
Tatapan mata Eugene menjadi gelap. Dia tidak menyangka Luis memiliki teori yang menurutnya tidak masuk akal dan dangkal.
Memangnya apa yang istimewa dari darahnya?—Mungkin itulah yang Eugene pikirkan saat ini.
"Hoi! Kau jangan bicara hal yang menakutkan, itu cuma darah saja"
Kata Eugene. Nada bicaranya naik beberapa oktaf—memperlihatkan kesan marah di wajahnya.
Seolah tak mau kalah, Luis melemparkan tatapan kesal pada Eugene yang sukses membuat Eugene bungkam di tempat.
"Cuma darah? Darah adalah hal yang berharga tahu! Bahkan hanya dengan setetes darah bisa membangkitkan kembali naga yang sudah punah!"
Baru kali ini Eugene melihat Luis marah. Apalagi urat-urat di lehernya sampai unjuk diri—memperlihatkan perasaan Luis yang dongkol dengan ucapan enteng dari Eugene.
'Ketua Yula itu pintar. Bahkan di masa lalu entah bagaimana dia bisa lolos dari tuduhan mengamuknya monster mutan buatan dia yang membuat dirinya bebas dari hukuman. Dia selalu menjaga agar tangannya bersih,'
Luis berusaha untuk tenang. Dia menyatukan kedua tangannya, melakukan pose seperti berdoa dengan mata terpejam. Kebiasaan Luis dikala ia sedang berpikir keras.
[Takdir masa depan mu akan berubah total karena kamu yang kembali dari masa depan ke masa lalu. Beberapa hal sulit akan datang padamu, dan mungkin saja salah satu sahabatmu bisa berkhianat]
Ucapan Rista terbayang di benaknya. Segera ia tepis ingatan itu jauh-jauh, dan mulai kembali fokus memikirkan masalahnya.
'Tidak, aku tak akan membiarkan itu terjadi'
"Kak Eugene, apa kamu mau membantuku?"
Tanya Luis yang akhirnya memulai pembicaraan dengan Eugene.
"Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mu itu, tapi apapun yang akan kamu lakukan akan ku bantu selama kamu menepati janjimu untuk melindungi ibuku"
"Kalau itu tenang saja. Spirit api yang aku kirim sudah sampai di desa tempat mu tinggal, dia sedang menjaga ibumu dengan baik"
Eugene mendengus. Merasa kesal dengan ucapan Luis yang sangat percaya diri, namun dalam hatinya ia bersyukur saat mendengar ucapan Luis tadi.
"Heh, kalau begitu bagus. Jadi, apa yang kamu butuhkan?"
Senyuman tipis muncul di wajah tampan sang pangeran. Luis senang karena Eugene bersedia ikut andil dalam rencananya.
"Kita akan membongkar sisi gelap organisasi OASIS dan menjatuhkan ketua Yula"
["Ada yang salah dengan Six setelah dia dipanggil ke ruangan organisasi OASIS, aku pikir kak Yula melakukan sesuatu padanya"]
Meskipun Luis berbicara begitu beberapa hari lalu. Nyatanya, saat dia keluar dari ruang kesehatan ia malah sibuk dengan kegiatan akademi yang sempat tertunda selama tiga bulan.
Luis harus mengisi kekosongan saat dia hilang dan dirawat, karena itu dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelidiki tentang Yula.
Saat dirinya disibukkan dengan kegiatan akademi, masalah lain malah muncul.
'Kak Eugene menghilang?'
Bukan menghilang seperti saat mereka di goa. Setiap kali Luis bertanya pada rekan yang satu divisi dengan Eugene di organisasi, mereka selalu memberikan jawaban yang sama.
"Eugene sedang diberikan tugas oleh ketua Yula,"
Ketika Luis bertanya lagi mereka malah sengaja menghindar atau menjawab dengan ala kadarnya yang justru semakin membuat Luis curiga.
Luis yakin kali ini Eugene tidak menghindarinya.
Selain dua masalah itu, Six juga bermasalah.
