
Leon mengambil alih tugas-tugas Anna untuk sementara sampai kondisi Anna cukup memungkinkan untuk mengurusi Imperial. Dan dikarenakan khawatir urusan Imperial dapat membuat Anna semakin stres, Leon akhirnya mengirim Anna dan Irene ke Istana Anastasia di Eze untuk berlibur dan beristirahat sampai hari kelahiran. Para Selir Raja Vlad turut serta untuk menemani Anna selama di Eze.
Namun saat berada di Eze pun Anna kembali bermimpi buruk. Terkadang dia berjalan sambil tidur dan ditemukan oleh Irene telah berada di tepi pantai sebelum Anna benar-benar menenggelamkan diri ke lautan. Irene juga memerintahkan para pelayan di Istana Anastasia untuk menyembunyikan semua benda tajam karena Anna mungkin akan mengambilnya untuk mengakhiri hidupnya, sadar atau tidak.
Setelah minggu pertama berlalu, kondisinya berangsur membaik. Berkat Irene dan para selir yang selalu menemaninya dan mengajaknya bicara, Anna mulai membuka diri untuk membicarakan kesedihannya. Mereka berduka bersama dan berusaha saling menyemangati. Kasih sayang Irene dan para selir mengobati luka hatinya. Irene selalu mengajaknya bicara siang dan malam agar Anna tidak sibuk dengan kemuramannya sendiri.
Untuk menemani Anna selama di Eze, Irene juga memanggil Constanza dan Ludwig. Pasangan Grand Duchess dan Grand Duke Smirnoff itu menginap selama dua hari di Istana Anastasia namun tidak bisa tinggal lebih lama karena kesibukan mereka. Kedatangan Constanza dapat sedikit menghibur Anna karena Constanza adalah satu-satunya kerabatnya yang masih hidup yang sudah mengenalnya sejak kecil. Namun sebelum Constanza dan Ludwig kembali ke rumah mereka, Anna meminta untuk bicara berdua dengan Ludwig.
Selama beberapa saat keduanya hanya saling terdiam. Ludwig masih tak percaya dengan kematian kakaknya, tapi di saat yang sama, dia sudah merelakannya.
Berbeda dengan Ludwig, Anna masih belum bisa merelakannya.
"Dia akan jauh lebih tenang jika kau dalam keadaan sehat." Ludwig memecah keheningan di antara mereka.
"Apa aku tidak kelihatan sehat?"
"Sama sekali tidak." Jawabnya dengan jujur, "Kau seperti mayat hidup. Kurus, pucat dan tampak tak berenergi."
"Aku tidak bisa tidur."
"Kau mau aku memberimu Bloody Berry lagi? Kupikir Grand Duke Winterthur sudah—“
"Bukan. Aku memang ingin meminta bantuanmu, tapi bukan itu."
"Dengar," Ludwig menghela napas, "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku sudah curiga karena kau meminta bicara denganku tanpa Constanza. Aku memang memiliki kemampuan sihir di atas rata-rata penyihir pada umumnya, aku juga mengenal sihir hitam sebaik ibuku, tapi membangkitkan kembali orang yang sudah mati itu—“
"Bukan itu." Potong Anna langsung. "Aku tidak memintamu menghidupkan dia kembali. Aku tahu itu tindakan yang salah."
"Lalu apa?"
"Kau ingat murid sihir yang dekat denganmu yang membuat Constanza cemburu saat di menara sihir Schere dulu?"
Ludwig mengangguk, "Feyna."
"Benar. Aku ingin kau memanggilkannya untukku. Aku membutuhkannya."
...****************...
"Kota ini adalah tempat kencan pertama kami." Kata Anna di suatu sore, saat dia dan Irene sedang berjalan-jalan berdua di tepi pantai. Sementara itu para selir berada di Istana Anastasia, bekerja sama untuk membuat macaron kesukaan Anna untuk dia nikmati usai jalan-jalan nanti.
Cuaca hari itu sedang sangat bagus di Eze. Anginnya tidak terlalu kencang, namun cukup untuk menyegarkan diri. Langit sore berwarna jingga dengan daun-daun berguguran dari pepohonan di sekitar mereka berwarna merah terang dan laut yang membentang di hadapan mereka berwarna biru jernih dengan pasir pantai yang berwarna putih. Pemandangan minggu terakhir musim gugur di Eze memang terkenal sangat indah dan tak bisa disamakan dengan keindahan di mana pun di seluruh dunia. Cuaca dan suasana di sana sangat tepat untuk memperbaiki suasana hati yang sendu.
