
Hari demi hari berlalu. Anna kembali ke kesibukannya sebagai Tsarina dan sebagai ibu tunggal. Sambil menunggu surat balasan dari Eugene, Anna mengerjakan apa yang terlebih dulu dapat dia kerjakan untuk mempersiapkan negosiasinya dengan Haru maupun perang dengan Orient jika negosiasinya itu gagal. Sebisa mungkin dia tidak membiarkan dirinya berdiam diri ataupun sendirian, karena begitu kesibukannya berhenti dan tidak ada orang di sekitarnya, kesedihan akan kembali menemaninya.
Saat urusan Imperial mulai membuatnya sakit kepala, Anna akan keluar sebentar dari ruang kerjanya dan mengajak Vierra berjalan-jalan di taman rumah kaca bersama Irene yang mengajak Elyan. Mereka akan minum teh bersama dan mengobrol. Irene bisa menjadi teman bicara yang sangat menyenangkan di saat-saat seperti itu. Biasanya Irene akan bercerita tentang masa kecilnya di Schiereiland serta bercerita tentang hubungan pertemanannya dengan Raja Edward dan kisah cintanya dulu dengan Kris, ayahnya Leon. Anna senang karena rasanya seperti memiliki teman wanita yang berasal dari Schiereiland karena Irene lebih banyak menghabiskan masa mudanya di Schiereiland. Sebisa mungkin mereka menghindari topik tentang Xavier maupun Leon—yang satu meninggalkannya untuk selamanya, yang satu lagi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun dan belum memberinya kabar apa pun sampai saat ini.
Satu minggu kemudian, surat balasan dari Ratu Eugene pun tiba. Dalam surat itu, Eugene menyatakan akan menyambut kedatangan Anna untuk mendiskusikan tentang rencananya yang hendak menjadikan Westeria sebagai bagian dari Imperial Schiereiland. Itu bukan surat persetujuan—tidak seperti yang ada di mimpinya, tapi paling tidak Eugene bersedia untuk mendiskusikannya secara langsung dengan Anna. Pada hari itu juga, Anna mengajak Vierra, Irene serta Jenderal Tyros untuk berkunjung ke Westeria.
Istana Wisteria masih terlihat sama seperti saat terakhir kali Anna tinggal di Istana itu saat Montreux dan Schere dijatuhi bom usai hari peresmian pernikahannya. Rasanya kejadian itu sudah berlalu lama sekali, namun Istana Wisteria tidak berubah sama sekali. Istana itu masih sangat indah, seperti hanya ada di dongeng-dongeng yang penuh keajaiban. Terlebih lagi saat itu sudah mulai memasuki musim semi—di Westeria, musim dingin hanya berlangsung sebentar. Seluruh bunga-bunga yang tumbuh di sekitar Istana sedang sangat mekar dan mengeluarkan aroma musim semi yang sangat Anna rindukan.
Bunga-bunga Wisteria bermekaran di langit-langit sepanjang lorong. Tanaman-tanaman rambat menghiasi dinding-dinding Istana. Jika di kebanyakan Istana bunga-bunga diletakkan di dalam vas bunga, di Istana Wisteria, bunga-bunga dibiarkan tumbuh dan mekar di pojok-pojok ruangan maupun di sepanjang kiri dan kanan lorong panjang. Beraneka buah ada yang sudah mulai matang sehingga menguarkan aroma manis di udara. Para pelayan tidak hanya sibuk bersih-bersih, mereka juga sibuk memanen buah untuk kemudian dibagikan kepada para rakyat yang tidak mampu. Rakyat Westeria, baik kaya maupun miskin, tidak pernah merasakan kelaparan karena tanahnya begitu subur dan Istana Wisteria selalu menyediakan makanan melimpah untuk mereka semua. Anna memerhatikan semua itu dalam perjalanannya menuju kamar yang sudah disiapkan Eugene untuk ditempati oleh rombongannya selama berada di Westeria.
