi pada bola mata Aletheia? Ibu Suri mengutus orangnya untuk mengambil—“


"Yeon-Hwa tetap tewas apa pun alasanmu. Anakku tetap tewas karena bom sihir itu!" Kali ini Haru turut menaikkan nada bicaranya. Tangannya terkepal di atas meja. Matanya menatap Anna dengan tajam seolah semua kemalangan yang menimpanya adalah kesalahan Anna. Dan Anna cukup yakin, saat itu, seluruh pengawal Haru yang bersembunyi sedang mengarahkan anak panah mereka maupun pedang mereka ke arahnya. Dengan suara yang bergetar karena menahan emosinya, Haru menambahkan, “Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau cintai—“


"Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kucintai. Lebih dari siapa pun, aku sangat tahu tentang hal itu, Kaisar." Potong Anna segera.


Sungguh tidak adil bagi Anna, karena Haru mengatakannya seolah Anna tidak menderita selama ini. Kehilangan seluruh anggota keluarganya satu per satu, kemudian kehilangan Xavier tepat di saat dia sedang sangat membutuhkannya, adalah hal tersulit bagi Anna. Tapi Anna tidak boleh memperlihatkannya pada siapa pun. Dia harus terlihat seolah semua itu bukan apa-apa untuknya. Dan di sini lah Haru, di hadapannya, mengatakan bahwa Anna tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dia cintai. Kata-kata itu membakar emosinya.


Haru pun terdiam saat mendengar emosi memuncak dari nada bicara Sang Tsarina. Dia pun segera menyadari bahwa wanita di hadapannya itu baru saja kehilangan suaminya.


Tahu bahwa Haru akan tetap menyanggahnya, Anna menambahkan, "Tapi Yeon-Hwa bukan orang yang kau cintai. Dan aku yakin sekali kau sudah tahu bahwa anak yang dia kandung bukan anakmu."


Kata-kata itu berhasil membungkam Haru. Perselingkuhan Maharani Yeon-Hwa dengan Elias tentu sudah menjadi rahasia umum di Istana Kaisar. Haru tidak menyanggahnya. Tapi dia mengatakan hal lain yang mengejutkan bagi Anna.


"Yeon-Hwa lah anakku."


"Tidak..." Ucap Anna. Dalam pikirannya dia mengingat-ingat kembali apa saja yang dia ketahui tentang Yeon-Hwa. Dan dia tahu bahwa Yeon-Hwa adalah anak satu-satunya dari Putri Seo-Hwa dengan Panglima Wu yang sama-sama meninggalkan dari Istana saat Kaisar Qin melakukan kudeta. Yeon-Hwa seharusnya bukan anak Haru. "Tidak mungkin. Yeon-Hwa bukan—“


"Putri Seo-Hwa adalah orang yang sangat kucintai." Haru memotong perkataannya. Dan cara Sang Kaisar mengatakannya, Anna tahu bahwa Haru benar-benar mencintai Putri Seo-Hwa. Cinta yang tetap bertahan meski segala hal telah terjadi dalam hidup seseorang. Seperti yang pernah dikatakan oleh Leon. Seperti cinta Irene kepada ayahnya Leon. Dan seperti cinta Anna kepada Xavier. Haru melanjutkan, "Dia adalah satu-satunya orang yang kucintai melebihi seisi dunia ini. Yang demi dirinya lah aku membohongi ayahku sendiri selama bertahun-tahun hingga ajal menjemputnya. Untuk mengamankan Putri Seo-Hwa dari ayahku. Dan saat dia melahirkan Yeon-Hwa, aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri karena dia adalah anak dari wanita yang kucintai. Dari jauh aku menjaganya sejak dia masih kecil, aku memastikan keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun. Tapi kau mengutusnya ke Orient dan membuatnya berada dalam bahaya. Kau lah penyebab kematian Yeon-Hwa!"


