The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 40 : Lust, Love and Loneliness



Leon tidak bisa tenang selama perjalanan menuju ruang kerja Ibu Suri. Sang Ibu Suri jelas tidak akan mengajaknya makan malam mengingat saat itu sudah hampir tengah malam. Juga pasti bukan untuk membicarakan detail pekerjaan penyihir Istana, karena tentu masih ada hari esok untuk itu. Tapi sementara benaknya sibuk memikirkan apa yang akan dia hadapi nanti, sebisa mungkin Leon menampilkan sosok Ren yang kalem dan tenang.


Ruangan Ibu Suri yang mereka maksud terletak jauh di sayap kiri Istana, di bagian Istana yang belum pernah Leon lewati sebelumnya. Tentu saja ada banyak bagian dari Istana Matahari yang belum pernah Leon lewati mengingat Istana itu begitu luas. Tapi semakin jauh mereka berjalan, perasaannya semakin tidak enak. Jika saja Leon membawa pedangnya saat itu, dia mungkin sudah melawan semua pengawal di sekitarnya dan melarikan diri. Tidak, bahkan tanpa pedang pun, karena sekarang Leon sudah sangat menguasai sihir, dia tetap bisa melawan mereka semua. Bahkan sebenarnya Leon tidak perlu melawan mereka semua, Leon hanya perlu berteleportasi untuk kabur. Tapi jika Leon kabur sekarang, dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Reina dan mendapat kepercayaannya.


Mereka terus berjalan melewati taman demi taman, lorong demi lorong, dan banyak sekali pintu tertutup menuju ruangan-ruangan yang tidak Leon ketahui. Suasana malam begitu tenang dan damai, hanya terdengar suara langkah kaki mereka, air mancur di tengah taman dan suara serangga malam. Leon mencoba untuk menghafal jalur yang mereka lewati, mencari semua ciri khusus setiap belokan untuk diingat-ingat jika dia hendak melarikan diri. Apa pun yang bisa menjadi penanda jalan yang dia lewati, bunga berwarna cerah di depan sebuah pintu, cat yang terkelupas, lantai kayu yang warnanya sedikit pudar, dan beberapa detail kecil lainnya. Tapi ada terlalu banyak belokan yang mirip yang mereka lewati. Istana Matahari seperti labirin yang memusingkan baginya.


Leon sudah benar-benar menyerah untuk mencoba mencari jalan untuk melarikan diri saat mereka berhenti di depan sebuah pintu. Dan baru lah Leon sadar bahwa dia salah mengartikan bahasa Orient 'ruang kerja' dengan 'kamar'. Yang mereka maksudkan adalah 'Ibu Suri menunggu kedatangan Anda di kamarnya'. Di kamar. Bukan ruangan atau ruang kerja.


Sial.


Pintu pun terbuka lebar untuknya. Dan meski dia tidak ingin, Leon tetap melangkahkan kaki memasuki kamar Ibu Suri. Setelah dia masuk, pintu di belakangnya tertutup rapat.


"Kau benar-benar datang." Reina tampak terkejut.


Reina sedang duduk bersandar di ranjangnya. Dia mengenakan pakaian tidur yang tipis yang membuat Leon mempertanyakan apa fungsi pakaian tersebut sebenarnya. Tapi tentu saja dia hanya diam dan menundukkan pandangannya dengan sopan. Dia tidak perlu lagi bertanya-tanya apa tujuannya mengundang Leon. Jawabannya sudah sangat jelas.


Tidak ada siapa pun selain mereka berdua di kamar itu. Dalam hati Leon mengasihani Eri—Eri yang sebenarnya. Meski tidak benar-benar mengenalnya, saat Leon dan para Serigala mengepungnya untuk membawanya ke Noord, Leon dapat melihat tatapan kebencian Eri terhadap mereka semua—terhadap Leon dan anggota pasukan Serigala yang semuanya adalah laki-laki. Leon sempat salah mengartikan tatapan benci itu, Eri sudah terlalu sering dikecewakan oleh para pria sehingga wanita itu tidak mempercayai pria mana pun. Karena semua kekasihnya terperdaya oleh Sang Ibu Suri—atau lebih tepatnya semua mantan kekasihnya itu tidak bisa melarikan diri dari Ibu Suri.