Eugene mengajak Anna berjalan-jalan di taman dalam Istana setelah memastikan Vierra tidur dengan lelap dan dijaga oleh Jenderal Irene, Jenderal Tyros, serta pasukannya. Meski keseluruhan Istana Wisteria adalah taman, mereka tetap memiliki sebuah ruangan khusus yang dijadikan taman dalam Istana, tempat Ratu Westeria menikmati musim semi pribadinya sepanjang tahun sambil minum teh. Di taman itu, terdapat air sungai mengalir dalam ruangan. Airnya sangat jernih, dan suara saat air sungai itu mengalir memberi efek yang menenangkan. Anna memikirkan dari mana dan ke mana air sungai itu mengalir hingga dia teringat bahwa Istana Wisteria sesungguhnya di bangun di atas danau yang sangat luas. Danau ajaib yang airnya tidak pernah mengering dan selalu jernih, yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Danau Lacrima de Madre—Air Mata Ibu.
Karena masih awal musim semi, belum banyak bunga yang bermekaran di taman itu. Bunga Nemophila yang memiliki warna biru cerah paling mendominasi taman itu sehingga tampak seolah lantai taman berwarna biru. Bunga Wisteria yang merambat di dinding-dinding hingga ke langit-langit memberi variasi warna ungu dan merah muda. Ada juga bunga-bunga lain yang masih belum sepenuhnya mekar seperti Tulip, daffodil dan mawar, serta bunga-bunga lainnya yang belum pernah Anna lihat yang bahkan tidak pernah tumbuh di Schiereiland.
Anna menggunakan kekuatan Earithear untuk memperbanyak bunga yang ada di taman itu serta mempercepat proses pemekarannya. Ratu Eugene memperhatikannya dengan kagum, namun sama sekali tidak terkejut seolah dia sudah diberitahu tentang apa yang bisa dilakukan oleh Anna. Anna tidak merasa heran, karena Theana Ortiz, pengawal pribadinya dapat membaca pikiran.
"Earithear atau Naga Bumi lah yang menciptakan Istana Wisteria. Dia menciptakannya dengan penuh cinta, dan memberikannya pada putranya." Kata Eugene. "Earithear adalah ibu dari Frederico Reyes, Raja pertama Westeria. Itu adalah legenda kuno yang paling dipercaya di Westeria."
"Benarkah? Aku sama sekali belum pernah mendengar tentang hal itu." Kata Anna. Dia memang pernah mendengar legenda kuno tentang Earithear yang menciptakan Istana Wisteria untuk umat manusia. Karena Istana Wisteria dapat menumbuhkan tanaman apa pun, bunga-bunga wangi yang menghibur hati serta buah-buahan lezat yang mengenyangkan seisi penduduk Westeria dahulu kala. Tapi Anna tak tahu bahwa Earithear adalah ibu dari Raja pertama Westeria.
"Kurasa legenda itu benar. Danau Lacrima de Madre tercipta dari air mata Earithear, air mata bahagia saat dia berhasil melahirkan Frederico dengan selamat. Itulah sebabnya airnya dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Earithear sejak dulu selalu dikisahkan sebagai Naga yang penuh kasih dan sangat menyayangi manusia." Kata Eugene yang masih memperhatikan bunga-bunga yang baru saja ditumbuhkan oleh Anna. Ada jeda lama sebelum dia akhirnya kembali berkata, "Kudengar mendiang Ratu Isabella, ibumu, adalah Naga Bumi."
"Benar." Anna menjawab singkat. Dia berharap Eugene tidak mengucapkan kata-kata yang biasa diucapkan orang-orang padanya. Bahwa mereka meminta maaf karena membahas kembali tentang ibunya atau mereka turut berduka cita untuknya. Karena jika Eugene mengatakannya, rasanya Anna ingin kembali menangisi ibunya.
