
Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:
Anna suka : Bunga mawar, macaron rasa vanila dan stroberi, semua jenis teh yang diseduh pekat dan diberi sedikit susu, dan Jenderal Leon. (Yang terakhir itu, dia sangat sangat sangat menyukainya sampai rasanya membuat hatiku sakit saat melihat dia terus menerus sedih setelah kepergian Jenderal Leon.)
Anna benci : Udara dingin, Nordhalbinsel, ayahku, dan mungkin juga aku.
Cara agar Anna tidak membenciku : Menjadi temannya. (Tapi bagaimana caranya?)
Catatan:
Hari ini aku melihatnya mengenakan gaun pengantin milik Duchess Francis. Tapi anehnya dia tampak malu dan terus menutupi wajahnya. Padahal aku ingin memandanginya, kurasa aku tidak akan pernah bosan memandanginya. Dia tampak menakjubkan dan bersinar. Seperti matahari. Dan aku kehilangan kemampuan berkata-kata setiap kali melihatnya. Aku pasti sudah gila! Bisa-bisanya aku berpikir ingin menikahinya saat itu juga! Aku bahkan hampir benar-benar melamarnya dengan cincin itu hari ini di kereta kuda. Untungnya aku bisa berkilah dengan menceritakan tentang cincin itu dan jantungku di dalamnya, dan bahwa itu memang miliknya. Anna akan semakin menjauhiku kalau dia tahu apa yang kurasakan terhadapnya, atau seberapa sering aku memikirkannya dan memimpikannya. Dia mungkin akan benar-benar membenciku. Aku seharusnya bersyukur jika dia mau berteman denganku saja. Aku benar-benar tidak punya harapan kan? Lagi pula hubungan kami hanya ada di masa lalu, bukan masa sekarang.
***
"Kau melamun." Suara Leon yang datang tiba-tiba dengan sihir teleportasi membuyarkan lamunannya.
Anna sedang berada di balkon kamar Vierra setelah memastikan putrinya itu sudah tidur dengan lelap. Dia tidak ingin buru-buru pergi ke kamarnya—yang sebelumnya adalah kamar Xavier. Jadi dia memutuskan untuk minum teh di balkon kamar Vierra. Dia memerintahkan salah satu anggota pasukan Serigala yang ditugaskan untuk menjaga putrinya agar menyampaikan pesan pada Leon agar menemuinya di balkon kamar Sang Putri.
"Aku sedang berpikir." Kata Anna. Dia kemudian menyesap tehnya sebelum teh panas itu menjadi teh dingin karena udara di Noord yang selalu dingin membekukan. Anna merapatkan mantel bulunya dan mengusap-usap batu permata ruby di cincinnya. Inti jantung Naga Api Agung menghangatkannya seperti sebuah pelukan.
"Apa yang kau pikirkan?"
Ada banyak hal yang sedang Anna pikirkan hingga Anna tak tahu harus mulai dari mana. Ada banyak sekali hal yang terjadi hari itu. Tentang Elyan yang kini menjadi tanggung jawab Leon—dan Anna sendiri tidak yakin apakah Leon benar-benar bisa merawat anak itu seorang diri, terlebih dengan banyaknya gosip buruk yang mulai beredar tentang 'anak di luar nikah Grand Duke Winterthur' di kalangan para bangsawan. Tentang keputusannya untuk bernegosiasi dengan Haru, padahal Anna sendiri belum sepenuhnya yakin bahwa dia dapat melakukannya. Tentang keputusannya untuk melawan Orient jika mereka menolak negosiasi itu. Tentang kedatangan Jenderal Tyros yang membawakannya buku jurnal milik Xavier sekaligus jepit rambut berisi inti jantung Naga Angin. Tentang permintaannya pada Ludwig. Tentang isi surat Xavier. Dan apa yang Anna lihat di bola mata Aletheia siang tadi.
Ada banyak sekali yang harus dia pikirkan sampai rasanya Anna tak tahu apakah dia akan dapat tidur malam itu.
Anna menoleh ke sampingnya, Leon sedang menunggunya menjawab pertanyaannya. Sepasang mata Hazel itu tak beralih darinya. "Leon... Apa pendapatmu kalau aku menjadikan Westeria sebagai bagian dari Imperial Schiereiland?"