"Yeon-Hwa tidak akan tewas jika saja Ibu Suri Reina tidak memutuskan untuk mencuri bom Morta dari kediaman Smirnoff dan meledakkannya di Jungdo!" Bantah Anna. Tentu saja Anna merasa bersalah dan sangat menyesal atas kematian Yeon-Hwa. Yeon-Hwa adalah sahabatnya. Gadis periang yang menyapanya saat pemilihan pengawal pribadi Xavier dan mencoba mengakrabkan diri dengannya yang tidak tahu cara memulai pertemanan karena dirinya selalu mengurung diri di Istana. Yeon-Hwa akan selamanya dikenang Anna sebagai teman wanita pertama baginya. Dan mengingat Yeon-Hwa tewas sebelum sempat menikah dengan Elias, semakin membuat Anna merasa bersalah. Meski begitu, itu bukan kesalahan Anna seorang. Dengan mata berkaca-kaca karena mengenang Yeon-Hwa, Anna menambahkan, "Anda tentu tahu bahwa Yeon-Hwa hendak kembali ke Noord bersama Elias. Jika saja saat itu Anda tidak memintanya menjadi Maharani—“


"Kau hanya mencari alasan. Kau tidak mau dirimu disalahkan atas kematian temanmu sendiri."


"Tidak. Itu karena Ibu Suri Reina ingin Anda menyalahkan Imperial. Apa Anda bahkan tahu tentang Naga Baja? Ibu Anda hendak mengadu domba kita. Anda sedang berkabung dan butuh seseorang untuk disalahkan atas kematian Yeon-Hwa, sedangkan Ibu Suri menginginkan kekuasaan atas seluruh wilayah. Jadi saat Anda memutuskan untuk membalas dendam atas kematian Yeon-Hwa pada Imperial, Ibu Suri sudah siap dengan kendaraan perang yang telah lama dia rancang."


Haru tertawa sinis, "Aku tahu. Aku sudah tahu bahwa Ibuku sudah merencanakannya sejak lama."


"Jadi Anda sudah tahu tentang perbuatan Ibu Anda? Dan Anda akan diam saja?"


"Aku tidak bisa memedulikan siapa pun lagi. Semua yang kucintai, semua yang penting bagiku, Seo-Hwa dan putrinya, telah tiada."


Anna tak lagi melihat Kaisar yang bijaksana yang memiliki cita-cita untuk menjadikan kekaisaran sebagai republik. Yang memiliki impian mulia untuk merubah sistem pemerintahan demi para rakyat. Yang sangat mencintai rakyat dan memedulikan rakyat. Kaisar itu telah tiada akibat cobaan hidup yang terus menghancurkannya dan cintanya yang tidak berakhir bahagia.


Anna tahu rasanya. Saat di mana dukanya begitu menguasainya sehingga tidak ada apa pun lagi yang cukup penting atau berarti baginya. Dan saat itu, dia memilih untuk bunuh diri. Tanpa memikirkan nasib putrinya yang saat itu masih di kandungannya, tanpa memedulikan orang-orang yang menyayanginya yang akan sangat hancur jika dia tewas, tanpa memedulikan nasib jutaan rakyatnya yang sedang diambang kehancuran jika dia tak bertahan dan menghentikan Orient.


Tapi di saat itu Anna masih memiliki Leon yang siap mengingatkannya bahwa dia harus tetap bangkit. Karena kehancuran seorang pemimpin adalah kehancuran bangsa dan rakyatnya. Sedangkan Haru tak memiliki siapa pun untuk mengingatkannya.