Dan saat itu lah, ingatan tentang kematian ibunya kembali terlintas dalam benaknya. Anna menguatkan diri dan berusaha mengesampingkan dukanya. Kematian ibunya terasa sangat berat baginya karena Anna sangat dekat dengan ibunya. Dan karena sampai detik-detik terakhir kehidupan ibunya, Anna baru tahu bahwa ibunya adalah Naga Bumi. Itu seolah membuktikan betapa sedikit hal yang dia ketahui tentang ibunya. Betapa banyak hal yang tidak diceritakan oleh ibunya. Tentang masa lalu ibunya sebagai anak perempuan satu-satunya dari Grand Duke Smirnoff terdahulu, anak perempuan yang tidak diinginkan oleh ibunya karena Sang Grand Duchess ingin memiliki anak laki-laki untuk dijadikan pewaris keluarga Smirnoff. Dan betapa hal itu membuat Ratu Isabella tidak ingin mengulang kesalahan ibunya sehingga begitu Anna lahir sebagai putri pertama kerajaan Schiereiland, alih-alih menyalahkannya karena terlahir sebagai perempuan, ibunya melimpahkan seluruh cintanya untuk Anna. Ratu Isabella sangat mencintainya, hingga setelah kematiannya, Anna merasa sangat kehilangan. Tapi saat itu Xavier ada di sisinya dan membantunya melewati duka mendalam itu meski dengan proses yang tidak mudah. Keberadaan Xavier dapat menguatkan dirinya. Kini setelah Xavier juga tiada, Anna merasa seperti kehilangan pegangan dalam hidupnya dan jatuh ke dalam jurang kesedihan tanpa akhir. Seolah semua luka di hatinya, yang sebelumnya sudah ditambal, diperbaiki dan disembuhkan oleh Xavier, kini semua luka itu kembali terbuka setelah kematian Xavier.
Eugene melihat Anna yang tampak merenung setelah membicarakan ibunya. Tahu bahwa jika dia membahasnya lebih lanjut hanya akan membuat Anna semakin sedih, Eugene segera mengatakan kalimat selanjutnya. Kalimat utama yang sejak tadi akan dia katakan. Alasan utama kenapa dia meminta Anna datang ke Istananya.
"Itulah sebabnya aku semakin yakin untuk menjadikan negeri yang indah, yang diciptakan dengan cinta, dan penuh keajaiban ini sebagai bagian dari Imperial Schiereiland."
Kata-kata Eugene itu begitu mengejutkannya hingga butuh beberapa saat bagi Anna untuk dapat mencernanya. "Apa katamu?"
Eugene tersenyum padanya. "Tsarina Anastasia, sebelum membalas suratmu, aku sudah terlebih dahulu berunding dengan keempat pemimpin Klan. Aku bahkan sudah bertemu secara langsung dan bicara empat mata dengan Lady Violetta Reyes, Ratu pertama Westeria, yang sangat sulit ditemui. Kami sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Westeria akan tunduk di bawah hukum Imperial Schiereiland. Kami akan menjadi bagian dari Imperial."
Anna sama sekali tidak membayangkan bahwa Eugene akan langsung menerima penawaran itu begitu saja. Westeria sudah menjadi negeri makmur yang mandiri sejak memisahkan diri dengan Schiereiland seribu tahun yang lalu di bawah kepemimpinan Ratu Agung Zhera. Anna bahkan ingat seribu tahun yang lalu dia lah yang mengizinkan Westeria memisahkan diri dan tetap mendukung kemajuan negeri itu.
Jadi Anna bertanya kembali untuk memastikan bahwa Eugene memang mengerti apa yang sedang dia coba lakukan, "Aku tahu bahwa pengawalmu bisa membaca pikiran. Kurasa tidak ada gunanya berbohong atau pun merahasiakan sesuatu darimu. Jadi aku akan berterus terang bahwa aku berniat merekrut beberapa teknisi terbaikmu untuk bekerja dengan Grand Duke Smirnoff dalam menciptakan Naga Baja. Sebuah kendaraan dari baja yang dapat terbang dan merupakan kendaraan perang yang sebelumnya dirancang oleh Ibu Suri Reina dari Orient."
"Aku tahu." Kata Eugene dengan tenang.
"Dan kau tetap menerima tawaran itu meski kau sudah tahu?"
"Benar, Tsarina."
"Boleh aku tahu alasannya? Westeria menghindari perang selama bertahun-tahun. Dengan menyetujui bahwa Westeria berada di bawah kekuasaan Imperial Schiereiland, kau sama saja menyatakan bahwa Westeria siap untuk berperang bersama kami melawan Orient."
