
Setelah melalui proses yang cukup panjang dan juga dipenuhi dengan drama, kini sudah diputuskan bahwa Ina dan Ivanka resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan masa hukuman selama 5 tahun.
Bak disambar petir di siang bolong, keputusan yang sudah ditetapkan hakim membuat Ina juga Ivanka syok berat, 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar apalagi suaminya tak memberikan kontribusi apapun, mengusahakan agar anak dan istrinya bisa bebas pun tidak.
Malang benar nasib Ina dan Ivanka, perbuatan yang tidak disengaja membuatnya bisa mendekam di penjara sebegitu lamanya. Rasa benci dan dendam pada menantunya justru semakin bertambah besar.
"Pah.. Kenapa papah gak mengusahakan agar mamah juga Ivanka bebas? Kenapa papah hanya diam saja dan pasrah? Apa papah sudah gak sayang dan peduli lagi sama kami? Huhuhu…" rengek Ina.
"Iya pah, Ivanka mana mau hidup disini, ini bukan tempat Ivanka, ini bukan dunia Ivanka pah, Ivanka tidak melakukan apapun," rengek Ivanka.
"Kamu juga terlibat lah kan kamu ikut sama mamah," protes Ina.
"Tapi kan yang mencelakai cewek kampung itu mamah bukan Ivanka, kenapa malah Ivanka ikut terseret disini? Hancur masa depan Ivanka mah, hancur…" pekik Ivanka histeris.
"Cukup… dimana sikap arogan kalian selama ini? Dimana rasa bersalah kalian? Kalian memang pantas mendapatkan semua ini, untung saja istrinya Lukas tidak menuntut lebih, jika ia melakukan tuntutan maka kalian bisa apa? Jangan terus menerus mengandalkan papah dan jangan gunakan kekuasaan yang papah punya, jika tidak juga menyadari kesalahan kalian maka papah akan tetap membiarkan kalian disini," tegur Smith dengan tegas lalu bergegas pergi meninggalkan anak dan istrinya.
Setidaknya ini keputusan yang terbaik menurut Smith meskipun didalam hatinya ia tidak tega bahkan ingin sekali segera membebaskan dua wanita yang sangat disayanginya, ia bahkan tidak segan mengeluarkan banyak uang agar anak dan istrinya bisa kembali menjalani hidup seperti biasa, tapi lagi-lagi Smith berpikir, jika anak dan istrinya terus menerus dimanjakan dan dimudahkan segala masalahnya maka sampai kapanpun mereka tidak akan bisa dewasa. Sifat arogan bahkan culas akan selalu ada dihati mereka. Meninggalkan dua wanita yang sangat disayanginya didalam penjara adalah pukulan berat bagi Smith.
Melihat anak laki-laki dan menantunya datang, Smith segera menyeka air matanya dan berusaha bersikap biasa saja.
"Pah.. Gimana keadaan mamah juga Ivanka?" tanya Novrida khawatir.
"Mereka sepertinya syok," jawab Smith sedih.
"Apakah mereka bisa melewati semua ini ya pah?" tanya Lukas ragu.
"Entahlah.. Biarkan waktu yang menyadarkan kesalahan yang sudah mereka perbuat, berdoa saja semoga dengan kejadian ini mamah dan adikmu bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, papah tidak mau membantu membebaskan mereka, bagi papah, ini pantas mereka dapatkan," jawab Smith.
"Maafkan aku pah, ini semua karena sikap egois ku, aku tidak memikirkan sampai sana," ucap Lukas sedih dan menyesal.
Seharusnya Lukas atau yang sebenarnya adalah Novrida harus bisa memikirkan semuanya dengan panjang, sayangnya waktu itu ia terlalu emosi dan hanya berpikir sesaat saja. Novrida tidak mau kalau mertua dan adik iparnya terus menerus menindas nya, mungkin waktu itu puncak dari rasa diam dan pasrahnya.
"Tak usah merasa bersalah begitu, apa yang kamu lakukan itu benar, jika papah di posisimu maka papah akan melakukan hal yang sama, yasudah papah mau pulang dulu, ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan," pamit Smith lalu mereka berdua mengangguk.
