
"Kau ini benar-benar jenius Shan!"
Ocehan singkat keluar dari mulut Hansoo yang duduk di samping Six. Sekarang mereka sedang istirahat setelah selesai mengikuti kelas sihir.
William yang duduk di sebelah Luis mengangguk setuju.
"Benar. Aku tidak percaya kau bisa menggunakan sihir dasar secepat itu, Six juga sangat gila. Bagaimana kamu bisa mengeluarkan banyak kekuatan saat tanding dengan guru Charles? Kau bahkan membuatnya lebih kewalahan daripada saat melawan Shan!"
Pekik William menambahkan komentarnya tentang kejadian beberapa jam yang lalu.
Saat itu guru Charles mengajarkan pada mereka bagaimana menggunakan sihir dasar dan menyuruh para muridnya untuk mempraktikkan sihir mereka.
Hampir semua orang kesulitan pada awalnya, namun itu tidak berlaku bagi Luis.
Mata kekuningan milik guru Charles menatap Luis dengan tatapan tak percaya, pasalnya Luis berhasil menggunakan kekuatan sihir dasar dan membuat bola api biru dengan mudah. Semua orang terkagum melihatnya.
Tidak hanya itu. Setelahnya Six pun menunjukkan kebolehannya dalam sihir. Dia mampu membuat balok kayu dari tanah, bola air dan menggabungkan kedua elemen itu sehingga ia bisa menumbuhkan tumbuhan dalam ruangan kelas.
Charles menatap kedua muridnya dengan tatapaj tak percaya. Setelah itu ia mengajak tes tanding melawan Luis dan Six.
Lawan pertama Charles adalah Luis. Dia kewalahan karena Luis bisa menggunakan kekuatan api biru miliknya dengan baik dan efisien, Luis terus melawan Charles tanpa ampun seperti perintah sang guru.
Pemenang yang keluar adalah Charles. Luis terengah-engah di akhir pertandingan, dia terlalu banyak menggunakan kekuatannya lagi—sehingga ia harus menahan dirinya sendiri kalau tidak mau batuk darah dan pingsan di sana.
'Jika saja dia tidak memiliki gangguan inti magis mungkin aku akan kalah telak dari dia'
Charles membatin memikirkan kekuatan Luis di masa depan.
Lawan selanjutnya adalah Six. Awalnya Charles tidak terlalu kerepotan dengan pertarungannya dengan si elf tampan itu, ia bisa mengimbanginya dan percaya diri bisa mengalahkannya.
Tapi, sebelum waktu pertandingan habis tiba-tiba saja Six menggunakan kekuatan tumbuhan miliknya yang sukses membuat Charles kerepotan. Elemen Charles sendiri adalah angin, dia agak kesulitan melawan Six tapi akhir pertandingan itu adalah seri.
"Sepwerti yawng guwru Chawlrles kawtkan. Kawilan itwu gemnerasi monwmnsr!"
(seperti yang guru Charles katakan, kalian itu generasi monster!)
Hansoo berbicara dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.
"Habiskan makanan dalam mulutmu sebelum kau berbicara, kau bisa tersedak bodoh"
Six memberikan air minum pada Hansoo setelah ia mengatakan itu. Sesuai dengan yang Six katakan, Hansoo langsung tersedak.
Uhuk! Uhuk!
William dan Luis hanya tertawa melihat tingkah teman mereka.
"Kau terlalu berlebihan Han, aku tidak sekuat itu"
Luis berbicara singkat. Sediit berendah dengan kekuatan yang ia miliki. Six mendengus tak percaya, dia tahu kekuatan Luis lebih adari tadi hanya saja ia menahannya.
"Saat inti magis mu sudah baik aku ingin melawan mu dengan serius Shan"
William dan Hansoo terdiam. Six baru saja mengucapkan tantangan pada Luis dengan wajah yang serius.
"H.. hei! Kita ini teman jangan bertengkar!"
Hansoo agak gelagapan menangani kedua temannya itu. Dia tahu, kalau Six tidak bercanda dengan ucapannya.
William hendak berbicara untuk membantu Hansoo, tapi Luis mendahuluinya dengan mengiyakan tantangan dari Six.
"Baik. Kita nantikan saja nanti,"
Six tersenyum menyeringai sebelum ia kembali ke makanannya yang belum sempat ia sentuh.
"Hei, kau yakin Shan? Kalian tidak akan saling ekhem, kau tahu saling bunuh kan?"
William berbisik pada Luis dengan wajah yang khawatir, Luis menatap temannya itu sambil tertawa pelan.
"Jangan khawatir, Six tidak akan membunuhku"
'Selama aku tidak terjatuh kedalam kekuatan iblis, Six tidak akan membunuhku'
Ujung mata Luis menatap jam dinding yang ada di cafetaria, dia segera berdiri kemudian membereskan makanannya.
"Mau kemana?"