"Orient tetap akan menyerang kami, baik kami menjadi bagian dari Imperial atau pun tidak. Berdasarkan letak geografis, Westeria berada di antara Orient dan Montreux yang merupakan wilayahmu. Kami akan tetap terkena imbasnya baik secara langsung maupun tidak langsung." Jelas Eugene. Kemudian, sambil tersenyum ramah, dia menambahkan, "Lagi pula kami akan dipimpin langsung oleh Ratu para Naga. Kami memiliki pemimpin yang kuat dan dapat diandalkan. Kami tidak takut pada apa pun. Jika kau butuh orang yang dapat menghancurkan Orient dengan satu tatapan mata, kami punya para Navarro yang selama ratusan tahun kekuatannya dikekang dan disembunyikan dari pihak luar. Jika kau butuh mata-mata yang dapat mengetahui isi pikiran musuh kita, kami punya para Ortiz yang tidak hanya dapat membaca pikiran tapi juga mengendalikan pikiran orang lain. Ada juga para Torres yang dapat meniru kekuatan lawannya sehingga akan mengimbangi mereka di medan perang, serta para Salazar yang dapat bicara dengan hewan dan menjinakkan monster serta membuat seluruh hewan buas dan monster menjadi kaki tangan mereka. Kami semua akan siap berperang bersamamu. Kami percaya padamu, Tsarina Anastasia."
***
Hari itu mereka pun menandatangani persetujuan yang menyatakan bahwa kerajaan Westeria akan menjadi bagian dari Imperial Schiereiland setelah menyepakati beberapa poin-poin persyaratan di antara keduanya. Eugene tetap bergelar Ratu, namun kuasanya hanya sebatas urusan internal Westeria sedangkan Anna akan memegang kuasa tertinggi dalam pemerintahan Westeria. Eugene pun berjanji akan memberikan teknisi-teknisi terbaik Westeria untuk membantu Anna dalam penciptaan Naga Baja. Anna segera mengirimkan surat kepada Ludwig untuk memberinya kabar baik itu.
Hari sudah malam saat dia dan Eugene selesai membahas semua hal-hal yang berkaitan dengan penyerahan kuasa Westeria pada Imperial. Anna mendatangi kamar tempat Vierra tidur di bagian sayap kanan Istana Wisteria. Namun putrinya itu sudah tertidur lelap dengan Irene yang juga tertidur bersamanya. Memperhatikan ibu mertua dan putrinya itu tampak sangat nyenyak dalam tidur mereka, Anna tidak tega membangunkan keduanya. Jadi dia meninggalkan keduanya dalam penjagaan pasukan Engelberg yang dibawa Tyros.
Karena kantuk belum juga dirasakannya, Anna pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman tempat dia dan Eugene berjalan-jalan siang tadi. Taman itu bahkan terlihat jauh lebih indah lagi di malam hari. Cahaya bulan keperakan menerangi seisi taman, membuat taman itu menjadi tempat yang penuh keanggunan dan kedamaian dengan diiringi suara jernih air yang mengalir. Di antara bunga-bunga yang tumbuh di taman itu, ada bunga yang mengeluarkan cahaya yang warnanya berubah-ubah. Awalnya Anna mengira bahwa itu adalah salah satu teknologi ciptaan Westeria, namun ternyata itu memang bunga sungguhan yang belum Anna ketahui namanya. Ada juga beberapa kunang-kunang yang cahayanya berpendar berwarna ungu cerah. Kunang-kunang ungu seperti yang pernah dia lihat beberapa kali. Di atas, menembus langit-langit yang terbuat dari kaca bening, di antara bunga-bunga Wisteria yang mengelilinginya, tampak langit malam penuh bintang. Melihat bintang-bintang yang bercahaya terang itu Anna kembali teringat pada malam saat Xavier melamarnya di perayaan malam seribu bintang di Orient. Saat itu adalah malam paling membahagiakan dalam hidupnya.
Apa kau juga begitu? Setiap melihat bintang-bintang di malam hari, aku teringat padamu.
Tidak ada suara yang menjawabnya. Anna tidak mengharapkan suara yang dirindukan itu muncul, tapi dia tetap terdiam menunggu sambil memandangi bintang-bintang di langit.
"Menikahlah denganku."
