The Ending

The Ending
Episode 22 [Perpisahan singkat]



Akademi Shion terletak sangat jauh dengan permukiman. Akademi itu sengaja dibangun ditengah-tengah hutan dengan monster didalamnya.


Ada benteng besar yang memisahkan bangunan akademi dengan wilayah monster dan Luis akan pergi ke sana hari ini.


Gunung Sein. Itu adalah nama gunung tempat monster berada, ada banyak jenis monster di sana dan beberapa diantaranya bahkan memiliki racun yang mematikan.


Karena kubah pelindung yang selama ini melindungi akademi, para monster itu tak pernah bisa menerobos masuk melewatinya. Kekuatan pelindung lebih kuat daripada monster itu, karenanya akademi bisa aman sampai sekarang.


Gunung Sein sering dijadikan sebagai tempat berlatih skill milik para murid, namun sekarang Luis datang ke sana bukan untuk berlatih.


Dia menjadi bantuan dari organisasinya untuk tambahan kekuatan karena dia memiliki kemampuan berperang dan skill yang bagus. Dia akan berada di gunung Sein selama satu Minggu, karena itu sekarang Luis sedang berjalan menuju tempat Cordelia untuk mengabarinya.


Ia berjalan pelan menuju asrama putri. Sebelumnya Luis sudah meminta izin pada penjaga asrama, dan untungnya dia diizinkan masuk.


'Aku bersyukur tak perlu menerobos masuk ke sini'


Ujar Luis dalam hatinya. Tadinya kalau dia tak diizinkan masuk maka Luis akan mencari jalan lain, contohnya adalah menerobos masuk ke sana dan bertemu dengan Cordelia secara diam-diam.


Tapi syukurlah Luis tak perlu melakukan hal tak terpuji itu.


Plak!


Suara tamparan keras terdengar di telinga Luis membuatnya terhenti sejenak. Ia menoleh, menatap beberapa murid perempuan yang sedang merundung murid lain di tempat yang sepi.


"Jangan merasa sombong hanya karena kau selalu bermain dengan pangeran, kau tahu status kalian itu sangat jauh! Kalian tidak cocok tahu!"


Ucap salah satu murid yang merundung itu, ia mengejeknya sambil menekan-nekan kepala murid yang ada di depannya.


"Itu benar! Kau itu hanya bangsawan yang bangkrut! Jangan mimpi terlalu tinggi untuk bisa menjadi ratu dengan mendekati putra mahkota!"


"Sangat menyedihkan, kau berusaha memanjat sejauh itu. Aku jijik melihatnya"


"Mulai sekarang jangan pernah mendekati putra mahkota Luis!"


Luis membeku. Ternyata dia adalah peran utama yang membuat murid itu dirundung.


'Tunggu dulu, jika aku yang disebut berarti orang yang dekat denganku itu—'


Mata Luis membola saat ia melihat Cordelia lah yang menjadi korban perundungan. Ia menatap murid-murid itu dengan tatapan tajam, tepat sebelum dia hendak membela Cordelia suara tawa terdengar dari sang pujaan hati.


Membuat semuanya terdiam seketika.


"Hahaha! Konyol sekali kalian, iri dengan diriku yang bisa dekat dengan putra mahkota Luis."


Cordelia menjeda ucapannya sejenak, ia melipatkan kedua tangannya di dada sambil menatap remeh ke arah tiga orang yang merundung dirinya.


"Kalian menyuruhku apa? Menjauhi putra mahkota Luis? Ha! Lucu, padahal kalian bukan siapa-siapanya putra mahkota tapi kok kalian bisa sih melarang ku untuk tidak dekat dengan beliau?pftt, bahkan yang mulia putra mahkota saja tak tahu nama kalian, bisa-bisanya kalian bersikap begini"


Wajah ketiga murid itu memerah karena malu dan kesal. Cordelia berhasil membalikkan situasinya, sekarang ia malah mempermalukan mereka bertiga dengan mengucapkan fakta yang menusuk.


"Kau! ****** sialan!—"


Tangan salah satu murid itu hendak menampar Cordelia, namun Cordelia berhasil menepis tangan itu dengan tendangannya membuat si murid meringis kesakitan.


"Kau!—"


"Kalian pikir aku belajar pedang cuma buat gaya doang?"


Ketiga murid itu terdiam, mereka merinding melihat ekspresi datar dan dingin Cordelia yang memandang mereka seolah mereka adalah musuh.


"Aku lebih kuat dari kalian bertiga lho,"


Ucapan akhir dari Cordelia sukses membuat nyali ketiga murid itu ciut, di belakangnya Luis yang masih memperhatikan merasa kupu-kupu beterbangan di perutnya.


'Delia Keren banget!!!'


Dia semakin bucin dan bulol pada Cordelia.


'Tidak! Ini bukan saatnya aku bucin, ayo kita ke sana dan membuat pukulan terakhir pada ketiga murid itu'


Luis keluar dari tempat persembunyiannya, membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


"Kak Luis?"


Cordelia berucap pelan. Ekspresinya kembali menjadi normal saat dia melihat Luis, sedangkan ketiga murid itu bergetar ketakutan.


"Halo Delia, aku sengaja datang ke sini untuk menyampaikan salam perpisahan karena aku akan pergi ke gunung Sei sore ini, tadinya aku ingin datang dan pergi dengan tenang tapi—"


Luis menggantungkan ucapannya. Ia menatap ke arah ketiga murid perempuan yang sedang menunduk di belakangnya itu, kemudian kembali berbicara.


"Ku rasa kamu mengalami kesulitan ya? Perlu ku bantu?"


Ketiga murid itu tersentak. Mereka langsung menatap Cordelia, seolah memintanya untuk tidak mengadu pada Luis saat ini.


