
Tidak ingin membuang waktu, Luis langsung mengikuti kelas sihir keesokan harinya. Hansoo dan William khawatir dengan keadaan Luis, namun kekhawatiran mereka dibalas dengan ucapan 'aku tidak apa-apa' oleh sang pangeran.
Melihat Luis yang bersikeras membuat Six kesal. Padahal dia tahu Luis bisa saja tumbang lagi, tapi karena itu keinginannya maka mereka tidak bisa memaksa.
"Jangan gunakan kekuatanmu secara berlebihan, aku merahasiakan kamu yang masih lemah karena percaya padamu Shan."
Hansoo berbisik pada Luis sebelum mereka pergi ke kelas. Luis hanya tersenyum padanya sambil mengucapkan terima kasih. Memang benar, keadaan Luis belum sepenuhnya stabil tapi setidaknya ia tidak akan batuk darah hari ini.
'Aku hanya akan batuk darah satu Minggu sekali, ini akan berhenti dengan sendirinya saat semua kekuatanku sudah terserap sepenuhnya'
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa"
Luis menjawab dengan nada yang meyakinkan, tapi Hansoo malah semakin khawatir padanya.
Selama lebih dari satu Minggu Hansoo mengenal Luis ia berpikir jika Luis sangat keras kepala. Dia tahu Luis itu kuat, aura miliknya berbeda dengan yang lain karena itu saat awal Hansoo melihat Luis dia merasa terancam oleh keberadaannya.
Tapi sekarang Hansoo tidak merasa terancam oleh keberadaan Luis, malahan dia jadi ingin melindunginya. Yah, mungkin keinginan melindungi itu didasari karena Luis mirip dengan seseorang yang berharga bagi Hansoo.
'Shan sangat mirip dengan Six, kuat namun keras kepala.'
Sekarang Hansoo tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia hanya akan mengawasi Luis supaya tidak menggunakan kekuatannya secara berlebihan, atau hanya sekedar mengingatkan dia untuk istirahat.
"Terserah kamu saja"
Hansoo melenggang pergi meninggalkan Luis yang berjalan di belakangnya, mendengar jawaban Hansoo yang agak ketus membuatnya terlihat mirip dengan Six.
Kalian bertanya kemana pemuda elf itu pergi? Jawabannya ia sudah menyeret William duluan karena tidak mau menunggu Luis yang lama.
Akhirnya, pelajaran pertama mereka dimulai.
"Ini adalah bola hitam yang akan melihat elemen kalian, setelah elemen kalian sudah diketahui kita akan mulai mempelajari sihir dasar dan penyerangan. Kalian paham?"
Semua murid menjawab dengan kompak mereka memahami penjelasan dari Charles. Setelah itu Charles mulai memanggil satu persatu murid untuk melihat elemen mereka.
Pernah ku jelaskan bukan. Kekuatan sihir dibagi menjadi beberapa elemen, seperti api, air, tanah dan udara. Beberapa orang bisa memiliki dua atau lebih elemen dalam inti magis mereka, namun resiko yang harus mereka tanggung pun lebih besar seperti kekuatannya.
"Selanjutnya, Six!"
Six berdiri dari kursinya lalu melangkah kedepan dengan percaya diri. Dasar, sifat Elf yang percaya diri dan sombong itu terlihat jelas di wajah Six yang tampan.
"S..sangat tampan"
"Pesona elf memang berbeda"
Para siswi yang hadir berbisik-bisik membicarakan ketampanan Six yang agak gak ngotak, mereka berpikir mungkin saja dewa bumi terpeleset saat membuat Six sehingga bumbu ketampanan masuk secara berlebihan kedalam kuali.
Six mengabaikan bisikan-bisikan itu, ia hanya fokus memperhatikan bola hitam kemudian mengulurkan tangannya di sana.
Perlu sekitar dua menit untuk melihat hasil. Bola hitam itu berubah menjadi warna biru dan coklat, kedua warna itu terbelah kemudian warna lain muncul dari sana.
"Woahh!!"
Semua murid yang melihatnya terkagum. Warna bola menandakan jumlah kekuatan sihir yang dikuasai seseorang, karena warna yang keluarnya ada tiga berarti Six menguasai tiga elemen.
