
Dan disinilah sekarang. Kedua lelaki yang terpaut usia setidaknya tiga tahun itu saling menatap satu sama lain. Luis berhasil menggunakan gelang Cordelia untuk menghancurkan batu-batu yang menghalangi jalan, setelah itu ia pun pergi ke tempat yang agak jauh untuk bertarung dengan Eugene.
"Bagaimana kalau kita melakukan kesepakatan?"
Ini Luis yang berbicara. Ia sedang mempersiapkan diri sambil menatap Eugene yang melakukan hal serupa.
"Kesepakatan?"
Eugene mengulang kembali pertanyaan Luis yang dijawab dengan anggukan singkat dari sang pangeran.
"Iya, yang menang akan menuruti permintaan dari yang kalah"
Luis berucap yakin membuat Eugene mendengus meremehkan.
"Kalau aku menang apa aku bisa membunuhmu?"
Terdiam sejenak, Luis terlihat berpikir.
"Hmm, oke"
Kini Eugene malah tersentak dengan jawaban Luis. Semudah itukah ia memberikan nyawanya sendiri? Atau Luis terlalu pongah merasa dirinya yakin akan menang.
"Kau terlalu sombong"
"Haha, aku tahu"
Mendengus sebal, Eugene pastikan ia akan menang dan membunuh Luis saat itu juga.
Angin malam melewati kedua lelaki itu dengan santai bersamaan dengan daun-daun yang berguguran seolah ikut menjadi saksi pertarungan Luis dan Eugene.
Cahaya bulan ikut menerangi mereka berdua, membuat suasana di sana semakin dingin dan misterius.
Tangan Eugene sudah setia memegang ranting kayu yang akan ia gunakan sebagai pedang pengganti karena pedang miliknya malah hilang entah kemana.
Seseorang yang sudah menguasai sword aura bisa menggunakan pedang dengan media apapun, asal benda itu dialiri kekuatannya sendiri ia bisa bertarung bahkan menggunakan ranting atau lidi. Wah, luar biasa.
"Aku akan menyerang mu"
Eugene berucap singkat, memasang kuda-kuda kemudian menyerang Luis.
"Baik, aku akan melawannya"
Tersenyum simpul, Luis mengangkat pedang miliknya yang juga sebuah ranting. Mereka saling menyerang dengan pedang ranting yang tampak remeh namun bisa memotong batang pohon dengan mudah.
Trang! Trang! Trang!
Entah karena efek ranting yang diberi kekuatan atau apa, tapi suara dari benturan ranting itupun berubah layaknya dua pedang yang saling beradu. Aneh si tapi kan ini fantasi.
Eugene dipukul mundur oleh Luis yang menggunakan ranting dengan aura api biru, ia bangga pada latihannya yang tak sia-sia.
"Hebat juga kau bocah,"
Eugene berucap dengan sarkas dihiasi senyuman meremehkannya yang entah kenapa malah mirip dengan Six.
Luis mengatur nafasnya yang memburu. Senyuman simpul muncul di wajah yang tampan.
"Aku tak akan kalah denganmu"
Senyum remeh Eugene semakin lebar. Ia merasa bersemangat untuk segera membungkam senyuman bangga milik Luis.
"Aku juga tak akan kalah!!"
Pertarungan kembali terjadi. Kini mereka bahkan menghancurkan beberapa pohon yang ada di sana, membuat suasana malam itu menjadi kacau dan berisik.
Beruntung 'kekkai' yang dibuat oleh Eugene berhasil meredam suara pertarungan mereka, kalau tidak mungkin sudah sejak tadi para ksatria dari akademi berbondong-bondong ke sana karena keributan yang mereka lakukan.
Booom!!!!
Ledakan terjadi lagi. Kini Eugene lah yang melakukannya.
Ledakan darah. Salah satu teknik yang bisa dilakukan oleh para vampir dengan menggunakan setetes darahnya sebagai bom yang mematikan.
Sang senior berdecih kesal, tak terima serangannya dihindari begitu saja oleh Luis.
"Ahool,"
Eugene berbisik singkat. Kembali melakukan pemanggilan monster malam yang pernah melukai punggung Luis.
Puluhan Ahool mulai muncul dari lingkaran sihir yang Eugene ciptakan. Jumlahnya lebih banyak dari beberapa hari yang lalu, itu jelas akan membuat Luis kewalahan.
