
Usai rapat, Anna kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat dia tinggalkan. Namun tak lama setelah dia mulai membaca-baca laporan, Eliza, mantan selir Raja Vlad yang kini bekerja sebagai asistennya karena kemampuan administrasinya yang baik, datang memasuki ruangannya.
"Ada apa, Lady Eliza?" Tanya Anna tanpa mengalihkan perhatian dari laporan yang sedang dia baca.
Eliza menunduk, "Yang Mulia, Jenderal Tyros Engelberg ingin bertemu dengan Anda."
"Persilahkan masuk."
Eliza pun membukakan pintu untuk Tyros dan mempersilahkan Sang Jenderal untuk masuk. Eliza segera meninggalkan mereka berdua dalam ruang kerja itu.
Setelah pintu kembali ditutup, Anna menutup laporan yang sedang dia baca dan mulai mengalihkan perhatiannya pada Tyros.
Tyros membungkuk, "Salam hormat saya kepada Tsarina."
"Ada keperluan apa, Jenderal?" Tanya Anna langsung.
"Saya ingin menyerahkan sesuatu pada Anda." Jawab Tyros.
"Apa itu?"
Untuk menjawab pertanyaan itu, Tyros melangkah maju menuju meja kerja Anna dan mengeluarkan sesuatu dari saku dalam mantelnya. Itu adalah sebuah buku jurnal kecil bersampul kulit berwarna cokelat. Anna mengenali buku jurnal itu karena sudah sering melihatnya sejak dia menjadi pengawal pribadi Xavier dulu. Itu buku jurnal milik Xavier.
Tyros mengamati saat Sang Tsarina tampak menahan air matanya saat melihat buku jurnal milik mendiang suaminya itu. Dengan perlahan dia berkata, "Sewaktu terjadi pengeboman di Montreux, mendiang Raja dan saya pergi ke sana selama beberapa hari. Saat itu beliau menitipkan buku jurnalnya pada saya dan meminta saya untuk menyerahkannya pada Anda. Tepatnya, beliau berkata, 'Jika istriku menetapkan untuk melawan Orient suatu hari nanti, serahkan ini padanya'. Saat itu saya tidak mengerti kenapa beliau berkata seperti itu atau kenapa tidak beliau saja yang memberikannya langsung. Sekarang saya mengerti alasannya."
Anna menerima buku jurnal itu dari Tyros dan membukanya. Itu benar-benar milik Xavier. Tulisan tangan yang sudah sangat tidak asing lagi baginya memenuhi lembar demi lembar buku tersebut. Tulisan tangan itu membawa kembali kenangan-kenangan saat mereka harus terpisah dan saling berkirim surat. Anna masih menyimpan surat-surat itu sampai sekarang.
"Saya tidak pernah membukanya. Jadi saya tidak tahu sama sekali apa saja isinya. Tapi saya harap keputusan saya untuk menyampaikan jurnal ini pada Yang Mulia sesuai dengan yang diperintahkan kepada saya, tidak akan membuat Yang Mulia menjadi bersedih karena mengingat kembali mendiang Raja."
Anna menahan air matanya, memastikan agar suaranya tidak bergetar dan mengatakan, "Terima kasih, Jenderal. Kau boleh pergi."
"Baik, Yang Mulia."
***
Setelah Tyros pergi meninggalkannya sendiri di ruang kerjanya, Anna tidak langsung membuka buku jurnal itu. Hatinya belum siap membaca apa pun yang tertulis di dalam sana.
Meski tadi saat rapat dia bisa menampilkan dirinya sebaik mungkin di hadapan seluruh bangsawan, menampilkan sosok seorang penguasa dan pemimpin yang kuat dan berani, tapi kini setelah dia hanya seorang diri di ruangan itu dengan buku jurnal milik Xavier di hadapannya, dia kembali menjadi seorang istri yang ditinggal mati suaminya. Seorang wanita yang kehilangan pria yang dia cintai. Seseorang dengan hati yang hancur.
Anna menghapus air mata di pipinya dan mengatur nafas.
Aku tidak ingin menangis lagi. Sudah cukup. Batinnya.
Tapi saat dia mengalihkan pandangannya dari buku jurnal itu ke sampingnya, tepat saat itu lah dia justru melihat lukisan Xavier di ruang kerja itu yang dulunya adalah ruang kerja Xavier.
Kau benar. Aku harusnya pindah ke Istana baru. Atau lebih baik aku kembali ke Istana Schiereiland saja.
Tak seperti biasanya, suara Xavier tidak lagi terdengar. Padahal biasanya suara Xavier selalu muncul tanpa dimintanya. Belakangan ini suara itu memang jarang terdengar.
