That's What I Feel, My Husband

That's What I Feel, My Husband
Beraktivitas (2)



Untungnya pada dering pertama sudah diangkat sehingga Lukas bisa bernafas lega. 


"Halo? Kamu kemana aja sih? Ditelpon kayak orang penting," protes Novrida. 


"Bisa gak kalau mulai telepon pakai adab," sindir Lukas. 


"Habisnya kamu ngeselin sih," protes Novrida tak mau kalah. 


"Udah bahas meeting aja, gimana? Lancar?" tanya Lukas memastikan. 


"Belum ada yang dimulai," jawab Novrida membuat Lukas kaget. 


"Loh ini udah jam 9 siang, kenapa belum mulai juga?" tanya Lukas penasaran. 


"Kata sekretarismu meeting pertama jam 10 siang lalu jam 1 dan dilanjut jam 3 sore, gila kan ngadain meeting kok mepet gitu jamnya," protes Novrida. 


"Itu bukan mepet namun lelet, setelah meeting pertama selesai langsung ke meeting selanjutnya, harusnya begitu biar tidak membuang waktu," tegur Lukas. 


"Oh pantas saja tadi sekretarismu heran ketika aku protes waktunya mepet," ucap Novrida. 


"Jangan bilang kamu meminta waktunya diulur?" tuduh Lukas. 


"Enggak lah, enak aja kalau ngomong, ya aku menyesuaikan jadwal yang sudah sekretaris mu berikan," bantah Novrida. 


"Yasudah.. Jangan bikin ulah," tegur Lukas. 


"Mending kamu aja deh yang handel semua meetingnya, aku gak mau ya kamu ragukan bahkan selalu kamu tegur seperti itu," protes Novrida. 


"Mana bisa? Yang ada semua curiga," bantah Lukas. 


"Makanya diam aja, lagian dirumah kerjaan mu pasti gak beres kan?" tebak Novrida. 


"Jelaslah.. Ngapain menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya bukan pekerjaanku, gunanya aku bayar pegawai apa kalau hampir semua pekerjaan aku yang handel," jawab Lukas angkuh. 


"Memangnya gak dimarahi mamahmu?" tanya Novrida. 


"Ya marah.. Mau gimana lagi? Aku gak mau dong nuruti kemauan mamah terus, ya kali zaman sekarang suruh kerja rodi," jawab Lukas berpikir logis. 


"Ya kamu membantah kayak gimana pun tetap saja mamahmu gak tau kalau itu kamu," ucap Novrida. 


"Bodoh amat," jawab Lukas acuh. 


"Yasudah teleponnya disambung nanti lagi, ini sekretarismu memberi kode kalau sebentar lagi meeting," pamit Novrida. 


"Yang klien luar negeri jam berapa?" tanya Lukas. 


"Jam 1 siang, kenapa?" tanya Novrida. 


"Kalau kamu gak yakin bertemu dengannya segera kabari, soalnya ini bukan klien sembarangan, komunikasinya pun menggunakan bahasa Inggris dan terkadang Jerman," ucap Lukas serius dan Novrida kaget bukan main. 


"Yang benar saja, mana bisa aku ngomong begituan," protes Novrida. 


"Baiklah nanti jam 12 aku ke kantor untuk mendampingimu meeting," jawab Lukas siaga dan kini Novrida bisa bernafas lega. 


Meeting utama dengan klien luar negeri pun akan segera dimulai, Lukas disuruh Novrida untuk segera datang ke lokasi meeting saja ketimbang nanti bolak-balik. Tepat pukul 1 siang Lukas sudah tiba di lokasi tujuan dan bergegas menghampiri sang istri dengan perasaan khawatir. Ia takut kalau acara sudah mulai. 


"Excuse mee.. Good morning everyone," sapa Lukas dengan ramah, klien juga sekretarisnya pun bingung siapa wanita ini. 


"Yes.. Who you?" tanya sekretaris bingung. 


"Ehem.. Maaf saya belum memperkenalkan wanita yang berdiri di hadapan anda, dia adalah Novrida, teman dekat saya sekaligus penerjemah meeting hari ini, kebetulan saya kurang enak badan juga konsentrasi saya kurang baik, makanya daripada meeting ini tertunda lebih baik saya meminta pertolongan dia, silahkan Novrida perkenalkan dirimu," ucap Lukas membuat Novrida kesal. Ia pikir kehadiran tubuhnya disini sekalian akan diperkenalkan sebagai istri, namun ternyata salah. 


"Permisi.. Selamat siang semuanya, saya Novrida Ameera Putri atau biasa dipanggil Novrida, kebetulan hari ini saya membantu bapak Lukas Smith untuk melangsungkan meeting dengan klien istimewanya, sungguh suatu kehormatan bagi saya bisa ikut andil dalam keberlangsungan meeting dua perusahaan yang besar ini," sapa Novrida dengan tenang hingga mencuri perhatian klien luar negeri. Aura yang dipancarkan Novrida sangatlah memperlihatkan aura pemimpin. 


