The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 3 : The Reyes



Keesokan harinya, Ratu Eugene mengajak Anna untuk berjalan-jalan berkeliling Istana Wisteria. Meski Anna tahu Eugene melakukan itu atas permintaan Xavier untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian di Montreux dan Schere, Anna tetap menghargai usaha itu dengan menerima ajakan Eugene.


Istana Wisteria tidak sebesar Istana Schiereiland, tidak pula semewah Istana Nordhalbinsel. Tapi Istana Wisteria sangat indah dan unik. Mitos mengatakan bahwa Istana itu dibangun oleh raja peri yang jatuh cinta pada ratu Westeria terdahulu. Sedangkan legenda mengatakan bahwa Istana itu dibangun oleh Naga Bumi sebagai tanda persahabatan dengan umat manusia. Sedangkan kepercayaan di Westeria menyebutkan dalam kitab-kitabnya bahwa Dewi Langit yang membangun Istana tersebut untuk anaknya kelak. Tak satu pun dari cerita-cerita itu yang diragukan kebenarannya.


Anna begitu mengagumi setiap sudut dan ruang yang ada pada Istana Wisteria hingga pikirannya dapat sedikit teralih dari kecemasannya terhadap kondisi di Montreux dan Schere. Eugene begitu ahli memandu Anna dan menjelaskan setiap ruangan, setiap ukiran, setiap patung dan lukisan, juga setiap tanaman yang ada di sana sehingga Anna begitu terhanyut dalam acara jalan-jalan itu dan tidak merasa lelah sama sekali.


Saat mereka sampai di aula utama Istana Wisteria, Anna melihat langit-langitnya dipenuhi bunga-bunga Wisteria yang bermekaran berwarna ungu dan merah muda. Anna begitu takjub mengamati ruangan yang penuh dengan bunga Wisteria itu.


"Banyak sekali Wisteria yang bermekaran di Istana ini." Kata Anna dalam bahasa Westernia, bahasa resmi Westeria. Meski Anna tahu Eugene mengerti bahasanya, Anna ingin menghormati Ratu muda itu dengan menggunakan bahasa Westernia selama dia berada di Westeria.


"Itulah sebabnya Istana kami disebut Istana Wisteria." Kata Eugene.


"Kudengar orang-orang Westerian dapat mengerti bahasa bunga." Kata Anna yang kini sedang memandangi keindahan saat bunga-bunga Wisteria berjatuhan dari langit-langit, menjadi hujan kelopak bunga Wisteria, seperti hujan berwarna ungu dan merah muda. "Benar kah itu?" Tanyanya.


Eugene tersenyum ramah, "Bukan mengerti bahasa bunga, melainkan kami memiliki makna untuk setiap bunga."


"Lalu apa makna bunga Wisteria?"


"Bunga Wisteria memiliki arti 'keabadian dan umur panjang' karena umurnya dapat mencapai seribu tahun. Mungkin itu juga sebabnya Wisteria disebut sebagai The Flower of Eternity, Bunga Keabadian. Atau dalam bahasa kami, La Flor de La Eternidad. Beberapa pujangga mengatakan bahwa bunga Wisteria juga memiliki arti yang romantis seperti 'mabuk karena cintamu' atau 'tidak akan pernah terpisahkan' seolah menggambarkan pasangan abadi yang tak terpisahkan."


"Romantis sekali. Aku tak tahu bunga cantik ini memiliki makna yang sangat indah."


"Tapi tahukah kau bahwa ada makna lain dari bunga Wisteria yang tak banyak diketahui orang?"


"Apa itu?"


"Dikarenakan semua bagian dari bunga ini beracun, maka Wisteria bisa juga diartikan sebagai 'Incapaz de ser curado'."