Tapi Leon tidak terperdaya oleh Sang Ibu Suri. Leon juga bisa melarikan diri dari tempat itu saat ini juga. Bahkan saat itu pun di otaknya sudah penuh dengan berbagai cara untuk membunuh Sang Ibu Suri dengan sihirnya lalu melarikan diri dari Istana bersama Anna. Meski begitu, Leon tetap berlutut di hadapan Reina.


"Karena Baginda memanggil saya. Apakah saya salah?" Jawabnya dalam suara Ren.


"Tidak. Tentu tidak." Kata Reina. Dia kemudian mengisyaratkan Leon untuk berdiri. Leon pun menurutinya. Reina melangkah dengan perlahan ke arahnya. Tangannya mulai berkelana dari pundak Ren, lalu turun hingga ke dadanya. Leon mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak langsung mematahkan tulang tangan Sang Ibu Suri. Reina tak menyadari hal itu, dan dengan suara yang sensual dan menggoda dia menambahkan, "Tapi ini sudah malam. Dan aku memintamu untuk datang ke kamarku. Apa kau tidak paham artinya?"


Leon tersenyum—senyuman Ren, "Saya yakin itu artinya Baginda memerlukan saya."


Reina sempat mematung sejenak saat melihat senyuman Ren. Dalam beberapa detik yang singkat dia seperti melihat kembali Qin di masa muda. Dia segera menurunkan tangannya yang tadinya ingin menyentuh wajah Ren dan menggodanya. Saat Ren tersenyum, Reina teringat kembali pada masa mudanya dengan Qin. Yang setelah bertahun-tahun hidup bersamanya, kini telah dia lupakan semua kemanisan dalam hubungan mereka.


Reina mundur beberapa langkah darinya, "Benar. Aku tidak bisa tidur dan memerlukan teman mengobrol. Kita belum banyak mengobrol hari ini. Kau akan menikah dengan salah satu orang yang paling kupercayai jadi aku harus mengenalmu." Kata Reina. Dia kemudian mengenakan pakaian luar yang menutupi pakaian tidurnya yang menerawang, kemudian mempersilahkan Ren untuk duduk bersamanya dan menuangkan arak untuknya. Leon menerimanya, tapi tidak meminumnya. Dia mengingat peringatan dari Anna untuk berhati-hati terdapat semua makanan dan minuman.


"Katakan, Ren, apa yang kau sukai dari Eri? Maksudku, aku tahu dia cantik dan masih muda. Tapi ada banyak sekali gadis muda yang cantik di kekaisaran ini. Jadi apa yang membuatmu ingin menikah dengannya?" Tanya Reina. Dia juga tidak meminum araknya. Membuat Leon semakin yakin untuk tidak meminum arak yang dituangkan untuknya.


Leon tidak mengenal Eri sama sekali. Dia tidak tahu apa yang membuat para kekasihnya dulu jatuh cinta padanya. Jadi pertanyaan itu, meski Leon tahu bahwa Reina tidak benar-benar ingin mendengar jawabannya, merupakan pertanyaan yang sulit dia jawab. Jadi alih-alih menjawabnya sambil memikirkan apa yang dia ketahui tentang Eri, Leon menjawabnya berdasarkan apa yang ingin Reina dengar dari seorang pria.


Sudah jelas bahwa Reina adalah wanita yang pintar dan kuat. Wanita yang berkuasa melebihi pria mana pun di kekaisaran ini, bahkan melebihi Kaisar. Dan dia ingin diakui atas kuasanya itu. Jadi dengan penilaian itu, Leon menemukan apa yang akan dikatakannya.


Sambil kembali memamerkan senyuman Ren yang bisa membuat Reina bergeming, Leon menjawab, "Dia pintar dan tekun. Dia juga sangat berdedikasi dalam pekerjaannya. Saya sangat menyukai wanita yang seperti itu. Bukan hanya karena kecantikannya." Saat dia mengatakannya, Leon sengaja menggunakan nada bicara yang lembut dan—hampir seperti—merayu, sambil terus menatap mata Sang Ibu Suri. Tindakan itu seharusnya dikategorikan sebagai tindakan lancang terhadap keluarga Kaisar dan bisa dijatuhi hukuman mati jika bukan karena Reina yang memang menyukainya.


Lagi-lagi Leon berhasil membuat Reina terdiam dengan senyuman itu dan dengan jawabannya. Reina buru-buru memulihkan dirinya dari pesona Ren, dia tampak tersipu seolah Ren baru saja sedang memujinya. "Wah, jarang sekali ada pria yang mau menghargai kepintaran wanita." Komentarnya.


