The Ending

The Ending
Episode 26 [Terjebak]



Luis mengerjap. Tangannya meraba merasakan tempat ia tertidur yang terasa lembab dan keras. Perlahan matanya berbuka, netra blue sapphire miliknya menatap langit-langit Goa yang gelap dengan beberapa kelelawar yang bertengger terbalik di sana—kalian tahu kan tidurnya kelelawar bagaimana?


"Kau sudah bangun"


Atensi Luis beralih menatap Eugene yang sedang duduk di seberangnya. ia tersenyum simpul, kemudian melemparkan kembali kayu bakar ke atas api yang sedang membara.


Luis berusaha mendudukkan dirinya. Agak sulit melakukan itu karena tubuhnya merasakan sakit yang ngilu.


"Berapa lama aku pingsan?"


Luis bertanya singkat. Hal yang paling ingin ia ketahui adalah waktu yang terbuang karena dia pingsan.


"Dua tahun,"


Tersentak, sang pangeran membelalakkan matanya menatap Eugene yang menjawab dengan wajah datar menandakan keseriusan dalam ucapannya.


"D..dua tahun?"


Ujar Luis, mengulang ucapan Eugene tadi. Dia tidak pernah berpikir akan pingsan selama itu, pikirnya Luis hanya pingsan setidaknya tiga hari.


Tapi ternyata itu malah dua tahun.


'Bagaimana ini? Aku pingsan terlalu lama. Bagaimana keadaan kerajaan? Ibu dan ayah, apa mereka tahu aku hilang selama itu? Apa aku sudah dikabarkan meninggal dunia? Teman-teman dan Cordelia pasti khawatir, apa yang harus aku lakukan sekarang?'


Luis mulai gelisah dengan langkah apa yang harus dia ambil. Bersamaan dengan beban pikiran itu, suara tawa dari Eugene terdengar.


"Pfttt!!hahaha!! Kau lucu sekali, pfttt!! Lihatlah wajah itu hahaha."


Luis melongo. Tak paham mengapa Eugene malah tertawa saat dia kebingungan dengan situasinya saat ini. Eugene yang masih tertawa mengusap ujung matanya yang mengeluarkan sedikit air mata, pertama kalinya Luis melihat kakak kelasnya itu tertawa lepas.


"Aku bercanda bodoh. Kau hanya pingsan selama tiga hari,"


Kini mata Luis membulat tak percaya.


"Ha!?"


Ia berseru. Menatap Eugene yang mendengus singkat.


"Kau tidak pingsan selama dua tahun, kau hanya pingsan selama tiga hari dan kita terjebak di sini"


Memijat pelipisnya sejenak Luis bersyukur karena dia tak pingsan selama dua tahun, tapi fakta selanjutnya yang diucapkan oleh Eugene membuatnya kembali pusing.


"Kamu harus mengganti selera humor mu kak Eugene, dan juga mengapa kita terjebak di sini? Bukannya Shi Yun sedang mencari bantuan waktu itu?"


Hening. Tak ada jawaban dari Eugene. Suara air yang menetes dari batu mendukung suasana sepi antara dua lelaki itu.


Baju segaram akademi Luis sudah koyak di bagian belakangnya—buah yang ia tuai dari serangan Ahool terakhir kali.


Lengan kanan Eugene juga terluka, ia pun memiliki noda darah dan perban di sana. Perban darurat menggunakan kemejanya, semua peralatan medis ada di Shi Yun jadi Eugene tak bisa menggunakan itu. Jadi saat ini Eugene tak memakai baju atasnya, memperlihatkan otot perut yang ia miliki.


'Aku iri pada otot itu,'


Luis membatin. Memikirkan tubuh dirinya yang dulu dan membandingkannya dengan dia yang sekarang.


"Anak itu tidak datang,"


Jawaban singkat itu membuat Luis bingung.


"Apa?"


Eugene menghela nafas sebelum ia menjelaskan apa yang terjadi pada Luis.


"Setelah kamu selesai melakukan ledakan api biru, aku membawamu pergi karena monster bersayap itu membawa lebih banyak temannya. Aku berlari menjauh sesuai dengan apa yang kamu minta, tapi saat aku berlari lebih dalam ke hutan tiba-tiba saja kabut muncul membuat jarak pandang ku berkurang"


Eugene menjeda ucapannya sejenak. Ia kembali melemparkan kayu ke atas api, membiarkannya terbakar menciptakan kehangatan dalam goa yang lembab itu.


