The Ending

The Ending
Episode 24 [Monster]




"Selama bertahun-tahun akademi selalu aman dengan penyerangan monster yang ada di gunung Sein, itu karena para penjaga dan kubah pelindung yang berhasil mempertahankan garis aman. Namun, beberapa bulan ini keamanan akademi Shion anehnya menurun, karena itu beberapa monster berhasil menyerang bagian barat Akademi saat beberapa hari yang lalu.


Penyerangan terjadi pada malam hari, dengan jenis Monster yang asing bagi kita semua. Tugas kita hari ini adalah menyerang monster itu dan memastikan dia tak akan bisa menganggu akademi Shion kita tercinta!!"


"Woahhh!!!!"


"Ayo kita bunuh monster itu!!"


"Lindungi Akademi Shion!!"


Pidato singkat yang disampaikan oleh Yula disambut dengan antusias dari para murid senior dan junior yang ikut serta. Luis menatap kagum mendengar pidato itu, rasanya Yula seperti komandan yang terbiasa memberikan semangat juang pada para bawahannya di medan perang.


'Padahal mereka semua masih muda, tapi semangatnya untuk melindungi akademi sangat tinggi' itulah isi pikiran Luis yang pernah mencapai usia hampir 30 tahun.


Beberapa jam yang lalu mereka sampai di kaki gunung Sein. Setelah sampai hal pertama yang mereka lakukan adalah membuat tenda dan persiapan untuk menyerang monster. Senjata, obat-obatan dan pertahanan lainnya disiapkan saat itu.


Penyerangan akan dilakukan malam hari karena monster yang menyebabkan keributan hanya muncul saat malam. Sebenarnya, beberapa ksatria yang melindungi akademi pun berusaha mencari tempat persembunyian monster itu saat siang tapi anehnya mereka tak menemukannya di manapun.


Seolah-olah mereka hanya tercipta pada malam hari dan menghilang saat matahari menyapa.


"Bukannya itu jelas ulah para vampir?"


Salah satu murid senior yang sedang menyiapkan senjatanya berucap singkat. Ia memikirkan tentang Monster yang muncul pada malam hari itu ulah si penguasa kegelapan, vampir.


"Konyol, jika vampir muncul sudah pasti iblis juga ada!"


Temannya yang lain menimpali dengan kesal. Saat situasi gawat begini dia malah memikirkan opini paling liar. Menurutnya, opsi vampir yang berulah adalah opsi paling tidak masuk akal sekaligus menakutkan.


"Jika iblis ada maka keseimbangan dunia akan retak, perang mungkin terjadi lagi" Ia melanjutkan ucapannya tadi, masih membereskan senjata yang ia bawa.


"Tapi apa lagi yang bisa menciptakan monster seperti itu? Mereka pasti vampir!" Temannya bersikeras, ia yakin dalang dibalik semua ini adalah Vampir.


"Aku tidak percaya! Sudahlah, ayo kita pergi sebelum ketua Yula memanggil kita!"


Mereka mengakhiri debat itu kemudian pergi menuju tempat mereka berkumpul. Luis keluar dari tempat persembunyian nya, ia menyimak dengan baik pembicaraan para seniornya itu.


"Vampir ya?"


Ujar Luis singkat. Tangannya ia taruh di dagu, memasang pose berfikir.


Entitas yang menjadi penanda akan munculnya iblis. Vampir. Luis tak pernah bertemu dengan vampir, mau itu dulu ataupun sekarang.


Dia hanya pernah bertemu iblis, itupun hanya suaranya saja dan ia memiliki akhir yang buruk. Jika dalang dibalik munculnya monster malam hari itu adalah vampir, berarti sosok iblis pun bisa jadi akan segera muncul.


"Apa yang kamu disini lakukan Luis?"


Luis mengerjap. Ia menatap seorang perempuan yang muncul disebelahnya.


"Shi Yun, kamu mengagetkanku"


Anak perempuan itu bernama Shi Yun, ia adalah teman Luis di organisasi yang bertugas sebagai tenaga medis, karena itu ia dibutuhkan saat ini.


Shi Yun tertawa pelan mendengar ucapan Luis. Dia tak bermaksud untuk mengagetkan sang pangeran, hanya ingin menegur saja tidak lebih.


"Habisnya kamu diam di sini padahal kita punya tugas lho,"


"Oh ya? Tugas apa?"


"Kita akan ikut berpartisipasi di penyerangan pertama, aku dan kamu sekelompok. Kamu lupa?"


Luis mengucapkan kata 'ah' singkat. Dia benar-benar lupa tentang itu.


"Maaf, aku lupa"


Shi Yun mengembungkan pipinya, merasa Luis tak mempedulikannya sama sekali.