"Astaga ternyata begini toh suamiku ketika bekerja, pantas saja banyak yang segan padanya," batin Novrida terus memandang Lukas. 


"Ehem…" deheman sekretaris membuyarkan pandangan Novrida dan kini meeting dimulai, tak membutuhkan waktu lama kini sudah tercapai kesepakatan yang sangat menguntungkan pihak Smith Grup, bahkan kliennya menambah investasi di perusahaannya. Sungguh berita yang menggembirakan. 


Setelah meeting selesai, Lukas tidak langsung pulang melainkan ia ikut ke kantor karena masih ada 1 meeting lagi dan juga sebagai alibinya agar terhindar dari pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. 


"Kok kamu gak pulang?" tanya Novrida. 


"Aku mau ikut sampai ke meeting terakhir, yang ini juga penting loh," jawab Lukas. 


"Ah bilang saja kamu menghindar dari mamah kamu, ntar kena amukannya baru tau rasa," tegur Novrida. 


"Sudah biasa.. Lagian yang kena amukan kan Novrida bukan Lukas, ya meskipun jiwanya sedang tertukar," jawab Lukas enteng. 


"Ih kamu ya ngeselin banget, hoby sekali di marahin mamahnya," ucap Novrida. 


"Lagian mana mungkin mamah marah kalau aku perginya itu kesini, coba nanti kamu jelasin deh pasti mamah memaklumi," ucap Lukas. 


"Iya bakalan memaklumi didepanmu, kalau sudah gak ada? Wah siap-siap aja," tegur Novrida dan Lukas cuek saja. 


Meeting terakhir telah usai dan kini waktunya pulang ke rumah, hal yang dinantikan oleh Novrida. 


"Sebelum pulang makan dulu yuk," ajak Lukas. 


"Kemana?" tanya Novrida penasaran. 


"Udah ikut aja, lapar nih," rengek Lukas. 


"Memang daritadi belum makan?" tanya Novrida penasaran dan Lukas hanya menggeleng pelan sembari memegang perut. 


"Astaga.. Emangnya gak lapar?" tanya Novrida terkejut. 


"Lapar tapi gimana lagi? Meeting kali ini mengalahkan rasa lapar, setidaknya berbuah manis," jawab Lukas. 


"Yaudah terserah kamu aja," jawab Novrida pasrah. 


Tiba di restoran favorit Lukas, keduanya makan dalam diam sembari menikmati makanan yang dipesan. Lukas makan dengan lahapnya seperti orang yang belum makan seminggu, Novrida sampai tidak tega melihatnya namun gimana lagi? Setidaknya akhir-akhir ini supaya Lukas merasakan betapa menderitanya menjadi Novrida. 


Sudah makan dan kini perut terasa kenyang, waktunya pulang ke rumah.. Tanpa mereka tahu, didalam sana sudah ada Ina yang siap memangsa Novrida karena telah berani keluar tanpa izin. 


"Mah tuh cewek udik dah pulang," bisik Ivanka. 


"Enak sekali ya keluar rumah tanpa pamit sedangkan kerjaan masih menumpuk, lama-lama makin berani ya," sindir Ina ketika Novrida dan Lukas sedang berjalan menuju kamarnya. 


"Novrida ikut denganku ke kantor mah," ucap Lukas yang membuat mamahnya juga Ivanka kaget. 


"Novrida kan ya kamu, kenapa kamu membela dirimu sendiri, aneh," sindir Ivanka. 


"Astaga.. Iya kenapa gue keceplosan," batin Novrida. 


"Sejak kapan nama kamu ganti? Sejak menjadi istri anak saya? Jangan mimpi ya, sampai kapanpun tidak akan pernah tersemat nama besar Smith pada nama belakangmu," ucap Ina sangat tegas. 


"Mah udahlah perkara gini aja dibikin panjang, bener kata dia kalau tadi Novrida ikut ke kantor, aku yang suruh dia datang," ucap Lukas yang sebenarnya adalah Novrida. 


"Tapi kenapa gak izin dulu sama mamah?" tanya Ina kesal. 


"For what? Novrida istriku mah jadi hak Lukas untuk mengajaknya kemanapun," jawab Lukas tegas dan semuanya terdiam. 


Benar kata Lukas jika nanti dirinya yang berbicara mana mungkin mamahnya membantah, nyatanya ia baru berbicara seperti itu tapi mamah dan Ivanka sudah terdiam seribu bahasa, meskipun ekspresi wajah mereka menimbulkan ketidakpuasan. 


"Enak banget ya jadi Lukas, menyanggah omongan mamah dan adiknya gini aja mereka udah diam, ah andai aku juga memiliki hak begini di diriku sendiri," batin Novrida.