'Dia jelas menghindari kami semua dengan dalih tugas organisasi'
Bukan hanya Luis yang 'dijauhi' oleh Six. William, Hansoo bahkan Suchan pun diperlakukan sama oleh elf itu.
"Bukankah ini masalah Shan? Selama ini Six terlihat baik-baik saja dengan kita, tapi mengapa sekarang dia selalu menghindari kita seperti enggan?"
Kata William bertanya pada Luis. Saat ini mereka berempat sedang duduk dibawah pohon besar, tempat biasa mereka berkumpul. Tanpa Six, tentu saja.
"Aku yakin Six memiliki alasan tersendiri."
Ujar Hansoo. Dia percaya pada Six meskipun dirinya tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
'Aku lupa mereka itu bersaudara angkat, kejadian ini pasti membuat Hansoo sakit hati'
Kepercayaan Hansoo pada Six sudah tumbuh sejak lama karena ikatan saudara diantara mereka, meskipun tidak berbagi rahim tapi hubungan saudara mereka sangat baik seperti saudara kandung.
Suchan mendengus singkat. Ia bersandar di batang pohon, menikmati kesejukan dari bayangan pohon itu kemudian berbicara.
"Bukannya ini wajar saja? Kita sudah hampir tiga bulan berada di akademi ini. Six pasti sudah mendapatkan teman baru, dan mungkin temannya itu menyuruhnya untuk menjauhi kita semua"
Hansoo menatapnya tajam. Merasa tidak suka dengan ucapan Suchan yang terkesan menjelekkan Six.
"Jangan samakan Six dengan dirimu dasar beo!"
"Apa kau bilang!?"
"Kalian berhentilah berdebat. Mungkin Six sedang memiliki hal yang membebani dirinya dan kita hanya bisa menunggu sampai dia mau membagi masalahnya dengan kita"
William menengahi mereka dengan cara memisahkan Hansoo yang hendak memukul wajah Suchan.
Hansoo mendengus kesal. Ia kembali duduk di samping Luis yang tadi menahannya.
'Dia tidak pernah menceritakan masalahnya. Sama seperti seseorang'
menelan ucapannya dalam hati, matanya menatap Luis yang menghela nafas panjang. Atensi Luis beralih, saling bersibobok dengan tatapan Hansoo.
"Jangan khawatir. Six pasti kembali seperti semula nanti, seperti kata Liam sekarang kita hanya bisa menunggu"
Kata Luis dengan senyuman simpul, berusaha meyakinkan ucapannya pada Hansoo. Sang harpi hanya mengangguk singkat, berharap Six cepat kembali seperti semula.
...✧ ✧ ✧ ✧...
Sunyi. Tak ada suara apapun yang terdengar dari dalam ruangan itu. Gelap. Pencahayaan di sana sangat minim, seolah-olah itu memang disengaja untuk menyamarkan sosok lelaki yang sedang berlutut di bawah dengan luka di tubuhnya.
"Kamu paham apa yang kamu lakukan sekarang?"
Suara berat dan dingin itu terdengar, memenuhi ruangan yang sempit dan lembab. Sosok lelaki berambut perak di depannya mendongak, berusaha menatapnya dengan sepasang netra ruby yang ia benci.
"Aku tak paham, dan menurutku apa yang aku lakukan adalah hal yang benar!"
Diakhiri dengan meludah, satu cambukan melayang melukai kulitnya yang pucat. Darah kembali keluar dari luka yang kembali terbuka, membuat sang empu menahan rasa sakitnya tanpa berteriak.
Tatapan dingin kembali ia layangkan pada lelaki di depannya. Yula Cyrano tidak peduli pada Eugene Laverty yang terlihat kesakitan, toh ia hanya menghukumnya karena tidak becus menangani misi.
Begitulah pikirnya.
"Tidak tahu malu. Tahukah kau bahwa selama ini akulah yang menjagamu? Aku bahkan memberikan kursi terbaik kedua di akademi untukmu, tapi kamu tidak bisa memberikan balasan yang memuaskan untukku"
Ucapannya tergantung di udara, memberikan jeda untuk dirinya melayangkan satu cambukan bertenaga ke arah punggung Eugene yang terbuka.