Leon tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. Tapi dia buru-buru mengatur ekspresinya agar terlihat tenang, kemudian menjawab, "Menurutku itu agak ambisius dan tidak seperti dirimu."
Anna mengangguk setuju. "Tapi jika Westeria menjadi bagian dari Imperial, maka Eugene tidak perlu turun takhta. Ini tidak seperti Nordhalbinsel yang merampas paksa Schiereiland setelah membunuh ayahku. Tidak seperti itu."
Leon mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu, Yang Mulia." Dia kemudian mengalihkan pandangannya, menatap ke kejauhan, ke kegelapan malam bersalju di hadapan mereka. Leon meminum tehnya dan menghela napas panjang. "Baiklah... Kau menanyakan pendapatku. Begini pendapatku, jika Ratu Eugene menyetujuinya, kurasa mungkin kau bisa melakukannya. Tapi jika dia tidak setuju—“
"Eugene pasti menyetujuinya." Potong Anna langsung. Dia cukup yakin tentang hal itu. Jika Eugene memang ingin berkeluarga dan memiliki anak, dia tidak boleh menempati takhta Westeria. Namun jika Westeria berada di bawah kekuasaan Imperial Schiereiland, maka kutukan itu tidak akan berlaku lagi pada Eugene tanpa perlu mengusir Eugene dari takhtanya. Dan Anna pun tidak perlu membebani putrinya yang masih bayi dengan tanggung jawab besar. Dengan menjadikan Westeria sebagai bagian dari Imperial Schiereiland, Anna memiliki kuasa untuk meminta beberapa teknisi Westeria untuk membantu Ludwig menyelesaikan proyek Naga Baja.
"Baiklah. Sudah kuputuskan. Aku akan pergi ke Westeria bersama Ibu mertua." Kata Anna.
Leon tidak langsung menanggapi. Dia menghabiskan isi cangkirnya terlebih dahulu, kemudian berkata, "Kapan aku harus mendampingi kalian?"
"Tidak. Bukan kau. Aku akan minta Jenderal Tyros untuk mendampingi kami. Aku punya tugas lain untukmu kalau kau sedang tidak sibuk."
"Selain belajar cara menjadi ayah tunggal yang baik, aku sedang sangat menganggur sekarang. Irene dan asisten-asistenku banyak membantuku dalam mengurus wilayah Winterthur jadi aku memiliki banyak waktu luang."
"Oh, benar. Bagaimana kabar Elyan? Apa kau merasa kesulitan?"
"Dia baik-baik saja. Dia sering menangis, kurasa wajar karena dia berada jauh dari ibunya, tapi ada pengasuh dan ibu susunya di Istana Ratu. Irene juga sudah mulai menyukainya. Dan besok dia akan mulai tinggal di Kediaman Winterthur."
"Itu bagus." Kata Anna. Dia diam sejenak, menimbang-nimbang apakah dia harus memberitahu Leon tentang gosip yang beredar tentangnya atau tidak. Gosip-gosip yang tak sengaja dia dengar sore tadi. Tapi tak ada rahasia di antara mereka, jadi Anna memutuskan untuk memberitahunya. "Apa kau sudah dengar gosip yang beredar hari ini?"
"Gosip apa?"
Anna berdehem, "Grand Duke Winterthur membawa pulang putra dari kekasihnya yang tidak diketahui identitasnya."
Leon tampak kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. "Astaga." hanya itu yang dapat dia ucapkan.
"Kata mereka, kekasihmu itu meminta uang dengan jumlah besar dan sebuah rumah mewah sebagai bayaran karena telah melahirkan putramu. Ada juga yang mengatakan kalau wanita itu adalah wanita bangsawan yang sudah menikah dan kau merayunya. Sebagian mengatakan dia janda miskin yang cantik. Tapi banyak yang percaya kalau wanita itu seorang pelacur. Dan kau tidak mau menikahinya karena itu hanya cinta satu malam."
"Itu sinting! Aku bahkan tidak pernah meniduri siapa pun." Protes Leon.
"Wah, kau tidak perlu memberitahuku soal itu. Kau sebebas pria lajang mana pun di dunia ini. Tapi terima kasih sudah mau jujur padaku."