Irene turut menikmati pemandangan itu meski tujuan awalnya hanya untuk menghibur hati Anna. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah Xavier pernah mengajak Anna untuk menikmati pemandangan indah itu? Tempat apa saja yang mereka datangi saat itu dan bagaimana perasaan putranya waktu itu?
Irene bahkan tak perlu bertanya, dia yakin sekali saat itu Xavier sangat bahagia bisa berkencan dengan wanita yang dia cintai di tempat seindah Eze.
"Sebenarnya bukan benar-benar kencan." Lanjut Anna, "Kami sedang dalam misi untuk mengumpulkan para bangsawan Schiereiland untuk merebut kembali negeri kami. Tapi aku merasa itu seperti kencan pertama kami."
Irene memperhatikan saat Anna tersenyum dan merona mengingat kembali saat-saat itu. Ada perasaan hangat mengaliri hatinya saat melihat Anna tersenyum seperti itu.
"Kalian pergi ke mana saja saat itu?" Tanya Irene, memancing Anna untuk bercerita lebih banyak lagi. Mengingat masa lalu yang indah jauh lebih baik daripada terus-terusan berduka.
"Kami berjalan-jalan di pusat kota Eze. Ada banyak pertokoan di sana."
"Kalian berdua saja?" Tanya Irene lagi. Dia memang tidak pernah berjalan-jalan berdua dengan mendiang suaminya, tapi dulu saat dirinya masih menjadi Jenderal di Schiereiland, dia pernah berkencan dengan Kris—ayahnya Leon—di sela kesibukan mereka. Jadi dia tahu rasanya menghabiskan waktu berdua saja dengan orang yang dia cintai.
"Tidak. Kami tidak berdua saja." Jawab Anna. "Kami di kawal oleh banyak sekali pengawal."
Irene mengangkat sebelah alisnya, "Apa dia memberimu bunga hari itu?"
Anna menggeleng, "Tidak. Tapi demi misi kami hari itu, kami memborong gaun dan perhiasan."
"Gaun dan perhiasan?" Tawa Irene. "Kau sudah punya banyak."
"Aku juga punya banyak bunga di tamanku. Jadi kurasa dia tak perlu memberiku bunga." Anna membela Xavier.
"Baiklah..." Irene mengalah. "Jadi, apa kalian makan malam bersama saat itu?"
"Hampir." Anna mengingat-ingat kembali saat itu. Mereka memang seharusnya datang ke Restoran Blue Diamond milik Constanza untuk makan malam bersama sambil menemui Constanza dan memintanya untuk bergabung dengan pasukan mereka untuk merebut kembali Schiereiland. Tapi sebelum mereka sampai di Blue Diamond, Xavier terkena anak panah beracun yang ditembakkan oleh Constanza sendiri. Anna mengenyahkan ingatan buruk itu dari pikirannya dan melanjutkan perkataannya, "Tidak. Kami tidak jadi makan malam bersama hari itu."
Irene bersungut-sungut, "Lalu, apa yang dia lakukan? Apa dia terus menggenggam tanganmu sepanjang perjalanan kalian dan tidak mau melepasnya?"
"Astaga! Tidak." Katanya langsung. Wajahnya memerah malu. "Kami belum menikah saat itu. Rasanya tidak pantas berpegangan tangan di depan umum. Kami bahkan bukan sepasang kekasih saat itu. Tapi kami berjalan berdampingan. Dan... oh, dia memang menggenggam tanganku. Saat itu aku merasa sedikit pusing dan hampir terjatuh jika saja dia tak memegangiku."
Irene menghela napas panjang, tangannya memijat pelipis sambil memejamkan mata. Dia menggeleng tak percaya dan menatap Anna dengan prihatin, "Kalian belum pernah berkencan dengan siapa pun sama sekali sebelumnya, ya?"
"Aku memang belum pernah berkencan dengan siapa pun sebelumnya, tapi aku tak tahu kalau Xavier—“
"Tidak." Potong Irene langsung. "Dia juga belum pernah sama sekali. Maksudku, dengan Eleanor dia hanya berpura-pura jadi sebenarnya dia juga tak punya pengalaman mengencani siapa pun. Jadi tolong maklum kalau dia sangat canggung saat itu." Irene kembali menghela napas. "Jadi saat kencan pertama itu... kalian tidak berdua saja, dia tidak memberimu bunga, kalian tidak makan malam bersama, dia juga tidak menggenggam tanganmu. Kencan macam apa itu? Astaga. Ini semua salahku. Aku tak pernah mengajarinya apa pun. Tolong salahkan aku saja."
