
Kuda-kuda telah ia lakukan, kini Eugene hanya fokus sebelum Luis kembali menyerangnya.
Merasakan aliran darah yang mengalir di nadinya, Eugene fokus membuat segel sihir untuk menyerang Luis.
Sang pangeran kembali menyerang kearahnya, melesat dengan kecepatan tinggi menggunakan sepasang sayap api biru dengan teriakan khas untuk mengeluarkan kekuatan yang ia miliki.
"Eaghhh!!!!!!"
Bersamaan dengan itu Eugene pun melakukan hal yang sama. Ia melesat ke arah Luis dengan tangan yang kini menggenggam pedang darah miliknya sendiri.
Blood sword adalah serangan mematikan klan vampir yang Eugene kuasai meskipun ia hanya setengah vampir.
Boom!!!
'kekkai' yang dibuat oleh Eugene bergetar karena kekuatan ledakan dari benturan pedang api biru Luis dengan pedang darah Eugene, kedua pedang itu saling beradu seolah ingin membuktikan mana yang lebih kuat diantara mereka.
Noda darah saling memuncrat, mengotori tubuh kedua lelaki yang kini terjatuh ke tanah. Entah darah siapa yang mengotori mereka, karena baik itu Luis ataupun Eugene memiliki luka yang sama.
Tapi Luka Luis tak separah milik Eugene.
Nafas Eugene tersengal, ia tak bisa merasakan tubuhnya lagi setelah itu seluruh tubuhnya merosot seperti kekuatan yang ia miliki meninggalkannya secara bersamaan.
Eugene terjatuh mencium tanah. Ia berusaha menatap kaki yang kini berdiri di depannya. Luis, dia masih berdiri meskipun dengan luka dan baju yang compang-camping.
Bahkan dengan kekuatan sejatinya pun ia masih tak bisa mengalahkan Luis.
'Huh, ketua Yula bukan apa-apa dibandingkan dengan dia'
Eugene bermonolog dalam hati. Anehnya dia tak merasa kesal karena dikalahkan oleh Luis untuk keduakalinya.
"Kau boleh membunuhku sekarang,"
Suaranya terdengar serak dan pasrah. Pokoknya Luis pemilik nasibnya sekarang. Toh Eugene juga tak bisa melawan lagi, kalau kabur pun dia malah akan bertemu masalah lain nanti.
Luis memiringkan kepalanya heran, ia berjongkok di depan kepala Eugene kemudian menyentil dahi sang senior.
dia selalu ingin melakukan itu karena Six sering menyentil dahi Luis.
"Aku enggak bilang mau bunuh kak Eugene lho ya"
Eugene tersentak. Tak percaya dengan apa yang Luis ucapkan. Bukannya kesepakatan mereka begitu?
"B..bukannya kesepakatan kita adalah nyawa masing-masing!?"
Memekik, Eugene menatap Luis yang kini malah membantunya untuk duduk bersandar di batang pohon. Dia tak mengerti dengan isi pikiran Luis saat ini, atau mungkin ia memang tak pernah bisa mengerti.
Hujan mulai mengguyur kedua lelaki yang saling bertatapan itu, memadamkan api yang membakar kayu dan area disekitarnya seolah mensucikan daerah kembali.
Luis menatap Eugene heran sedangkan Eugene menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
"Eh, aku kan belum mengucapkan keinginanku kalau aku menang"
Kini Eugene melongo dengan wajah konyolnya, ditambah rambut peraknya yang basah membuatnya semakin terlihat konyol.
"HAH!!?"
Luis menutup telinganya kala suara Eugene yang memekik sampai menyakiti indera pendengarannya yang cukup sensitif. Selain emosian ternyata Eugene juga pelupa, alhasil Luis harus mengucapkan ulang apa yang terjadi sebelum mereka bertarung.
"Iya, aku belum bilang kan apa mau ku? Tadi kak Eugene langsung menyerang setelah bilang kak Eugene mau membunuhku kalau menang, dan seperti yang kak Eugene lihat aku tak sempat mengucapkan apa yang aku mau"
Eugene membelalakkan matanya tak percaya. Benar, ia melakukan itu tadi karena ingin segera mengakhiri pertarungannya dengan Luis dan membunuhnya. Tapi dia tak tahu pemenang yang keluar di akhir malah Luis dan dia kalah telak dari juniornya itu.
Suara tawa yang renyah terdengar dari Eugene, dia menyadari kesalahannya karena terburu-buru dan meremehkan Luis.
'Seperti yang suara itu ucapkan, aku tak akan bisa mengalahkan Luis yang murni'
Ia merenungi kesalahannya, kemudian membuka mulutnya untuk berbicara.
"Jadi, apa yang kamu mau?"