"Air, tanah dan tumbuhan? Elemen yang sangat cocok untuk ras Elf. Kamu boleh duduk sekarang"
Six mengangguk singkat. Ia kembali ke tempat duduknya, matanya menatap Luis dengan tatapan mengejek yang entah kenapa membuat Luis agak kesal.
'huh, tenanglah. Sifat Six memang menyebalkan tapi dia baik kok'
"Selanjutnya Luis Shane De Rowan"
Tak kalah dengan Six tadi, reaksi pada murid kembali heboh saat Luis berjalan ke depan.
"Pangeran Luis!"
"Apa akhirnya kita bisa melihat api biru milik beliau!?"
"Aku penasaran bagaimana bentuk apinya"
Beberapa bisikan mulai terdengar dari para siswa dan siswi itu. Mereka tidak sabar ingin melihat kekuatan Luis yang belum pernah mereka lihat. Maklum, kekuatan dari seorang keturunan kerajaan biasanya terlihat menakjubkan dan agak berbeda karena itu mereka sangat antusias.
Luis menyentuh area bola itu. Ia tidak berkedip sedikitpun saat bola mulai berubah warna.
"Oh!! Itu!--"
Salah satu siswa terlihat sangat terkejut saat melihat warna di bola yang berubah-ubah. Padahal sudah dua menit berlalu tapi bola masih belum menemukan elemen yang pas untuk Luis. Api biru seharusnya elemen yang paling cocok untuk sang pangeran bermahkota biru itu, tapi sepertinya bola hitam menemukan elemen lain yang sulit ia tampilkan.
"Ini aneh, mengapa hasilnya sangat lama?"
Charles yang mengawasi dari samping Luis bermonolog singkat. Ia memperhatikan bola hitam sebelum hawa panas mulai ia rasakan, tidak, semua murid di sana merasakan hawa panas yang sama kemudian kobaran api biru muncul dari bola hitam lalu menjalar ke tubuh Luis.
Mahkota biru cerah miliknya berkibar seolah-olah tertiup angin musim panas saat api biru muncul di tubuhnya, ia seperti terbakar namun sang pangeran tidak merasakan panas apapun dari api itu.
Sang api biru yang muncul berubah bentuk menjadi burung elang besar, ia terbang kesana-kemari membuat perhatian semua murid terpaku ke elang api biru itu.
"Keren!!"
"Elang api biru!? Apa-apaan itu!!"
"Sangat cantik!"
Elang api biru terus mengibarkan sayapnya yang gagah sambil mengelilingi langit-langit kelas sihir, seperti tengah memamerkan kekuatannya pada para murid di sana.
Charles ikut terkejut dan kagum melihat pemandangan itu. Sebuah elemen yang berubah menjadi sosok hewan bagaikan spirit alam, ia belum pernah melihat tes elemen yang seperti ini sebelumnya.
'Tidak, aku rasa ini pernah terjadi di masa lalu'
Dalam ingatannya, sosok lain yang hanya ia lihat di buku dongeng juga pernah melakukan hal yang sama seperti Luis, melihatnya secara nyata membuat Charles terpukau.
William dan Hansoo menatap kagum pada elang api biru itu sedangkan Six mengamatinya dengan seksama, ia juga kagum hanya saja dia tidak memperlihatkannya.
Merasa sesi 'pamer' nya cukup, Luis bergumam memanggil sang elang api biru untuk kembali.
"Kemari"
Ujar Luis singkat. Mendengar perintah itu sang elang biru kembali ke Luis lalu bertengger di tangannya yang terulur. Manik kristal Luis dan manik biru sang elang bertemu, ia mencium kepala elang itu singkat sebelum menghilangkan sang elang.
Seruan heboh terdengar dari para murid sebelum mereka terdiam karena tatapan tajam guru Charles.
"Dasar, tukang pamer"
Seperti biasa, yang berbicara itu Six. Berbeda dengan mulutnya yang berucap menyebalkan, di dalam hatinya ia merasa sangat kagum pada kekuatan milik Luis yang menurutnya sangat murni.
'Aku tidak akan kalah darimu Shan'
Seperti api biru yang Luis miliki, kobaran api panas mulai muncul dalam diri Six yang tidak mau kalah dengan teman sekamarnya itu.