Karena tahu dia mulai berhasil, Leon kembali melanjutkan kata-katanya, "Menurut saya, seorang wanita tidak bisa hanya dinilai dari kecantikannya. Wanita bukan perhiasan yang hanya indah dipandang. Mereka, seperti halnya kaum pria, diciptakan dengan akal yang sempurna, dilengkapi dengan hati yang penuh kelembutan dan kasih sayang serta disempurnakan dengan perilaku yang anggun dan menawan. Wanita seperti Eri, dan seperti Anda, adalah wanita yang luar biasa."


"Kau pandai memuji." Kata Reina sambil masih tersipu. Dia kemudian meminum araknya, sadar atau tidak. Leon pun diyakinkan bahwa arak itu tidak mengandung apa pun selain alkohol. Reina hanya ingin membuatnya mabuk. Tapi sepertinya Sang Ibu Suri sendiri lah yang akan mabuk. Reina minum sekali lagi dan tiga gelas lagi sebelum akhirnya menambahkan, "Eri sangat beruntung mendapatkanmu."


"Tidak, Baginda. Saya lah yang merasa beruntung. Saya hanya menyampaikan pendapat saya, Baginda."


Untuk beberapa waktu yang terasa sangat lama bagi Leon, Reina hanya menatapnya. Reina kemudian mulai memegang tangan Leon. Leon harus menahan diri untuk tidak segera berteleportasi kabur dari ruangan itu, atau pun meremukkan tangan Reina yang sedang menyentuhnya. Ribuan cara untuk membunuh Sang Ibu Suri saat itu juga terlintas di benaknya tapi tak satu pun yang dia lakukan karena Leon tahu belum saatnya. Namun semakin lama, Reina menjadi semakin berani karena Leon tetap diam di tempatnya. Dia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Leon, menyentuh wajahnya, dan hampir mencium bibirnya jika saja saat itu Leon tidak segera mengatakan apa pun.


"Anda sepertinya sedikit mabuk, Baginda." Kata Leon langsung, yang mana berhasil menghentikan tindakan Reina. Dia kembali tersenyum menggoda pada Reina. Dalam hati dia berharap memiliki mata Amethyst milik Klan Navarro sehingga dia bisa memusnahkan Reina langsung dengan tatapannya. "Apakah Anda mau berjalan-jalan sebentar di luar? Ada tempat indah yang ingin saya tunjukkan pada Anda."


Kalau pun Reina ingin menolaknya, Reina sepertinya sudah terlalu terpesona padanya sehingga tidak dapat menolak ajakannya. Mereka pun berteleportasi menuju taman belakang Istana.


Ada alasan kenapa Leon mengajaknya ke sana. Sesuai dengan informasi dari Anna—yang juga mengetahuinya dari Eri, taman belakang Istana adalah tempat yang biasa digunakan oleh Yi-Zhuo dan Pangeran Yuza untuk bertemu diam-diam jika Sang Pangeran sedang berada di Istana Matahari. Meski Leon sebenarnya tidak yakin apakah malam itu Pangeran Yuza sedang berada di Istana Matahari atau di kediamannya, dia tetap mengajak Reina pergi ke sana dari pada harus terus berada dalam kamar Reina. Udara malam akan membuat Reina tetap sadar dan suasana di luar akan membuat Reina berhenti berusaha mendekatinya. Serta Leon akan punya ruang gerak yang lebih luas untuk menghindari sentuhan Reina. Dan jika Leon beruntung, mereka mungkin akan menangkap Yi-Zhuo yang sedang bermesraan dengan salah satu putra Reina itu.


Namun Leon jadi mengetahui kenapa tempat itu dipilih oleh Sang Pangeran dan Pelacak Naga itu untuk bertemu. Pemandangan yang terlihat dari taman belakang begitu indah saat malam hari. Deretan siluet bukit Shina yang dapat dilihat dari sana, bintang-bintang dan bulan yang menerangi di atasnya, serta ratusan cahaya yang berasal dari lampu-lampu rumah penduduk di lembah di bawahnya, membuat pemandangan malam di tempat itu menjadi puluhan kali lipat lebih indah dari pada pemandangan saat langit masih terang. Serta aroma bunga-bunga yang bermekaran di taman membuat suasana menjadi sangat romantis. Pemandangan dan suasana itu bisa membuat siapa pun jatuh cinta.