'Jangan bicara macam-macam bodoh!'


Bahkan saat situasi terdesak pun mereka masih merendahkan Cordelia lewat tatapannya.


Cordelia menghela nafas jengah, dia tak mau memperpanjang masalah ini dengan meminta bantuan pada Luis. Dia tak mau menyusahkan sang pangeran, karena itu ia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.



"Tidak apa-apa kak Luis, lagipula masalah ini sudah selesai. Jika di masa depan ini terjadi lagi, aku hanya tinggal menghajar mereka saja kan?"


"Haha, benar juga ya?"


Luis tersenyum simpul mendengar jawaban dari Cordelia. Tangannya terulur, mengusap pelan mahkota coklat kemerahan milik Cordelia yang sukses membuat sang empu merona.


"Tapi aku tak bisa membiarkannya"


"Eh?"


Senyuman Luis langsung pudar begitu ia menoleh ke arah ketiga murid yang tadi merundung Cordelia. Ia menatap ketiganya dengan tatapan mengintimidasi, membuat nyali ketiga murid itu semakin ciut.


"Aku tak akan mentolerir lagi jika hal ini kembali terulang di masa depan, jika kalian berani merundung Cordelia maka kalian akan berurusan denganku"


Ucapnya dengan nada yang dingin. Ketiga murid itu mengangguk dengan sudah payah, setelah itu mereka pun pergi dari sana meninggalkan Cordelia dan Luis yang berada dalam situasi hening.


Cordelia menatap punggung Luis dari belakang. Ia selalu kagum dengan sosok Luis, namun kali ini dia memiliki pertanyaan dalam benaknya.


'Mengapa Pangeran Luis sejauh ini membantu aku?'


Padahal mereka tak pernah bertemu sebelum kejadian ia yang jatuh dari pohon. Tapi, sikap Luis selama ini seperti dia pernah bertemu dengan Cordelia.


Karena tak tahan dengan pertanyaan di otaknya, ia pun menanyakan itu pada sang pangeran.


"Kak Luis,"


"Iya?"


"Mengapa kakak sangat baik padaku?"


Luis sedikit memiringkan kepalanya, ia menatap Cordelia bingung.


"Maksudnya?"


Cordelia menatapnya lurus. Dia benar-benar ingin tahu motif apa yang Luis miliki sekarang.


"Kakak sangat baik padaku. Kak Luis memberikan aku kesempatan untuk berlatih pedang dengan kakak yang memiliki kemampuan pedang hebat, kakak juga memperlakukan aku dengan baik, padahal kita tidak saling mengenal dalam waktu yang lama.


Aku hanya penasaran, apa alasan kak Luis memperlakukan aku begini? Apa, apa aku memiliki hal yang bermanfaat bagi kak Luis jadi kak Luis berusaha mendekatiku?"


Jelas Cordelia. Luis tersentak mendengar penjelasan itu.


Biasanya jika seseorang yang memiliki pangkat rendah didekati oleh mereka yang lebih tinggi maka mereka aakn segera mengambil keuntungan darinya, mereka tak peduli dengan motifnya yang penting orang berpangkat tinggi itu bisa dimanfaatkan oleh mereka.


'Tapi Cordelia malah khawatir dan curiga,'


Itu jelas normal dan Luis pun sempat memikirkan ini karena dia tahu Cordelia bukan sosok yang mudah menerima kebaikan dari orang lain.


Dia adalah sosok yang keras pada dirinya sendiri, karena latar keluarga yang kurang baik ia pun membentuk kepribadian yang tertutup dan sulit percaya pada orang lain.


Jadi sekarang adalah kesempatan Luis untuk merebut kepercayaan Cordelia. Untuk membuatnya percaya bahwa dia akan selalu membantunya, dan dia tak akan pernah mengkhianati kepercayaannya.


"Aku menyu—"


"Hei! Siapa di sana!?"


Suara teriakan dari seorang guru membuat Luis harus menjeda ucapannya. Ia dan Cordelia berbalik, menatap guru sihir yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.


"Murid laki-laki? Kenapa kamu bisa di sini?"


Secara terang-terangan guru itu berbicara dengan sangat tak sopan pada Luis dan Cordelia. Nada bicaranya terdengar kesal, dari tatapannya ia jelas tak menyukai Luis.


"Cih. Bangsawan tinggi menjijikan"


Dia bergumam singkat, masih bisa di dengar oleh Luis dan Cordelia.


"Apa!?"


Cordelia berucap dengan marah, ia hendak membalas ucapan si guru itu namun tindakannya dihentikan oleh Luis dengan senyumannya yang menenangkan.


"Tidak apa-apa,"


"Tapi dia!?—"


"Aku tak mau kamu berada dalam masalah, tolong biarkan saja ini oke?"


Cordelia mengangguk dengan terpaksa. Dia tidak menyukai sikap Luis yang memaklumi ucapan guru itu, padahal dia jelas merendahkan dirinya.


"Saya hanya ingin berbicara sebentar dengan teman saya karena sore nanti saya akan berangkat ke gunung Sein guru,"


Cordelia menatap Luis terkejut. Ternyata itu alasan Luis ingin bertemu dengannya.


"Aku tak peduli. Kamu harus kembali ke asrama mu sekarang, kalau tidak aku akan menghukum mu"


Luis mengangguk paham. Ia berbalik menatap Cordelia sejenak, kemudian kembali tersenyum.


"Sampai jumpa Minggu depan Cordelia, maaf kita tak bisa latihan dulu untuk Minggu sekarang"


"T..tidak apa-apa kak, jaga dirimu"


"Terima kasih,"


Ah—pernyataan cinta Luis gagal karena guru itu. Dan sekarang dia harus kembali ke asrama untuk bersiap-siap untuk pergi ke gunung Sein.