Anna terdiam mendengar kata-kata itu. Incapaz de ser curado. Tidak dapat disembuhkan. Entah bagaimana saat mendengarnya, dia langsung memikirkan Xavier. Dia sangat takut jika Xavier tidak dapat sembuh dan akan terus menderita akibat racun itu selama sisa hidupnya. Dan jika mereka memang diberkahi usia yang panjang, jika mereka akan menua bersama, alangkah menderitanya hidup dalam siksaan racun itu dalam waktu yang lama.


Meski Anna tahu Ludwig sedang berusaha membuat penawar racunnya dan terus mengabarinya mengenai perkembangan penelitiannya secara rahasia, Anna belum menerima kabar baik belakangan ini dari adik iparnya itu.


Dan saat ini, saat Xavier berada jauh darinya di Montreux, Anna khawatir jika racun itu kembali menyerang Xavier dan tak ada yang bisa menolongnya. Sedangkan hanya Anna yang dapat menghilangkan rasa sakitnya dan menghentikan efek racun itu padanya.


"Aku tidak suka makna yang itu." Kata Anna akhirnya setelah lama terdiam.


"Karena Raja Xavier sedang sakit?" Kata Eugene sambil termenung. Anna hanya menatapnya, karena tak tahu dari mana Eugene tahu tentang hal itu. "Maaf. Aku seharusnya tidak tahu, ya? Tapi salah satu pengawalku, Theana, berasal dari Klan Ortiz."


"Pemilik mata Sapphire?"


Eugene mengangguk. "Klan Ortiz memiliki keistimewaan yaitu dapat membaca pikiran. Theana tanpa sengaja membaca pikiran Raja Xavier saat beliau berkunjung ke sini beberapa minggu yang lalu atas permintaanku. Dari Theana lah aku tahu bahwa Raja Xavier sedang sakit saat datang ke sini. Kata Theana, Raja Xavier menahan rasa sakitnya sampai akhir kunjungannya. Dan saat beliau akan pulang, Theana melihatnya memuntahkan darah."


Anna tidak tahu bahwa Xavier sempat pergi ke Westeria beberapa minggu yang lalu. Anna ingin bertanya apa yang Xavier lakukan dalam kunjungan rahasianya ke Westeria, namun karena dia kini percaya bahwa Xavier tidak akan menyembunyikan rahasia lagi darinya, Anna mengurungkan niatnya. Jika itu sesuatu yang penting yang harus dia ketahui, Xavier pasti akan memberitahunya nanti.


"Itu bukan penyakit." Kata Anna akhirnya. "Dia terkena racun sihir mematikan. Dan Pangeran Ludwig masih berusaha membuat penawar racunnya."


"Astaga! Aku sama sekali tak tahu. Karena beliau menyembunyikannya dengan sangat baik. Racun sihir mematikan? Tidakkah itu sangat berbahaya? Bagaimana bisa dia bertahan hidup setelah terkena racun seperti itu? Adakah yang dapat kulakukan untuknya? Westeria memiliki banyak sekali tanaman obat. Jika Pangeran Ludwig membutuhkan bahan herbal untuk membuat penawar racunnya, beliau dipersilahkan melakukan penelitian di Westeria."


"Terima kasih banyak. Aku akan menyampaikannya pada Pangeran Ludwig."


Mereka pun melanjutkan perjalanan ke ruangan lainnya. Namun kali ini Anna dihantui kekhawatiran bahwa Xavier mungkin saat ini sedang kesakitan akibat efek racun itu dan tidak ada yang mengetahuinya. Tidak ada yang membantunya mengatasinya dan Xavier tidak akan memberitahu siapa pun dan hanya akan menahan rasa sakitnya sendiri.


Ratu Eugene melihat perubahan sikap itu pada Anna dan tahu bahwa Anna sedang mengkhawatirkan Xavier. Jadi Ratu Eugene menghentikan langkahnya dan menggenggam tangan Anna, "Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja. Percayakan padanya."


Anna mengangguk. "Terima kasih."