Hansoo dan William bertanya kompak. Six masih makan dengan wajah tak acuh miliknya.
"Menemui Cordelia, kalian kembalilah ke asrama duluan"
"Jangan lupa ceritakan latihan kalian nanti pada kami!!"
Luis hanya bisa terkekeh kecil mendengar ucapan Hansoo. Setelah itu ia pun pergi ke tempat latihan untuk bertemu dengan Cordelia.
"Fiyuh!! Latihan tanding dengan kak Luis ternyata susah ya!"
Keluhan kecil terdengar dari sosok perempuan dengan rambut kuncir kuda yang sedang tidur terlentang. Lelaki bermahkota biru dengan manik blue Sapphire disebelahnya tertawa mendengar keluhan itu.
"Terima kasih karena sudah mau jadi teman latihan tanding ku. Kemampuan pedang mu bagus Cordelia"
Cordelia bangun dari posisi tidurnya, menoleh kearah Luis kemudian tertawa pelan.
"Kak Luis terlalu berlebihan, aku bahkan tidak bisa melukai kak Luis sedikitpun tadi haha"
Ujar Cordelia singkat. Ia kembali mengingat kejadian saat bertanding dengan Luis tadi.
Kemampuan Luis dalam hal berpedang sangat bagus, Cordelia mengakuinya. Dia bahkan sulit melukai Luis, jangankan melukai—ujung pedang miliknya saja tidak bisa menyentuh tubuh sang pangeran.
Mendapat pujian dari seseorang yang begitu kuat menurutnya membuat Cordelia bahagia, dia tahu Luis mengucapkan pujian untuknya dengan tulus, Cordelia yakin akan hal itu.
Berbeda dengan isi hati Cordelia yang senang karena mendapatkan pujian dari Luis. Sang pangeran malah merasa kesal dengan cara Cordelia memanggil dirinya.
'Kenapa harus ada embel-embel 'kak' saat dia memanggilku!? Aku jadi merasa ada jarak diantara kita'
Luis kesal karena Cordelia memanggil dia kakak. Memeng benar, usia Cordelia lebih muda satu tahun dari Luis sehingga panggilan kakak sudah menjadi hal yang wajar.
'TAPI AKU GAK MAU DI PANGGIL KAKAK!!'
Ingin rasanya Luis berteriak begitu pada Cordelia, tapi dia tidak bisa melakukannya.
"Oh iya! Kak Luis!"
Suara bersemangat dari Cordelia membuyarkan pikiran Luis yang berpikir bagaimana caranya supaya Cordelia tidak memanggil dia kakak. Luis menatap Cordelia, kemudian tersenyum tipis.
"Ada apa?"
Cordelia mendekat, duduk tepat di samping Luis.
"Aku dengar kak Luis berhasil menguasai sihir dasar saat di kelas tadi? Katanya, kak Luis juga mengeluarkan elang api biru kan!? Itu keren sekali!"
Luis terkekeh melihat tingkat Cordelia yang seperti anak kecil, rasanya dia jadi semakin menyukai gadis dengan manik obsidian ini.
"Tapi sayang sekali aku tidak melihatnya, kelas kita beda"
Luis mengucapkan kata 'ah'singkat setelah Cordelia berbicara.
Kelas Cordelia berbeda dengan Luis, karena itu ia tidak melihat aksi 'pamer' Luis saat di kelas tadi.
"Kalau begitu, kamu mau lihat?"
Cordelia langsung mengangguk bersemangat, menatap Luis dengan tatapan berbinar-binar.
"Bolehkah!?"
"Tentu saja"
Luis mengangkat tangannya ke udara, seekor burung api biru muncul dari ujung jari Luis kemudian terbang mendekati Cordelia.
"S..sangat keren!!"
Cordelia berseru. Matanya terus memperhatikan burung api biru milik Luis yang kini bertengger di lengannya. Meskipun burung itu adalah api, tapi Cordelia tidak merasakan panas sedikitpun.
'Tentu saja aku sudah mengaturnya suapaya jari Cirdelia tidak akan terbakar api biruku'
Ternyata alasannya adalah Luis yang bucin.
Setelahnya mereka mengobrol sebentar. Luis berbicara pada Cordelia kalau dia tidak perlu memanggil Luis dengan sebutan kakak, namun Cordelia membalas dia ingin memanggil Luis dengan sebutan kakak karena dirinya merasa terhormat bisa berteman dengan pangeran mahkota seperti Luis.
Cordelia baru tahu kalau Luis itu pangeran mahkota. Di akademi dilarang memanggil dengan gelar atau jabatan—jadi Cordelia akan memanggil Luis dengan sebutan kakak sebagai bentuk penghormatannya.
'Penghormatan sialan'
Luis tidak bisa memaksa Cordelia, karena itu dengan berat hati dia harus menerima panggilan kakak dari sang pujaan hati.
jangan sampai Luis menjadi KAKTUS. KAkak adiK Tanpa statUS.