"Yi-Zhuo..." desah seseorang. Leon dan Reina sama-sama menegang saat mendengar suara itu. "Aku sudah sangat merindukanmu."


Leon kemudian mengikuti Reina untuk mencari sumber suara. Langkah kaki keduanya begitu sunyi. Dan di sana lah, di bawah pohon, Yi-Zhuo dan Pangeran Yuza sedang bercumbu.


"Jangan di sini, pangeran. Ayo pergi ke tempat yang lebih sepi."


"Ke mana, manis? Di sini saja. Tidak akan ada siapa pun di sini selain kita."


Leon mengamati Reina yang tampak sangat marah melihat keduanya. Tapi dalam hati dia bersyukur, berkat Pangeran Yuza dan Yi-Zhuo, Reina melupakan apa yang hendak dia lakukan pada Leon tadi.


"Istrimu?" Tanya Yi-Zhuo di sela ciuman mereka.


"Istriku ada di Jungdo."


"Dan Istana yang kau janjikan itu?"


"Besok aku akan membawamu ke sana. Aku janji. Sekarang—“


"Beraninya kau merayu putraku!" Reina menginterupsi kedua pasangan yang sedang bergairah itu. Membuat Yi-Zhuo buru-buru menutupi dadanya dan menjauh dari Sang Pangeran. Reina menatap Yi-Zhuo dengan jijik seolah sedang menatap kecoak dan menambahkan, "Mulai detik ini, kau bukan lagi Torakka, Xing Yi-Zhuo! Cepat angkat kaki dari Istana ini sebelum aku menjatuhi hukuman mati padamu dan keluargamu!"


"Itu tidak adil, Baginda! Pangeran Yuza lah yang merayu saya!" Yi-Zhuo berusaha membela diri sambil membenarkan pakaiannya. Dia kemudian menoleh ke arah Ren—Leon—yang sedang menonton drama keluarga Kekaisaran ini sambil menahan senyum penuh kemenangan. Yi-Zhuo sepertinya tahu siapa yang membuat Ibu Suri mengetahui tempat persembunyiannya dengan Yuza.


Pangeran Yuza yang begitu takut pada ibunya segera menyanggahnya, "Ti-tidak benar, Ibunda! ****** ini yang mendekatiku dan bermimpi menjadi seorang Putri untuk merebut posisimu di kemudian hari! Dia terus mempengaruhiku untuk merebut posisi Haru agar dia kelak menjadi Maharani! Dia begitu licik dan terus merayuku dengan tubuhnya padahal dia tahu aku sudah memiliki Istri!"


Leon bisa saja duduk diam sambil menonton drama perselingkuhan penuh skandal yang menghibur itu. Dia sebenarnya tidak terlalu suka gosip dan skandal bangsawan terhormat tapi jika hal itu dapat membantunya menyelamatkan Imperial, maka dia bisa menontonnya terus tanpa bosan. Yi-Zhuo jelas sedang menatapnya penuh curiga, karena dia ada di tempat itu dengan Reina malam-malam begini. Tapi kecurigaan itu akan percuma, karena kini Yi-Zhuo tidak akan dilindungi oleh Reina lagi. Leon lah yang akan dilindungi oleh Reina.


Reina, tentu saja, lebih mempercayai perkataan putranya dari pada Yi-Zhuo. Leon segera menawarkan diri untuk membantu Reina dengan memanggilkan para pengawal untuk menangkap Yi-Zhuo. Pada akhirnya, rencananya berhasil. Yi-Zhuo akan dipecat sehingga Reina hanya akan mempercayai Eri.


***


Karena tindakan Leon semalam, Reina kini menjadikan Eri sebagai satu-satunya orang kepercayaannya dan Reina pun teramat menyanjung Ren yang membantunya memergoki hubungan antara putranya dengan Yi-Zhuo. Sang Pangeran kembali ke kediamannya untuk meminta maaf pada Istrinya dan mengatakan bahwa dirinya dipengaruhi oleh Yi-Zhuo. Sementara Yi-Zhuo dikurung di penjara dengan tuduhan merayu Pangeran dan merencanakan pemberontakan. Panglima Xing senior yang memang sangat setia pada Ibu Suri pun tidak melakukan apa pun untuk berusaha mengeluarkan putri satu-satunya dari penjara sementara Panglima Xing junior, kakak Yi-Zhuo—tidak punya cukup kuasa untuk melawan kehendak Sang Ibu Suri maupun kekerasan hati sang ayah.