Suara itu begitu mengejutkannya sehingga Anna membeku selama beberapa detik. Itu jelas bukan suara Xavier. Serupa, namun bukan. Suara itu lebih serak dan logatnya agak berbeda dengan Xavier. Terlebih lagi, orang yang mengatakannya menggunakan bahasa Westernia seolah dia sedang bicara dengan orang Westerian.
"Sudah kubilang aku tidak akan menikah!" Kali ini suara wanita yang bicara menggunakan bahasa Westernia.
Lalu terdengar suara derap langkah kaki keduanya. Mereka melangkah cepat sekali seolah si wanita sedang berusaha menghindari si pria, dan si pria tidak mau membiarkan si wanita jauh darinya. Semakin lama, langkah kaki mereka terdengar semakin dekat sehingga Anna buru-buru merunduk bersembunyi di balik pepohonan dan di antara bunga-bunga.
"Kau bilang tidak akan menikah. Bukan tidak mau." Kata si pria. Sekarang Anna tahu suara siapa itu. Dia adalah Jenderal Tyros. Suaranya terdengar agak berbeda ketika dia menggunakan bahasa Westernia sehingga Anna hampir tak mengenali suaranya. Anna mengintip di antara bunga-bunga dan mendapati keduanya sedang berdiri berhadapan cukup jauh darinya. Tapi Anna dapat melihat keduanya dengan cukup jelas. Tyros mengulurkan tangannya, menggenggam tangan wanita itu. "Theana, tatap aku dan katakan bahwa kau tidak mencintaiku dan tidak mau menikah denganku. Dengan begitu aku akan pergi dan benar-benar melupakanmu. Aku akan menjauh darimu dan tidak akan mengganggumu lagi. Tapi kau harus benar-benar mengatakannya padaku."
Anna merasa tidak enak harus mendengar pembicaraan mereka berdua, tapi di saat yang sama Anna tidak bisa pergi dari tempat itu tanpa ketahuan. Dan jika dia ketahuan, dia khawatir akan merusak momen mereka berdua. Tyros sepertinya sedang berusaha mendapatkan mantan kekasihnya kembali dan Anna bisa saja menggagalkan upayanya itu jika dia bergerak sedikit saja. Jadi Anna berusaha untuk diam dan duduk menunggu di antara bunga-bunga tanpa bersuara sedikit pun. Membiarkan kedua pasangan itu menyelesaikan masalah di antara mereka.
Setelah jeda yang cukup lama, Theana akhirnya berkata, "Aku..." Tapi tak ada kata-kata yang muncul setelahnya. Dia tampak mencoba lagi, "Aku... Aku tidak..."
"Kenapa? Tidak bisa? Kudengar sebagai ganti dapat membaca pikiran, orang-orang dari Klan Ortiz tidak dapat berbohong. Benar kan?"
"Kalau begitu ayo menikah denganku. Kau tidak perlu pergi dari Westeria dan meninggalkan kariermu sebagai pengawal Ratu. Westeria akan segera menjadi bagian dari Imperial Schiereiland. La Gran Puerta tidak akan memisahkan kita lagi karena Ratu Eugene akan memerintahkan agar gerbang besar Westeria yang selama ini memisahkan kita itu dihancurkan."
"Kau tidak mengerti. Bukan hanya itu masalahnya."
"Kalau kau mempermasalahkan usiamu yang sebenarnya tiga kali lipat dari usiaku, maka aku akan memberitahumu bahwa itu sama sekali bukan masalah untukku. Aku sudah cukup dewasa dan cukup umur untuk menikah, Theana. Kau tidak akan menikah dengan anak di bawah umur atau semacamnya." Kata Tyros.
Theana tampak terkejut mendengar kata-katanya. "Kau... tahu usiaku yang sebenarnya?"
"Aku tidak berniat mencari tahu awalnya. Aku sudah hampir menyerah dan, meski sulit, aku berniat untuk benar-benar melupakanmu setelah kau menolak lamaranku waktu itu. Tapi kemudian aku tanpa sengaja melihat bola mata Dewi Aletheia saat Leon membawanya ke ruang rapat, dan dari situlah aku tahu alasan sebenarnya kau menolak lamaranku. Kau khawatir bahwa aku terlalu muda untukmu? Atau kau khawatir bahwa kau akan berumur panjang dan awet muda hingga ratusan tahun sedangkan aku akan mati? Apa itu yang kau takutkan?"