Mungkin begini lebih baik. Jika tak ada suaramu di kepalaku, maka aku akan lebih cepat pulih dari rasa berduka ini. Pikir Anna. Tapi tatapannya tidak bisa lepas dari lukisan Xavier yang sedang menatapnya. Sudah berapa lama dia tak melihat wajah itu. Sudah berapa lama dia tak menyentuhnya, merasakan hangat kulitnya, bicara dengannya secara langsung sambil menatap matanya yang berkilauan, menciumnya dan mendengar detak jantungnya. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali mereka bersama. Anna sama sekali tidak menghitungnya, tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun lamanya.
Sial. Siapa yang kubohongi. Aku memang merindukanmu. Aku tidak baik-baik saja. Bicara lah lagi padaku.
Tapi tak ada suara yang menjawabnya.
Lama Anna hanya menatap kosong ke arah buku jurnal itu sambil menunggu suara Xavier muncul kembali. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuka buku jurnal tersebut.
Ada sesuatu yang terselip di antara lembar-lembar buku jurnal itu. Sesuatu yang berkilauan. Anna menariknya dan mendapati bahwa itu adalah sebuah jepit rambut dengan hiasan permata. Dan dia mengenali jepit rambut itu.
Kenapa kau memberikan jepit rambut yang pernah kau berikan pada mantan istrimu? Kau pikir aku tidak akan cemburu dan kesal? Tanya Anna, tidak pada siapa pun. Dia setengah berharap Xavier akan menjawabnya.
Tapi dia akhirnya dapat mendengar suara tawa Xavier di kepalanya. Suara yang sangat dia rindukan.
Aku tahu kau akan berkata seperti itu. Kau tampak cantik bahkan saat sedang cemburu, sayang.
Anna tak bisa menahan air matanya saat akhirnya dia mendengar suaranya lagi. Tapi bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Jepit rambut itu memiliki sejarah yang panjang. Dan kurasa kau akan menyukai jepit rambut itu lebih dari yang kau kira.
Tapi tetap saja, itu bukan alasan yang tepat untuk memberikan jepit rambut ini pada istrimu sedangkan kau pernah memberikannya pada wanita lain apalagi wanita lain itu adalah mantan istrimu.
Namun tepat saat itu, Anna menyadari ada yang aneh pada permata di jepit rambut yang sedang dia pegang itu. Ada yang berdetak di sana. Ada inti jantung Naga Angin di sana. Anna dapat merasakan denyutannya menjalari seluruh kulitnya. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggelitik, seperti sapuan angin. Sesuatu yang familier, seolah jantung Naga Angin adalah bagian dari dirinya saat dia menggenggam jepit rambut itu. Seolah itu adalah perpanjangan tangannya.
Saat menyadari hal itu, Anna pun menoleh ke sekitarnya dan mendapati angin kencang menerbangkan beberapa lembar kertas laporan yang ada di mejanya padahal jendela ruangan itu tertutup rapat.
Anna melihat ke luar jendela dan mendapati langit masih terang dan hari masih cerah. Namun saat dia memikirkan awan kelabu dan petir serta angin badai, langit pun mulai menggelap. Badai menjawab panggilannya. Anna buru-buru melepaskan jepit rambut itu dari tangannya sebelum badai benar-benar berkecamuk dan mengacaukan seisi Noord. Setelah dia melepaskannya, langit kembali cerah.
Apa maksudmu, Xavier? Setelah membuatku dapat mengguncang bumi dan membakar segala hal, sekarang kau ingin aku bisa memanggil badai?
Anna kembali mengamati buku jurnal itu dan mendapati ada sepucuk surat yang turut terselip bersama dengan jepit rambut tersebut. Dia membuka surat itu. Surat yang Anna yakini ditulis oleh Xavier, karena tulisan tangan Xavier yang sangat indah itu mustahil bisa ditiru oleh siapa pun. Anna membaca tanggal yang tertera di sana. Xavier menulis surat itu di hari ulang tahunnya. Di hari peresmian pernikahan mereka.
Anna, sayang...
Jika kau membaca ini, itu artinya aku telah berhasil melindungimu dan putri kita. Dan aku sangat bersyukur kau masih tetap hidup.
Bagaimana kabarmu? Kuharap kau sudah lebih baik saat ini. Kuharap kepergianku tidak membuatmu berduka terlalu lama. Kuharap air matamu telah kering dan kau telah memulai membuka lembaran baru tanpaku.
Dan jika belum, tidak apa-apa. Mungkin belum waktunya. Aku percaya kau akan bisa melaluinya dengan baik.
Bagaimana kabar putri kita? Saat membaca surat ini, sudah berapa hari atau berapa minggu usianya? Apa kau tahu? Sambil menulis ini, aku sedang memikirkan dirimu dan putri kita. Aku membayangkan kehidupan kalian yang berbahagia. Mudah-mudahan apa yang kubayangkan itu bukan sekedar angan-angan. Aku sungguh berharap kalian dapat hidup berbahagia tanpaku.
