The Flower Of Eternity

The Flower Of Eternity
Chapter 14 : The Steel Dragon



Ruang Istirahat Ibu Suri, Istana Matahari, Shina, Kekaisaran Orient


Di saat yang sama...


Reina sedang menyandarkan punggungnya ke kursi santainya. Kakinya dibiarkan terjulur lurus ke depan. Para pelayan memijit kakinya dan mengipasinya, para pemusik memetik dawai-dawai Zhuitar dengan lembut dan berirama sendu, sebuah lagu balad Orient yang terkenal tentang takdir yang tragis. Sementara Sang Ibu Suri Orient itu memejamkan matanya.


Dia tidak sedang tertidur. Hal itu terbukti dari bibirnya yang membentuk lengkung senyuman saat dia mendengar suara pintu ruangan itu terbuka. Dia bahkan tak perlu membuka matanya untuk mengetahui siapa orang itu. Hanya ada satu orang yang kedatangannya sedang dia nantikan. Dan orang itu, dia yakini, datang untuk membawakan kabar gembira untuknya.


"Yi Zhuo..." Katanya, suaranya sejernih gelas kaca. "Tidak perlu repot-repot memberi salam hormat seperti itu. Langsung saja katakan berita gembiranya. Kau tahu aku sudah menantikannya, bukan?"


Yi Zhuo tampak kesulitan berkata-kata. Karena apa yang akan dikatakannya sama sekali bukan berita gembira yang telah lama dinantikan oleh Sang Ibu Suri.


Semua orang yang ada di ruangan itu tampak memperhatikan ekspresi kalut di wajah cantik bermata satu itu. Yi Zhuo Sang Putri Bajak Laut, begitu lah semua orang di Orient sekarang menjulukinya. Tapi itu sama sekali bukan pujian maupun sebutan yang dia terima dengan bangga. Karena hal itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kepemilikan ratusan kapal laut canggih keluarga Xing, maupun kepiawaiannya dalam memimpin pasukan angkatan laut keluarga Xing. Julukan itu adalah hinaan baginya atas sebelah matanya yang ditusuk oleh rekannya sendiri. Julukan itu adalah bukti bahwa Yi Zhuo bukan tidak terkalahkan.


Dengan ragu dan takut, Yi Zhuo memulai, "Demi berkah langit, Ibu Suri—“


"Katakan." Tegas Reina. "Langsung saja."


Namun karena Yi Zhuo tak juga melanjutkan perkataannya, Reina membuka matanya. Alisnya bertaut, menyatakan kekesalannya dalam wajah yang tak pernah menua itu. Bibir merahnya mendecak.


"Aku memintamu untuk memberiku laporan, Torakka Yi Zhuo." Suara itu begitu halus, namun juga begitu tajam seperti pisau. Reina kini telah duduk dengan tegak. Dia memerintahkan para pemusik untuk menghentikan kegiatan mereka dan pergi dari tempat itu. "Saat aku menyuruhmu untuk bicara, kau sebaiknya bicara sebelum kau kehilangan pita suaramu seperti kau kehilangan sebelah matamu yang cantik itu."


Yi Zhuo segera berlutut di hadapan Reina. "Ampuni saya, Yang Mulia." Kali ini dia mendongak, menatap langsung mata Reina, "Saya tidak membawakan berita gembira untuk Anda."


Sang Ibu Suri mengernyit, keningnya berkerut membuat dirinya tampak sedikit lebih tua dari biasanya. "Apa masalahnya? Bukankah terakhir kau bilang pengerjaannya hampir selesai?" Tanya Reina. "Seratus Naga Baja akan diselesaikan akhir minggu ini. Ini sudah akhir minggu, Yi Zhuo."


Naga Baja adalah sebutan dari Ibu Suri Reina terhadap benda yang sudah lama dia rancang untuk memperkuat militer mereka. Reina yang merupakan putri dari seorang insinyur dan arsitek ternama sudah lama memiliki ketertarikan di bidang kendaraan militer. Dahulu, ayahnya lah yang membuat kendaraan dari bahan baja beroda besar untuk digunakan tentara angkatan darat Orient selama masa perang sebagai ganti kuda yang akan mudah mati di medan perang. Kemudian ayahnya yang bekerja sama dengan Panglima Xing Senior merancang kapal laut dari baja pertama yang digunakan untuk serangan laut ke pulau-pulau kecil di sekeliling Orient.


Reina sudah mulai merancang Naga Baja sejak dia baru menikah dengan Qin. Sebuah kapal dari baja seperti yang dibuat oleh ayahnya dan Panglima Xing Senior, namun kapal buatannya digunakan untuk angkatan udara yang dia bentuk. Dia bercita-cita menjadikan Orient tak terkalahkan baik di darat, laut maupun di udara. Reina menamakan kendaraan yang dapat terbang itu Naga Baja karena selain menggunakan teknologi tingkat tinggi, dia juga menggunakan bantuan kekuatan Naga Angin.