Anna memang tidak melihatnya dengan cukup jelas, tapi suara Theana yang bergetar memberitahunya bahwa wanita itu sedang menangis. "Benar. Itu semua yang kutakutkan."
"Kalau begitu buatlah hidupku yang pendek ini menjadi lebih bermakna dan pantas dijalani. Menikah lah denganku, Theana. Aku tidak peduli meski kau berusia seribu tahun sekali pun atau meski kau akan tetap terlihat semuda ini saat aku sudah berkeriput nanti. Aku hanya ingin hidup bersamamu karena aku mencintaimu. Dan jika bukan dirimu, kurasa aku tidak akan pernah menikahi siapa pun. Hanya kau."
Theana tidak langsung menjawabnya. Anna menunggu dengan kesabaran yang dipaksakan. Ingin rasanya dia berteriak pada Theana untuk segera menerima lamaran Tyros. Tapi tentu saja itu terserah pada Theana. Hati wanita tidak akan ada yang bisa memahaminya, bahkan sesama wanita sekali pun. Theana mungkin punya alasan jika dia menolak lamaran dari orang yang dia cintai yang juga mencintainya.
Setelah jeda yang rasanya seperti ratusan tahun, Theana akhirnya berkata, "Usiaku tidak akan mencapai seribu tahun. Kebanyakan kaum kami mati di usia tiga ratus. Paling panjang usia kami bisa mencapai lima ratus. Dan aku akan mulai berkeriput juga jika sudah berusia dua ratus tahun. Aku bukannya abadi, hanya saja proses penuaanku berbeda dengan manusia biasa."
Itu tidak menjawab apa pun. Tapi kurang lebih Anna sudah tahu ini akan berakhir bahagia untuk keduanya. Dan dia akan segera pergi diam-diam dari tempat itu sebelum mereka berdua menyadari keberadaannya.
"Jadi... tidak ada masalah kan?" Tyros memastikan. Para pria membutuhkan jawaban yang jelas, sedangkan para wanita cenderung memberi jawaban yang penuh teka-teki yang menimbulkan pertanyaan lainnya.
"Kau tidak masalah menikah dengan seorang wanita yang lebih tua dari ibumu?"
"Kau bukan lebih tua dari ibuku—“
"Jangan bohong, Tyros. Usiaku enam puluh sembilan!"
"Aku tahu. Yang kumaksud, kau lebih tua dari nenekku. Bukan cuma ibuku. Nenekku enam puluh tahun—Aw! Sakit, Theana." Tyros mengusap-usap kakinya yang baru saja diinjak dengan keras oleh Theana. Dia tampak menahan tawa saat melihat kekasihnya itu merengut kesal padanya. "Harus berapa kali kukatakan kalau usiamu bukan masalah bagiku. Usia hanya lah angka."
"Lalu, apa kau yakin mau menikah dengan wanita yang dapat membaca pikiranmu? Kau tidak akan bisa berbohong padaku. Kau juga tidak punya kesempatan untuk selingkuh dariku. Tidak boleh ada wanita lain di pikiranmu selain aku. Aku akan langsung tahu kalau kau sedang memikirkan wanita lain. Dan kau tentu tahu kemampuan berpedangku, Jenderal."
Tyros tertawa, "Wah... Pasti seru sekali. Mendebarkan."
Meski Anna tak melihatnya, Anna tahu Theana sedang tersenyum. "Baiklah. Ayo kita menikah."
"Sekarang?"
"Jangan kurang ajar. Tradisi Westeria, kau harus membawa orang tuamu untuk menemui orang tuaku terlebih dahulu." Kata Theana.
"Baiklah. Nanti setelah aku kembali ke Noord, aku akan langsung membicarakan hal ini pada ayah dan ibuku. Tradisi di utara, aku harus mendapat restu dari kedua orang tuaku dulu." Kata Tyros.