Nah, sekarang dia gugup. Meskipun tadi Eugene sudah pasrah untuk mati, sebenarnya ia tak ingin benar-benar mati. Eugene masih memiliki keluarga yang menunggunya di rumah, meskipun mereka bukan keluarga asli Eugene tapi setidaknya mereka menyayanginya.
Entah reaksi apa yang mereka miliki saat melihat tubuh Eugene pulang tak bernyawa, memikirkannya saja membuat Eugene tak rela.
Karena misinya gagal maka Yula pasti akan memberitahukan rahasianya ini pada keluarganya. Eugene mulai merasa kalut sendiri, ia tak ingin diusir dari keluarga yang selama ini merawatnya dengan baik.
Luis terlihat memasang senyuman bisnis, sepertinya ia sudah menunggu pertanyaan dari Eugene sejak tadi makannya ia memiliki ekspresi itu saat ini.
"Bisakah kita kembali ke goa dulu? Hujannya terlalu deras, aku bisa terkena demam nanti"
Eugene tepuk jidat. Bisa-bisanya Luis khawatir tentang itu saat dia gugup dengan apa yang akan Luis minta.
Mengangguk paham Eugene setuju dengan ucapan Luis. Kembalilah mereka berdua ke goa yang sempat mereka tinggali, dengan Eugene yang digendong di punggung oleh Luis tentu saja.
Meskipun badan Luis itu kecil tapi dia mampu membawa Eugene yang lebih besar darinya. Kekuatan Luis itu kuat lho.
Hacuh!
Luis bersin, entah karena percikan abu yang masuk ke hidungnya atau karena dia dibicarakan oleh orang lain. Tangannya terulur ke depan, merasakan hangat dari perapian yang Eugene buat. Hujan diluar masih belum reda, karena itu cuaca semakin merosot menjadi dingin.
Ditambah mereka berdua ada di dalam goa yang lembab, menambah hawa dingin yang menusuk kulit.
"Ukh, bajuku sobek dan basah semua"
Luis berucap singkat. Menatap baju seragam miliknya yang sudah compang-camping tak berbentuk dan lepek terkena hujan. Kalau dilihat-lihat dia udah kayak gembel. Dekil, lusuh, dan kucel. Tapi bedanya wajah Luis masih blink-blink tampan luar biasa.
Kalau ganteng dari sananya mau pake baju kayak gembel atau basah kayak tikus got pun tetap aja ganteng.
"Kau bisa menggunakan burung api mu untuk menghangatkan diri,"
Mata Luis berbinar kagum mendengar saran dari Eugene. Mengapa dia tak kepikiran? Dikeluarkanlah burung api biru itu, Luis memanggil namanya singkat kemudian burung api biru pun muncul.
"Del"
Kaakkk!!!!
Burung elang api biru itu bertengger di bahu Luis, memberikan kehangatan dari api miliknya pada sang master dengan santai membuat Luis tak merasa dingin lagi.
"Oh? Apa kak Eugene juga kedinginan?"
Pertanyaan singkat ia lontarkan pada sang senior. Takut kalau dirinya juga merasa dingin, meskipun Luis tak yakin vampir bisa merasakannya.
Tapi kan Eugene hanya setengah vampir.
"Aku vampir kau tahu, suhu segini tak ada apa-apanya"
Luis ber- oh ria. Pantas saja sejak tadi Eugene betah bertelanjang dada, ternyata dia enggak kedinginan.
Kalau Luis yang melakukannya pasti dia sudah menggigil sejak tadi.
Eugene melempar kembai kayu ke arah api, membuatnya menambah kehangatan untuk menekan suhu dingin karena hujan dari luar.
Luis menatap api yang membakar kayu didepannya. Setelah diam beberapa menit ia pun mulai berbicara.
"Bantu aku untuk menyegel iblis, itu adalah permintaan ku"
Suara Luis terdengar pelan namun jelas dan serius. Hujan semakin deras kala Luis selesai berbicara. Ditatap lah sepasang netra Rubi milik Eugene yang kini terbelalak lantaran terkejut.
Eugene tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Luis.
"Kau, siapa kau sebenarnya?"
Kini Eugene bahkan tak yakin dengan sosok adik kelasnya yang menyebalkan ini, karena itu pertanyaan tadi adalah satu-satunya hal yang bisa memberikan dia jawaban.
Luis tersenyum tipis, kemudian suasana di sana pun menjadi sepi nan dingin.
"Aku Luis Shane De Rowan. Mantan raja di kerajaan Rowan, seorang manusia yang melakukan perjanjian dengan iblis kemudian menghancurkan satu benua dalam waktu kurang dari satu tahun"
Senyuman Luis berubah menjadi seringai. Auranya pun terasa berbeda dengan Luis yang tadi, Eugene tak percaya saat dia melihat sosok Luis yang seperti ini.
"Dan aku mengulang waktu kembali ke masa 14 tahun yang lalu,"