"Aku berlari tak tentu arah sampai akhirnya aku menemukan goa ini dan masuk. Saat aku masuk, monster itu memaksakan diri untuk masuk tapi karena tubuh mereka yang besar akhirnya mereka hanya menabrak pintu goa yang menyebabkan batu-batu di atas goa turun menutup pintu.


Karena itulah kita terjebak di sini,"


Matanya melirik. Ia menatap penampilan Eugene yang terbilang tidak baik—bagaimana tidak? Wajahnya tirus seperti tak makan berhari-hari, yah, memang benar sih dalam kondisi terjebak begini ia pasti tidak makan apapun.


"Apa yang kak Eugene makan selama tiga hari ini?"


"Aku memiliki persediaan makanan" Eugene menjeda ucapannya, kemudian memperlihatkan kantung berwarna coklat lusuh yang kosong melompong seolah kehilangan semua isinya.


"Tapi sekarang sudah habis"


Luis berucap 'ah' singkat kemudian mengangguk paham. Syukurlah jika sang senior sempat memiliki benda untuk dimakan, takutnya ia akan kelaparan saat ini.


Luis menatap gantungan kalung yang ia gunakan. Itu adalah ramuan yang dibuat oleh William, ia sengaja menjadikannya gantungan kalung supaya mudah dibawa.


'Untungnya ini tidak hancur,'


Tutup botol itu terbuka. Luis segera meminumnya untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit yang dia rasakan saat ini, setelah dia meminum itu semua rasa sakitnya langsung hilang.


'Hebat sekali ramuan yang dibuat oleh calon ilmuwan kami,'


Ia mendengus bangga dengan pencapaian William. Bahkan ini bukan saatnya ia bersinar, tapi William sudah sukses membuat ramuan yang sangat manjur.


Kini tatapan Luis beralih menatap pergelangan tangannya sendiri, menatap manik gelang milik Cordelia yang dipinjamkan padanya.


Senyuman tipis tercipta di wajah tampan sang pangeran, ia bersyukur karena Cordelia meminjamkan gelang ini.


"Ayo kita keluar,"


Ujarnya singkat bersamaan dengan langkah kaki mendekat ke arah Eugene yang mendongak.


"Kita tak bisa keluar dari sini," Eugene berucap dengan nada tegas. Tangannya menyambut tangan Luis yang menariknya untuk berdiri.


"Kita bisa keluar"Luis berucap yakin membuat Eugene mengerutkan keningnya.


"Caranya?"


Lagi-lagi senyuman terukir di wajah Luis. Ia menunjuk ke arah gelang yang dia pakai, kemudian berbicara dengan bangga.


"Gelang dari istri masa depanku bisa membantu!"



Setelah mengklaim Cordelia sebagai calon istrinya didepan Eugene dengan bangga Luis berjalan memimpin menuju pintu goa yang masih tertutup.


Luis tak menjelaskan dengan lanjut tentang rencananya untuk keluar dari sana pada Eugene, ia hanya mengatakan untuk ikut dan perhatikan saja dan Eugene menurutinya dengan kesal.


"Hei, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?"


Eugene bertanya dengan ketus. Ia memperhatikan Luis yang sejak tadi mengotak-atik gelang manik yang ia gunakan, terlihat aneh menurutnya.


"Mencari sesuatu yang bisa membantu kita,"


Luis menjawab tanpa repot-repot menatap sang senior. Ia sedang fokus dengan gelangnya, mencari letak segel yang ia yakini ada di sana.


'Di mana sih tulisan itu!!?'


Karena memakan waktu lama Luis jadi kesal sendiri. Padahal dia yakin gelang itu memiliki tulisan berupa segel kecil diantara manik birunya, tapi entah kenapa Luis tak kunjung menemukan tulisan itu meskipun ia sudah menajamkan indera penglihatannya.


Eugene menatap Luis datar. Otaknya sedang memikirkan sesuatu saat netra rubi miliknya menatap sosok adik kelas yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya. Lebih ke arah menyebalkan.


'Apa dia benar-benar sudah tahu?'


Memori beberapa hari yang lalu kembali singgah di benaknya. Ingatan tentang isi percakapannya dengan sang ketua organisasi Yula yang memegang tali rahasianya sehingga membuat ia menjadi 'bahan' dari kegilaan sang ketua.


Yula mengucapkan sesuatu yang membuat Eugene terdiam.


["Luis tahu kalau kau itu vampir."]