Anna tersenyum. Meski Irene berkata seperti itu, nyatanya dia masih mengingat hari itu sebagai salah satu kenangan manisnya. "Aku menikmati kencan hari itu. Itu pertama kalinya aku berkencan dengan seseorang, pergi berjalan-jalan di pusat kota dan menikmati suasana kota. Dia membuatku merasa nyaman sehingga itu tak terasa seperti sebuah misi." Kenang Anna. Tapi kemudian dia teringat pada apa yang terjadi usai 'kencan' mereka hari itu. "Jika saja akhirnya tidak seperti itu... Di akhir hari itu, dia tertembak panah racun Morta demi mendapatkan kepercayaan pasukan pemanah Red Queen. Saat itu..." Dia berhenti sesaat. Irene menanti kata-kata lainnya keluar dari mulut Anna. "Saat itu aku menyadari bahwa aku tidak ingin dia mati. Aku ingin dia terus hidup. Saat itu aku menyadari bahwa aku ingin hidup bersamanya seperti kehidupan kami yang lalu, dan... Dan aku mungkin akan merasa hancur jika dia mati."
Irene memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Anna yang kembali menjadi muram. Kata-katanya begitu aneh di telinganya. Anna mengatakan 'jika dia mati' seolah Xavier memang belum mati. Seolah itu adalah hal yang belum terjadi.
Tapi Irene tak membahasnya lebih lanjut. Dia ingin Anna bicara lebih banyak lagi dan mengingat-ingat hal yang baik. Jadi Irene memancingnya untuk bercerita kembali.
"Di mana kencan kedua kalian?" Tanyanya setelah jeda panjang di antara mereka.
Anna terdiam, tampak mengingat-ingat kembali. "Sebenarnya, kami hampir tak pernah berkencan. Kecuali..." Anna mengingat-ingat kembali semua hari-hari yang telah dia lewati bersama Xavier. "Oh! Aku ingat. Kencan kedua kami adalah saat kami sedang dalam misi di Orient."
Irene mendengus, "Misi lainnya. Jadi itu bukan kencan sungguhan."
...****************...
Shina, Orient
Sehari sebelum Festival Seribu Bintang...
Malam itu, saat orang-orang di Shina sudah terlelap karena harus bangun pagi-pagi sekali esok hari untuk mempersiapkan festival Seribu Bintang, Xavier merubah wujud menjadi Naga dan mengajak Anna terbang dari Jungdo ke Shina. Tidak butuh waktu lama, dalam hitungan menit mereka sudah sampai di kota perbukitan itu yang letaknya sangat jauh dari Jungdo.
Suasana malam di Shina sangat berbeda dengan suasana pagi hari. Jika di pagi hari Shina yang terletak di atas perbukitan tampak dikelilingi kabut, suasana malamnya jauh lebih indah. Hamparan cahaya dari kota-kota di sekitar perbukitan membuat pemandangan dari ketinggian itu tampak tidak nyata. Seperti ada lautan kunang-kunang di bawah kaki mereka. Udaranya sejuk, namun tidak dingin membekukan seperti udara malam di Nordhalbinsel. Anna memang masih belum terbiasa dengan udara dingin, tapi keberadaan Xavier di sampingnya, tangan Xavier yang menggenggam tangannya, membuat udara di sekitarnya entah bagaimana menjadi lebih hangat.
Xavier baru saja menceritakan apa yang dengan sengaja dia dengar dari obrolan salah satu pelanggan mereka di kedai Dong-gung siang tadi. Lalu Xavier segera mengajaknya terbang ke Shina.
"Jadi, maksudmu... Reina sedang membuat sebuah kendaraan bersenjata?" Tanya Anna sambil masih membiarkan Xavier memimpin jalan.
Mereka berada di jalanan pedesaan. Jika saja malam belum terlalu larut, Anna yakin dapat melihat pedesaan ini dipenuhi oleh para penduduk yang keluar dari rumah mereka untuk bercengkerama bersama tetangga mereka. Namun tempat itu begitu sepi karena semua orang sudah terlelap. Hanya terdengar suara serangga malam dan suara air sungai mengalir yang begitu menenangkan seperti lagu penghantar tidur. Aroma tanah yang basah serta aroma bunga-bunga liar entah bagaimana terasa menyenangkan. Dan meski semua orang sudah tertidur, lampu-lampu rumah penduduk dan lampu jalanan masih menyala sehingga suasananya tak begitu gelap.
Di atas langit, bulan bersinar penuh dan dikelilingi bintang yang tak terhitung jumlahnya. Langit malam di Orient memang tak seajaib langit malam di Nordhalbinsel dengan Cahaya Utaranya. Tapi ada sesuatu yang begitu indah dari pemandangan malam hari yang sunyi malam itu. Ada sesuatu yang damai dan menenangkan tentang suara angin yang menerbangkan dahan-dahan, air sungai yang mengalir lembut, serta suara langkah kaki mereka di antara semuanya.
