The Ending

The Ending
Episode 19 [Perubahan takdir (2)]



"A..apa maksudnya temanku berkhianat!?"


Pekik Luis tak terima dengan ucapan Rista. Menurutnya itu adalah hal yang paling mustahil—lagipula Luis sangat percaya pada teman-temannya.


Rista menjelaskan lagi, tidak peduli dengan raut wajah Luis yang marah padanya.


[Beberapa efek kupu-kupu yang kamu sebabkan membuat sifat mereka berubah. Musuh yang tidak seharusnya ada pun bisa saja muncul saat ini, kau pikir iblis itu tidak akan mencari inang lain selain dirimu? Dia tidak akan menyerah untuk keluar dari segel dan mengacaukan tataan dunia ini]


Luis menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal erat memikirkan ucapan Rista.


Benar. Meskipun bukan Luis pasti ada orang lain yang menjadi inang si iblis itu dan melakukan hal yang sama seperti Luis di masa lalu.


"Apa yang harus saya lakukan?"


Luis tidak mau hal yang dia alami dulu terjadi di sini.


[Lindungi apa yang harus kau lindungi. Tapi, karena takdir saat ini berubah sepenuhnya karena kamu jadi kamu harus melindungi mereka yang membutuhkan mu]


Rista menjeda ucapannya. Matanya melirik ke arah Luis yang menatapnya dengan tatapan tegas. Ia sangat ingin membantu Luis, karena bagaimanapun dialah yang mengembalikan Luis ke masa lalu. Tapi, kekuatannya sudah terkuras sangat banyak jadi dia tidak bisa membantu Luis lebih jauh.


[Maaf. Ini diluar kendaliku. Sedikit saja perubahan yang kamu lakukan saat ini akan berpengaruh pada masa depan. Bahkan sekarang kamu sudah merasakannya kan? Kamu masuk ke organisasi OASIS lebih awal dari yang seharusnya, itu adalah salah satu perubahan yang terjadi karena kamu kembali ke masa lalu]


Luis mengangguk paham. Nasib dunia ini ada di punggungnya sekarang, mungkin kejadian yang lebih buruk dari dulu bisa saja terjadi.


"Tidak apa-apa. Saya akan memperkuat diri saya sendiri agar bisa melindungi mereka semua"


Mendnegar ucapan Luis membuat Rista tidak tega. Apalagi Luis memiliki wajah yang persis seperti Daaris, membuat hati nuraninya selalu ingin memberikan apapun yang Luis mau.


Bahkan sifat kepahlawanannya juga sama, sifat paling menjijikkan Menurut Rista.


[Aku bisa meminjamkan kekuatan ku padamu tapi itu hanya bisa dilakukan satu kali. Jangan memaksakan diri, hidupmu juga berharga]


Satu bantuan itu dan Rista akan menghilang dari dunia sama seperti Daaris. Baginya itu lebih baik daripada hidup sebagai roh tidak jelas begini.


[Dan kau tahu, salah satu efek kupu-kupu yang terjadi padamu juga mempengaruhi kedekatanmu dengan gadismu itu. Apa yang lebih sakit daripada frenzone? Itu adalah familyzone]


Luis merasa tertohok. Dia tahu kali ini Cordelia malah menganggap dia sebagai kakak tanpa melibatkan perasaan lain didalamnya. Seperti yang Rista katakan saat pertemuan pertama mereka, perjuangan Luis untuk mendapatkan hati Cordelia akan sulit sekarang.


"Saya akan berusaha keras untuk membuat Cordelia menatap saya"


[Ingatlah. Mulai saat ini masa depan akan berjalan berbeda dengan apa yang kau tahu, beberapa musuh dimasa lalu bisa menjadi teman begitupun sebaliknya, teman yang kamu miliki bisa saja menjadi musuh di masa depan. Kau harus hati-hati, jangan naif dan segel kembali iblis itu]


"Akan saya lakukan"


Mendengar jawaban tegas dari Luis membuat senyuman bangga terlihat di wajah Rista.