Eugene hanya menahannya sambil mengerang kesakitan. Dia tidak boleh melawannya, bukan, lebih tepatnya dia tidak bisa melawannya karena cambuk yang Yula gunakan.
"Hanya untuk satu misi membayar utang mu di masa lalu saja tidak becus"
Ctak!
'ugh'
"Sekarang aku harus repot karena ulah mu"
Nafas Eugene mulai terengah-engah, dia hampir kehilangan kesadarannya karena kehabisan banyak darah.
'Dasar gila'
Meskipun begitu, ia sempat memaki Yula dalam hatinya.
Eugene terjatuh ke lantai marmer yang kotor karena darahny. Bau amis mulai tercium dalam ruangan, membuat siapapun tahu bahwa sempat terjadi penyiksaan di dalam ruangan itu.
Meskipun tubuhnya tumbang tapi kesadaran Eugene masih ada. Dia berusaha tetap sadar, saat ini ia tidak boleh pingsan atau Yula akan melakukan sesuatu pada tubuhnya.
Lebih parah lagi dia bisa dijadikan bonekanya, seperti seseorang yang mendekati Yula saat ini.
"Ketua Yula. Kepala sekolah ingin bertemu dengan anda,"Bisik seseorang itu. Matanya terlihat jernih namun sebenarnya dia sudah dikendalikan. Eugene merinding melihatnya, entah apa yang Yula perbuat pada murid itu hingga ia menjadi seperti sekarang.
ucapan Lusi waktu itu benar. Yula bisa mencuci otak seseorang sampai mengendalikannya, dan itu semua karena darah Eugene.
"Cih, boneka satu itu sangat keras kepala."
Yula mendecih. Ia melempar cambuk miliknya, kemudian mengelap tangannya yang 'kotor' dengan sapu tangan pemberian orang tadi.
Tatapan Yula melirik ke arah lelaki berambut bak zamrud yang ada di belakang murid yang melapor padanya, dia tersenyum begitu melihat lelaki itu.
Pion penting yang bisa mengguncangkan mental si pangeran yang menganggu dia, Yula susah payah menjadikannya seperti sekarang.
"Kamu, elf kesini"
Tak perlu menunggu lama, Elf yang ia panggil berjalan ke arahnya. Dia sedikit menunduk pada Yula, memberikan hormat pada sosok 'pemiliknya'
"Lanjutkan apa yang aku lakukan tadi, jaga kesadarannya tetap ada dan jangan bunuh dia paham?"
Elf itu mengangguk singkat. Yula tersenyum puas, menepuk pundaknya lalu pergi dari sana.
Urusannya sudah selesai sekarang. Dia akan datang lagi nanti malam, melakukan rencana yang harus terjadi lebih cepat dari jadwal awal.
"Bagus. Aku serahkan dia padamu,"
Setelah mengatakan itu Yula pergi dari sana, meninggalkan elf muda bersama teman masa kecilnya yang berada diambang batas kesadarannya.
Eugene mendongak begitu ia merasa Yula sudah pergi. Netra Ruby miliknya saling bertemu dengan netra Aquamarine milik elf itu.
Matanya membulat. Terkejut melihat sosok yang selalu berada di samping adik kelasnya.
"Kau—temannya Luis kan?"
Dengan susah payah Eugene berbicara. Ia masih menatap elf itu. Six, lelaki elf dengan rambut hijau dan mata birunya menatap Eugene sambil senyuman miring ke arahnya.
"Tolong jangan sebut aku seperti itu"
Ujarnya singkat. Ia meraih cambuk yang sempat Yula letakan di lantai. Tangannya mengelus tali cambuk yang ternodai oleh darah Eugene, lalu ia berjongkok, menatap lurus ke arah Eugene, memelototinya dengan tatapan mengintimidasi.
"Karena sekarang aku bukan temannya lagi"