
"14 tahun yang lalu? Gila! Kau serius!?"
Eugene berseru dengan tak percaya. Ia menatap wajah Luis, meneliti setiap kebohongan di wajahnya namun tak ia temukan sedikitpun kebohongan di sana.
'Dia serius'
Mengusap rambut peraknya dengan frustasi, Eugene menyenderkan tubuhnya di batu besar yang ada dibelakangnya. Informasi yang Luis katakan tadi sulit dia percayai tapi disisi lain ia juga jadi tahu mengapa selama ini Luis bertindak seperti tahu sesuatu.
"Apa yang terjadi di masa depan?"
Eugene bertanya singkat. Dia ingin tahu alasan mengapa Luis mengulang waktu ke masa lalu.
Tersenyum kecut, Luis mulai menceritakan semuanya pada Eugene. Awal dan akhir kisahnya sampai ia bisa kembali ke masa lalu, semuanya.
"Gila. Ternyata kau ambisius juga ya"
Luis tertawa kecil. Bingung memberikan respon seperti apa pada ucapan Eugene.
"Kak Eugene percaya itu?"
Eugene menatap Luis singkat. Ia pun mengangguk sebagai jawaban.
"Tentu saja aku percaya,"
"Semudah itu?"
"Memangnya kenapa? Aku itu vampir. Aku percaya pada reinkarnasi, kalau begitu mengulang waktu juga tak mustahil kan?" Eugene menjeda ucapannya sejenak. Ia mendudukkan tubuhnya, membenarkan posisi paling nyaman sebelum berbicara pada Luis.
"Lagipula yang membantumu itu lord Elf. Sosok agung yang sama dengan Dragon Lord, kau beruntung bisa bertemu dengan sosok seperti itu bocah"
Luis mengernyitkan dahinya. Kini dia tak nyaman dengan panggilan bocah dari Eugene.
"Berhenti memanggilku bocah"
Eugene mendengus. Ia pun tersenyum remeh kepada Luis yang menatapnya sebal.
"Kau itu bocah. Usiaku bukan 19 tahun, usia asliku itu 100 tahun kau tahu"
Luis terkesiap. Ia menutup mulutnya seperti tak percaya dengan ucapan Eugene.
"Jadi kak Eugene sebenarnya adalah Kakek Eugene?"
Celetuk Luis dengan watados. Perempatan imajiner muncul di dahi Eugene. Sepertinya Luis semakin menyebalkan baginya.
"Itu usia muda bagi vampir. Bahkan untuk aku yang hanya setengah vampir, aku bisa mencapai usia maksimal 500 tahun"
"Jadi usia Kak Eugene tinggal 400 tahun lagi dong?"
Eugene mengepalkan tangannya, bersiap untuk memukul wajah tampan Luis yang kini cekikikan sambil memegang perutnya.
Jdarr!!!
Luis terkesiap, menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya sambil menunduk saat mendengar suara petir dari luar. Meskipun dia sudah mengulang waktu dan pernah mencapai usia hampir tiga puluh tahun tapi ketakutannya pada petir masih belum hilang.
"Heh, kau takut petir? seperti bocah"
Eugene berucap dengan nada remeh sedangkan Luis menatap Eugene sinis. Suara petir sudah tak terdengar lagi sekarang, membuatnya menjadi lebih tenang kembali.
"Itu tak penting. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu kak Eugene"
Tatapan Luis menjadi serius, kini dia tak bercanda lagi.
"Apa itu?"
"Apa yang dilakukan ketua Yula padamu?"
Eugene terdiam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan dari Luis.
"Untuk apa aku memberitahukannya?"
Diletakan lah kedua tangannya di atas dada, sambil menatap Luis dengan tatapan menyelidik.
"Aku bisa membantumu. Yang menyuruh kak Eugene untuk membunuh ku juga ketua Yula kan?"
"Itu memang perintah dari Yula, tapi itu juga keinginanku"
Hening beberapa saat, hanya ada suara rintikan hujan yang terdengar dari dalam sana. Kayu bakar mulai hangus ditelan api, mengurangi kehangatan yang kedua lelaki itu rasakan.