"Rakyat akan menderita, Kaisar!" Kata Anna dengan tegas. Matanya berubah menjadi semerah kobaran api. Saat itu, karena begitu marah pada Haru yang tidak mau membuka mata akan imbas perang di antara mereka, Anna tanpa sengaja menggunakan kekuatan Naga Angin sehingga angin kencang berpusar di sekitar mereka, menerbangkan beberapa perabotan yang ada di Dong-gung. Anna tahu bahwa menggunakan kekuatan Naga akan semakin menghabiskan energinya terlebih setelah sebelumnya dia sudah menggunakan kekuatan tiga Naga sekaligus. Dia bisa saja pingsan, tapi saat itu, karena terbawa emosi, Anna lah yang dikendalikan oleh kekuatan Naga Angin. "Aku tahu bagaimana rasanya, betapa segala hal menjadi tak cukup penting bagimu saat orang yang sangat berharga untukmu meninggal. Aku mengerti dukamu. Tapi paling tidak pedulikan rakyatmu! Perang akan berimbas ke kedua belah pihak. Tidak hanya pihakku yang dirugikan. Orient juga akan turut dirugikan. Saat perang terjadi, akan banyak rakyat yang kehilangan putra mereka, suami mereka atau ayah mereka. Akan banyak pengeluaran untuk perang serta efek kerusakan setelah perang sehingga berimbas pada perekonomian rakyat. Pikirkan nasib kekaisaran dan rakyat!"


"Tsarina, apa kau sedang mengancamku dengan angin milik Sang Naga Angin sekarang? Apa kau tahu berapa banyak orang yang sedang mengarahkan anak panahnya padamu saat ini?"


Tapi angin bukan sesuatu yang terkendali. Angin bersifat bebas dan tak beraturan. Dan meningkatnya emosi Anna membuatnya kehilangan kendali atas anginnya. Angin itu mulai menghancurkan bangunan di sekitar mereka. Menerbangkan bebatuan, mencabut pohon dari akarnya, memecahkan kaca jendela dan semuanya beterbangan di sekitar mereka. Badai mendengar panggilan penguasanya. Dan saat itu, dengan mata yang merah menyala, rambutnya yang berkibar bagai kobaran api dan berbagai benda yang beterbangan di sekitarnya, Anna tampak seperti Dewi Badai dan Kehancuran. Seperti sebuah ancaman besar untuk Sang Kaisar.


Sebuah anak panah pun diloloskan ke arahnya. Anak panah lainnya mengikuti, mengarah pada Anna.  Tapi semua anak panah itu tidak dapat mengenainya. Semua anak panah itu justru berbalik ke arah pengirimnya. Semua pengawal yang menembakkan anak panah pada Anna segera mati di tempat. Dan segera saja pengawal lainnya berdatangan untuk melawan Anna dengan pedang mereka.


Namun sebelum satu pun dari mereka cukup dekat dengan Anna, seseorang datang dan dengan sangat cepat melibas habis seluruh pengawal Kaisar. Gerakannya begitu cepat sehingga tidak ada yang sempat menghindar darinya. Mereka semua terluka parah sehingga tidak bisa melawannya lagi. Sebagian langsung tewas karena orang itu tak suka membuat orang lain menderita terlalu lama.


"Leon?" Angin badai itu langsung mereda begitu Anna tersadar siapa yang baru saja datang untuk membantunya melawan para pengawal Kaisar. Anna tidak ingin Leon terluka karena kekuatan Naga Angin yang semakin menguasainya, jadi saat itu Anna segera tersadar dan menghentikan badainya.


"Kulihat situasinya menjadi kacau, Yang Mulia. Jadi aku memutuskan untuk turun tangan." Kata Leon. Setiap katanya diiringi gerakan untuk melumpuhkan musuh mereka. Saat itu, saking cepatnya, Leon seperti malaikat maut yang sedang mengambil nyawa manusia. Pedang Raja Zuidlijk bagaikan perpanjangan tangannya. Darah musuhnya mewarnai pakaiannya seperti cat lukis berwarna merah gelap, tapi dia tampak tak peduli bahkan meski wajahnya penuh dengan cipratan darah musuhnya. Leon sudah dilatih sejak kecil untuk ini. "Wah, sudah lama sekali rasanya sejak terakhir aku menggunakan pedang ini."


"Dirantai di ranjangnya." Jawab Leon dengan santai sambil memenggal kepala dua orang yang hendak menyerangnya.


"Dirantai!" Anna terpekik kaget mendengarnya. Itu tak ada dalam rencana mereka.


Leon menoleh sejenak ke arah Anna, mengernyit bingung, "Kau tidak bilang kalau aku seharusnya membunuhnya."


