The Ending

The Ending
Episode 21 [Membujuk Senior]



Meskipun Luis khawatir tentang Malasah pertemanannya, tapi ternyata hubungan pertemanan yang dia miliki berjalan lancar sejauh ini.


Luis masih sering menghabiskan waktu mengobrol dengan Six, Hansoo dan William di bawah pohon besar tempat biasa mereka berkumpul. Kadang Suchan juga ikut mengobrol bersama dengan alasan dia tak memiliki teman berkualitas seperti Luis, tentu saja itu membuat keributan kecil dengan Hansoo yang masih membenci Suchan dan tatapan tak menyenangkan dari Six yang terang-terangan ditunjukkan pada Suchan.


Pokoknya, Suchan seperti tidak di anggap oleh Six dan Hansoo sedangkan William sendiri malah sering mengobrol dengan Suchan.


Luis hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka, namun dalam hatinya dia merasa senang karena pertemanan mereka tak terlihat adanya keretakan sedikitpun.


Merasa ia bisa sedikit lebih tenang, kali ini Luis akan melanjutkan rencananya.


"Oh! Kak Eugene!"


Eugene, lelaki yang akan lulus tahun depan itu tersentak saat mendengar namanya di panggil oleh Luis. Ia memalingkan wajahnya, kemudian melakukan langkah seribu meninggalkan Luis yang terdiam di tempatnya.


"Astaga, kenapa dia lari lagi?"


Luis menghela nafas jengah. Selalu saja seperti itu. Saat Luis berusaha menyapa Eugene, dia pasti akan lari atau menghindarinya secara terang-terangan. Apa sebegitu bencinya Eugene pada Luis sampai dia seperti itu? Tidak, Luis yakin ada masalah lain yang menyebabkan Eugene enggan untuk berbicara dengannya.


"Kak Eugene pikir aku akan menyerah?" Luis mengepalkan tangannya erat-erat. Mulutnya membentuk sebuah smirik yang mencurigakan.


"Oho, jelas tidak." Ia menatap tempat Eugene menghilang kemudian melanjutkan ucapannya.


"Cinta Cordelia saja aku kejar, apalagi mengejar kakak kelas yang keras kepala seperti dirimu!"


Luis menyeringai jahat sambil bergumam tak jelas membuat orang-orang yang melewatinya menatap heran. Saat ini Luis sedang mengatur rencana untuk berteman dengan Eugene, apalagi dia masih penasaran dengan penyebab luka yang Eugene miliki waktu itu.


Dan misinya untuk menambah teman baru pun dimulai.


Di cafetaria.


"Kak Eugene, ayo makan bersama"


"Maaf aku sibuk,"


Gagal.


Bertemu tak sengaja saat ke toilet.


"Oh! Kak Eugene ayo kita—"


"Kurasa aku akan pergi sekarang."


Gagal.


Mengajak latihan tanding.


"Kak Eugene—"


"Tiba-tiba saja aku tidak enak badan, hei! Roy! Gantikan aku ya"


Gagal lagi.


"Kenapa!? Kenapa kak Eugene selalu saja menghindar dariku seperti takut padaku!?"


Luis berbaring di kasur Hansoo, ia membenamkan wajahnya ke bantal sambil bergumam tak jelas dengan aura hitam disekelilingnya yang menandakan dia putus asa.


"Kenapa dia?"


Six yang baru saja datang ke kamar bertanya pada Hansoo yang menatap Luis iba.


"Dia gagal membuat kak Eugene menjadi temannya,"


Six mengerutkan keningnya.


"Lagi? Tunggu, kau masih ingin berteman dengan kakak kelas itu?"


Luis bergumam singkat sebagai jawaban. Six berjalan ke arah meja belajar kemudian duduk di sana.


"Kau terlalu berusaha. Bakat itu tak mungkin hanya dimiliki oleh dia, kenapa kau tidak mencoba mencari orang lain saja yang memiliki bakat pedang seperti kakak kelas itu?"


Luis tak menjawab ucapan Six. Ia menceritakan alasan dirinya ingin menjadikan Eugene teman—alasannya adalah Eugene memiliki bakat langka. Luis belum bisa melihatnya dengan jelas, tapi dia yakin kekuatan yang dimiliki Eugene itu memiliki potensi di masa depan.


Jadi dia benar-benar ingin menjadikan Eugene temannya. Lagipula dia juga ingin membantu Eugene. Di kehidupannya yang lalu dia tak mengenal Eugene karena dirinya jarang berinteraksi dengan orang-orang, untuk bisa mengenal Eugene lebih jauh Luis harus berteman dengannya.


'Aku juga khawatir pada kakak kelas itu,'


Luka yang dimiliki oleh Eugene waktu itu terlalu mencurigakan. Itu bukan luka biasa dan Luis yakin Eugene tak memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri—jadi, penyebab luka Eugene yang Luis curigai adalah penyiksaan.


Eugene juga anggota OASIS dan Luis tahu OASIS memiliki sisi gelap didalamnya.


'Apa dia mengalami perundungan di organisasi?'


Luis langsung duduk di kasurnya, membuat Six dan Hansoo menatapnya terkejut.


"Ada apa?"


Hansoo bertanya singkat.


"Apa mungkin kak Eugene takut dengan wajahku?"



Hening. Tak ada satupun di antara temannya yang menjawab ucapan Luis—dia sendiri heran mengapa pemikiran itu muncul didalam otaknya.


"Pfftt!! Kalau Six yang mengucapkannya maka aku akan percaya, tapi Shan? Pftt,"


Hansoo berusaha menahan tawanya karena ucapan Luis yang menurutnya sangat lucu. Benar, itu tak mungkin.


