
Langit mendung kala itu. Luis dan Cordelia masih melakukan latihan tanding mereka, seolah tak peduli dengan hujan yang bisa turun kapan saja ke bumi.
Trang!
Trang!
Trang!
Karena suasana tempat latihan sepi, suara pedang yang saling beradu terdengar jelas di telinga mereka. Cordelia terdiam sejenak, mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan—merasa lelah dengan latihan itu tapi enggan untuk berhenti.
Sedangkan Luis di depannya sedikit melamun, masih memikirkan tentang ucapan Rista tentang temannya yang bisa berkhianat masih terngiang-ngiang di otaknya.
"Hoi! Apa kalian tidak mau istirahat dulu?"
Suara lain terdengar dari tepi area latihan. Itu adalah Suchan, dia ikut latihan dengan Luis sesuai dengan apa yang dia ucapkan sebelum ia dihukum.
Sudah satu bulan berlalu sejak Suchan menerima hukuman menjadi tahanan rumah karena menganggu murid akademi dan sekarang sudah satu Minggu sejak dia ikut serta berlatih pedang dengan Luis dan Cordelia.
Suchan bercerita, katanya dia diberi peringatan ringan untuk tak melakukan keributan selama empat tahun ini.
Selain itu katanya dia juga menerima hukuman tambahan dari kakek dan ayahnya di rumah, tapi Suchan tak memberitahukan apa hukumannya pada Luis.
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu Cordelia?"
Ujar Luis singkat dengan senyumannya yang manis. Cordelia mengelap keringat yang mengalir di dahinya, kemudian mengangguk setuju dengan Luis.
Brugh!
Luis langsung duduk di kursi yang ada. Ia menatap langit mendung dengan tatapan datar.
"Kau mau?"
Netra sapphire blue milik Luis menatap Suchan yang memberikannya air minum dalam botol. Luis terkekeh singkat, kemudian menerimanya dengan senang hati. Kebetulan dia juga haus sih.
"Terima kasih"
"Tidak masalah,"
Suchan berlalu pergi meninggalkan Luis untuk memberikan minuman lainnya pada Cordelia. Sejak dihukum itu sifatnya menjadi kalem dan ramah—Seperti julukan Suchan si jenius pembuat onar itu hanyalah rumor belaka yang tak ada hubungannya sama sekali dengan Suchan.
Yah, dia memang jenius sih. Hal pertama yang dia katakan pada Luis saat ia selesai dihukum adalah mengklaim bahwa Luis itu rival dia dan dia akan mengalahkannya nanti, hal itu menerima reaksi yang agak buruk dari teman Luis, terutama Six dan Hansoo. Luis sih hanya menanggapi itu dengan senyuman tabahnya, rasanya dia jadi punya banyak rival sekarang.
"Ada apa Luis?"
Luis menoleh menoleh, menatap Suchan yang lagi-lagi sudah ada di sampingnya. Suchan menatap Luis dengan tatapan penasaran, dari tadi dia perhatikan kok Luis terus melamun—seperti orang yang memikirkan masalah besar.
"Aku tidak apa-apa"
Ucap Luis berbohong. Suchan berdehem pelan, dia tahu Luis berbohong kala itu.
'Mungkin pangeran masih tak percaya padaku,'
Suchan tak menyalahkan Luis. Lagipula itu hak Luis untuk menceritakan masalahnya atau tidak, apalagi hubungan pertemanan mereka pun belum terjalin lama.
"Jika kamu ada masalah cerita saja. Aku juga bagian dari teman-teman mu sekarang."
Diakhir ucapannya Suchan tersenyum. Menampilkan giginya yang berjejer rapi membuat senyumannya menular pada Luis.
"Kalau begitu bolehkah aku bertanya padamu? Ah, Cordelia juga"
Cordelia yang mendengar namanya di sebut langsung menoleh ke arah Luis. Ia terkejut karena diajak dalam percakapan mereka.
"Apa yang mau kamu tanyakan?"
Ujar Suchan singkat. Jiwa perasaannya sudah meronta-ronta sejak tadi.
Luis terdiam sejenak. Ia menatap wajah Suchan dan Cordelia yang duduk di sebelahnya.
"Bagaimana perasaan kalian jika mengetahui teman yang selama ini kalian anggap sebagai keluarga mengkhianati kalian?"
Suchan dan Cordelia bungkam. Mereka merenung sejenak, memikirkan jawaban masing-masing.