Sesampainya di sana, Anna segera merasa pusing. Rupanya dia masih juga belum terbiasa dengan sihir teleportasi. Butuh waktu beberapa saat bagi Anna untuk dapat memijakkan kakinya dengan mantap. Tapi begitu menginjakkan kaki di Jungdo, menyusuri jalanannya yang selalu diramaikan oleh orang-orang, mau tak mau dia kembali mengingat segala hal yang pernah terjadi di Ibu Kota Orient itu.


Di kota ini lah kita menikah. Ada banyak sekali kenangan indah bersamamu di kota ini, Xavier. Dan berada di sini sekarang, tanpamu, membuatku semakin merindukanmu.


Anna menahan air matanya saat langkah kakinya entah bagaimana membawanya ke depan gerbang Dong-gung yang kini sudah ditutup. Dia tidak mau lagi terlarut dalam kerinduannya terhadap Xavier, tapi sulit untuk tidak mengenang kembali semua masa-masa indah mereka di kota itu sementara dia terus menyusuri kota Jungdo. Dan saat dia melangkah di sepanjang jalanan Jungdo, dia merasa seolah Xavier ada di sisinya dan menggenggam tangannya seperti dulu.


Kedai bubur di ujung gang sebelah Dong-gung adalah tempat Xavier biasa membeli sarapan mereka setiap pagi. Anna ingat betapa Xavier sengaja bangun lebih awal dari siapa pun agar mendapat nomor antrean pertama untuk mendapatkan bubur itu. Bubur tersebut sangat lezat, tapi karena mereka memakannya setiap hari selama di Jungdo, Anna merasa bosan dan ingin memakan masakan Schiereiland sehingga Xavier akhirnya belajar memasak untuknya. Sekarang Anna merindukan rasa bubur itu dan ingin memakannya lagi. Tapi kini kedai itu sedang tutup. Dan bunga-bunga yang dulu bermekaran di pinggir jalan karena Anna yang menumbuhkan pohon bunganya saat dia sedang sangat berbahagia di awal pernikahan mereka, kini sudah tidak ada lagi. Pohon bunganya sudah mati.


"Sayang sekali kedai buburnya sedang tutup, ya?"


Seseorang  mengatakannya dengan bahasa Schiereiland dan dari logatnya sepertinya wanita itu orang selatan. Jadi Anna segera menoleh ke belakang, ke arah wanita yang berkata tadi. Namun betapa terkejutnya Anna saat mendapati bahwa wanita itu ternyata adalah wanita Orient yang usianya sudah cukup tua untuk bisa disebut nenek. Usianya mungkin sudah seratus tahun atau lebih. Keriput memenuhi wajahnya, dan rambutnya sudah memutih seluruhnya. Di samping wanita itu, berdiri seorang pria Orient yang sama tuanya, menggandeng tangan nenek itu. Si kakek melihat ke arah Anna dan tersenyum.


"Kau juga ingin makan bubur itu, ya?" Tanya si kakek, yang lebih mengejutkan Anna karena menggunakan logat orang utara.


Anna hanya mengangguk. Tidak tahu harus menjawab mereka dengan bahasa Schiereiland atau Orient karena mereka jelas terlihat seperti orang Orient dan Anna sendiri juga sedang menyamar sebagai Eri yang memiliki wajah khas orang Orient.


Si nenek turut tersenyum pada Anna, "Padahal kami sudah jauh-jauh datang untuk memakan bubur di sini. Suamiku dulu sering membelikanku bubur dari kedai ini sewaktu kami masih muda dan belum menikah. Tapi di dekat sini ada kedai bubur lain, kau mau pergi ke sana bersama kami?"


Awalnya Anna hendak menolak tawaran nenek itu dengan sopan, karena meski dirinya merasa lapar dan sepagian ini belum makan apa pun, Anna sedang dalam misi untuk bertemu Haru. Tapi pasangan nenek dan kakek itu sudah sangat tua dan distrik merah Orient bukan lah tempat yang ramah untuk orang-orang tua dan lemah seperti mereka. Mereka bisa saja ditipu oleh para penipu jalanan atau dicelakai oleh orang-orang mabuk. Anna tak tega melihat pasangan tua itu, jadi dia pun menyetujui ajakan si nenek.