"Satu hal lagi sebelum kau meminta restu dari ayah dan ibumu." Lalu terdengar suara langkah kaki lagi. Kali ini Anna cukup yakin mereka berdua berjalan menuju tempat dia duduk di antara bunga-bunga di balik pohon besar. "Kita harus meminta restu pada Tsarina Anastasia. Yang Mulia, apa kau akan merestui pernikahan kami?" Kini suara Theana sudah berada tepat di balik pohon tempat Anna bersembunyi.
Anna baru mengingat bahwa Theana pasti sudah menyadari keberadaannya sejak tadi. Theana Ortiz dapat membaca pikiran. Jadi tentu saja persembunyiannya selama ini percuma. Paling tidak hal itu tak percuma bagi Tyros karena pada akhirnya Tyros berhasil melamar Theana dan mendapat jawaban positif darinya kali ini.
Anna segera berdiri, merapikan gaunnya, kemudian keluar dari persembunyiannya. Dia melihat Theana dan Tyros yang kini sedang bergandengan tangan di hadapannya. Jari jemari mereka saling bertaut seolah tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Melihat mereka, entah bagaimana membuat Anna semakin merindukan Xavier. Dulu dia juga pernah menggenggam tangan pria yang dicintainya. Sekarang tangannya terasa kosong.
Tyros tampak terkejut, tapi Theana terlihat biasa saja. Anna segera meminta maaf pada mereka.
"Maaf. Aku tidak sengaja—“
"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Kami memang harus meminta restu dari Anda juga sebagai pemimpin Imperial." Kata Tyros langsung. "Yang Mulia, wanita ini adalah wanita yang sangat saya cintai dan akan saya nikahi. Dan sebagaimana sumpah setia saya kepada Imperial untuk selalu menjaga Imperial dan mengorbankan nyawa saya untuk kepentingan Imperial, saya juga akan bersumpah setia untuk selalu mencintai, mengasihi dan melindungi wanita ini dengan segenap jiwa dan raga saya. Bersediakah Anda merestui pernikahan kami, Yang Mulia?"
Entah kenapa mata Anna berkaca-kaca saat mendengar Tyros mengatakan hal itu, meminta restu darinya untuk menikahi wanita yang dia cintai. Mungkin karena saat Xavier meminta restu Dewi Langit untuk menikah dengannya di malam seribu bintang, Dewi Langit tak pernah benar-benar menjawabnya. Mungkin karena pernikahannya dengan Xavier, baik di masa lalu maupun di kehidupan saat ini, tidak pernah mendapat restu dari Dewi Langit.
"Tentu saja aku merestui kalian. Semoga kalian memiliki kehidupan pernikahan yang berbahagia, dan berumur panjang untuk dapat mencintai satu sama lain dalam waktu yang lama. Selamat untuk kalian." Ucap Anna sambil tersenyum tulus. Dalam hati dia mendoakan kebahagiaan untuk pasangan itu agar tidak berakhir dengan air mata seperti dirinya.
Mendengar itu, Tyros tersenyum bahagia. Anna belum pernah melihat Jenderalnya itu tampak sebahagia itu sebelumnya. Tyros dan Theana berlutut di hadapannya, "Terima kasih banyak, Yang Mulia."
***
Catatan dari buku jurnal Raja Xavier:
Wahai Dewi Langit, aku mencintainya. Wanita itu, wanita yang kucintai dengan sepenuh hatiku, kini terlahir kembali. Dan aku bertemu dengannya. Dan aku kembali jatuh cinta padanya. Engkau telah menepati janjimu, tapi kurasa aku tak bisa menepati janjiku untuk tidak mendekatinya lagi.
Jika kami tak boleh bersama, jika kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama, tolong buat hidupnya bahagia selalu. Jangan berikan dia cobaan hidup yang sulit ditanggung. Jangan biarkan air matanya terus mengalir. Aku memang menginginkannya, tapi aku lebih menginginkan kebahagiaannya.
Jika aku adalah kebahagiaannya, tolong jangan pisahkan aku darinya. Jika engkau hendak mengambil nyawaku, tolong pastikan itu tidak akan membuatnya bersedih. Dan jika dia bersedih, tolong kembalikan aku padanya.
***