Sikap Smith membuat Novrida sangat takjub bahkan terharu, papah mertua yang dulunya tidak menyetujui pernikahannya dengan Lukas pun kini bisa berpikir dewasa, mana yang seharusnya dibela dan mana yang seharusnya dihukum. Novrida pikir keluarga Lukas bakalan memiliki sifat yang hampir sama, mengingat Ina juga Ivanka sifatnya sangatlah mirip, sama-sama jahat, sombong, jahat bahkan kejam.
Lukas juga Novrida memilih untuk pulang juga, kedatangannya untuk menjenguk Ina dan Ivanka ditunda mengingat kata papahnya jika mereka sedang syok berat, Lukas takut kalau kedatangan ia dan istrinya nanti bakal menambah rasa kesal Ina juga Ivanka.
Didalam sel,
Ina juga Ivanka berada didalam sel yang berisi 6 orang termasuk mereka. Sudah bisa dipastikan betapa sempit dan pengap nya tempat itu, apalagi kamar mandi yang tersedia sangatlah jorok, bahkan baunya pun sangat tidak sedap.
Ina juga Ivanka sampai bergidik ngeri melihatnya, tidak bisa dibayangkan betapa tersiksanya mereka jika nantinya selama 5 tahun berada dalam tempat seperti ini.
"Mah.. Yang benar saja masak kamar mandi kayak gudang gitu, malah lebih bagus gudang rumah kita mah, hii joroknya.. Bau lagi, mau muntah rasanya mah," protes Ivanka sambil menutup hidung mancung nya.
"Mamah juga jijik kali gak cuma kamu aja, gimana kita bisa betah hingga 5 tahun kedepan?" ucap Ina bergidik ngeri.
"Membayangkan saja Ivanka sudah gak sanggup mah," jawab Ivanka sedih.
Waktu makan telah tiba, seluruh tahanan dipersilahkan ke kantin untuk antre makan. Giliran waktunya Ina juga Ivanka, lagi-lagi mereka dibuat syok dengan menu yang disediakan, hanya nasi putih, sayur entah apa namanya karena hanya kol saja dengan kuah itu pun rasanya sungguh hambar, ditambah tempe yang sangat keras sekali, berasnya pun tidak layak makan.
"Mbak, ini beneran menu makanannya? Ini mana layak untuk dimakan," protes Ivanka.
"Kalau gak mau gak usah makan, disini bukan restoran yang bisa pesan makanan sesuai kemauan kalian," jawab petugas ketus dan sinis.
"Dibilangin malah ngeyel, dasar," gerutu Ivanka dan tahanan lain malah kesal dengannya.
"WOY CEPETAN, KALAU GAK MAU MAKAN SANA KEMBALI KE SEL!!! MASIH BANYAK YANG MENUNGGU!!" gertak tahanan lain emosi.
"SABAR DONG!!! KITA TUH LAGI TEGUR PETUGASNYA, EMANG SITU MAU DIKASIH MAKAN KAYAK GINI, INI TUH GAK LAYAK MAKAN," gertak Ivanka nyolot.
"NGAJAKIN RIBUT RUPANYA, MASIH ANAK BARU UDAH SONGONG!!!" tantang tahanan dibelakang Ivanka.
"Ivanka.. Stop jangan bikin keributan, kamu mau dipindah ke sel lain dan gak ketemu mamah? udah deh diam aja dan duduk, jangan mengusik mereka kalau gak mau sesuatu yang buruk terjadi," bisik Ina menasehati.
"Tapi mah.." ucap Ivanka terpotong oleh kode mata yang diberikan oleh Ina, lalu Ivanka juga Ina berjalan menuju tempat duduk yang kosong.
Baru sesuap nasi masuk ke mulut tapi keduanya sudah merasa mual, makanan apa ini, gak ada rasa enak-enaknya dan semua mana bisa dimakan. Kol masih mentah, kuahnya dingin seperti air kran, nasinya baru didiamkan sebentar sudah keras apalagi tempe nya, mana belum jadi tempe. Keduanya saling pandang dan akhirnya menumpahkan makanan yang ada di mulutnya karena memang tidak enak sama sekali.
Mendengar ada yang memuntahkan makanan, petugas pun mendekati dan menghukum Ina juga Ivanka untuk membersihkan seluruh kamar mandi yang ada di sel wanita ini.