The Ending

The Ending
Episode 18 [Perubahan Takdir]



"syukurlah aku bisa ke sini."


Luis berucap sambil membuka pintu perpustakaan khusus dengan kunci dari Yula. Perlu perjuangan untuk ia bisa datang ke sana, itu karena teman-temannya yang memaksa Luis untuk tetap diam di kamar dan tidak melakukan apapun.


Bahkan parahnya lagi Luis mau di kurung oleh Six dengan penjara akar yang baru saja dia kuasai. Hal itu terjadi karena Luis ketahuan batuk darah kemarin. William menemukan Luis yang tertidur dengan baju berdarah, Hansoo tidak berhenti mengomeli dia dan mengatakan semuanya tentang kondisi tubuh Luis yang belum sepenuhnya baik pada kedua temannya.


Alhasil Luis harus menerima ucapan-ucapan khawatir dari teman-temannya, meskipun cara Six  mengatakannya dibungkus dengan kata-kata yang menyebalkan—tapi Luis tahu ia juga peduli padanya.


"Kau baru batuk darah lagi Shan! Jangan paksakan dirimu!"


"Bagaimana jika kita ke ruang kesehatan? Aku akan membantumu melatih inti magis mu nanti!"


"Kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu sendiri, aku tidak mau melawan orang lemah sepertimu"


Senyuman kecil muncul di wajah Luis begitu ia mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, dia bersyukur bisa memiliki teman-teman seperti mereka.


Kini dia berdiri di depan sebuah buku dengan sampul hitam. Hanya ada satu buku yang memiliki sampul hitam polos, dan Luis yakin buku itulah yang di maksud oleh Rista.


Menghela nafasnya sejenak—ia menarik buku menampilkan lubang kecil persis seperti yang diucapkan oleh sang lord elf.


Tangan Luis terulur, ia mengalirkan kekuatan sihir miliknya ke dalam lubang kecil itu kemudian sesuatu terjadi.


Rak buku terbelah memperlihatkan sebuah jalan rahasia. Luis agak terkejut—tak dia sangka ada yang seperti itu di dalam perpustakaan khusus.


'Aku harus masuk'


Luis melangkahkan kakinya masuk ke ruangan gelap itu. Setelah Luis masuk, pintu kembali tertutup rapat dan lampu obor mulai menyala satu persatu.


Tak.


Tak.


Tak.


Suara langkah kakinya menggema. Tak ada hal lain di sana selain dinding dan obor yang menyala, bahkan sejak tadi Luis tidak melihat satupun serangga seolah tempat itu terisolasi dari kehidupan dunia luar.


Setelah berjalan beberapa menit akhirnya ia sampai di depan pintu. Tidak seperti pintu masuknya yang harus menggunakan kekuatan sihir, pintu kali ini mudah di buka—bahkan tanpa kunci apapun.



Di dalam ruangan itu terdapat beberapa rak buku, meja kerja juga perapian. Luis menatap heran, dia pikir ini adalah ruang bawah tanah tapi mengapa ada perapian di ruang bawah tanah? Di mana Luis sekarang? Mengesampingkan rasa penasarannya, Luis kembali fokus dengan tujuan awal dia masuk ke sana.


Dicarinya buku dengan sampul akar itu, setelah mencari agak lama akhirnya Luis menemukan buku yang ia cari kemudian membukanya.


[Kau datang juga keturunan Daaris]


Dengan ajaib sosok Rista kembali muncul setelah Luis membuka buku itu. Rista tersenyum lembut, kemudian duduk di kursi kerja yang tersedia.


Ia menjentikkan jarinya—lalu sofa berwarna merah bludru pun muncul. Luis duduk di sana, kemudian ia mulai berbicara.


"Sampai mana anda bisa menjawabnya? Pasti ada hal yang tidak bisa anda katakan pada saya kan?"


Terkejut, Rista menutup wajahnya dengan tangan setelah mendengar ucapan Luis. Tubuhnya bergetar, bukan karena menangis tapi dia sedang tertawa.


[Sungguh, kau benar-benar pintar. Apa keturunan Daaris semuanya begini? Atau mungkin kamu seperti ini karena kamu itu titisan Daaris?]


Luis mengernyit heran—sekarang Rista malah menyamakan dirinya dengan sang leluhur yang bahkan tidak ia ketahui.


"Saya tidak paham. Mengapa anda selalu mengatakan saya itu keturunan Daaris, padahal yang saya tahu tidak ada orang bernama Daaris di keluarga saya"


Rista tersenyum tipis. Jarinya mengetuk-ngetuk kursi, ia mengingat kembali alasan mengapa sosok Daaris seolah menghilang dari dunia—bahkan dalam silsilah keluarganya sekalipun.


[Tentu saja kamu tidak tahu. Informasi tentang Daaris sudah menghilang dari dunia ini,]


"Menghilang?"Beo Luis. Dia terkejut mendengar jawaban Rista.


Rista terdiam sejenak. Matanya terpejam, mencoba untuk menggali kedalam ingatannya yang telah lama terkubur.


[Betul. Sekitar 1000 tahun yang lalu sebelum Daaris meninggal dunia, ia satu-satunya keturunan kerajaan yang bisa menguasai titik tinggi api biru yaitu api pemurnian. Dengan kekuatan itu dia menyegel iblis, tapi bayarannya adalah ingatan tentang dirinya yang dilupakan juga entitasnya menghilang dari bumi]


"Tapi, mengapa anda masih ingat dengan beliau?"


Senyuman lembut muncul di wajahnya yang cantik begitu ia mendengar pertanyaan Luis.


[Ikatan jiwa yang kami miliki dari perjanjian membuatku tidak bisa lupa tentang Daaris. Meskipun semua orang melupakannya, aku masih ingat.]


Karena sebuah perjanjian Rista tidak bisa melupakan Daaris.


[Mengingat seseorang yang dilupakan orang lain membuatku sakit]


Tatapan matanya yang lembut kini mulai sendu. Menjadi satu-satunya orang yang mengingat bukanlah hal yang bagus, meskipun dia bersyukur karena masih mengingat Daaris tapi di sisi lain dia juga menderita.


Luis merasa simpati pada lord elf didepannya. Dia tahu rasanya kehilangan seseorang yang berharga, dan itu tidak menyenangkan sama sekali.


Rista kembali menatap Luis. Kini wajahnya cerah lagi, seolah melupakan rasa sedihnya tadi.


[Lupakan tentang itu! Aku harus mengatakan hal penting padamu, diam dan dengarkan, jangan potong ucapan ku sebelum aku selesai berbicara!]


Luis mengangguk paham. Kini suasananya menjadi serius.


[Takdir masa depan mu akan berubah total karena kamu yang kembali dari masa depan ke masa lalu. Beberapa hal sulit akan datang padamu, dan mungkin saja salah satu sahabatmu bisa berkhianat]