"Maaf kalau aku menambahkan beban pikiranmu. Kudengar stres tidak baik untuk wanita hamil." Eugene kemudian menatap ke arah perut Anna. "Boleh aku memegangnya?"


Anna tersenyum, "Silahkan."


Dengan ragu dan sangat hati-hati, Eugene meletakkan tangannya di perut Anna dan merasakan gerakan dari bayi di dalamnya. "Dia bergerak." Katanya. Saat mengatakan itu, matanya berkaca-kaca. "Dia aktif, ya..."


"Dia sedang aktif. Dia tahu aku sedang memikirkan ayahnya."


"Apa kalian sudah menyiapkan nama?"


"Tapi itu hal yang wajar, bahkan di Westeria, bagi seorang pewaris takhta menggunakan nama orang tuanya. Ibu dari Ratu Elizabeth—Ratu sebelum aku—bernama Elizabeth juga." Eugene kemudian terdiam sesaat, "Jadi... anak perempuan?"


Anna mengangguk antusias, "Seorang peramal memberitahu Xavier. Ceritanya panjang."


Eugene terlihat turut senang, "Menyenangkan sekali... Membangun keluarga sendiri. Memiliki seorang anak." Katanya. Eugene tersenyum, tapi tatapannya seperti sedang melamun. Seolah ada yang sedang dia pikirkan. Tak lama kemudian, dia kembali berkata, "Ratu Anastasia..." Eugene kini berdiri tegak, tampak serius seolah akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Anna bersiap mendengarkan. "Apa saya boleh mengajukan permohonan padamu?" tanyanya.


"Tentang apa?"


"Bolehkan kami menjadikan anak kalian sebagai ahli warisku?"


"Apa?" Anna begitu terkejut dengan permohonan itu sampai tak sadar baru saja dia menggunakan bahasanya sendiri, bukan bahasa Westernia. Anaknya akan lahir sebagai calon pewaris dua kerajaan—Schiereiland dan Nordhalbinsel, Anna sudah tahu itu. Tapi Anna tak pernah berpikir apalagi membayangkan bahwa seorang Ratu dari kerajaan lain akan meminta putrinya yang belum lahir untuk menjadi ahli waris kerajaan ketiga yaitu Westeria.


"Maaf, aku seharusnya menjelaskan terlebih dahulu padamu... Aku tidak bisa punya anak. Seperti halnya Ratu sebelumku, Elizabeth, tidak bisa punya anak. Kami para Ratu Westeria tidak bisa memiliki keturunan kecuali kami melepaskan takhta. Aku baru tahu itu setelah menjadi Ratu. Elizabeth meninggalkan takhtanya karena hal itu, karena dia ingin berkeluarga dan memiliki anak. Itu seperti semacam kutukan karena perbuatan nenek moyang kami. Aku tak memiliki sanak saudara lagi, aku tak memiliki pewaris, jadi aku ingin anak kalian lah yang mewarisi Westeria nanti."


"Tapi kenapa harus anakku? Dan tidakkah nanti dia juga terkena kutukan itu?"


"Untuk menjelaskan hal itu, aku berharap kau mau mengikutiku ke suatu tempat terlebih dahulu."


Eugene kemudian mengajak Anna untuk pergi lebih jauh ke ruang mahkota. Mahkota penguasa Westeria disimpan di sana di dalam kotak kaca. Mahkota itu hanya akan dikenakan saat acara-acara resmi. Sedangkan untuk acara lainnya, Ratu Eugene memiliki banyak mahkota lainnya di ruangan itu. Namun dari keseluruhan mahkota, hanya mahkota itu yang terlihat sangat mewah, dihiasi dengan lima jenis permata yang mengelilinginya—Emerald, Sapphire, Amethyst, Ruby dan Amber. Dan di atas tempat mahkota itu disimpan, terdapat sebuah lukisan besar. Lukisan seorang pria dengan mata emerald mengenakan mahkota tersebut.