Keberadaan Yeon-Hwa sebagai Maharani membuat Naga Angin mau tak mau menuruti semua kehendak Reina. Karena jika tidak, Sang Maharani dipastikan tidak akan selamat. Jadi Kaze membantu Ibu Suri Reina untuk menerbangkan seluruh Naga Baja itu dengan syarat mereka takkan menyerang Noord tempat Raja para Naga berada. Reina menyetujui persyaratan itu.


Lagi pula Sang Raja Naga tidak boleh mati. Paling tidak sampai Reina berhasil merebut kuasa atas tiga kerajaan.


"Naga Angin..." Yi Zhuo memulai kata-katanya, "Kaze menghilang."


Perkataan itu sontak membuat Reina berdiri dari duduknya. "Apa katamu?"


"Naga Angin menghi—“


Plak!


Perkataan Yi Zhuo terhenti akibat tamparan Reina. "Kalau begitu kau dan pasukanmu itu harusnya tak ada di sini! Apa yang kau lakukan? Cepat cari dia!"


"Naga Angin menghilang tepat di depan mata saya, Yang Mulia."


Kali ini Reina tampak bingung. "Apa maksudmu?"


"Dia menghilang begitu saja. Sebelum menghilang, saya melihat dia menangis sambil memegangi jantungnya. Lalu dia menghilang tanpa jejak."


"Aku tidak mengerti. Bagaimana bisa—“


Tapi Reina tak meneruskan perkataannya. Dia tiba-tiba teringat pada perkataan Qin saat mereka masih lebih muda. Saat Naga Air sebelumnya, Kakek dari Naga Air yang sekarang, tewas setelah kematian istrinya. Tubuhnya menghilang bersama udara. Seolah tak pernah ada.


"Saat Naga mati, jasadnya akan menghilang bersama udara." Tanpa sadar, Reina mengulang kata-kata yang pernah diucapkan oleh Qin dahulu. Dia kemudian beralih kembali pada Yi Zhuo yang masih berlutut di hadapannya, "Apakah Kaze sakit atau semacamnya?"


"Tidak, Yang Mulia. Sesuai perintah Anda, kami memperlakukannya sebaik mungkin dan kami selalu memastikan dia diberi makanan yang bergizi dan vitamin. Naga Angin sangat sehat, Yang Mulia."


Reina kembali terdiam. Pikirannya dipenuhi oleh pelajaran-pelajaran dan sejarah-sejarah lampau mengenai Naga. Hal-hal yang sebelumnya hanya dia anggap sebagai mitos dan legenda. Namun semua itu nyatanya benar.


Yi Zhuo tampak bingung sesaat, "Selain informasi yang beliau berikan beberapa waktu yang lalu terkait kematian Raja Xavier yang ternyata adalah informasi yang salah, beliau belum memberikan kabar apa pun lagi, Yang Mulia."


"Raja Xavier... Itu dia. Raja para Naga yang terlahir kembali."


Yi Zhuo hanya mengangguk bingung. Mereka berdua sudah sama-sama mengetahui fakta itu dari Kaze setelah mereka terus memaksanya dan mengancamnya untuk memberitahu siapa Raja para Naga di kehidupan sekarang.


"Kalau begitu cari tahu. Cari tahu apakah Raja Xavier telah tewas. Cepat!"


Namun sebelum Yi Zhuo beranjak dari ruangan itu, seseorang mengetuk pintu.


"Masuk." Perintah Reina.


Orang yang baru masuk itu adalah dayang kepercayaannya. Dia membungkuk dan tak berani menatap mata Reina secara langsung. Tapi saat Reina menyuruhnya untuk bicara, tanpa ragu dan tanpa terbata-bata dayangnya itu segera menyampaikan apa yang ingin dia katakan. "Burung pengantar surat baru saja membawa berita duka dari Utara, Yang Mulia." Katanya langsung. "Raja Xavier telah meninggal dunia."


Informasi itu begitu singkat dan sederhana. Kematian lainnya dari seorang Raja yang negerinya hendak dia rebut. Seharusnya bukan sesuatu yang bisa mengusiknya. Tapi justru itu membuat semua rencananya hancur berantakan.


"Tidak mungkin..." Reina menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin!" Jeritnya, hingga semua yang ada di Istana Matahari mungkin dapat mendengarnya.


"Bukan kah ini berita bagus, Yang Mulia?" Tanya Yi Zhuo, masih bingung dengan reaksi Reina terhadap berita kematian itu.