"Kak Eugene pikir aku akan membunuhmu karena kamu itu vampir?"
Eugene tersentak namun kemudian senyuman remeh kembali terpatri di wajahnya.
"Heh, ternyata kau tahu"
Netra Rubi miliknya saling bertatapan dengan Netra Blue Sapphire milik Luis. Menerka apa yang akan sang pangeran ucapkan selanjutnya.
"Jadi. Apa kau akan membunuhku sekarang?"
Eugene memberanikan dirinya untuk bertanya seperti itu. Jikalau Luis memang mau membunuhnya maka ia akan menerimanya. Lagipula Eugene sudah melakukan kejahatan karena berniat membunuh pangeran negri ini, dia pantas untuk mendapatkan hukuman sesuai hukum kerajaan.
'Setidaknya aku akan—'
"Aku tak akan"
Terdiam. Eugene menatap Luis yang juga menatapnya. Mulut Eugene kelu, ia tak menyangka Luis akan membiarkannya begitu saja.
"Mengapa?"
'Pasti ada alasannya'
Eugene tahu Luis itu pintar. Ia yakin Luis bukanlah orang baik yang naif dan mengampuni Eugene hanya karena dia adalah kakak kelasnya.
Alasan macam itu tak cocok bagi Luis, setidaknya Eugene meyakini itu.
"Karena aku membutuhkanmu"
Tersenyum simpul Eugene merasa senang mendengar alasan Luis yang baginya masuk akal. Benar, pasti Luis memiliki keinginan dengannya.
"Kau ingin memanfaatkan aku?"
Luis mendengus. Kurang suka dengan ucapan Eugene yang menurutnya tak halus.
"Kata-kata itu terlalu kejam. Aku lebih suka mengatakannya sebagai kesepakatan," Luis menjeda ucapannya sejenak. Ia tersenyum kemudian mengangkat satu jarinya di depan Eugene.
"Aku akan memanfaatkan kekuatan kak Eugene sebagai vampir nanti, sebagai balasannya aku akan mengabulkan satu keinginan kak Eugene"
"Aku ingin membunuh mu—"
Luis segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Pembunuhan tidak boleh. Nyawaku itu penting bagi kedamaian benua ini,"
Hembusan nafas kekecewaan terdengar dari Eugene. Sangat disayangkan baginya tak bisa membunuh Luis, atau setidaknya dia ingin mengalahkan dia.
'Yah itu mustahil'
Dari segi kekuatan mungkin saja Eugene yang menang. Tapi dari segi pengalaman, teknik dan strategi maka Luis yang lebih unggul.
Kalau seperti ini hanya ada satu hal yang Eugene inginkan sebagai permintaan pada Luis.
"Tolong lindungi keluargaku."
Suaranya terdengar parau. Eugene menundukkan wajahnya, menatap tanah yang ia duduki.
"Aku memiliki keluarga di desa Ivi. Dia bukan keluarga kandungku, tapi dia sangat menyayangiku." Menjeda ucapannya sejenak ia kembali mengingat tentang keluarganya yang hangat, lebih tepatnya seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun yang menjadi ibunya.
Senyuman tipis muncul di wajah Eugene yang selalu mengkerut. Baginya sosok ibu itu adalah segalanya, dia sumber kehangatan yang Eugene miliki untuk tetap hidup di dunia yang menolak dirinya si memiliki darah vampir.
Senyuman tipis itu menghilang, digantikan dengan senyuman pahit kala mengingat kejadian yang telah lampau. Kejadian awal saat identitasnya diketahui oleh seseorang.
"Eugene, kamu vampir?"
Eugene kecil yang saat itu terpergok kala mengigit tangan seorang anak kecil yang pingsan menatap Yula di belakangnya dengan tatapan terkejut.
"Yula mengetahui identitas ku sebagai vampir saat aku berusia 9 tahun"