
"A—Shan?"
Suara Hansoo bergetar begitu melihat sosok Luis yang duduk di kasur pasien dengan Cordelia yang ada disebelahnya. Cordelia bertugas sebagai perawat di ruang kesehatan, entah kebetulan macam apa yang terjadi sehingga dialah yang merawat Luis dan Eugene yang baru ditemukan setelah menghilang lebih dari empat hari.
Netra seperti permata Amethyst milik Hansoo berkaca-kaca, ia berlari menghambur ke pelukan Luis sambil menangis keras layaknya anak kecil yang kembali bertemu dengan ayahnya.
"Huwaaa!! Kau bodoh! Pangeran bodoh! Mengapa kau bisa hilang ditelan hutan!? Ku kira kau tak akan kembali, Shan bodoh!"
Luis hanya tersenyum simpul. Terharu melihat Hansoo yang sangat khawatir padanya sampai menangis begini.
Netra Blue sapphire milik Luis menatap William dan Suchan yang mendekatinya, ia tersenyum kepada mereka berdua yang kini malah ikut menitihkan air matanya—meskipun Suchan terlihat malu-malu saat matanya jelas menangis.
"Aku tahu kau pasti selamat,"
William berucap lirih. Ia menepuk pundak Luis yang kini terbalut perban putih.
"Apa yang kau lakukan di dalam hutan itu? Membasmi monster sampai akarnya?"
Ucapan yang terdengar mengejek itu berasal dari Suchan. Dia menarik kursi yang ada di sana, kemudian duduk di sebelah Luis.
Lagi-lagi Luis hanya bisa terkekeh. Hansoo sudah melepaskan pelukannya dan kini dia duduk di samping Luis.
"Ah—terima kasih sudah mengobati ku Cordelia"
Kata Luis, tak lupa mengucapkan terima kasih pada sang pujaan hati. Cordelia memiliki mata yang sembab, habis menangis keras di pelukan Luis beberapa menit yang lalu karena terkejut melihat sosok sang pangeran yang kembali dengan tubuh terluka.
Menghilangnya Luis juga berefek pada Cordelia. Dia khawatir sepanjang hari, memikirkan kondisi temannya yang dikabarkan menghilang oleh sang ketua organisasi.
Cordelia percaya Luis akan pulang dengan selamat. Dia sudah memberikan gelang berharganya pada Luis, karena itu Luis pasti dilindungi oleh benda berharganya.
'Ini konyol, tapi aku berharap pada keajaiban untuk selalu melindungi pangeran Luis'
Menunggu adalah hal yang bisa Cordelia lakukan selama ini. Dia selalu menunggu, bahkan saat empat hari telah melewatinya ia tetap menunggu.
Sampai kemudian saat hari kelima tepat sore hari, keributan terjadi di gerbang akademi memperlihatkan seorang lelaki yang Cordelia tahu sebagai kakak kelasnya.
Eugene keluar dari arah hutan. Dengan bertelanjang dada dan luka di sekujur tubuhnya.
"Tolong! Luis—dia tak sadarkan diri selama tiga hari!"
Cordelia dan beberapa tenaga kesehatan yang saat itu sedang bertugas segera mengamankan Eugene dan Luis yang pingsan. Penanganan pertama diserahkan pada Cordelia dan beberapa temannya. Karena kemampuan pengobatan milik Cordelia yang bagus, ia bisa menangani luka di tubuh Luis dan Eugene dengan baik bersama temannya yang lain.
"Kami akan melaporkan ini kepada ketua organisasi OASIS, tolong jaga mereka berdua"
Cordelia mengangguk paham dengan perintah dari kakak kelasnya. Dia diam di ruang kesehatan, menunggu Luis siuman dan Eugene yang tertidur.
Matanya mulai berkaca-kaca. Ia bersyukur melihat Luis yang masih bernafas meski kembali dengan luka di tubuhnya.
"Sungguh, terima kasih dewa"
Cordelia tak percaya pada dewa, tapi jika keselamatan Luis itu keajaiban yang diberikan oleh dewa maka ia akan mulai percaya itu.
Tersentak, Cordelia melihat tangan Luis yang bergerak. Menandakan sang pangeran yang siuman, kemudian kedua bola matanya yang indah pun terbuka secara perlahan.
"Cordelia?"
Kata pertama yang Luis ucapkan adalah nama Cordelia. Dia tersenyum manis, menampilkan wajah yang Cordelia rindukan akhir-akhir ini.
Hawa panas mulai menjalar di tubuh sang gadis. Di peluklah ia tubuh Luis yang kini duduk di kasur pasien. Luis mengerjap, tak menyangka kalau Cordelia akan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
Tapi disisi lain dia bersyukur karena pura-pura pingsan dan terluka. Jadi kan dia bisa dirawat dan dipeluk oleh Cordelia.
"Jadi kalian terjebak dalam goa karena serangan monster itu dan akhirnya kalian terjebak di sana tanpa bisa keluar setelah empat hari berlalu begitu?"