Sepanjang perjalanan, Anna terus mengawasi kondisi sekitar, berjaga-jaga jika pasangan nenek dan kakek itu dalam bahaya. Tapi mereka justru tampak santai dan menikmati suasana di sekitarnya seolah tak tahu menahu betapa berbahayanya jalanan di distrik merah Jungdo itu bagi mereka. Sepanjang perjalanan itu pasangan itu tampak berbincang-bincang dengan bahasa Schiereiland, tampak mengenang masa lalu. Anna ingin bertanya pada mereka, tapi dia merasa tidak perlu banyak ikut campur dalam urusan orang yang baru ditemuinya. Mungkin saja si nenek dan kakek pernah tinggal lama di Schiereiland atau Nordhalbinsel sehingga mereka lebih lancar menggunakan bahasa tersebut.


Tak lama, sesuai dengan perkataan nenek, mereka menemukan kedai bubur serupa. Si nenek mengatakan bahwa pemilik kedai bubur itu adalah putri dari pemilik kedai bubur yang sedang tutup itu. Meski rasanya tidak sama, namun buburnya ternyata sama enaknya dan Anna merasa kerinduannya terhadap cita rasa bubur itu dapat sedikit terobati.


Usai sarapan dengan pasangan tua yang asing itu, Anna hendak pamit, namun si nenek mencegahnya untuk buru-buru pergi.


"Kau terlihat lesu dan kurang bahagia, nak. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu belakangan ini?" tanya si nenek sambil menggenggam tangan Anna. Tangan itu sudah sangat keriput. Anna tiba-tiba saja terpikirkan cobaan apa saja yang pernah dilalui wanita tua itu semasa hidupnya dulu, yang mengikis usia mudanya dan menggantikannya dengan pengalaman dan kenangan. Karena semua manusia pasti melalui cobaan yang berbeda-beda. Anna selalu takjub dengan para orang tua yang telah berhasil melalui cobaan apa pun yang pernah mereka lalui dalam hidup panjang mereka. Karena kini dia tahu kehidupan tidak selalu mudah.


Si kakek, yang sejak tadi hanya diam mengamati mereka, turut menggenggam tangan Anna. Dengan senyum yang menenangkan dan suara parau yang sudah tua, dia berkata, "Kau tidak perlu menceritakannya pada kami. Aku percaya apa pun yang sedang kau lalui sekarang, kau akan dapat menghadapinya dengan kekuatanmu sendiri. Kau harus percaya pada kekuatanmu sendiri." Dan saat si kakek mengatakan itu, entah bagaimana, ada perasaan hangat mengaliri Anna. Meski udara Orient tidak dingin, Anna merasa kehangatan yang sangat familier melingkupinya, seperti selimut tebal dan cokelat hangat di hari bersalju.


Anna tersenyum menanggapi, "Terima kasih banyak."


Pandangan Anna kemudian beralih pada tangan-tangan keriput yang menggenggamnya itu. Tangan si kakek dan nenek yang terlihat sama tuanya. Mereka sama-sama mengenakan sebuah cincin. Anna menahan diri untuk tidak merasa iri pada mereka. Anna pernah berharap bahwa dia dan Xavier akan menua bersama persis seperti pasangan tua yang ada di hadapannya itu. Melihat tangan keriput mereka yang saling berpegangan dengan sepasang cincin serupa yang melingkari jari mereka entah bagaimana membuat matanya berkaca-kaca.


"Oh, astaga! Jangan menangis, nak." Si nenek segera memeluknya. Dan Anna pun meski tak mau, meneteskan air matanya. Si nenek melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipinya.


"Maaf..." Ucap Anna. Dia kemudian tertawa canggung. "Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku menangis. Ini mungkin terdengar aneh, tapi aku iri pada kalian berdua. Kalian terlihat sangat berbahagia bersama. Membuatku turut berbahagia untuk kalian, tapi di saat yang sama iri karena aku tak bisa seperti kalian."


Si nenek menoleh ke arah suaminya. Si kakek menyapukan jari keriputnya di wajah keriput si nenek. Dan Anna mengamati bahwa si nenek meneteskan air matanya, namun sambil tersenyum ke arah si kakek. Melihat keharmonisan pasangan tua itu membuat hati Anna menjadi hangat.


"Apakah aku sekarang tampak bahagia di matamu?" Tanya si nenek pada Anna.