"Aku sih pasti marah. Teman seperti itu sampah, mereka bahkan tak pantas disebut teman. Aku tidak akan berteman dengan mereka lagi dan menjadikan mereka musuh"
Luis mengangguk pada jawaban Suchan. Itu adalah reaksi yang wajar—siapapun akan marah saat dikhianati, apalagi yang berkhianat adalah teman sendiri.
"Bagaimana denganmu Cordelia?"
Kini Luis bertanya pada si pujaan hati, ekhem—kalau boleh jujur dia malah jadi tidak fokus saat ini.
Kenapa? Itu karena dia masih terbayang dengan wajah Cordelia yang bercucuran keringat tadi, menurutnya saat itu Cordelia terlihat lebih cantik dan seksi.
"Saya akan mencari tahu dulu"
Luis dan Suchan menatap Cordelia heran.
"Apa yang mau kau cari tahu?"
Yang bertanya adalah Suchan.
"Tentu saja alasan dia berkhianat,"
"Ha?"
Itu masih Suchan. Dia merasa heran dengan jawaban Cordelia sedangkan Luis masih menunggu lanjutan ucapannya.
Cordelia pun menjelaskan maksud dari ucapannya itu pada kedua temannya.
"Pasti ada alasan dia berkhianat kan? Saya akan memutuskan apa yang harus saya lakukan padanya saat saya sudah tahu alasan dia, menurut saya rasanya tidak adil jika saya langsung membenci teman saya itu setelah tahu dia berkhianat.
Bisa jadi dia berkhianat karena terpaksa—saya akan menentukan sikap apa yang akan saya ambil setelah saya tahu alasan dia"
Suchan menepuk jidatnya dengan pemikiran Cordelia.
"Kau terlalu naif tahu!"
Wajah Cordelia memerah, dia tak suka kalau disebut naif.
"A..apa!? Ini kan pemikiran saya!"
"Iya tapi itu sangat naif bodoh!"
"Jangan panggil saya bodoh!"
"Kalian berdua hentikan,"
"Ah—"
Cordelia dan Suchan gugup melihat senyuman Luis yang mengintimidasi. Mereka lupa kalau Luis tak suka melihat perkelahian, apalagi sesama teman.
"Maafkan kami"
Mereka meminta maaf kompak. Luis hanya menghela nafas kemudian senyumannya berubah menjadi lebih ramah.
"Terima kasih atas jawaban kalian, aku sangat menghargainya"
Mendengar jawaban mereka berdua dapat membantu Luis entah kenapa perasaan Suchan dan Cordelia menjadi hangat, mereka suka saat Luis membutuhkan mereka.
"Tidak masalah! Kalau kamu mau meminta bantuan minta saja padaku!"
"Saya juga bisa membantu anda kak Luis!"
Luis terkekeh geli melihat tingkah kedua temannya itu.
Akhirnya dia bisa menemukan titik terang jika suatu saat Six atau temannya yang lain berkhianat padanya.
"Ah! Hujan"
Cordelia berseru saat ia melihat air hujan yang akhirnya turun ke bumi. Mereka harus segera kembali ke asrama masing-masing sekarang.
"Kalau begitu saya duluan, kak Luis saya permisi"
Cordelia langsung pergi setelah meneeima lambaian tangan dari Luis, sedangkan Suchan mengerutkan keningnya.
"Dia selalu saja menganggap ku tak ada,"
Ucapnya mengeluh dengan sikap Cordelia yang menganggapnya ada dan tiada. Luis menepuk pundak Suchan prihatin, dia tahu Cordelia tak terlalu menyukainya karena itu Suchan diperlakukan berbeda oleh Cordelia.
"Jangan terlalu kesal. Kalian masih berteman dengan baik seminggu ini, aku senang karena kalian bisa berteman"
Ucap Luis dengan menekankan kata 'teman' di akhir kalimatnya. Sebenarnya dia suka dengan sikap Cordelia yang tidak terlalu dekat dengan Suchan.
Karena ucapan Rista yang mengatakan kalau takdir berubah seluruhnya, dia khawatir sekarang Cordelia tak akan menjadi istrinya nanti. Karena itu Luis selalu was-was saat melihat Cordelia dekat dengan lelaki lain.
"Yah, itu benar sih. Aku pergi dulu, kita latihan lagi Minggu depan Luis!"
Luis mengangguk singkat setelah itu Suchan pun pergi ke arah asramanya. Luis masih diam di sana, ia menatap air hujan yang turun dengan derasnya membasahi area latihan di tengah kemudian berjalan pelan menuju asrama.
"Aku memiliki firasat buruk,"
Seseorang memperhatikan Luis dari jauh.