Luis menyudahi lamunannya yang melayang jauh mengenang kembali momen pelukan haru dirinya dan Cordelia. Kini tatapannya beralih menatap Suchan yang mengulang penjelasan dari Luis tentang situasi yang mereka alami.
Luis mengangguk sebagai jawaban. Yah—apa yang dia jelaskan tak salah sih, cuma dia memangkas sedikit kejadian aslinya saja dan menggantinya dengan sedikit kebohongan.
"Iya, luka yang aku miliki juga karena serangan monster itu. Mereka kuat, aku dan kak Eugene belum bisa mengalahkan mereka semua"
Apalagi monster yang melawan Luis adalah monster tak diketahui.
"Tidak apa-apa yang penting kamu selamat"
Suchan berucap bijak—untuk pertama kalinya terdengar aneh saat dia bersikap begitu.
William mengangguk setuju dengan ucapan Suchan. Dia sangat bersyukur karena Luis pulang dengan selamat.
"Aku tak mau menganggu reuni kalian, tapi cukup kalian tahu aku juga menjadi korban di sini"
Yang berucap dengan nada kesal itu adalah Eugene. Dia terbangun dari tidurnya kerena suara teman-teman Luis yang menganggu.
"Kak Eugene, syukurlah kamu selamat juga. Terima kasih karena sudah menjaga Shan"
William berucap dengan sopan dan hormat. Dia bahkan sedikit menundukkan kepalanya kepada Eugene.
Eugene menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Dia merasa canggung menerima perlakuan baik dari teman Luis, padahal tadinya dia ingin membunuh Luis.
"Ekhem, tidak apa-apa. Sudah tugas ku sebagai senior untuk melindunginya"
William dan Cordelia menatap Eugene dengan tatapan kagum sedangkan Suchan dan Hansoo menatap curiga ke arah Eugene.
"Memangnya senior itu baik kayak gini ya?"
Ini Hansoo. Dia berbicara sambil melipatkan kedua tangannya di dada, tak percaya dengan sikap Eugene yang cukup ramah.
"Aku pikir dia tipe senior yang menyebalkan dan jahat"
Baru kali ini Suchan dan Hansoo berada dalam kapal yang sama. Mereka sepakat untuk mencurigai sikap Eugene yang mencurigakan.
Eugene mengepalkan tangannya kesal, ingin sekali dia menghajar kedua adik kelasnya ini tapi ia mengurungkan niatnya karena ingat jika dua orang itu adalah sahabat Luis.
"Kalian jangan seperti itu. Meskipun begitu, tapi kak Eugene baik kok"
Kata Luis singkat. Membela Eugene ceritanya.
Suchan dan Hansoo terkejut, mereka tak berpikir Luis akan membelanya.
"Kalau Luis sudah bilang begitu maka kamu emang baik ya"
Suchan langsung mengubah pandangannya pada Eugene. Dia sangat mempercayai Luis, jadi kalau Luis bilang baik maka dia pasti baik.
Berbeda dengan Hansoo. Sang Harpi itu masih menatap Eugene dengan curiga, dia merasakan hal yang Janggal pada diri seniornya itu.
Eugene mengabaikan tatapan menyelidik yang Hansoo arahkan padanya. Terlalu malas untuk berurusan dengan adik kelasnya itu, karenanya ia memilih untuk mengabaikan saja.
"Terima kasih, namamu Cordelia kan?"
Eugene tersenyum simpul pada Cordelia yang sudah mengganti perban miliknya. Cordelia mengangguk membenarkan, ia agak aneh saat dikenal oleh kakak kelas macam Eugene. Apalagi Eugene itu murid terkuat kedua di akademi.
'Kalau dia Cordelia berati orang yang Luis bilang sebagai calon istrinya itu anak ini ya?'
Tatapan Eugene beralih menatap Luis yang sedang berbicara dengan kedua temannya. Senyuman jahil terlihat di wajah Eugene, dia ingin menjahili Luis menggunakan Cordelia.
"Hey Cordelia. Tahukah kamu saat kami di goa Luis bilang kau—"
"AAA—Kak Eugene kayaknya harus tidur lagi deh, kau sangat kesakitan kan!? Tidurlah lagi, kami tak akan menganggu tidurmu kok!"
Luis segera menidurkan Eugene secara paksa ke kasurnya, kasur mereka bersebelahan jadi ia bisa mendorong Eugene kebelakang. Karena kekuatan Eugene belum sepenuhnya pulih ia pun jadi terdorong dengan mudah oleh Luis.
"Luis kau!—"
"Oh, maaf. Apa aku menganggu?"
Perhatian semua orang yang ada di sana langsung tertuju pada suara seorang lelaki yang baru saja membuka pintu. Itu adalah Yula, dia datang dengan senyuman di wajahnya.
'Sialan'
Senyuman yang membuat Eugene merinding saat melihatnya.