"Semacam itu lah." Jawab Xavier. "Meski aku tak tahu persis seperti apa itu. Paling tidak begitulah yang kudengar dari salah satu pelanggan siang tadi. Menurut Shuu, dia sepertinya seorang teknisi mesin dari Westeria yang sudah lama tinggal di Orient untuk bekerja dengan Ibu Suri. Dia menggunakan bahasa Westernia saat bicara dengan rekannya yang orang Orient."
Anna mengangguk-angguk mengerti. "Jadi kita ke Shina untuk memata-matai Reina? Karena Sang Ibu Suri lebih sering mendatangi Istana Matahari di Shina?"
"Bukan..." Kata Xavier sambil menggenggam tangan Anna dan menuntunnya untuk berjalan bersamanya masuk menuju sebuah tempat yang dari luar tampak seperti rumah penduduk pada umumnya. Tapi letak rumah itu terlalu jauh dari letak rumah lainnya. Anna tak yakin ada orang yang tinggal di dalam sana. "Kita ke sini untuk makan malam." Lanjutnya.
"Makan malam?" Ulang Anna, ragu dengan pendengarannya sendiri. Dia memang belum makan apa pun malam itu karena mereka sama-sama sibuk di Dong-gung. Mengelola kedai sambil mencari informasi sebanyak-banyaknya dari para pelanggan. Anna menatap Xavier yang kini telah melepas cincin sihir transformasinya. Tanpa sadar dia tersenyum. Dia merindukan wajah yang familier itu. Anna ikut melepas cincinnya dan kembali pada wajahnya sendiri. "Makan malam sambil memata-matai Reina?" tanyanya, memastikan.
Saat mengatakan itu, mereka sudah memasuki bangunan yang awalnya Anna kira adalah rumah tak berpenghuni.
Anna salah. Itu bukan rumah. Itu sebuah restoran.
"Benar. Tapi itu nanti saja kita lakukan. Untuk sekarang, yang paling utama adalah makan malamnya. Ada menu khusus yang ingin kau pesan?" Kata Xavier.
Anna begitu terkesima pada apa yang ada di hadapannya sehingga tak ingat cara menjawab pertanyaan Xavier. 'Rumah tak berpenghuni' itu memiliki desain interior khas istana-istana Orient. Namun di dalamnya juga terdapat taman dalam ruangan berisi beraneka bunga dan pohon sakura, lengkap dengan anak sungai kecil yang mengalir di antara lantai-lantai kayu. Saat Anna mendekat ke 'anak sungai' dalam ruangan itu, barulah Anna mengetahui bahwa sungai itu benar-benar asli, namun mereka memasangkan kaca di atasnya sehingga Anna tak perlu melompatinya atau menyeberanginya. Anna berjalan di atas kaca tebal itu sehingga rasanya dia berjalan di atas air sungai yang mengalir. Anna bahkan dapat melihat ikan-ikan kecil karena airnya begitu jernih.
Selesai mengagumi lantainya, kini Anna menatap lurus ke depan. Dan pemandangan di depannya jauh lebih menakjubkan lagi.
Tidak ada dinding yang menutupi bagian belakang restoran itu. Bagian belakangnya dibiarkan terbuka sehingga Anna dapat langsung melihat barisan pegunungan, pilar-pilar batu yang menjulang tinggi. Di antara pilar-pilar batu itu, sungai mengalir. Cahaya bulan yang memantul di sungai itu membuatnya terlihat seperti perak cair yang mengular dari kaki gunung, melewati pilar-pilar batu hingga ke sungai yang ada di desa itu. Dan tak jauh dari sungai-sungai itu, lautan cahaya keemasan menyala bagaikan ribuan kunang-kunang. Butuh waktu beberapa detik bagi Anna untuk menyadari bahwa cahaya-cahaya itu berasal dari lampu-lampu dan lampion yang dipasang untuk persiapan Festival.
Saat Anna menoleh ke sampingnya, Xavier sedang memandanginya sambil tersenyum. "Kau menyukai pemandangannya?" Tanyanya.
"Kenapa?" Tanya Anna. Karena pertanyaan itu begitu ambigu, Anna kembali bertanya, "Kenapa kita ke sini?"
"Aku ingin membuatmu terkesan." Jawab Xavier dengan jujur. "Restoran ini hanya menyediakan tempat untuk satu reservasi dari satu orang. Reina biasa memesan tempat di sini untuk bertemu dengan rekan-rekannya karena tempatnya sangat privat dan eksklusif. Mungkin Istana tidak memberinya cukup privasi. Aku mencari tahu lebih lanjut tentang restoran ini, dan ternyata malam ini tidak ada reservasi atas nama siapa pun, jadi aku memesan untuk kita."