Dan aku tahu apa yang kau pikirkan saat membaca surat ini.
Aku juga merindukanmu. Sangat.
Anna, sayang...
Semua yang hidup akan mati pada akhirnya meski tidak ada yang tahu kapan tepatnya. Aku menulis surat ini bukan karena aku tahu kapan aku akan mati tanpa memberitahumu. Aku menulis surat ini bukan karena aku sudah menyerah untuk bertahan hidup demi dirimu dan putri kita, karena sesulit apa pun, sesakit apa pun rasanya saat racun itu menyerang, jika aku memejamkan mataku dan mengingat bahwa aku memiliki keluarga yang sangat kusayangi yang mungkin akan bersedih jika aku memilih untuk menyerah, aku bisa bertahan. Kau dan putri kita adalah alasanku bertahan hidup selama ini.
Aku sungguh berharap kau tidak akan pernah membaca surat ini dan berharap kita sama-sama memiliki usia yang panjang sehingga kita bisa menua bersama. Tapi aku memang harus mempersiapkan hal ini. Aku menulis surat ini untuk berjaga-jaga, jika suatu saat nanti aku pergi lebih dulu darimu entah karena apa pun.
Istriku yang sangat kucintai melebihi apa pun di dunia ini...
Apa kau sudah menerima jepit rambut itu? Tolong jangan langsung marah karena aku pernah memberikannya pada Elle. Kau tahu hanya kau yang kucintai. Aku memberikannya padamu karena Kaze menaruh inti jantungnya di sana. Tolong jangan katakan kau sudah langsung bisa memanggil badai dalam percobaan pertama. Padahal butuh waktu berhari-hari untukmu bisa mengendalikan apiku. Tapi kurasa kau jauh lebih akrab dengan kekuatan Naga Angin sejak di kehidupan yang lampau.
Awalnya aku ingin memberikan jepit rambut ini sebagai hadiah ulang tahunmu hari ini. Tapi situasi dan waktunya tidak tepat. Jadi setelah kupikirkan lagi, kau akan jauh lebih membutuhkannya saat ini, saat kau membaca surat ini, saat kau akhirnya memutuskan untuk melawan Orient.
Orient telah menjatuhi bom di Schere dan Montreux. Situasinya kacau sekali saat ini di Montreux, saat aku menuliskan surat ini. Ada banyak sekali nyawa yang hilang hari ini. Ada banyak sekali orang yang kehilangan anggota keluarganya. Kau yang paling tahu bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga.
Cintaku... Pujaan hatiku...
Kasih sayang dan pengampunan itu bagus, aku bersyukur kau memiliki keduanya, tapi terkadang, ada kalanya kau harus bangkit dan melawan. Bukan untuk menyakiti atau pun balas dendam, lebih untuk mencegah agar tidak ada yang disakiti lagi.
Beberapa jam yang lalu, secara diam-diam Kaze mendatangiku tanpa sepengetahuanmu. Dia menangis dan memohon padaku agar membawakan jantungnya padamu. Dia memberiku jepit rambut ini yang dulunya adalah milik Yeon-Hwa dan sebelumnya adalah milik Putri Seo-Hwa. Kaze telah memasukkan inti jantung Naga Angin ke dalam permata yang ada di jepit rambut ini. Dia tahu bahwa Reina akan menggunakan kekuatan Naga Angin, namun dia tak dapat melawan demi bisa melindungimu dari Reina. Dan kini kau memegang kekuatan Naga Angin di tanganmu.
Kelak Reina akan mencari jepit rambut tempat Kaze menaruh inti jantungnya setelah kematianku yang juga akan berimbas kepada kematian naga lainnya. Tapi Kaze mengatakan bahwa dia akan mengecoh Reina dan membuatnya mengira bahwa dia menaruh inti jantungnya di jepit rambutnya yang lain, yaitu jepit rambut milik Naga Angin. Sehingga Reina tidak akan pernah mendapatkan kekuatan Naga Angin untuk menerbangkan Naga Baja buatannya. Hanya kau yang bisa melakukannya, sayang.
Kau tahu apa yang harus kau lakukan dengan benda ini.
Gunakan lah dengan baik dan bijaksana. Kekuatan Naga Angin begitu dahsyat dan sangat sulit dikendalikan jika kau menggunakannya saat kau sedang emosi. Jangan gunakan saat kau sedang marah atau emosimu sedang tidak stabil karena akan membahayakan orang-orang yang kau sayangi dan ingin kau lindungi. Aku percaya kau dapat melakukannya dengan baik.
Satu hal lagi...
Aku memberimu izin untuk membaca buku jurnalku. Kebanyakan isinya adalah tentangmu, tapi mungkin ada beberapa catatan yang kau perlukan.
Aku mencintaimu. Selamanya.
X
***