"Heh, kau tak akan bisa membunuh mereka semua kan?"
Ucapan remeh dan sombong terdengar dari mulut Eugene. Yakin dirinyalah yang akan keluar menjadi pemenang.
Sudah cukup ia kalah dengan Luis waktu di akademi, setidaknya ia ingin mengalahkan Luis dengan kekuatan sejatinya.
Puluhan Ahool itu mulai menyerang sang pangeran atas perintah dari Eugene. Luis terus menebas leher dan sayap Ahool, membuat pergerakan mereka terhambat sebelum melakukan regenerasi.
Memanfaatkan waktu jeda yang tak seberapa, Luis berlari cepat ke arah Eugene yang menjadi kelemahan dari Ahool. Ia hanya akan merugi jika hanya berurusan dengan Ahool tanpa menyerang pemanggilnya.
Luis mengangkat pedang kayu miliknya, setelah itu ia mengayunkan pedang secara horizontal yang sukses membuat retakan lurus di tanah.
Boom!!!
Eugene berhasil menghindari itu tepat saat ia mengeluarkan sayap merah miliknya kemudian terbang ke udara, namun sebagai gantinya ia kehilangan kendali atas Ahool karena fokusnya yang terbagi.
Menjadi setengah darah vampir membuatnya tak bisa menggunakan dua kekuatan sekaligus, karena itulah ia harus berkorban untuk menggunakan kekuatan lainnya.
"Sial!"
Eugene bermonolog singkat. Ia menatap Luis yang berdiri di bawahnya dengan tatapan geram.
Ternyata sangat sulit mengalahkan Luis bahkan saat ia menggunakan kekuatan sejati miliknya.
["Luis itu kuat karena dia keturunan kerajaan murni, kamu yang hanya seorang setengah vampir bisa apa di depan dia?"]
Suara bisikan asing terdengar di telinga Eugene, suara itu terus berdengung seperti kaset yang rusak. Menganggu dan terus berulang.
"Berisik! Aku bisa mengalahkan dia!!"
Eugene kembali bermonolog. Sepertinya dia menjadi emosi setelah mendengar suara bisikan asing itu, entah suara siapa yang ia dengar tapi saat ini Eugene merasa sangat ingin membunuh Luis.
"Aku akan membunuhnya, pasti."
Luis yang ada di bawah menatap Eugene lurus. Tangannya terulur ke depan, seolah menunggu sesuatu untuk bertengger di lengannya itu.
"Del"
Dia bergumam, mengucapkan nama asing namun familiar ditelinga. Setelah Luis menyebut nama itu, seekor burung elang api biru keluar dari jari-jarinya, terbang keatas langit kemudian menukik tajam masuk kedalam tubuh Luis menciptakan sepasang sayap bak malaikat dengan api biru yang membungkus sayapnya.
Mendongak keatas, Luis terbang mendekati Eugene dengan cepat. Eugene mendengus kesal, bagaimana bisa Luis memiliki begitu banyak kekuatan? Dia bahkan bisa memanipulasi kekuatannya sendiri menjadikannya sebuah sayap yang kokoh dan cantik.
"Ayo kembali bertarung"
Eugene berucap singkat yang di anggukkan oleh Luis. Pertarungan di udara pun terjadi.
Eugene berhasil memukul mundur Luis hingga sang pangeran terlempar, saking kuatnya Luis sampai menabrak pohon-pohon yang masih berdiri dan membuat lubang di setiap pohon yang dia tabrak.
Luis mengerang namun tubuhnya kembali terangkat—ia melesat dengan cepat ke arah Eugene kemudian memukul perutnya dengan tangan kosong yang dialiri mana membuat sang senior mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Uhuk!!"
Eugene terbatuk. Merasakan sakit yang ngilu diarea perutnya yang mendapatkan bogem dari Luis.
'Aku tak akan menyerah,'
Diangkat lah kembali pedang ranting itu, untuk mengalahkan Luis sepertinya dia harus menggunakan teknik darah yang paling beresiko dan berbahaya.
'Ini sepadan. Aku akan membunuh dia setelah itu aku pun akan mati'
Eugene membatin. Bermonolog singkat sebelum melancarkan aksinya.