Xavier kemudian menuntunnya menuju meja mereka di dekat balkon yang menyuguhkan pemandangan tercantik di sana.
Saat Anna memperhatikan lagi, ternyata Xavier tidak begitu saja percaya pada orang-orang Orient. Xavier mengganti koki serta pelayan yang ada di sana dengan orang-orang Nordhalbinsel. Para pengawal juga sudah ditempatkan secara tersembunyi di beberapa sudut ruangan. Salah satu pengawal itu menunduk hormat padanya saat Anna melihatnya. Semua yang ada di sana adalah orang-orang kepercayaan Xavier.
"Aku sudah terkesan, kok. Sungguh." Kata Anna setelah duduk. "Kau membangun tiruan Istana Dong-gung di Orient untuk tempat tinggal kita selama memantau Reina dan Haru. Aku tak tahu kau tahu dari mana bahwa aku sempat iri pada Diana yang asli, tapi kau berhasil mewujudkan impianku untuk merasakan kehidupan sederhana sebagai pemilik kedai di Orient. Tidak semua orang bisa melakukan hal semenakjubkan itu. Terima kasih banyak."
"Tidak. Itu belum cukup." Kata Xavier.
Dia kemudian memberi isyarat pada pelayan untuk membawakan makanan yang sudah dia pesan. Para pelayan membawakan makanan terlezat dari berbagai negara. Rusa bakar khas Nordhalbinsel, sup krim dan daging sapi asap khas Schiereiland, Kue keju manis khas Westeria dan buah-buahan segar yang hanya tumbuh di Orient serta arak dan kue lotus khas Orient.
"Apa kau tahu, di Orient, memberi makanan adalah tanda cinta." Kata Xavier. Mata emeraldnya sedang mengamati ekspresi Anna yang kini tampak tersipu malu. "Aku ingin membuatmu tidak sekedar terkesan padaku, tapi juga menyukaiku." lanjutnya.
"Xavier, aku—“
"Tolong jangan tolak aku sekarang." Potongnya langsung. "Aku bahkan belum menyatakan perasaanku dengan benar. Nikmati saja dulu makan malamnya. Aku tidak akan terburu-buru denganmu. Aku tahu butuh proses panjang untuk bisa mendapatkan hatimu. Dan aku akan menunggu dengan sabar."
"Xavier..."
"Aku mengerti. Akan sangat sulit bagiku, Aku hampir takkan punya peluang, tapi aku tidak akan menyerah. Tak masalah jika butuh waktu bertahun-tahun sampai kau bisa merasakan apa yang kurasakan terhadapmu, aku akan berusaha terus dan menunggu sampai kau menyukaiku."
"Aku memang sudah menyukaimu." Kata Anna langsung saat Xavier akhirnya berhenti memotong perkataannya. Tapi dia mengatakannya dengan sangat cepat sehingga Xavier tak benar-benar menangkap perkataannya itu.
"Tentu saja kau—tunggu..." Xavier terdiam sesaat ketika menyadari apa yang barusan Anna katakan. Anna berpura-pura sibuk dengan makanannya untuk mengenyahkan rasa berdebar yang dia rasakan dan wajahnya yang tersipu. "Apa? Apa tadi yang kau katakan?"
"Makanannya enak. Aku suka." Kata Anna. "Xavier, kau harus mencoba sup krim ini. Bahkan koki di Istanaku tak pernah membuat sup krim seenak ini."
"Tidak, bukan itu. Tadi kau tidak mengatakan itu."
Anna tak bisa menahan senyumnya. Dia kemudian beralih ke pemandangan di samping mereka. "Pemandangannya cantik sekali." Kata Anna. Dia kemudian kembali menatap Xavier. "Aku suka."
"Anna..."
"Dari mana kau tahu tempat seindah ini?" Tanyanya langsung.
"Dari Shuu." Jawab Xavier. "Shuu yang memberitahuku bahwa Reina sering datang ke sini tanpa sepengetahuan siapa pun."
"Reina memiliki selera yang bagus." Anna memuji.
"Kau mengalihkan topik." Kata Xavier.
"Dan aku berhasil." Kata Anna sambil tersenyum cerah. Membuat malam itu menjadi lebih indah bagi Xavier.
"Benar. Kau berhasil." Kata Xavier sambil ikut tersenyum saat melihat senyuman Anna. "Baiklah... Kau berhasil."
...****************...