"Memang tidak! Maksudku... kenapa—bagaimana bisa dia dirantai?"


"Entah lah." Dia tampak menahan tawa. Tapi sedetik kemudian ekspresinya kembali serius saat pengawal Haru yang lainnya berlari ke arahnya untuk menikamnya. Leon segera mengayunkan pedangnya dan mengakhiri nyawa si penyerang. Tanpa menoleh ke arah Anna, dia menambahkan penjelasannya, "Seleranya agak aneh, menurutku. Aku tak suka menjelaskannya."


Leon terus mengayunkan pedangnya ke sana-kemari, seperti menari, dengan mudah dia menjatuhkan semua orang yang sedang berusaha menyerangnya maupun berusaha mendekati Anna. Tugasnya cukup sederhana, yaitu memastikan tidak ada pengawal Haru yang melukai Anna dan membiarkan Anna menyelesaikan urusannya dengan Haru. Leon tidak diperbolehkan ikut campur dalam urusan mereka, sesuai dengan titah Anna. Bahkan meski nyawa Sang Tsarina terancam sekali pun, Leon tidak diizinkan melawan Haru. Tapi dia diperbolehkan menyerang bahkan membunuh para pengawal yang berniat melukai maupun membunuh Anna. Ada sekitar tiga puluh orang atau lebih pengawal Kaisar yang melawannya. Tapi dengan sangat mudah seolah tak butuh usaha besar baginya, mereka semua ditumbangkan oleh Leon. Jerit kesakitan dan ketakutan memenuhi udara di sekitar mereka. Tanah menjadi merah oleh darah. Tapi Leon begitu terlarut dalam pertempurannya sehingga tak sempat memikirkan belas kasih kepada mereka yang memohon untuk diampuni nyawanya. Karena mereka semua hampir membunuh Anna dengan senjata mereka jika saja Leon tidak turun tangan. Tidak ada ampunan bagi mereka yang hendak membunuh Tsarina.


Hingga akhirnya terdengar suara jeritan yang dapat mengalihkan Leon dari pertempurannya. Jeritan Anna.


"Yang Mulia!"


Leon segera menoleh ke arah Anna yang kini sudah jatuh terluka. Sebilah pisau tertancap di perutnya. Tapi Leon menyadari pisau itu tidak menancap di bagian organ vital Anna. Menyakitkan, namun tidak mematikan kecuali Anna tidak segera ditolong dan kehabisan darah. Darah Anna menetes membentuk sungai di depan matanya. Leon melihat siapa yang telah berani menyakiti Sang Tsarina. Haru, di belakang Anna, sedang menahan pergerakannya dan mengarahkan pisau lainnya ke leher Anna. Ujung pisau itu telah menyentuh kulitnya dan membuat goresan yang mampu membuat amarah Leon meluap.


Meski Leon sudah tahu bahwa Anna akan terluka, dia tetap tak bisa tenang melihatnya seperti itu. Anna sebelumnya sudah memberitahu Leon bahwa dia akan membiarkan Haru melukainya sehingga hal tersebut bisa menjadi bukti bahwa Orient yang memulai perang dengan mereka. Dengan begitu, jika perang benar-benar tak dapat dihindari, paling tidak bukan mereka yang memulainya. Dan setelah perang berakhir, mereka bisa meminta kompensasi pada negara yang telah memulai perang.


"Hentikan, kalau kau tidak mau Tsarina tewas di tanganku." Haru mengancam.


Leon menggenggam gagang pedangnya dengan amat kencang, menahan diri untuk tidak segera memenggal kepala Kaisar. Tapi dia beralih ke arah Anna yang justru tampak tenang meski sambil meringis menahan sakit, "Yang Mulia, kau butuh bantuan?" tanyanya, panik.


Saat itu, sisa pengawal Kaisar yang masih hidup sudah mengepung Leon dan menghunuskan pedang mereka padanya. Leon bisa saja menghabiskan mereka semua langsung, tapi saat ini seluruh perhatiannya tertuju pada Anna.