"Sama sekali tidak. Kau terlihat seperti pria baik-baik yang bahkan bersedia menjadi ayah angkat untuk anak dari wanita yang telah berbuat jahat padamu." Jawab Anna langsung. "Tapi kau populer, Leon. Sangat populer sampai banyak wanita di luar sana yang mengaku sebagai ibu dari Elyan." Jawab Anna. Dia jadi merasa bersalah karena gosip buruk itu menerpa Leon karena Anna lah yang awalnya membujuk Leon untuk membawa Elyan. "Maaf, Leon. Seharusnya aku tahu akan ada banyak gosip seperti ini jika kau membawa Elyan ke tempatmu—“
Leon segera memotong perkataannya, "Aku sama sekali tidak masalah dengan gosip-gosip itu, Yang Mulia. Aku bisa mengabaikannya. Tapi anak itu... Kuharap Elyan tidak mendengarnya. Itu mengerikan sekali untuknya."
Anna mengangguk setuju. Kurang lebih dia paham kenapa Leon mengkhawatirkan Elyan. Leon pernah berada di posisi itu. Seorang anak tanpa orang tua yang dibawa ke Istana oleh Sang Raja dan dijadikan sebagai anak angkatnya sebelum Ratu melahirkan seorang pewaris.
Tanpa menoleh ke arah Anna dan hanya menatap kosong ke depan seolah dia sedang melihat masa lalu, Leon melanjutkan kata-katanya, "Sewaktu aku masih kecil, sempat beredar juga gosip mengenai ibu kandungku karena Raja Edward tidak memberitahu siapa pun tentang siapa orang tuaku yang sebenarnya. Gosip-gosip serupa seperti aku adalah anak haramnya Raja. Anak seorang pelacur yang tidur dengan Raja. Untungnya aku tak terlalu mengambil hati perkataan mereka. Dan Raja Edward menjelaskan padaku bahwa ibu dan ayahku adalah orang-orang terhormat, pahlawan yang mati di medan perang, yang berjasa untuk Schiereiland dan merupakan dua orang yang melindunginya. Jadi sejak itu aku bisa mengabaikan gosip-gosip itu."
Leon tak pernah menceritakan hal itu sebelumnya pada Anna, tapi tanpa diceritakan pun Anna tahu Leon selama ini merasa kesulitan di Istana karena orang-orang tidak tahu tentang orang tua kandungnya. Dan saat mendengar Leon akhirnya bersedia menceritakan semua itu padanya Anna tak tahu bagaimana cara menanggapinya. Jadi dia melakukan apa yang biasa Xavier lakukan padanya jika dia merasa sedih dan kalut. Anna memancarkan kehangatan dari inti jantung Naga Api Agung yang ada di cincinnya pada Leon untuk memberinya kenyamanan.
Dan Leon pun segera menyadarinya karena rasanya seperti ada yang mendekapnya. Dia menoleh ke arah Anna seolah bertanya tanpa bersuara. Leon segera mendapatkan jawabannya saat melihat cincin permata ruby di jari Anna tampak menyala terang.
"Wah... terima kasih, Yang Mulia. Tapi tolong jangan membuatku berdebar. Aku tidak ingin salah paham." Kata Leon sambil mengalihkan wajahnya yang memerah.
Anna segera menghentikannya, menarik kembali pancaran kehangatan itu. Dia kemudian mengalihkan pembicaraan agar situasi di antara mereka tidak menjadi canggung, "Kau tidak mau memberitahu siapa pun tentang kebenarannya? Bahwa dia bukan benar-benar anakmu dan bahwa dia adalah anak dari Eleanor dengan kekasihnya?"
"Itu tidak perlu. Di negeri ini tidak banyak hal yang dapat dilihat selain salju dan es. Para penggosip itu hanya bosan makanya membuat hiburan sendiri dengan bergosip. Nanti juga mereka akan bosan dengan gosip itu jika aku mengabaikannya. Aku tidak akan membiarkan Elyan tahu tentang orang tua kandungnya. Jadi hanya kau dan Irene saja yang tahu." Kata Leon.
"Aku sangat bangga padamu, Leon." Anna tersenyum padanya. "Awalnya aku tidak yakin apakah kau benar-benar mampu membesarkan anak yang sama sekali bukan anakmu. Anak yang dilahirkan oleh orang yang kau benci yang telah membuatmu hidup abadi. Tapi sekarang aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik."