Luis jelas memiliki wajah mulus dan putih, tanpa goresan sedikitpun. Yah, mungkin sekarang dia sudah agak berisi karena latihan pedangnya dan tangan Luis pun memiliki kapalan.


Tapi untuk wajah—itu tak banyak berubah. Rambut Luis hanya menjadi agak panjang dan wajahnya masih sama seperti saat ia pertama kali masuk akademi.


"Aku ragu jika kakak kelas itu takut dengan wajah yang mulus dan bulu mata lentik milikmu"


Imbuh Six menambahkan ucapan sindiran yang khas dirinya. Hansoo tak bisa menahan tawanya lagi, dia langsung tertawa sambil menyentuh perutnya dan berguling-guling di lantai—oke, itu berlebihan.


Luis melipatkan kedua tangannya di dada, ia merasa malu dengan ucapan kedua teman-temannya itu.


"Iya, iya! Aku tahu kok itu mustahil!"


'jadi berhentilah tertawa!'


Ia ingin mengubur diri sedalam-dalamnya sekarang.


"Lho? Kalian semua ada di kamar."


Ketiga netra milik mereka beralih menatap orang yang masuk ke kamar. Dia adalah William dan tangannya yang penuh dengan buku.


"Liam, apa kamu baru selesai dengan kegiatan organisasi mu?"


Yang bertanya adalah Hansoo, dia segera menepi duduk di sebelah Luis sambil menatap William yang meletakan buku-bukunya di meja.


"Begitulah. Aku sedang tertarik dengan pembuatan obat-obatan, karena itu aku harus belajar lebih giat lagi untuk bisa membuat obat yang bagus"


William masuk ke organisasi kesehatan. Karena kekuatannya adalah elemen air, dia sangat cocok dengan bidang itu—ditambah, William juga pandai dalam hal alkemis yang menguntungkan dirinya di organisasi.


Ctak!


Six yang duduk disebelah William yang berdiri menyentil dahinya membuat sang empu meringis kesakitan.


"Kau memaksakan diri lagi?"


Ujar Six singkat. William hanya bisa cengengesan sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.


"T..tidak kok, aku tidur cukup dan makan dengan baik"


"Matamu merah dan kau punya kantung mata baru di sana,"


Oke, William tak bisa menghindar dari kekhawatiran Six yang mulai kambuh. Sudah hampir empat bulan mereka berteman, dan Six menjelma menjadi sosok yang menyebalkan tapi perhatian secara bersamaan. Mungkin karena dia adalah yang paling tua diantara ketiga temannya, karena itu Six memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.


Kadang saat mereka memaksakan diri Six akan menjadi lebih galak dari biasanya. Dia akan marah pada mereka, selain itu dia selalu tahu saat salah satu dari mereka kurang sehat.


"Kau sakit bodoh, jangan masuk ke kelas atau kau akan menularkan penyakitnya ke yang lain"


"Cih, dasar lemah. Tangan mu seperti ranting saja terluka seperti ini"


"Memaksakan diri sampai sakit, kau memang orang paling bodoh dan dungu yang pernah aku lihat"


Kata-katanya terdengar menyakitkan, tapi sebenarnya dia peduli pada teman-temannya.


"Kau sangat bodoh—"


"Aku sangat bodoh dan dungu sampai-sampai aku memaksakan diriku sendiri, begitu kan?"


Six sedikit tersentak saat ucapannya diinterupsi oleh William.


William tersenyum penuh arti, ia pun segera tidur di kasurnya mengabaikan teman-temannya yang masih ada di sana.


"Aku akan tidur sebentar, tolong jangan terlalu berisik oke?"


Ketiga temannya mengangguk paham setelah itu William pun mulai tertidur dan masuk ke alam mimpi. Untuk bisa mencerna pelajaran dengan baik ia harus beristirahat dengan cukup, karena itu ia akan tidur sekarang.


Tapi sebelum itu ia mengingat sesuatu.


"Oh iya, Shan"


"Iya?"


"Apa kamu akan ikut menjadi perwakilan untuk melakukan penyerangan?"


Luis mengangguk membenarkan ucapan William. Ia memang akan ikut sebagai bala bantuan jika terjadi hal yang buruk.


"Kalau begitu ambil ini"


William melemparkan botol kaca kecil pada Luis yang berisi cairan berwarna biru, sangat cantik sama seperti rambut Luis.


"Apa ini?"


"Penawar racun, aku dengar monster yang ada di gunung dekat akademi bisa meracuni lawannya. Kau bisa menggunakan itu nanti, untuk jaga-jaga"


Luis tersenyum simpul, ternyata di sela-sela kesibukan William dalam organisasinya ia memikirkan keselamatan Luis.


"Terima kasih,"


Tak ada jawaban dari William, dia sudah tidur saat ini.


"Kapan kamu akan pergi Shan?"


Hansoo bertanya dengan suara pelan, takut membangunkan William yang baru saja tidur.


"Dua hari lagi, doakan aku oke"


"Kau tak perlu meminta itu,"


Six mendengus kesal sambil berbicara.


"Kamu akan di sana selama satu Minggu kan?"


Hansoo kembali bertanya pada Luis.


"Yup,"


"Hm, aku berharap kau selalu selamat."


"Jangan mati dulu, kita belum bertarung kau ingat?"


Luis tertawa kecil mendengar ucapan teman-temannya. Dia harus mengucapkan perpisahan singkat kepada Cordelia sekaligus meminta maaf karena ia tak bisa berlatih dengannya lagi Minggu ini.


'Mungkin, aku bisa berbicara dengan kak Eugene nanti. Kalau tidak salah dia juga ikut dalam penyerangan ini,'