Tanpa keraguan sedikit pun, Anna mengangguk. "Sangat bahagia. Bahkan meski mata Anda tampak berkaca-kaca sekarang, Anda tampak sangat bahagia. Kebahagiaan itu begitu terpancar sehingga menurut saya Anda terlihat bercahaya dan sangat cantik. Dan jika saya harus membandingkan kebahagiaan orang lain, yang mungkin tinggal di Istana dengan bergelimang harta dan makanan enak setiap harinya, Anda jauh lebih berbahagia dari orang itu." Kata Anna. Kemudian dia menanyakan hal yang sejak tadi ingin ditanyakannya, "Boleh saya tahu kenapa kalian menggunakan bahasa Schiereiland?"


Si nenek tampak terkejut dengan pertanyaan itu selama beberapa saat, lalu dia menjawab, "Itu karena kami sebenarnya lama tinggal di Utara semasa muda. Tapi setelah suamiku dan aku pensiun dari pekerjaan kami, kami pergi ke Orient untuk menikmati masa tua kami dalam ketenangan di atas bukit Shina."


"Jadi kalian tinggal di Shina?"


Kali ini si kakek yang menjawabnya. "Di sebuah rumah sederhana yang nyaman di atas perbukitan Shina yang tenang dan damai. Tempat yang sudah lama ingin kutempati bersama istriku sejak kami masih muda." Si kakek melirik ke arah Istrinya dan tersenyum.


"Kami tinggal berdua saja di sana semenjak tujuh anak kami sudah cukup dewasa dan tinggal di rumah mereka masing-masing di kota. Mereka sangat sibuk sehingga jarang mengunjungi kami, tentu saja karena kini mereka juga sudah berkeluarga. Terkadang mereka berkunjung dan membawa cucu-cucu kami untuk piknik bersama di halaman rumah kami yang luas. Anak-anak kami itu, ada yang tinggal di Noord, ada juga yang tinggal di Schere dan Westeria. Si Sulung, yang paling sibuk, sering bepergian bersama suaminya yang seorang pelaut. Sementara si bungsu tetap tinggal di Orient, dan dia yang paling sering mengunjungi kami. Tapi kami jarang di rumah. Kami lebih sering berkencan di luar dan berjalan-jalan ke berbagai tempat yang semasa muda tidak sempat kami kunjungi karena kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami. Kami sudah tujuh puluh tahun bersama, tapi masih ada banyak sekali tempat yang belum kami kunjungi karena kesibukan kami semasa muda." Kata si nenek. Dia berhenti sejenak dan tersenyum pada Anna, "Kapan-kapan kalau kau ke Shina, mampir lah ke rumah kami."


Dan setelah perbincangan itu, si kakek dan nenek pun meyakinkan Anna bahwa mereka akan berlama-lama di kedai itu dan mengizinkan Anna untuk pergi lebih dulu menyelesaikan urusannya.


Sebelum pergi, pasangan nenek dan kakek itu memeluknya dengan hangat. Dan saat tiba giliran si kakek memeluknya, Anna merasakan kehangatan yang familier. Si kakek berkata pelan padanya, "Apa pun kesulitan yang kau temui di masa kini maupun masa depan, yakin lah bahwa kau akan bisa melaluinya dengan baik. Yakin lah bahwa akan selalu datang kemudahan setelah kesulitan. Akan selalu ada hari yang cerah setelah awan badai. Kau akan bertahan melewati semuanya dan pada akhirnya kau juga akan berbahagia."


Anna mengangguk, "Terima kasih banyak. Kalian berdua benar-benar sangat baik. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian selalu."


Lama si kakek hanya memandang Anna dengan tatapan yang anehnya terlihat memilukan. Seperti sedang menatap potongan masa lalu. Anna berasumsi mungkin dirinya—dalam wujud Eri—mengingatkan si kakek pada salah satu putri mereka.


"Xav—sayangku... Kau harus membiarkan nona muda ini pergi. Dia mungkin sedang sangat sibuk dengan urusannya." Si nenek berkata pada suaminya.


Setelah salam perpisahan itu, Anna pun meninggalkan kedai bubur itu dengan hati yang lebih ringan. Meski Anna tak yakin akan bertemu kembali dengan mereka, namun dalam hati dia ingin pasangan itu dapat terus bersama dan berbahagia.