"Bodoh! Jika Raja para Naga mati, maka semua Naga akan turut mati bersamanya!" Reina berteriak. Dia memecahkan berbagai guci antik koleksinya sambil berteriak frustasi. "Naga Bajaku tidak akan bisa terbang dengan sempurna tanpa kekuatan Naga Angin! Semuanya percuma saja jika Naga Angin tewas!"


...****************...


Ruang Doa, Istana Huang, Xiang, Kekaisaran Orient


Di saat yang sama...


Klan Huang menolak rencana Kaisar yang akan menjadikan Orient sebagai Negara Republik. Mereka berencana akan melakukan pemberontakan terhadap Kaisar Haru dengan mengajak serta Naga Air yang merupakan anggota keluarga mereka.


Itulah sebabnya Shuu tidak kembali ke Istana Air maupun tidak pergi menemui Kaze dan juga tidak mengikuti Rajanya dan Ratunya saat mereka berdua pulang ke Nordhalbinsel. Shuu menetap di Istana Klan Huang.


Itu dia lakukan demi menyelamatkan keluarganya. Karena jika Klan Huang melawan Kaisar tanpa bantuannya, maka sudah dipastikan seluruh keluarganya akan kalah dan tewas. Dan dia tidak bisa membiarkan keluarganya mati di tangan Kaisar.


Dia tahu Raja dan Ratunya telah bersama dan bahagia di Utara sana. Dia tahu mereka sedang menantikan kelahiran anak mereka. Dan meski tidak cukup jelas karena jarak yang sangat jauh, dia tahu hampir setiap ada kesempatan, suara Ratunya dan Rajanya berusaha untuk menjangkaunya. Menanyakan keberadaannya atau sekedar menanyakan keadaannya. Namun dia tak bisa menjawabnya. Baik Shuu maupun Kaze dengan sengaja memutus komunikasi mereka dengan Sang Raja dan Ratu. Berharap dengan begitu, keduanya tak perlu mengkhawatirkan kedua Naga Kembar. Dia tahu Sang Ratu akan aman di Istananya karena Rajanya akan senantiasa menjaganya.


Namun tidak dengan keluarganya. Keluarganya hanya memiliki dirinya sebagai harapan mereka satu-satunya. Dan jika berhasil, Shuu mungkin bisa mencegah pecahnya peperangan antara wilayah Xiang yang dikuasai oleh Klan Huang dengan seluruh bala tentara Kaisar. Dia mungkin bisa menghentikan semua itu dan menemukan titik tengah di antara perselisihan mereka.


Tapi dia tahu, dia tak perlu memikirkan semua itu sekarang.


Saat kematian datang menghampirinya, yang dia rasakan hanya kedamaian dan ketenangan.


Shuu tahu saatnya telah tiba. Saat perlahan jantungnya mulai hancur di dalam. Saat perlahan dia mulai dapat mengingat dengan jelas semua kehidupan lalunya. Kehidupannya sebagai Naga Air pertama yang melayani Ratu Agung Zhera. Kehidupannya sebagai Huang Nezha yang merupakan pemimpin Klan Huang pertama. Kehidupannya sebagai Naga Air lainnya di masa-masa sebelum saat ini. Dan yang paling dia ingat adalah kehidupannya sebagai Huang Hui Jun, kakeknya yang tewas setelah ditinggal mati oleh istrinya, Mei Lin.


Shuu menatapi lukisan Mei Lin yang dipajang di ruang doa sebagai salah satu leluhur mereka yang wajib untuk selalu didoakan karena permintaan terakhir dari Huang Hui Jun sebelum dia meninggal. Ruang Doa adalah tempat Hui Jun pertama kali bertemu dengan Mei Lin. Dan Ruang Doa itu akan menjadi tempat terakhir bagi Shuu menghembuskan nafasnya.


Rasanya sakit saat tahu Rajanya telah tewas, jauh di utara sana. Rasanya sakit saat tahu bahwa Kaze juga merasakan rasa sakit yang sama. Dan lebih sakit lagi saat tahu Ratunya akan sangat berduka atas kematian pasangannya itu. Sang Ratu akan tetap hidup, namun dia akan sendirian dalam dukanya. Hal itulah yang justru membuatnya merasa sakit.


Tapi dia tersenyum damai dalam rasa sakit itu. Matanya meneteskan air mata penuh kerinduan sambil memandangi lukisan Mei Lin.


"Aku tidak akan bereinkarnasi lagi setelah ini. Ini adalah yang terakhir kalinya. Jadi mari bertemu di alam sana, Mei Lin."


Setelah mengatakan itu, Shuu, Sang Naga Air, melebur bersama udara.


Hari itu, di Orient, setelah berbulan-bulan panjangnya musim kemarau, hujan turun tanpa henti. Sumur-sumur di pemukiman terpencil sekalipun terisi penuh dan seluruh tanah menjadi subur. Sang Naga Air memberi berkah terakhirnya untuk para manusia di bumi.


...****************...