"Beliau adalah Frederico Reyes, Raja pertama Westeria." Eugene menjelaskan saat Anna tampak tak dapat mengalihkan tatapannya dari lukisan pria itu.


"Matanya..."


"Mirip dengan mata Raja Xavier. Mata emerald. Kau terkejut? Kupikir kau sudah tahu."


Anna kemudian menoleh pada Eugene. "Maksudku... aku tahu bahwa di Westeria ada lima Klan besar yang dulu menguasai tanah Westeria. Mereka semua orang-orang luar biasa yang memiliki mata seperti permata. Klan Ortiz, bermata Sapphire. Klan Navarro, bermata Amethyst. Klan Torres bermata Ruby. Klan Salazar bermata Amber. Dan..."


"Klan Reyes, bermata emerald. Benar." Kata Eugene. Dia kemudian beralih turut menatap lukisan di hadapan mereka, lukisan Frederico Reyes. "Mereka dikenal memiliki kemampuan berpedang yang tidak manusiawi serta dapat melihat masa depan, itulah sebabnya Klan-Klan lainnya sangat menghormati Klan Reyes. Bahkan Klan Navarro yang terkenal dengan kemampuannya yang dapat menghancurkan apa saja, sangat tunduk dan patuh pada Klan Reyes. Raja-raja Westeria terdahulu pun selalu berasal dari Klan Reyes. Berbeda dengan Westerian umumnya, banyak orang-orang dari Klan Reyes yang memiliki kulit putih salju seperti orang-orang utara. Tapi Klan Reyes sudah lama punah karena pernikahan sedarah yang mereka lakukan untuk melestarikan keistimewaan mereka. Pernikahan sedarah itu mengakibatkan para wanita dari Klan Reyes kesulitan memiliki anak atau anak mereka cacat dan tidak berumur panjang padahal normalnya orang-orang dengan mata permata memiliki umur yang panjang hingga ratusan tahun."


Anna menyerap informasi yang baru dia ketahui itu karena informasi itu tak pernah dituliskan di buku mana pun. Kini dia paham... Alasan Eugene meminta Xavier untuk berkunjung ke Istana Wisteria beberapa minggu yang lalu. Alasan Eugene meminta anak mereka menjadi pewarisnya.


Mungkin Xavier masih memiliki garis keturunan Klan Reyes dari Irene, pikirnya.


"Apa mungkin Xavier..."


"Aku juga masih belum tahu." Eugene langsung menjawab bahkan sebelum Anna menyelesaikan kalimatnya. "Saat pertama kali bertemu dengannya, aku sempat menanyakannya karena pemilik mata emerald sangat langka. Karena Klan Reyes telah lama punah. Tapi Raja Xavier sendiri pasti tak tahu apakah dia memang keturunan Klan Reyes atau hanya kebetulan saja memiliki mata yang langka itu."


"Ibunya juga memiliki mata emerald. Padahal biasanya Klan Winterthur memiliki mata berwarna biru es."


Eugene mengangguk setuju. Mereka memiliki kecurigaan yang sama, namun belum dapat membuktikannya. "Kau tahu tentang mendiang Ratu Irene? Semua orang tahu ceritanya karena baru kali itu seorang pria dari Klan Winterthur berselingkuh, kau tahu, para serigala biasanya sangat setia pada pasangannya. Maaf jika ini menyinggungmu, tapi memang begitulah ceritanya. Grand Duke Winterthur terdahulu, Rudolph Winterthur, sewaktu melaksanakan tugas dari Raja Nordhalbinsel dan menetap di Westeria selama setengah tahun, bertemu dengan seorang pelacur baru yang berparas cantik dan masih sangat muda. Dia jatuh cinta padanya dan menghabiskan waktu selama setengah tahun hanya bersama wanita itu dan tidak mau dengan wanita penghibur lainnya. Dia hendak membawa wanita itu ke Nordhalbinsel saat tahu wanita itu mengandung anaknya, Dia bahkan meminta izin pada Raja Westeria saat itu untuk membawanya dan mengatakan bahwa wanita itu adalah pasangan jiwanya, tapi wanita itu menolak saat tahu Rudolph sudah berkeluarga. Wanita itu meninggal saat melahirkan anaknya, dan Rudolph membawa anak itu ke kediamannya. Namun Istrinya, Liliana, marah besar dan mengancam akan membunuh putra-putra mereka jika Rudolph bersikeras membiarkan anak perempuan bermata emerald itu tinggal bersama mereka. Liliana bukan marah pada perselingkuhan itu sendiri, dia memakluminya karena pelacur itu memang pasangan jiwa dari suaminya, dia marah karena anak perempuan itu tidak terlihat seperti anggota keluarga Winterthur—tanpa rambut pirang dan mata biru es—sehingga akan membuat orang-orang sekitar mereka bergunjing tentangnya dan mencoreng harga dirinya. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Rudolph mengasingkan putrinya satu-satunya itu ke Schiereiland. Kurasa kau lebih tahu lanjutan ceritanya."