***


Anna melanjutkan perjalanannya dengan kembali melewati jalanan yang sama. Pertemuannya dengan pasangan tua tadi membuatnya semakin merindukan Xavier dan menyayangkan kebersamaan dirinya dan Xavier yang begitu singkat jika dibandingkan dengan kebersamaan pasangan itu. Mereka telah bersama selama tujuh puluh tahun! Sedangkan Anna hanya bersama Xavier selama satu tahun. Betapa tidak adilnya dunia ini terhadapnya. Padahal di kehidupannya yang lalu pun Anna tidak memiliki banyak waktu bersama Xavier. Kebersamaan mereka terlalu sebentar jika dibandingkan dengan waktu seribu tahun yang harus mereka lalui untuk dapat bertemu kembali.


Hari sudah semakin siang saat Anna melihat sebuah rumah kosong di sekitar jalanan itu, tempat dia dan Xavier pernah bersembunyi dari Elias dan Yeon-Hwa karena ingin menghabiskan waktu berdua saja dan berciuman di sana sepanjang sore. Rumah itu masih ada, dan masih kosong namun dipenuhi oleh anak-anak jalanan yang sedang bermain di halamannya. Betapa semua hal masih tampak sama sekaligus sangat berbeda karena Anna tak lagi melihat semuanya dengan hati yang berbunga-bunga. Karena ketiadaan satu orang yang paling berharga dalam hidupnya, bisa merubah seluruh dunianya menjadi lebih gelap dan muram.


Jalanan itu masih seramai biasanya, diramaikan oleh para pemabuk, penjudi dan pria hidung belang yang baru mengunjungi atau akan mengunjungi rumah bordil yang ada di sekitar sana. Beberapa turis yang tersesat tampak kebingungan saat melangkahkan kaki di distrik merah Jungdo itu. Berbagai macam orang memenuhi jalanan itu, tapi Anna merasa sangat sepi seolah tak ada siapa pun di sana.


Aku sudah lama tidak mendengar suaramu. Apa pada akhirnya kau benar-benar pergi meninggalkanku?


Baru beberapa langkah jauhnya Anna melangkah dari jalanan utama tempat Dong-gung berada, ke gang kecil yang sepi dan tidak ada orang yang berlalu lalang. Saat itu dia merasa semua kesedihan yang dia pendam selama ini kembali muncul. Anna terduduk di pinggir jalan dan menutupi wajahnya. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.


Belum ada satu tahun, baru beberapa bulan yang lalu saat dia berada di jalanan itu bersama Xavier di sampingnya dan merasa hidupnya sempurna dan sangat bahagia. Betapa saat itu dia berpikir bahwa semua akan baik-baik saja karena Xavier akan selalu ada untuknya. Dia berpikir bahwa kebersamaan mereka akan berlangsung lama. Dan kini dia berada di jalan yang sama, namun tanpa Xavier baik raganya maupun sekedar suaranya, dan Anna merasa sangat hancur. Jadi dia hanya menangis di sana seorang diri, tak peduli jika ada orang yang melewati jalan itu dan menatapnya dengan heran.


Aku sudah berusaha, Xavier. Aku berusaha sampai sejauh ini tanpamu. Aku tahu kau ingin aku melanjutkan hidupku dan tetap berjuang untuk rakyat. Aku mengerti apa yang kau harapkan dariku. Kau ingin aku bisa hidup tanpamu. Kau ingin aku melanjutkan hidupku. Hidup yang telah kau tinggalkan. Tapi nyatanya ini tak semudah yang kau pikirkan, Xavier. Aku tidak bisa melakukannya. Ini terlalu sulit bagiku. Ke mana pun aku pergi, apa pun yang aku lakukan, aku selalu mengingatmu dan memikirkan kenyataan bahwa sekarang kau sudah tiada. Aku ingin menyerah, tapi aku tahu nasib jutaan rakyat Imperial berada di tanganku. Mereka percaya padaku padahal aku sendiri tidak benar-benar tahu apakah aku berhak mendapat kepercayaan mereka. Mereka menggantungkan nasib mereka pada seorang pemimpin yang lemah sepertiku. Katakan bagaimana aku bisa bertahan tanpamu? Kenapa kau berhenti bicara padaku? Kumohon, kembali lah padaku. Aku benar-benar tidak bisa menjalani hidup tanpamu.


"Sayang..." Panggil seseorang dengan aksen utara.


***