The Ending

The Ending
Bab 32 [Kembali ke akademi]



"Hanya itu yang aku minta. Tolong lindungi ibuku dari bahaya apapun"


Luis terdiam setelah mendengar garis besar cerita kehidupan Eugene yang terikat dengan Yula. Ia mengerti mengapa Eugene mau menerima perintah untuk membunuhnya. Jika ia berada diposisi Eugene pun Luis akan melakukan hal yang sama.


"Selain membunuhku, apa lagi yang pernah ketua Yula suruh padamu? Tidak, apa yang ketua Yula lakukan padamu?"


"Dia menggunakan darahku sebagai bahan percobaan"


"Apa itu percobaan membuat monster mutan?"


Luis bertanya spontan membuat Eugene tersentak karenanya.


"Bagaimana kamu tahu?"


Tatapan Eugene menyelidik, sedetik kemudian dia paham apa maksud dari ucapan Luis.


"Gila. Apa monster itu membuat kekacauan di masa depan!?"


Eugene berseru, masih menatap Luis menuntut jawaban. Luis hanya mengangguk singkat membenarkan ucapan Eugene.


"Harusnya itu terjadi satu tahun lagi. Tepat saat kalian lulus monster mutan menyerang akademi membuat suasana menjadi kacau untuk sementara waktu"Luis menjeda ucapannya sejenak. Ia menatap lurus ke arah netra Rubi milik Eugene.


"Tapi karena aku mengacaukan rencana Yula mungkin saja hal itu akan terjadi lebih cepat. Bisa saja sekarang monster itu sedang mengacaukan akademi atau itu akan terjadi beberapa hari lagi"


Eugene mengangguk paham. Ia terdiam, merenungkan situasinya dan mencoba berpikir tentang rencana yang mungkin Yula lakukan.


"Jumlah monster itu ada banyak tapi yang paling kuat hanya satu dan darahku dipakai untuk monster itu. Aku tak tahu dengan monster lainnya, tapi yang pasti monster besar itu belum mencapai tahap kesempurnaan. Masih perlu waktu setidaknya setengah tahun untuk membuat monster itu menjadi mutan sungguhan dengan darahku,"


Jelas Eugene panjang. Ia kembali diam menunggu jawaban dari Luis yang kini mulai menyusun rencananya.


Suara rintikan hujan sudah berhenti. Kini mereka hanya mendengar tetesan air yang terjatuh keatas batu di dalam goa, menemani waktu berpikir mereka yang serius.


"Meskipun dia belum sempurna tapi Yula pasti akan menggunakan monster itu saat dia terdesak. Kita harus kembali ke akademi sekarang"


Luis mulai berdiri. Bersiap untuk kembali ke akademi yang sudah ia tinggalkan beberapa hari. Eugene menatap Luis singkat, ia tak yakin untuk kembali ke sana.


Dia merasa takut pada tatapan Yula yang akan dia terima nanti karena gagal membunuh Luis.


Menyadari kegelisahan sang senior, Luis mendekatinya. Tangannya terulur, menepuk pundak Eugene singkat kemudian tersenyum tipis dengan wajah percaya diri.


"Tidak apa-apa, aku akan melindungi mu. Percaya saja padaku,"


Eugene mendengus singkat. Tak disangka ia akan mempercayakan masalahnya pada adik kelas yang menyebalkan hanya karena ia berasal dari masa depan. Ditepisnya tangan Luis yang menepuk pundak Eugene. Ia berdiri tegak, menampilkan wajahnya yang kini ikut tersenyum percaya diri.


"Heh, jangan sok keren hanya karena kau tahu sedikit tentang masa depan"


Suaranya terdengar seperti mengejek, namun Luis tahu Eugene tak memiliki niat buruk apapun saat mengatakan itu.


"Aku akan menjelaskan rencana kita sekarang, dengarkan baik-baik"


Eugene mengangguk singkat, ia mulai menajamkan indera pendengarannya menangkap suara Luis yang berbicara.


Mereka tak mungkin langsung kembali ke akademi begitu saja. Yula pasti melakukan rencana lain dan itu bisa saja membahayakan teman-teman Luis yang ada di akademi. Karena itu Luis memikirkan rencana, untuk merekayasa kejadian sebenarnya dan menguak kebusukan Yula di akademi.


Memang tak akan mudah. Memikirkan otak Yula yang pintar itu pasti sulit menjebak dirinya, tapi Yula tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Luis yang memiliki banyak pengalaman dan rencana.


Luis tersenyum saat selesai memberitahukan rencananya pada Eugene. Senyuman Luis nampaknya menular, itu terbukti saat Eugene juga ikut tersenyum dengan cara yang sama seperti Luis.


"Kau pintar tapi nekad juga ya,"


"Aku anggap itu sebagai pujian. Ayo kita kembali"



Dalam kamar asrama yang cukup luas itu, seorang lelaki berambut bak jelaga terdiam merenung. Memikirkan kemana sekiranya sahabatnya itu menghilang sampai empat hari tak muncul.