"Kemudian anak perempuan bermata emerald itu, Irene Winterthur, menjadi jenderal di Schiereiland. Dan saat dia sudah cukup dewasa, Grand Duke Rudolph Winterthur membawanya kembali ke Nordhalbinsel untuk dinikahkan dengan Raja Vlad." Anna meneruskan cerita itu.


"Benar."


"Mungkinkah wanita penghibur itu adalah salah satu anggota keluarga Klan Reyes?" tanya Anna.


"Sangat diragukan, karena Klan Reyes pasti hidup bergelimang harta dan sangat dihormati di Westeria. Mereka keturunan Raja pertama Westeria, jadi seharusnya mereka hidup layaknya bangsawan. Tapi itu bukan tidak mungkin terjadi."


Jika ibu kandung Irene Winterthur, nenek Xavier, memang berasal dari Klan Reyes, maka Anna dapat memahami kenapa Eugene ingin anaknya menjadi pewaris Westeria. Tapi masih ada satu hal yang mengganggu pikirannya, Anna akhirnya kembali bertanya, "Lalu kutukan itu... Apa yang akan terjadi jika anak kami yang menjadi pewarismu?"


"Saat nenek moyangku merebut takhta dari Raja Klan Reyes terakhir, kutukan itu mulai berlaku. Setiap wanita yang menjadi Ratu Westeria, baik melalui pernikahan dengan Raja Westeria maupun naik takhta karena menjadi pewaris, tidak akan memiliki anak kecuali jika wanita itu berasal dari Klan Reyes."


"Xavier tahu tentang ini?"


"Saat beliau berkunjung beberapa minggu yang lalu, aku menjelaskan semua ini padanya. Lalu dia mengatakan bahwa dia tak berhak mengambil keputusan sendiri, jadi dia memintaku untuk bicara langsung padamu. Maaf jika aku terlalu lancang dengan meminta hal seperti ini. Tapi aku hanya ingin mengembalikan Westeria kepada pemilik kekuasaan yang sebenarnya. Kepada seseorang dari Klan Reyes."


"Itukah sebabnya kau ingin mewariskan Westeria pada anak kami? Karena kau pikir Xavier adalah keturunan Raja pertama Westeria? Keturunan Klan Reyes? Maka anak kami pun berasal dari Klan Reyes dan tidak akan terkena kutukan itu?"


Eugene mengangguk membenarkan. "Karena itu, dan juga hal lainnya. Westeria, terutama aku, berhutang budi pada Raja Xavier. Aku mungkin takkan menjadi Ratu Westeria tanpa bantuannya. Jika kau bersedia, maka aku dan seluruh Westeria akan melindungi anak itu layaknya kami melindungi pewaris takhta kami dengan segenap kekuatan kami. Dan dengan menjadikannya pewaris tiga kerajaan sekaligus, maka anak itu adalah jaminan adanya perdamaian di masa depan."


...****************...