
"kau yakin sudah semuanya?"
Hansoo bertanya pada Luis yang sedang menyiapkan barang-barangnya sebelum pergi. Luis mengangguk singkat, ia yakin sudah membawa semua benda yang dia perlukan saat ini.
"Aku sudah membawa semuanyakok, tenang saja"
"Huh, jangan sampai ada yang ketinggalan lho ya!"
Hansoo masih saja berucap dengan khawatir membuat Luis tertawa karenanya. Melihat Hansoo yang khawatir begini Luis jadi ingat adiknya yang ada di istana.
Adiknya yang berbeda ibu, anak dari pelayan yang tak sengaja melakukan kesalahan dengan ayah Luis saat kewaspadaannya sedang turun.
Meskipun begitu Luis menyayangi adiknya.
"Tidak ada yang tertinggal, aku sudah memiliki semuanya"
"Itu bagus"
Kreettt ....
Seseorang membuka pintu kamar, memperlihatkan sosok William dan Suchan yang masuk bersamaan.
"Kau akan segera berangkat kan?"
Yang bertanya adalah Suchan. Luis mengangguk singkat, entah sudah berapa kali dia menerima pertanyaan begitu hari ini.
Suchan mendekati Luis, ia menepuk pundak sang pangeran dengan agak keras kemudian berbicara.
"Pulanglah hidup-hidup!"
Ucapan singkat dari Suchan membuat Hansoo sweardrop sedangkan William menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan mati semudah itu oke?"
"Hahaha! Aku tahu kok, rival ku ini kan memang kuat!"
Luis menghela nafas jengah melihat Suchan yang tertawa lepas.
"Jaga dirimu baik-baik, pakailah ramuan pemberian ku saat kau butuh. Jangan memberikannya pada orang lain,"
William berbicara dengan penekanan di akhir. Meskipun wajah William terlihat lembut dan mudah dimanfaatkan, tapi nyatanya dia cukup tak acuh untuk orang-orang yang menurutnya tak pantas.
Sejak kejadian dia yang diremehkan oleh Suchan dulu, ia berubah. William tak terlalu lembut kepada orang lain, dia bahkan bisa menjadi sangat menyebalkan seperti Six yang dalam mode roasting.
"Aku akan menggunakannya dengan baik, terima kasih"
Luis menatap jam dinding yang ada di kamar. Sekarang ia harus segera berkumpul dengan kelompoknya—yang berarti dia akan mengucapkan perpisahan.
"Aku pergi sekarang. Sampai jumpa satu Minggu lagi,"
"Jaga dirimu baik-baik Shan!"
Yang berbicara itu Hansoo, ia menepuk pundak Luis singkat.
"Jangan terlalu memaksakan diri,"
William berucap dengan tatapan yang mengancam, memikirkan tentang Luis yang pasti akan memaksakan dirinya.
"Kita bertanding lagi nanti!"
Suchan berbicara dengan semangat membuat Luis tersenyum simpul.
"Baik, jaga diri kalian oke! Bilang pada Six aku pergi dulu"
Six tidak ada di sana. Dia sedang berada di ruang organisasinya, selama ini Six mengikuti organisasi penyerang—dia belajar mengendalikan kekuatannya sendiri dengan bimbingan guru yang tepat di sana.
Luis pergi ke tempat berkumpul. Ia melihat sudah banyak orang yang hadir di sana, mereka adalah anggota senior yang sudah mahir menyerang monster dan beberapa orang junior seperti Luis pun ada di sana.
Netra blue sapphire milik Luis menangkap sosok lelaki berambut perak dengan netra ruby, dia Eugene Laverty—sesuai dengan yang Luis pikirkan, Eugene juga ikut dengan mereka.
Sebelum Luis menghampirinya, sayup-sayup ia mendengar suara seseorang memanggil dirinya. Luis berbalik, mencari sosok yang memanggil dirinya kemudian menemukan Cordelia di sana.
Ia berlari dengan tergesa-gesa, takut Luis sudah pergi dari gerbang akademi dan masuk ke area gunung Sein.
"Kak Luis,"
Cordelia mengatur nafasnya yang memburu sebelum berbicara pada Luis.
"Ini, tolong terimalah"
Tangan Cordelia terulur. Ia memberikan sebuah gelang dengan manik berwarna biru—cukup feminim untuk dipakai lelaki, tapi Cordelia hanya memiliki itu yang bisa ia berikan lada Luis.
Luis menatapnya terkejut, ada perasaan haru dan bahagia saat dia minat gelang itu.
'Aku tahu gelang itu,'
Gelang dengan manik biru itu terlihat sangat familiar di ingatan Luis. Saat kehidupannya yang dulu Cordelia pun memberikan gelang itu pada Luis, hanya saja waktunya tak secepat ini.
Gelang milik Cordelia mengandung sihir yang tak Cordelia ketahui sebelum ia bertunangan dengan Luis, saat itu Cordelia pikir gelang miliknya hanyalah gelang biasa namun ternyata gelang itu memiliki sihir pelindung yang kuat.
Dan gelang itu sangat berarti bagi Cordelia.
"A..apakah tidak apa-apa aku menerimanya?"
Luis bertanya dengan gugup. Takut bila Cordelia memberikannya secara terpaksa, padahal dia tak ingin memberikannya.
"Siapa bilang aku memberikan ini?"
Mendengar ucapan Cordelia membuat Luis melongo.
"Ha?"
"Aku meminjamkannya, ini gelang berharga milikku. Kak Luis harus mengembalikan ini saat kembali nanti,"Cordelia menjeda ucapannya sejenak, rasanya lucu melihat ekspresi Luis yang terkejut karena Cordelia hanya meminjamkannya saja.
"Ada tradisi di desa ku dulu. Katanya kalau kita meminjamkan barang nerharga kita kepada orang yang hendak pergi jauh, maka benda yang kita pinjamkan itu bisa menjadi pelindung. Aku tak mau kak Luis terluka saat pulang nanti jadi aku meminjamkan ini padamu"
Cicit Cordelia di akhir membuat Luis merona. Ia dikhawatirkan oleh doi yang selalu menatapnya sebagai kakak saja, menurutnya ini adalah kemajuan dalam hubungan-hubungan dengan Cordelia.
Luis mengambil gelang itu. Ia segera memasangkannya di tangan, menatapnya singkat kemudian tersenyum lembut.
"Terima kasih, aku akan menjaganya"
Melihat Luis yang menerima barang pemberiannya membuat Cordelia senang. Setelah selesai ia pun kembali ke asrama, meninggalkan Luis di sana yang masih menatapnya bahkan saat dia sudah tidak ada dalam jarak pandangnya.
"Murid Luis ayo!"
"Ah, baik!"
Luis berlari ke arah rombongannya. Sekarang adalah saatnya dia berangkat ke gunung Sein.