Ingin memaki kakak kelas yang sempat sahabatnya kalahkan namun kakak kelas itu juga malah ikutan hilang, bersamaan dengan Luis yang tak kunjung kembali.


"Argh!! Kemana sih Shan pergi!? Kenapa dia doang yang hilang!!"


Berteriak frustasi, pria berambut bak jelaga itu memukul-mukul tembok asrama dengan kasar. Untungnya dia tak menggunakan kekuatannya, karena kalau iya maka hancur sudah tembok itu.


Lelaki degan rambut agak panjang berwarna coklat menatapnya sekilas. Ia juga merasakan perasaan khawatir yang sama seperti temannya itu, tapi setidaknya ia masih bisa mengendalikan dirinya.


"Han, sudahlah. Shan tak akan ketemu jika kau terus memukul-mukul tembok!"


William, sahabat Luis dengan rambut panjang coklatnya menasehati Hansoo untuk kesekian kalinya hari ini. Hansoo tak henti-hentinya memukul tembok dengan wajah frustrasi, yang justru membuat William kesal melihatnya.


"Tapi aku kesal!! Kenapa juga kita tak diperbolehkan ikut mencari Shan dan malah disuruh untuk menunggu!!? Bagaimana jika Shan terluka lagi di sana!"


Karena emosi Hansoo jadi tak bisa mengendalikan dirinya. Ia bersila di atas kasur, menatap William yang duduk di kursi belajarnya dengan tatapan kesal.


"Aku tak percaya pada si ketua organisasi OASIS itu, dia terlihat mencurigakan sama seperti kakak kelas yang Shan kalahkan waktu kelas pedang"


Tepat satu hari saat Luis dinyatakan menghilang, Yula mengumumkan hal itu pada teman-teman yang satu asrama dengannya.


Yula menyampaikan pesan sedih atas hilangnya Luis karena serangan monster malam hari yang tiba-tiba saja membeludak. Korban hilang tak hanya Luis saja. Beberapa teman-temannya yang lain juga ikut menghilang, tapi hanya Luis dan Eugene yang tak ketemu bahkan saat hari keempat sudah terlewati.


Pihak kerajaan tidak diberitahu atas hilangnya Luis. Itu karena ia belum hilang selama satu Minggu penuh, jika sudah satu Minggu penuh maka pihak kerajaan sendiri yang akan mencarinya.


William menundukkan wajahnya menatap lantai kayu yang mengkilap dengan tatapan datar. Ia selalu memikirkan banyak opsi tentang apa yang terjadi pada Luis yang menyebabkan dia tak kembali selama ini. Tentu saja opsi mati ditangan monster dia coret sejak awal. Dia percaya Luis dapat mengalahkan banyak monster hanya dari melihat kekuatannya yang kuat itu—jadi sangat mustahil baginya untuk mati oleh monster.


Menghela nafas pasrah, William hanya bisa berdoa kepada para dewa supaya melindungi sahabatnya itu dan membiarkannya pulang kembali pada mereka. Dia juga berharap, semoga saja ramuan yang dia berikan dapat berguna bagi Luis di sana.


Brak!


Atensi kedua lelaki yang sedang galau seperti habis diputuskan kekasih itu berbalik ke arah pintu yang terbuka kasar, menampilkan sosok lelaki berambut merah yang mereka kenal.


Suchan mengatur nafasnya yang berderu, terlihat jelas ia berlari untuk datang ke sana.


"Bisakah kau datang dengan santai? Kami sedang bersedih di sini!"


Yang berbicara itu adalah Hansoo. Ia masih emosi dan sekarang Suchan malah menambah kadar emosinya. Beruntung tak ada Six di sana. Lelaki Elf itu sedang menjalankan misi dari organisasinya sehingga ia tak pulang untuk sementara waktu.


Suchan tak menggubris perkataan Hansoo yang emosi. Ia harus segera menyampaikan pesan yang dia terima dari anggota organisasi kesehatan pada kedua teman Luis.


"Luis—dia sudah ketemu!"


Refleks melompat dari kasurnya, Hansoo menatap Suchan dengan tatapan terkejut.


"Serius!? Shan sudah kembali!!?"


William berdiri. Ia menenangkan Hansoo yang bergebu-gebu.


"Di mana dia sekarang?"


Suchan menatap William yang paling santai. Dia bersyukur karena temannya ini ada yang bisa diajak kerja sama.


"Mereka bilang Luis sedang dirawat di ruang kesehatan sekarang. Aku belum melihatnya karena aku langsung lari ke sini begitu tahu kabar tentang Luis. Ayo kita lihat dia bersama"


William dan Hansoo mengangguk setuju. Setelah itu mereka pun berjalan cepat ke arah ruang kesehatan, berharap kondisi tubuh Luis baik-baik saja saat ini.


'Kau harus baik-baik saja Shan'