Usia Shi Yun dan Luis tak beda jauh, mereka berdua berada dalam tahun yang sama saat masuk ke akademi. Selain di organisasi, Shi Yun tak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Luis.


Itu karena Luis bersikap tak acuh pada perempuan yang terang-terangan ingin dekat dengannya, dia hanya akan bergaul dengan orang-orang yang sudah dekat dengannya saja dan tak mempedulikan para perempuan yang memiliki perasaan padanya.


Semua perempuan yang menaruh hati pada Luis cemburu dengan Cordelia, tapi Shi Yun tidak begitu, dia percaya diri bisa mendapatkan hati Luis jika ia terus membantunya di organisasi.


'memiliki hati seorang pangeran yang kurang bisa bersosialisasi itu mudah. Dekati saja terus dengan segala macam bantuan-bantuan kebaikan maka dia akan terpesona dengan sendirinya' itulah pikiran Shi Yun saat pertama kali ingin memikat sang pangeran.


Dan kesempatan ini seolah menjadi tiket emas baginya untuk melangkah lebih jauh untuk memiliki hati Luis.


"Huh, sudahlah. Ayo kita berangkat sekarang sebelum hari menjadi lebih gelap lagi!"


Shi Yun menarik lengan Luis secara sepihak membuat Luis hanya bisa diam menerimanya. Ia risih sih, tapi bagaimana lagi—dia harus menahannya hanya untuk satu Minggu ini.



"Lho, kak Eugene? Kita sekelompok juga?"


Luis berucap dengan tak percaya saat melihat sosok berambut perak didepannya.


Eugene Laverty, sosok senior itu menatap Luis dengan tatapan terkejut. Padahal dia berusaha menghindari Luis, jadi mengapa dia malah satu kelompok dengan Luis saat ini!?


semesta memang suka bercanda, tapi sepertinya candaan kali ini tak lucu sama sekali.


Eugene memalingkan wajahnya—enggan menatap wajah sang pangeran.


"Begitulah. Ketua Yula yang menyuruhku,"


Jawaban yang terkesan ketus keluar darinya.


Luis mengangguk paham dengan jawaban singkat itu. Berbeda dengan Eugene yang kesal karena bertemu dengan Luis, sang pangeran malah merasa senang karena akhirnya dia bisa membicarakan urusannya dengan Eugene yang selalu tertunda.


'Sekarang dia tak akan menghindar lagi kan?'


Sambil berjalan menyusuri Jenggala yang rimbun dan gelap, Luis menatap punggung tegap Eugene yang berjalan didepannya.


punggung Eugene terlihat lebih lebar dan kokoh dari belakang, bukti dari latihan yang selama ini dia tempuh. Luis menatap kagum, ia jadi ingat dirinya yang dulu saat melihat Eugene.


Sesuai dengan apa yang Yula ucapkan sebelum mereka pergi. Murid senior akan berdiri di depan murid Junior, sedangkan tenaga medis yang mereka bawa akan berada di belakang.


Angin menghembus halus, menciptakan suasana merinding dan misterius membuat Shi Yun yang berjalan di belakang Luis ketakutan.


Apalagi pencahayaan mereka sangat minim dan suara daun-daun yang saling gemersik pun membuatnya semakin mencekam.


"Di mana monster nya? Bukankah ini sudah malam?"


Shi Yun berucap ragu, matanya menatap sekeliling ngeri, takut jika sesuatu muncul dari balik pohon. Sambil berjalan ia menyentuh pergelangan tangan Luis erat, seolah dengan melakukan itu dapat mengurangi rasa takutnya.


"Mungkin kita berjalan tidak terlalu jauh, monster itu bisa jadi ada di tengah-tengah hutan"


Luis menjawab tanpa menatap Shi Yun di sebelahnya yang ketakutan. Ia tak repot-repot menenangkan sang gadis dan melanjutkan perjalanan mengikuti Eugene.


Tidak ada gadis yang menarik baginya selain Cordelia, camkan itu.


"Berhenti."


Eugene berucap singkat. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan langkah Luis dan Shi Yun di belakang.


Luis berhenti, otomatis Shi Yun juga berhenti. Atensi Luis menatap ke arah pandang Eugene, ia penasaran dengan apa yang netra ruby itu lihat.


"Ada apa kak Eugene?"


"Monster. Bersiaplah!"


Tepat setelah Eugene mengucapkan itu, seekor kelelawar besar muncul dari balik pohon kemudian mulai menyerang Luis dan Eugene.


Luis membeku di tempatnya, tidak, ia bukan takut. Penyebab Luis membeku adalah makhluk itu.


Karena itu bukan kelelawar.


"Ahool?"