Leon tak bisa menahan senyumnya mendengar pujian itu, "Biasa saja. Aku memang sudah biasa membuatmu bangga."
Anna memutar bola matanya. "Kau harus berhenti menyombongkan diri seperti itu, Grand Duke."
Leon tertawa mendengar nada bicara itu. "Jadi... tugas apa yang kau ingin aku lakukan, Yang Mulia?"
Anna berdehem sebelum memulai, "Aku ingin kau membawakanku salah satu Pelacak Naga dari Orient yang bernama Eri. Dan jangan sampai ada yang tahu."
"Apa aku boleh membawa serta pasukan serigala?" Tanya Leon langsung. Dia sama sekali tidak mengenal para Pelacak Naga Orient yang dikenal dengan sebutan Torakka itu, dia hanya pernah mendengar tentang mereka. Jadi tugasnya akan sedikit sulit jika dia harus mencarinya sendiri. Para Serigala akan bisa melacak aroma orang yang dia cari, dan itu akan memudahkan tugasnya.
"Tentu saja. Tapi jangan sampai dia disakiti." Kata Anna.
"Aku mengerti." Kata Leon. "Satu hal lagi..."
"Apa?"
Leon tidak langsung mengatakannya. Untuk sesaat dia tampak ragu apakah harus menanyakannya atau tidak. Tapi dia terlalu penasaran untuk bisa menahan pertanyaannya itu. "Siang tadi, saat aku membawa Aletha di tanganku dalam ruang rapat. Apa yang kau lihat di sana?"
"Apa maksudmu?" Tanya Anna, setengah berharap Leon tidak pernah menanyakannya. Karena dia sendiri masih belum yakin pada apa yang dia lihat di bola mata Aletheia itu. Dan kebenaran di dalamnya terasa sulit untuk dipercayai, namun di saat yang sama, dia ingin mempercayainya.
"Aletha memberitahukan sebuah kebenaran tersembunyi pada siapa pun yang melihatnya. Apa yang kau lihat?"
"Tidak banyak. Tidak ada yang spesifik." Dusta Anna. Dia bahkan tak bisa menatap Leon saat mengatakan itu. Karena dia memang melihat sesuatu di sana. Lebih tepatnya, dia melihat rangkaian kejadian yang tidak dia ketahui sebelumnya.
Leon menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menaikkan sebelah alisnya, menuntut kejujuran. "Kau sangat tidak pandai berbohong."
Anna menghela napas. Tahu bahwa suatu saat dia harus memberitahu Leon. Namun saat itu bukan saat yang tepat. Ada terlalu banyak hal untuk dipikirkan dan dikerjakan. "Aku akan memberitahumu nanti." Janji Anna. Tapi kemudian dia bertanya, "Leon, apa kau tahu tentang Jam Pasir Grimoire? Apa benda itu ada di Kediaman Winterthur?"
"Aku pernah mendengarnya." Leon mengakui. Dia ingat tentang jam pasir milik Lilacier Grimoire yang dicuri oleh Raja Edward dan digunakannya untuk menyelamatkan Irene dari kematiannya di medan perang, tapi sampai saat itu pun Leon belum pernah melihat jam pasir itu. "Tapi kurasa benda itu tidak ada di Kediaman Winterthur. Kata Eleanor, benda itu hilang entah di mana. Memangnya ada apa dengan benda itu?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya... penasaran." Jawab Anna.
Dan Leon pun mengerti bahwa Anna tidak akan mengatakan alasan sesungguhnya di balik pertanyaan itu. "Baiklah. Sebaiknya aku kembali sekarang sebelum ada gosip lainnya lagi. Selamat malam, Yang Mulia." Kata Leon, kemudian dia menghilang dari hadapan Anna.
Setelah Leon pergi, Anna hanya duduk di samping ranjang bayi Vierra sambil membelai putrinya itu dengan lembut dan menggumamkan lagu penghantar tidur yang dulu sering dinyanyikan ibunya. Namun benaknya berkelana, kembali mengingat-ingat kejadian siang tadi saat Leon datang ke ruang rapat membawa bola mata Aletheia.
Aletha memang memperlihatkan sesuatu padanya. Dan Anna tidak bisa berhenti memikirkannya.
Dan mungkin jam pasir yang menghilang itu memang masih ada dan menjadi jawaban dari semua pertanyaannya.
***