[Bagus. Oh! Apa kau penasaran di mana ini? Tempat ini adalah replika dari ruang kerja Daaris, dia sangat suka membaca buku dan replika ini berada di dalam dimensi yang aku ciptakan. Ruangan ini terpidah dengan waktu sesungguhnya, jadi berapa lamapun kamu ada di sini waktu yang kamu habiskan di sana itu hanya 10 menit"]


Rista berbicara dengan nada yang riang. Sesekali, ia memperlihatkan buku-buku koleksi Daaris yang masih ada di sana kepada Luis.



Luis yang melihat itu berpikir sesuatu, kemudian ia pun membuka mulutnya.


Semburat merah muda muncul di pipi Rista. Ia langsung membeku di tempat, kemudian memalingkan wajahnya.


[B..bodoh! Aku mana mungkin jatuh cinta pada manusia fana dan ceroboh seperti Daaris! Dia sangat jauh dari tipeku tahu!]


Luis hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban. Saat seperti ini Rista sangat mirip dengan salah satu sahabat Luis.


'Yap, sangat mirip dengan Six'


Sifat tidak mau mengakuinya sangat mirip dengan Six. Apa semua elf memang seperti ini? Luis jadi penasaran.


Rista mulai mendudukkan tubuhnya di sofa. Ia menatap langit-langit ruangan itu, mengingat kembali dalam ingatannya tentang pertemuan dengan Daaris di masa lalu.


[Aku mungkin sedikit menyukainya.]


Rista bergumam—masih bisa terdengar oleh Luis.


[Sayangnya aku tidak sempat mengatakan itu padanya,]


Matanya mulai sayu, ia menyesali dirinya di masa lalu yang bersikap bodoh karena tidak mengakuinya waktu itu. Kali ini hanya ada penyesalan baginya.


Rista kembali berbicara, mulutnya terangkat membentuk senyuman tipis.


[Jangan menjadi seperti Daaris. Dia bodoh karena mengorbankan dirinya untuk orang-orang yang bahkan tidak bisa mengingat dirinya.


Sekuat apapun kamu pastikan selalu meminta bantuan pada teman-teman mu, menjadi kuat bukan berarti tidak menangis sama sekali. Kau bisa membagi beban mu pada teman-teman yang kau percaya,]


Kini tatapan Rista beralih menatap Luis. Netra kristal milik Luis sangat mirip dengan Daaris, meskipun bentuk wajah mereka berbeda tapi Rista tetap bisa melihat jejak keturunan Daaris dari sana.


Luis mengangguk.


"Baik. Saya akan mengingatnya"


Senyuman kembali terukir di wajah Rista. Rasanya hari ini dia banyak tersenyum, sudah sangat lama dia tak melakukan itu. Bahkan, Rista tidak yakin senyumannya akan terlihat ramah. Dia tidak bercermin, karena itu dia agak khawatir dengan raut wajahnya sendiri.


Tapi, melihat ekspresi Luis yang damai mungkin saja senyuman Rista tidak seburuk itu. Ia melirik kakinya yang mulai memudar, kali ini waktunya benar-benar habis.


[Waktuku sudah habis. Semoga saja aku tidak harus memberikan bantuan padamu dalam waktu dekat ini, tetap hidup dan jadilah kuat. Aku percaya kamu bisa melampaui Daaris]


Rista menjeda ucapannya sejenak. Tangannya terulur ke arah Luis, ia mengusap kepala Luis singkat sebelum tubuhnya menghilang dari sana.


[Kau sangat mirip dengannya. Jika saja kau menggunakan kacamata bundar dan anting-anting mungkin aku akan menyangka kau itu benar-benar Daaris,]


Tangan Rista beralih kebawah, kali ini dia mengusap kedua pipi Luis lembut.


[Hancurkan buku kuno iblis yang kamu baca di masa lalu. Akan ada orang lain yang mengambil buku itu, kamu harus mendapatkannya lebih dulu dari dia]


"Baik, akan saya lakukan"


[Kita akan bertemu lagi nanti, saat kamu membutuhkan bantuan ku. Sampai jumpa lagi, Keturunan Daaris, tidak, Luis Shane de Rowan]