"Yang Mulia cepat berikan izin padaku untuk membantumu!"


Alih-alih meminta bantuan padanya, Anna terkikik geli seolah pertanyaan itu cukup aneh baginya, "Membantuku? Urusi saja urusanmu, Leon. Aku tahu kau sedang agak sibuk." Ucapnya. Haru terkejut dengan perkataan itu. Anna melirik ke arahnya, dengan nada bicara yang teramat dingin, seperti bukan keluar dari mulutnya, dia bertanya pada Haru, "Kau lupa siapa yang sedang kau serang, Kaisar? Kau lupa siapa aku?"


Dan dengan satu hentakan kaki Anna, Kaisar jatuh di belakangnya, melepaskan Anna, meninggalkan goresan kecil pisaunya di leher Anna. Bumi berguncang hebat dan meruntuhkan Dong-gung perlahan. Anna berhasil melepaskan diri dari Haru sementara Sang Kaisar dan para pengawalnya tampak kesulitan berdiri akibat guncangan di tanah yang mereka pijak. Anna kemudian berbalik menghadap Haru, lalu mencabut pisau yang tertancap di perutnya sambil mengerang kesakitan.


Masih terengah menahan sakit dan tubuhnya yang mulai kehilangan keseimbangan, Anna mengembalikan pisau itu pada Haru sambil masih menekan lukanya di perut dengan satu tangan, "Ini, Baginda Kaisar, adalah pernyataan perang darimu. Ingat lah bahwa kau yang memulainya dengan terlebih dahulu menyerangku. Aku sudah memperingatkanmu."


Setelah itu, Anna segera mengambil kembali Aletha dari atas meja dan memasukkannya ke dalam tas yang tadi dia bawa. Anna pun menggenggam tangan Leon dan berteleportasi pergi dari tempat yang sudah hampir hancur itu.


***


Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:


Sejak sebelum menikah pun aku sudah tahu bahwa tidur dengan Anna di pelukanku dapat membuatku tidur dengan lelap. Insomniaku benar-benar sembuh total.


Selama mengalami insomnia, aku tidak tidur sehingga aku tak pernah bermimpi. Jadi, karena kini aku dapat tidur, aku mulai sering bermimpi lagi. Tapi belum pernah aku merasa setakut ini karena satu mimpi. Mimpi yang sangat buruk.


Dalam mimpi itu, aku melihat Anna sedang  berada di Dong-gung bersama seseorang. Tapi Dong-gung terlihat sangat berbeda di mimpiku itu seolah tidak ada yang membersihkan meja-mejanya selama beberapa bulan. Debunya tebal sekali!


Lalu aku melihat seseorang yang sedang bersama Anna itu menikamnya. Anna kehilangan banyak darah karena lukanya tak segera disembuhkan. Kemudian Anna mati. Dan aku bertanya-tanya kenapa aku tak bisa segera menyembuhkannya dan menyelamatkannya.


Hingga aku bangun pun, mimpi itu terus menggangguku. Aku belum memberitahu Anna bahwa terkadang mimpiku adalah masa depan yang belum terjadi. Aku tak mau membuatnya khawatir jadi aku tak menceritakan mimpi itu padanya. Tapi sepanjang hari Anna terus bertanya padaku apa yang membuatku terbangun semalam. Pada akhirnya aku menyerah dan menceritakan semuanya tanpa memberitahunya bahwa kemungkinan itu adalah sesuatu yang akan benar-benar terjadi di masa depan.


Dia tampaknya tidak merasakan ketakutan yang sama denganku. Dia hanya menatapku untuk beberapa saat, kemudian dia tiba-tiba memelukku.


Dia mencoba untuk menenangkanku dengan mengatakan bahwa itu hanya mimpi buruk dan aku tak perlu khawatir. Dia akan berusaha tetap hidup untukku karena tak mau melihatku berduka. Dan kekhawatiranku benar-benar hilang karenanya.


Semoga saja itu benar-benar hanya mimpi.


***